YANG TAK BISA DISENTUH

IMG_20160131_193844Sejak tahun 2012, para ilmuwan telah berusaha begitu keras untuk menemukan apa yang mereka sebut “Partikel tuhan” atau “god particle.” Istilah ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan “Tuhan” dalam istilah agama-agama.

Pada awalnya seorang fisikawan bernama Leon lederman ingin memberi partikel ini sebuah nama yaitu “Goddamn partikel,” tetapi editor bukunya kemudian menolak istilah tersebut yang barangkali rada kasar, lalu kemudian dirubahlah istilahnya menjadi “God particle.”[1]

Jadi sebenarnya apakah god particle ini? Atau yang disebut juga dengan kata lain “higgs bosson” ini? Secara singkatnya saya kutip –dan tentu saya bukan fisikawan– higgs bosson ini ternyata partikel sub atomic. Barangkali secara ringkasnya adalah kalau jaman dulu kita hanya kenal atom tersusun dari inti atom dikelilingi elektron, maka sekarang ternyata penemuan berhasil memecah inti atom tersebut dan mendefinisikan lagi bagian kecil di dalamnya. Adalah istilahnya ‘quark’, dan ada juga yang istilahnya ‘higgs bosson’ yang dipercaya oleh para ilmuwan sebagai  sesuatu yang menyebabkan atom-atom memiliki massa. Ingin tahu lebih lanjut, sila tanya ilmuwan fisika saja ya.[2]

Apa yang menarik disini? Sebenarnya ada satu fakta menarik yang memang mungkin kebetulan (atau barangkali tak ada yang kebetulan?), fakta itu adalah bahwa peletak dasar teori higgs bosson ini adalah ateis, maka itu awalnya dia menolak nama ‘god particle’ itu. Fakta kedua adalah bahwa disadari atau tidak sebenarnya banyak para ilmuwan barat yang menjadi ateis karena keinginannya untuk membuktikan Tuhan secara empirik (terindra).

Karena saya sendiri bukan ilmuwan, saya menulis ini dalam sudut pandang yang begitu subjektif yaitu dari pandangan spiritualitas islam.

Perbedaan pendekatan antara approach islam dan barat dalam hal ilmu, adalah bahwa barat mengakui hanya dua saja sumber ilmu. Yang pertama adalah indera manusia, segala sesuatu yang terindera oleh manusia berarti sesuatu yang dapat dibuktikan secara empirik. Yang kedua, adalah akal manusia, maka segala sesuatu yang mempunyai premis yang bisa diterima oleh akal berarti logis, rasio.

Perbedaan ini menjadi sangat mendasar, karena approach islam mengakui bahwa ilmu bisa diperoleh tak –semata– melalui inderawi (empiris), dan tak semata melalui akal (rasio), tetapi juga melalui intuisi (insight) dan juga melalui wahyu.

Baik intuisi, maupun wahyu, keduanya sebenarnya adalah domain yang begitu halus. Dia berada pada ruang yang lebih dalam ketimbang ruang fikir atau rasio dan pengamatan inderawi.

Apa efeknya dari perbedaan itu? Efeknya adalah begitu jelas, bahwa bahkan seseorang yang kapasitas intelektualnya, pendakian ilmiahnya sudah sangat tinggi, seperti misal pencetus tentang higgs bosson itu tadi, ternyata masih juga menjadi seorang ateis. Dia tidak ‘menemukan’ tuhan sebagai sesuatu yang empiris dan terindera.

Disinilah letak bedanya. Seseorang yang berangkat dari penelitian semata, mengkaji bukti-bukti empiris, dia tidak akan menemukan Tuhan sampai kapanpun saja. Dan dia akan memuncaki perjalanan ilmiahnya sebagai seorang yang skeptis terhadap tuhan, jika dia menilai bahwa tuhan mestilah sesuatu yang empiris.

Inilah yang dimaksud Imam Ghozali dalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, bahwa upaya meyakini sesuatu –terlebih tentang Tuhan- dengan hanya mengandalkan indera semata, akan missleading.

Contoh sederhana adalah seseorang melihat batang kayu yang menancap ke dalam sungai seolah-olah bengkok, dengan indera matanya, tetapi sebenarnya dengan akal kita mengetahui bahwa pembengkokan itu karena bias cahaya. Indera manusia terbatas.

Begitupun rasio manusia. Ghozali memberi contoh seseorang yang begitu meyakini realita yang dia alami saat mimpi, tetapi kemudian barulah dia sadar bahwa yang dia alami itu hanya imajinasi, saat dia terbangun dari tidur.

Dalam realitas yang lebih tinggi lagi, boleh jadi apa yang kita persepsi sekarang ini akan sama sekali tidak relevan.

Dan itulah kenapa islam meletakkan intuisi / ilham, dan wahyu (untuk para Nabi) sebagai salah satu sumber ilmu. Yang barangkali sebagiannya kelak akan terbuktikan dengan pengetahuan empiris seiring masa berjalan.

Keseluruhan panjang pencarian manusia, dan pergulatan manusia dengan ilmu, dalam konteksnya menurut islam, adalah untuk semakin ma’rifah. Pengenalan yang lebih dalam tentang Tuhan.

Akan tetapi, dalam kajian para arifin, dan juga kita mengetahui dari Qur’an bahwa Tuhan tiadalah serupa dan tiadalah seumpama dengan apapun saja. Yang berarti juga tuhan tak mungkin terindera. Saya kembali kutipkan dari Al-hikam:

“Sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”

Sebuah aforisma yang cantik dari Ibnu Athoillah, seorang ulama fikih mazhab maliki sekaligus seorang Arif. Yang maknanya dari ungkapan ini barulah saya mengerti belakangan ini setelah mengikuti kajian dari seorang arif lainnya.[3] Bahwa secara empiris, inderawi, Tuhan tiada akan bisa disentuh. Baik oleh kajian terhebat manusia secara saintifik, dan juga oleh pendakian spiritual tertinggi manusia sekalipun secara batin.

Jadi misalnya seribu tahun lagi, manusia bisa menemukan teknologi untuk membelah lagi higgs bosson dan juga quark, manusia tetap tak akan menemukan Tuhan secara inderawi, empirik. Sebab DIA bukanlah ‘sesuatu’.

Dan juga, manusia tak bisa “menyentuh” Tuhan secara indera batin. Misalnya manusia melihat DzatNya secara batin, tak akan bisa. Sedangkan Rasulullah SAW pada Mi’raj-Nya pun tak melihat Tuhan[4]. Tirakat terhebat seorang arif pun, tak akan melihat Tuhan dalam makna yang harfiah ya! Makna sebenarnya. Tak akan bisa.

Yang manusia bisa capai, adalah keyakinan yang semakin teguh. Maka penyaksian, musyahadah, yang dimaksud oleh para arifin itu bukanlah melihat tuhan dalam makna yang sesungguhnya, tetapi adalah makna kiasan yang maksudnya dijelaskan oleh Ibnu Athoillah dengan “sampaimu kepadaNya adalah sampaimu kepada ‘pengetahuan’ tentangNya. Karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu.”

Tuhan, dalam persepsi islam tak bisa kita sentuh secara makna denotatif. Maka semua orang yang mengkaji ilmu sebatas ingin mengindera sesuatu secara empiris, akan berakhir dengan sia-sia dalam melihat Tuhan dan most probably akan jadi ateis.

Disinilah bedanya, dimana islam juga mengakui insight dan wahyu sebagai salah satu sumber ilmu.

Karena insight –untuk orang beriman secara umum- adalah sebuah “hikmah” yang dengan itu manusia akan sampai pada keyakinan maknawi. Sebab yang terpandang oleh mereka bukanlah hal-hal yang empiris semata, tetapi semakin jelas melihat pengaturan Tuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Paham akan agama, disebut juga mengerti hikmah. Dan hikmah, adalah cahaya yang diturunkan lewat insight.

Secara lahiriah, prosesnya boleh jadi diperoleh lewat sebab seseorang mengkaji tekstual buku-buku, atau mengkaji sesuatu secara objektif empiris seperti para ilmuwan, tetapi turunnya hikmah itu sendiri adalah domainnya insight.

Dan ‘hikmah’ tak akan turun pada orang yang tidak membaca kehidupan ini dalam konteks ingin memahami tentangNya. Orang yang semakin membaca, semakin menemukan kekerdilan dirinya sendiri, akan sangat boleh jadi terguyur hikmah itu.

Ilmuwan barat, hanya IQRO’ saja. sedangkan approach islam mengajarkan IQRO’ BISMIRABBIKA.

Keseluruhan perjalanan kehidupan dan pencarian ilmu, dalam konteks islam adalah berujung pada ma’rifah, pengenalan pada Tuhan.

Tetapi memang, flow semacam itu bisa dimengerti oleh orang-orang yang islam. Dan untuk orang di luar islam, memang muslimin sendiri mau tak mau harus mengerti bahasanya para ilmuwan agar bisa berbahasa sesuai dengan bahasa kaumnya. Barangkali itu sebabnya kita lihat di masa lampau kejayaan islam, dikotomi antara agama dan sains tak nampak. Karena sains sendiri dipakai sebagai alat untuk semakin ma’rifah.

Dan inilah PR besar kita sebagai muslim, menguasai dua keilmuan, lahir dan batinnya sekaligus. Mengobservasi ilmu lahir lewat kajian empiris dan rasio, dan juga masuk ke dalam kedalaman ilmu batin lewat kajiannya para arifin agar hikmah itu tadi bisa merasuk ke dalam jiwa kita.

 

References:

[1] http://tekno.tempo.co/read/news/2012/07/06/095415223/apa-dan-kenapa-partikel-tuhan

[2] http://edition.cnn.com/2011/12/13/world/europe/higgs-boson-q-and-a/

[3] H. Hussien Bin Abdul Latiff

[4] Aisyah r.a mengatakan “Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR. Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan. (QS Al-An’am :103)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *