YANG SEMESTINYA SELESAI

duaaRamai saya temukan literatur, dari buku-buku orang arif, dari kekisah para Nabi dan Aulia, tentang bagaimana do’a bisa mendekatkan kita kepada Allah. Dalam logika premis yang lebih lanjut, kesimpulannya sederhana saja, jika semakin kita dekat kepada Allah, maka semakin kesulitan kita akan dimudahkan, kalau butuh pertolongan pasti ditolong.

Do’a, adalah salah satu bentuk dzikir juga rupanya. Dalam maknanya yang berupa “ingat”, maka  do’a sudah jelas merupakan bentuk ingat kepada Tuhan. Doa ialah bentuk curhat kepada Tuhan.

Maka masuk di akal, jika kita sering temukan ulama-ulama hikmah mengatakan bahwa dzikir yang memiliki bentuk do’a, atau bentuk curhat, ada muatan “bercerita” kepada Allah, ialah lebih utama untuk didawamkan orang awam. Ketimbang dzikir yang “sedikit” muatan do’a-nya.

Bukan perkara boleh tak boleh tentu saja, tapi maksudnya adalah, jika kita masih dalam ranah orang awam, maka dzikir atau do’a semisal “Ya Allah…. berilah ilham kepadaku, jagalah aku dari keburukan nafs-ku” tentu lebih gampang masuk di hati. Karena ada muatan do’a-nya, ada muatan curhatnya. Contoh lain, Semisal “astaghfirullah” juga ada muatan do’anya, ada semacam curhat-nya.

Tapi ada juga para ulama yang berdzikir dengan kata “Allah” saja, atau semisal “Ya Allah”, tentu bagus juga, tapi kalau saya pribadi sebagai yang masih awam, pemula, berdzikir dengan pilihan doa yang banyak muatan curhatnya akan lebih menggiring hati menuju khusyu.

Membiasakan dzikir ternyata mengasikkan juga. Mengingat apa masalah kita, langsung saja laporkan kepada Allah, lewat doa, dzikir, atau membatin dalam hati. Apa saja.

Tapi ada yang saya sering terlupa, yaitu bahwa ada yang semestinya selesai dulu sebelum berdo’a.

Yang mesti “selesai” itu ialah rukun iman yang keenam. Percaya pada qada dan qadar Allah. Semestinya, pendo’a itu, kata para guru, tidak berdo’a atau curhat kepada Allah dengan muatan “nggrundel” kepada Allah. Tidak “protes” kepada Allah.

Jadi misalnya kita ibaratkan berdo’a itu adalah mengetuk pintu Allah dan menyampaikan curhat, maka curhat itu mestinya tidak dengan mentalitas “Ya Allah….kok begini sih…kok begitu sih”. Melainkan doa itu sudah diawali dengan keyakinan bahwa apapun yang terjadi, tidak lebih tidak kurang, pastilah sudah qadar Allah. Maka mestinya diterima. Baru kemudian berdoa dengan mentalitas “Ya Allah… Engkau yang lebih tahu, hamba mengalami begini…begini… tolonglah ya Allah…”

Sama-sama minta tolong. Tapi doa yang pertama dengan diawali nggrundel dan tidak nrimo. Doa yang kedua diawali dengan pasrah dan yakin bahwa semua ketentuan Allah.

JAdi, ada yang semestinya selesai sebelum do’a. Ini pelajaran penting buat saya. Semakin banyak berdoa dan berdzikir, tapi jika masih ada yang belum selesai di hati kita dengan takdir Tuhan, maka ibarat semakin banyak mengetuk pintu Tuhan sambil marah-marah dan misuh-misuh.

Bila kita rajin berdzikir dan berdoa, tapi semakin menghadap malah semakin keruh rasanya, maka boleh juga direnung-renung kata guru-guru itu tadi. Lagi ngapain kita didepan pintu Tuhan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *