YANG MENITI JALAN LURUS

Waktu saya kecil, orang tua saya berlangganan sebuah koran islami yang terbit setiap Jum’at. Ada satu kolom dimana disana selalu menceritakan perjuangan orang-orang yang muallaf. Setiap kali membaca itu, saya menjadi begitu haru. Betapa perjuangan mereka untuk mencari kebenaran sangatlah heroik.

Sempat saya berfikir, benar-benar tidak ada apa-apanya diri ini jika dibandingkan dengan mereka.

Tapi baru sekarang saya mengerti, bahwa kekeliruan saya dulu adalah mengira bahwa pencarian itu hanya sebatas konversi seseorang dari satu keyakinan agamanya, menjadi islam misalnya. (tentu ini dari sudut pandang saya sebagai muslim). Tetapi satu hal yang luput adalah bahwa seseorang yang sudah muslim sekalipun, juga sering “mencari”, dalam artian kedewasaan mereka beragama bertumbuh kembang.

Saya pribadi adalah contoh kekeliruan itu, dimana masa lalu saya yang muda begitu kaku dan semangat sekali mencari kesalahan orang dengan berbekal bacaan satu dua buku, lalu baru setelah dewasa saya paham bahwa khasanah fikih itu demikian luas. Apalagi khasanah tasawuf. Maka merasa paling benar adalah sikap yang demikian kuno.

Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah Imam Syafi’I dengan pendapat lama (qaul qadim) dan pendapat baru-nya (qaul jadid). Pendapat-pendapat beliau semasa di Iraq, berbeda dengan pendapat-pendapat beliau semasa di Mesir. Dari Iraq beliau pindah ke mesir dan mempelajari konteks sosial budaya Mesir yang beda dengan di Iraq. Lalu beliau mengoreksi pandangan lamanya.

Saya tak hapal apa saja yang beda dari pendapat fiqih beliau, tetapi satu yang menarik perhatian saya adalah fakta bahwa kedewasaan manusia bisa bertumbuh. Bahkan untuk orang yang sekaliber Imam Syafi’i.

Opo meneh level saya, harus lebih-lebih lagi belajar dan bersedia bertumbuh.

Contoh lainnya adalah Imam Asy’ari. Ahli teologi ternama di kancah islam. Setelah berpuluh tahun mendukung paham Mu’tazilah, menjadi ahli debat terkemuka dari Mu’tazilah, lalu kemudian beliau rujuk dari pendapatnya dan akhirnya meletakkan dasar-dasar pondasi akidah Asy’ariyah. (yang saya baru tahu sejalan dengan pendapatnya Imam Abu Hanifah)[1]

Contoh lain lagi tentu Imam Ghazali, yang setelah bergelut dengan ilmu kalam dan filsafat, kemudian beralih ke tasawuf dan menuliskan buku-buku yang menjadi jembatan syariat dan tasawuf, dan lalu mengoreksi pahaman para filosof mengenai Tuhan dan kaitannya dengan alam.

Pendapat-pendapat mereka, sudah ratusan tahun lalu “selesai”. Tetapi perdebatannya secara keilmuan rupanya mengabadi hingga kini masih belum usai.

Saya pikir tak mengapa. Hanya saja satu hal yang kita jangan lupa, bahwa perdebatan pada kancah ilmu hanyalah ekspresi fisikal dari dimensi batin yang bertumbuh kembang.

Yang harus seiring dengan perdebatan pada kancah ilmu, adalah pengertian yang lebih dalam bahwa yang penting adalah proses bertumbuhnya itu.

Akhirnya saya mengerti, kenapa setiap sholat kita meminta ditunjukkan jalan yang benar. “ihdinash shiratal mustaqim”. Karena yang paling benar hanyalah milik Tuhan.

Proses dinamisnya adalah kita selalu belajar, dan menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai acuan, juga menjadikan alam terkembang dan segala hikmah di dalamnya sebagai data yang memperkaya khasanah pemahaman kita.

Yang paradoks adalah, saat kita setiap sholat meminta ditunjukkan pada jalan yang benar, tetapi kemudian kita secara pribadi tidak memiliki mentalitas ingin belajar dan haus ilmu. Atau, kita belajar dalam konteks ingin menyalahkan orang lain.

Para alim yang kita sebut di awal tadi, semua sudah menunaikan tugasnya untuk bertumbuh dan berkembang. Sedangkan kita, hendaknya meniru proses tumbuh kembang itu pula, bukan mewarisi debatnya semata.

[1] Al Fiqh Al Akbar: an accurate translation,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *