YANG MENDENGUNG-DENGUNGKAN TIRAKAT

duaa

Telah hampir pergi Ramadhan. Satu yang saya ingat dari wejangan orang-orang arif, “jikalah tidak kita dapatkan keampunan Allah di kala Ramadhan ini? Kapan lagi kiranya kita bakal dapatkan?”

“Pintu Tuhan” selalu terbuka memang, tetapi potongan pertanyaan di atas tadi sudah cukup menjadi tema besar solilokui kita sendiri. Ramadhan adalah bulan dimana rahmat dan ampunan merupakan “pintu” yang lebih gampang ditemukan, tersebab segala aral pelintangnya yang biasa menutupi gerbang pintu itu; telah dirobohkan.

Amarah. Nafsu. Kebencian. Dengki. Dendam yang menahun. Ambisi dan angan-angan yang menjalari kesadaran kita setiap bulannya, harusnya redam dan lepas satu-satu dengan puasa.

Tema besar puasa ialah menjadi manusia yang lebih spiritual. Taqwa. Bukan sekedar icip-icip sensasi menjadi orang miskin dan jarang makan. Dan awal dari menjadi lebih spiritualis adalah dengan memasuki gerbang rahmat dan keampunan pemilik alam semesta ini, saya rasa.

Disitulah ironi itu saya rasakan menjadi demikian getir. Kala Gerbang Rahmat itu terbuka sedemikian besar, rupanya belum juga saya berhasil memasukinya.

Mungkin, puasa saya tidak benar-benar menjadi tirakat pejalan ruhani menuju Tuhan. Puasa saya adalah selebrasi tidak makan dan tidak minum semata. Adapun amarah, adapun nafsu, adapun kebencian dan segala anasir yang buruk di dalam diri itu bisa saja masih ada. Mungkin sekadar sembunyi dan mengamati dengan picingan mata yang licik.

Atau mungkin, saya sudah berhasil menaklukkan hawa nafsu, karena keniscayaan hukum alam. Sebodoh-bodohnya dan setidak spiritualis apapun seseorang,  jikanya dia lapar seharian dan tidak makan tidak minum, maka secara logis semangat berkeburukan dalam varian nafsu yang bagaimanapun saja itu, akan menurun dalam presentase tertentu. Ibarat belukar, pepadang ilalang, semak dan rumput di sepanjang setapak menuju gerbang rahmat Tuhan itu telah diberantas dengan mesin potong.

Jalan sudah dibersihkan, Tetapi sayanya tidak bergerak menuju Tuhan.

Adakah gunanya jalanan yang bersih dan gerbang pintu yang terngaga besar, jika tiada dimasuki?

Saya ingat, sewaktu dulu saya SMP saya rasakan begitu sedih kehilangan Ramadhan. Sempat saya kira saya seorang spiritualis karena kesedihan saya yang begitu dramatis itu. Belakangan saya menyadari, bahwa saya hanya menangisi romantika suasana kebudayaan yang unik pada bulan puasa. Saya Cuma menangisi hilangnya syahdu azan sore, hilangnya momen buka puasa, dan momen sahur. Serta menangisi hilangnya keseluruhan tembang-tembang religi di setiap sudut kota yang kecil itu.

Setelah sekian tahun lewat, saya rupanya masih  sama saja. Sementara kesedihan orang-orang arif ialah rasa pilu berpisah dengan keintiman keampunan Pemilik Jagadita Semesta ini, rasa haru untuk telah bertemu sang pemilik Rahmat. Maka kesedihan saya baru di-emperannya saja. Menyesali untuk sebulan tirakat tidak juga menyampaikan saya ke pintu.

Tapi tiada mengapa. Setidaknya kerinduan untuk mengetuk pintu Tuhan (untuk sampai ke Tuhan) adalah peta hidup yang benar.

Bahwa segala kejadian kehidupan harusnya menjadi semacam corong yang mendengung-dengungkan janji baiat para manusia di alam ruhani dahulu. Bahwa hidup semestinya untuk mengenal Yang Memberikan Hidup.

Harapan saya sederhana saja, semoga sisa bulan-bulan di depan saya nantinya, segala kejadian hidup akan menggerek-gerek saya kepada benang merah cerita yang paling sejati itu tadi. Mengenal Sang Penulis Skenario Hidup ini.

Jadi semisal nanti saya kekurangan uang, maka kekurangan uang itu ialah “TOA” yang mendengung-dengungkan woro-woro agar saya tirakat tuk kembali ke pintu Tuhan.

Maka semisal saya terbentur dengan hiruk pikuk kertas-kertas arsip di kantor, maka kebisingan kantor itulah yang mendengung-dengungkan bewara untuk saya tirakat kembali ke pintunya Tuhan.

Maka semisal saya sedih, gelisah, hilang kunci motor, terjebak macet, berselisih dengan keluarga, tidak dapat parkiran di pekarangan kantor, kejebak banjir, apapun saja itu, menjelma kembali sebagai sketsa indah Ramadhan. Pulang…. Pulang….. Pulanglah ke sangkan paran, asal muasal hidup, yang menuliskan segala lelakon ini.

“Aku akan pergi menghadap Tuhanku, niscaya Dia akan memberikanku petunjuk” Kata Ibrahim A.S.

Dan dalam perjalanan itu nantiya, jikalah begitu banyak kesulitan merajah-rajah, jikalah keengganan dan kebrisikan angan-angan dan fikiran menghalangi dalam usaha kembali ke Tuhan inilah, saya semestinya sadar bahwa jalanan harus kembali dibersihkan.

Amarah, nafsu, diri yang paling dalam dan segala kehalusan kemusykilan tirai-tirai yang merentang-rentang di sepanjang jalan ini hanya bisa dimusnahkan dengan Puasa. Tirakat yang memaksa keburukan diri untuk diam dan menyerah. Mungkin dengan persepsi seperti ini sajalah puasa kita akan lebih dari sekedar haus lapar semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *