YANG MELAMPAUI DZAT DAN SIFAT

Jika anda makan nasi, apakah nasi yang anda makan itu “pulen”, “kenyal”, “gurih”, “lengket”, atau “berderai”?

Semua kata keterangan yang disebut di atas, untuk menggambarkan “keadaan” nasi itu; disebut sifat-sifat nasi. Nasi-nya itu sendiri disebut dzat.

Jadi ada substansi-nya yaitu nasi itu sendiri. Dan ada serangkaian keterangan yang membahas mengenai sifat-nya nasi, atau dalam bahasa filsafat disebut “aksiden”. Ada substansi, ada aksiden. Ada dzat ada sifat.

Barulah saya mengerti sedikit duduk perkara mengenai bahasan dzat sifat ini dalam perbincangan tasawuf. Di masa perkembangan islam sekitar lepas abad ketiga -barangkali-, dimana perbincangan mengenai filsafat sudah mulai banyak masuk ke dalam islam, termasuk juga kajian mengenai substansi dan aksiden ini.

Imam Ghazali sendiri, tidak membenci filsafat secara mutlak, beberapa kajian filsafat itu baik, kata beliau, tetapi beberapanya harus ditolak. Yang baik diantaranya karena filsafat punya andil menelurkan ilmu-ilmu alam dan sains karena mendorong manusia untuk terus berfikir. Yang buruk misalnya adalah saat menyerempet area bahasan ketuhanan, ada beberapa yang bertentangan dengan akidah.

Jadi pada mulanya filsafat sebagai cara berfikir itu netral saja, tergantung kemudian mau dibawa kemana.

Nah, mengenai substansi dan aksiden, dzat dan sifat, ini kemudian menyambung ke bahasan mengenai Tuhan. apakah Tuhan itu dzat? Adakah Tuhan punya “sifat” dalam artian sifat yang lekat dengan dzat-Nya?

Barulah saya memahami duduk perkara ini setelah dijelaskan oleh seorang Arif, Ust. H. Hussien Abd Latiff, bahwa DIA itu bukan dzat, dan bukan sifat, melainkan pemilik dzat dan sifat.

Selama kita masih berbicara tentang dzat dan sifat, berarti kita berbicara tentang dunia ciptaan. Berbicara tentang alam.

Sebagian kalangan, misalnya. mengatakan kalimat seperti ini ”Jika anda bercita-cita, lalu berusaha keras, maka SEMESTA akan mendukung dan mewujudkan keinginan anda.”

meskipun mereka berkata dalam makna majazi, tetapi patut perkataan ini diwaspadai agar tidak tergelincir.

Tentu kita paham bahwa maksud mereka adalah “Tuhan yang mengabulkan”, tetapi boleh jadi kata-kata seperti itu menyebabkan “alamat” persandaran seseorang di dalam lubuk hatinya adalah kepada SEMESTA. Padahal, semesta itu bukan Tuhan. Karena semesta itu ciptaan-Nya, yang masih memiliki substansi dan aksiden. Masih memiliki dzat dan sifat.

Begitu juga, dengan penelusuran yang lebih dalam lagi. Jika segala sesuatu di dunia ini memiliki substansi dan aksiden, maka substansi terdalam itulah DIA, kata sebagian kalangan. Maksudnya kalau kita kelupasi semua sifat-sifat yang nampak mata, sampai yang paling dalaaaaaaaaam sekali dan tak lagi ada keragaman bentuk, semua menjadi satu, yang tinggal hanyalah semurni-murni substansi, dianggap oleh mereka itulah DIA.

Ternyata itu juga tak tepat. Karena dibalik semua ciptaan itu “hakikatnya” adalah dzat-Nya. Yang dalam sebuah hadits dikatakan tidak bisa seseorang menyentuh dzat, siapa melihat dzat akan terbakar dengan keagungan dzat. [1] Tetapi itu bukan DIA.

Sedangkan Allah SWT. DIA-lah pencipta alam semesta. Pencipta segala sesuatu yang kita kenal dengan dzat dan sifat. Yang tak bisa disentuh, tak bisa diteliti, tak terindera. Perbincangan mengenai substansi sesuatu dan aksiden sesuatu tidak tepat dilekatkan kepada Pencipta sesuatu itu.

Barulah saya paham, bahwa keliru orang-orang yang berkata “inilah Tuhan” yang meliputi saya ini. Karena apapun saja yang mereka bisa “rasakan” tentulah ciptaan. Semua yang bisa disentuh, dirasa, difikirkan, itulah dunia ciptaan, dunia dzat dan sifat.

Yang meliputi kita ini, yang bisa kita “rasakan”, bukan DIA, melainkan dzat-Nya. Milik-Nya. Bukan DIA yang tiada umpama.

Karena –sesuai kata Ibnu Athaillah- “sampaimu kepada Allah, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya, karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu”.

Akhir kata, sebuah perumpamaan yang sangat baik dari seorang arif. Semua berasaskan ilmu dan kepahaman. Umpamanya pada sebuah malam yang gelap gulita, kita minum sebotol sirup apel. Semua indera kita membenarkan bahwa rasanya, baunya dari sirup itu adalah seperti apel. Tetapi dengan ilmu, kita paham bahwa yang kita minum itu bukan apel, melainkan “sari” apel. Yang menjaga kita adalah ilmu.

Begitu juga seandainya dengan peribadatan yang begitu khusyu, orang-orang bisa merasakan betapa mereka “diawasi” dijaga dan disentuh dengan sesuatu yang ada dibalik semua ciptaan yang tampak mata ini, maka sadarilah bahwa yang “dirasakan” dan yang bisa “kita sentuh” itu bukan DIA, melainkan sifat-sifat yang lekat pada dzat yang dicipta-Nya.

Agar tak mengelirukan Tuhan dan alam. Agar tak keliru antara DIA dan dzat-sifat “milik”Nya.

Wallahualam.


[1] “Tirai-Nya adalah Nur, dan seandainya terangkat pastilah keagungan Dzat-Nya akan membakar makhluk yang terpandang oleh-Nya”. Terjemahan Shahih Muslim Bk. 1, 228 (1994).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *