YANG MELAMPAUI DZAT DAN SIFAT (2)

img_0663-1Cerita seorang teman di waktu kami makan siang kemarin, sungguh membuat saya kaget. Karena selama saya bekerja dengan beliau, saya tidak melihat kecenderungan introvert pada dirinya. Saya mengira dia adalah seorang extrovert handal. Rupa-rupanya kawan saya itu membenarkan analisa psikologi yang dia ikuti berapa waktu lalu, yang mengatakan bahwa selama ini dia adalah seorang yang tak terlalu menyukai keramaian, tetapi dia mencoba –setengah memaksakan diri- untuk bersikap dan laku sebagai seorang extrovert. Tetapi dia tidak menikmatinya.

Jadi sewaktu rekan saya berangkat ke Houston, untuk sebuah training dari kantor, diadakanlah sebuah tes psikologi untuk memetakan kecenderungan sifat-sifat karyawan. Dan salah satu sesi test yang santai itu adalah sesi kita diminta menggambar sebuah kantor yang kita inginkan.

Rekan saya ini menggambar sebuah kantor, dengan ruangan besar, di lantai atas, dengan meja dan layar monitor besar ganda. Dan macam-macam pernak pernik lainnya.

Kemudian instruktur training menjelaskan arti serangkaian tes soal-jawab, termasuk analisa gambar. hasilnya, menunjukkan bahwa kawan saya itu tipikal seseorang dengan kecenderungan introvert yang kontemplatif, tetapi memaksakan diri untuk menyeberang ke sisi yang berlawanan, secara extrim.

Gambar yang dia buat, sebuah kantor, dimana ruangan untuknya adalah di lantai paling atas, jauh dari hiruk pikuk, monitor besar, hanya dia sendiri, adalah bukti bahwa jauh dalam kesadarannya yang paling dalam dia menginginkan suasana “me time”, jenak sendiri yang kontemplatif.

Agak berbeda dengan rekan-rekannya yang lain, yang menggambarkan sebuah ruangan dengan banyak sekali meja, dengan ruang-ruang untuk orang lain. Yang secara sederhana bisa ditafsirkan bahwa mereka bertipe “kalau ga rame ga asik”.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa seperti apa realita “di dalam” diri manusia, itulah yang akan mengejawantah “ke luar” diri kita, menjadi sikap dan laku. Tanpa kita sadari, seperti tertuang dalam gambar. Gambar yang dibuat, hanya mengekspresikan yang di dalam.

Nah…… kembali ke bahasan bahwa “yang di dalam” akan mengejawantah “ke luar”, sebenarnya mirip-mirip dengan bahasan itu, adalah bahasan dzat-sifat dalam tasawuf.

Dzat-sifat, atau dalam bahasa filosof disebut substansi-aksiden, atau dalam bahasa arabnya jawhar – al ‘ardh. Adalah bahasan menarik yang mau tak mau terpaksa dibincangkan.

Kalau menurut sebagian kalangan, dzat dan sifat. Adalah dua hal yang berbeda. Umpama sebuah nasi. Nasi yang pulen, nasi yang gurih….. maka “nasi” sebagai dzat-nya, “pulen atau gurih” sebagai sifat-nya. Mereka anggap nasi dan pulen itu adalah dua entitas yang berbeda.

Akan tetapi, kalangan sufistik menganggap bahwa dzat dan sifat bukanlah dua entitas yang berbeda. Adanya sifat-sifat, adalah untuk menunjukkan keberadaan dzat.

Umpama sebuah nasi, untuk menunjukkan keberadaannya maka “nasi” itu diselubungi dengan sifat-sifat diselubungi dengan “berbulir”, diselubungi dengan “warna putih” diselubungi dengan “rasa pulen” dengan segala macam sifat sehingga nasi tersebut mewujud.

Walhasil dzat nasi tidak terpisah dengan sifat nasi. Melainkan, karena adanya determinasi sifat-sifat itulah, maka nasi jadi wujud keberadaannya.

Jadi dzat, mengejawantahkan dirinya, sehingga darinya terkeluarlah sifat-sifat. Dengan melihat sifat-sifat itulah, keberadaan dzat diketahui.

Hal ini senada lho dengan kajian sains. Kalau dulu, kita melihat keragaman sifat-sifat misalnya mobil truk, itu kalau dibongkar sampai dalaaaaaaam menjadi atom proton neutron, yang sama persis dan identrik dengan atom proton neutron-nya tahu goreng, ga ada bedanya. Nah, dalam kajian fisika kuantum kalau kita baca yang versi sederhananya –karena yang versi asli fisika njlimetnya saya ga paham, hahahaha- bahkan unsur penyusun terkecil suatu benda itu dikatakan tak lagi punya sifat partikel, lebih macam gelombang. Udah hilang keragaman sifat-sifat. Semua menjadi satu.

Nah… menurut kajian sufistik. Unsur penyusun yang paliiiiing dalam itu sesuatu yang tak lagi bisa diketahui sifat-sifatnya. (berarti yang diketemukan oleh kajian sains fisika kuantum itu menurut para sufi masih “sifat-sifat”, belum yang paling dalam). Inilah yang disebut dengan “hakikat”. Sesuatu yang ada di sebalik wujud yang tampak mata.

Begitulah bahwa dzat dan sifat bukan dua entitas. Melainkan, dzat-lah yang mengeluarkan sifat-sifat.. Disebaliknya sifat-sifat, ada “hakikat” dzat.

Sekarang, Alhamdulillah menjadi jelas perkaranya, sebagian kalangan, secara keliru –karena sudah mengetahui bahwa semua sifat-sifat itu lekat pada sesuatu yang dibaliknya- mereka mengira bahwa disebalik segala sesuatu itulah Tuhan.

Padahal, tempat segala sifat melekat itu adalah dzat yang DIA cipta, yang seperti apa dzat itu kita tak tahu. Dari dzat- atau sesuatu yang tak diketahui- itulah terkeluar segala keanekaragaman sifat-sifat.

Sedangkan DIA, adalah tiada umpama, yang tak bisa dianalisa, tak bisa disentuh, dan tidak relevan dibahas dengan bahasa dzat-sifat. DIA bukan dzat dan bukan sifat. Tetapi DIA “Pemilik” dzat dan sifat.

Agar tak mengelirukan Tuhan dan alam. Agar tak keliru antara DIA dan dzat-sifat “milik”Nya.

Wallahu a’lam

2 thoughts on “YANG MELAMPAUI DZAT DAN SIFAT (2)

  1. Salaam maturnuwun debuterbang artikelnya membumi banget serasa di refresh hati ini, smoga kedepannya artikelnya jangan yang sperti puisi puisi gitu jadi susah saya mahaminya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *