YANG BIASA, TETAPI MENGGUNCANG ARASY

Ada kisah yang sangat masyhur tentang Nabi Musa yang menemui seorang penggembala tengah berdoa.

“Duhai pangeran tercinta, dimanakah Engkau? Supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasur-Mu dan mempersiapkan ranjang-Mu. Dimanakah Engkau? Supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu. Dimanakah Engkau? Supaya aku bisa menyilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu.”

Mendengar doa itu Nabi Musa berang dan menghardik

“Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu!”

Penggembala menangis ketakutan pada hardikan Nabi Musa.

“Apa menurutmu Tuhan adalah seorang manusia biasa sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apa menurutmu Tuhan adalah seorang anak kecil yang memerlukan susu supaya tumbuh besar? Tentu saja tidak! Tuhan Maha Sempurna di dalam diri-Nya. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti itu, kau tidak lain dari seorang penghujat agama,” begitu Nabi Musa memarahi orang tersebut.

Sang penggembala yang kaget inipun lari ketakutan sambil menangis sedu-sedan.

Selepas itu Musa melanjutkan perjalanan, dan di tengah perjalanan Beliau ditegur Allah SWT,

“Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya? Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Aku tidak memperhatikan keindahan kata-kata. Yang Aku perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu.”

Musa ditegur sebab memarahi sang pecinta Allah. Memang sang pecinta itu keliru, tetapi kekeliruan itu sekaligus menjelaskan dimana maqom keilmuan sang pecinta. Keilmuan yang tak setaraf Musa AS.

Musa berbalik dan mencari penggembala tadi untuk menyampaikan maaf.

Kalau kita tengok Rasulullah SAW. Beliau sangat mengerti perihal maqom.

Saat bertanya pada seorang budak wanita

“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).

Rasulullah membenarkan wanita itu -meski kita tentu tahu bahwa Allah SWT tak bertempat, sudah bayak guru-guru kearifan membukakan rahasia bahwa Allah SWT tak bersifat seperti makhluk yang membutuhkan tempat untuk berada,  bagaimana ada sesuatu yang bisa menampung Dia? Tentu keliru. Tetapi kita rekam dalam sejarah bahwa Rasulullah membenarkan pendapat itu-

Jelas sekali Rasulullah berbicara pada konteks maqom sang Budak wanita tersebut.

Yang ingin saya sampaikan adalah, ada kalanya ketersingkapan ilmu tak selalu berarti lurus dan sebanding dengan derajat kedekatan. Boleh jadi ada sebagian kalangan yang tak tersingkap ilmu sebanyak kita, tetapi menghabiskan jenaknya detik demi detik mengakrabi Tuhan.

Ada suatu kisah, seorang mubaligh muda yang sangat sibuk mengkampanyekan anti bid’ah di kampungnya.

Semua diberantas oleh pemuda ini, sampai suatu ketika dia menjadi merenung saat menemukan salah seorang penduduk kampung kecelakaan.

Di detik sakaratul mautnya sang penduduk kampung ini berpesan pada istrinya, “jangan lupa buatkan bubur merah dan bubur putih untuk Kanjeng Nabi.” Lalu orang tersebut meninggal.

Seseorang yang dianggap ahlul bid’ah, malah teringat Rasulullah pada detik terakhir matinya?  Inikan siang di dalam malam, malam di dalam siang?

Lantas apakah tak perlu meluruskan? Tentu tidak. Saya menyimpulkan sebagai berikut:

1. Ketersingkapan setiap orang berbeda, dan kewajiban setiap orang-lah untuk menyampaikan walau satu ayat tentang apa yang dia pahami; pada orang lainnya. Maka roda keilmuan akan bergerak dinamis. Ketersingkapan akan menyebar dan menemukan muaranya sendiri. Seorang arif mengumpamakan hal ini dengan “Si kecil menceritakan Yang Besar” (INI PERANAN)

2. Bahwa penyampaian pada orang lain, haruslah mengerti perkara maqom. Karena kapasitas keilmuan setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang wadah intelektualitasnya tak cukup menampung ketersingkapan yang lebih pelik, namun wadah cintanya begitu besar. Ini bisa ditolelir selama bukan perkara pokok.

3. Ini yang paling penting. Banyak orang-orang yang nampak sangat biasa, tak punya ilmu banyak, tapi doa-doa mereka mengguncang arasy. Maka patutlah kita hati-hati, bijak-bijak, dan mendulang kearifan dari siapa saja.

Siapa tahu penyapu jalan, supir bus, penjual mie ayam, atau satpam kantor kita adalah orang-orang yang mengguncang arasy :D:D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *