YANG BERSUNGGUH PASTI SAMPAI

Sudah masyhur kita dengar, siapa mengingat Tuhannya maka Tuhannya mengingatnya pula.

Kadang-kadang, karena melihat diri kita sekali waktu bisa begitu baik dan patuh dalam penghambaan kepada Allah, tapi lain waktu lupa blass kepada Allah ga ada soleh-solehnya; kita suka ragu, apa benar… Orang macam saya ini diingat sama Tuhan?

Saya sering sekali merasakan keraguan seperti itu. Keraguan yang karena tahu betul seberapa pertahanan diri ini terhadap godaan duniawi; lemah….begitu lemah.

Tapi dalam perjalanan ini, guru-guru yang arif mengingatkan, saat kita merasa putus asa dan ragu-ragu adakah pendosa macam kita ini bakal diwelas-asihi Allah? Itulah isyarat bahwa kita masih terlalu memandang diri sendiri. Merasa bahwa perjalanan panjang “menemukan jalan kembali” ini adalah perjuangan yang harus ditempuh dengan murni kemampuan sendiri.

Padahal Jika melihat diri kita, sudahlah pasti kita putus asa seketika itu juga. Dosa alangkah banyaknya. Ibadah kita tak benar-benar dihadapkan pada “wajah”Nya. Pertahanan diri kita sehari baik sehari porak-poranda. Dan mengetahui sekalian keburukan itu ditambah membayangkan sekian panjang jarak perjalanan yang harus ditempuh untuk “kembali” kepada Tuhan itu; kita pasti mundur teratur kalau hanya melihat diri kita. Kita pasti tidak sanggup.

Tapi ternyata, menyadari ketiada sanggupan itulah tema awal perjalanan bila diletakkan dalam kerangka yang pas. Bahwa memang dengan segala track recordnya, manusia sangat-sangat membutuhkan welas-asihnya Allah. Agar tertuntun dan “sampai” padaNya.

Jadi mari berhenti menilai diri, kita memang tidak akan pernah sanggup. Teruskan saja mengingat dan memohon kepadaNya. Meminta diperjalankan menujuNya.

Pernahkah, kawan-kawan sekalian mengingat ibu atau Ayah, lalu tak lama orang tua kita menelepon? Atau teringat istri atau suami di tempat yang jauh, ternyata di ujung sana merekapun sedang rindu kepada kita?

Ternyata begitu pula “rahasia” sunnatullahnya. Saat kita ingat kepada Allah, kata para guru, berarti Allah sedang “mengingat” kita dengan keMaha BaikkanNya.

Tidak mungkin di dalam hati kita terbetik rasa ingat padaNya -sekecil apapun itu- kalau tidak Dia yg mengingat kita lebih dulu. Dan memberikan cahaya penuntun untuk kita teringat buruk-buruknya laku dan sikap, untuk merasa tak akan mampu sampai padaNya tanpa pertolonganNya, untuk merasa ada harapan bahwa sependosa-dosanya kita; rahmatNya tidak akan pernah kerdil.

Jadi sudahlah… Berjalanlah, dan siapa yang sungguh-sungguh berjalan kepadaNya PASTI sampai.

Karena tanda bahwa Dia merahmati kita adalah kenyataan bahwa kita diberikan segala kegelisahan dan kegamangan hidup yg membuat kita berlari-lari menujuNya seperti sekarang. Segala kesadaran keburukan diri yang membuat kita merasa kerdil dan sampah hingga tiada mungkin kembali padaNya tanpa keajaiban pertolonganNya ; seperti sekarang.

Allah…. Kami datang

———————

gambarnya diambil dari Ocean General Rig waktu lagi tugas di laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *