URIP IKU URUP – HIDUP YANG MENCAHAYAI

It's Lightbulb Liberation Day – AIERSepuluh tahun yang lalu. Pertama kali saya mengamati beliau masuk ruangan, saya meragukannya. Siapa orang ini, pikir saya. Usianya barangkali hanya terpaut satu tahun lebih tua dari saya, tetapi sudah dipercaya oleh kantor untuk mengisi pelatihan bagi beberapa karyawan kantor yang ditugaskan untuk mengorganisir divisi masing-masing menghadapi sertifikasi manajemen mutu dari American Petroleum Institute. Sebenarnya saya setengah hati mengikuti kelas itu.

Di dalam kelas itu ada orang indonesia, dan beberapa orang kebangsaan luar. Bagaimana anak muda ini bisa mendapatkan perhatian dari orang yang berbagai-bagai di kelas ini? Fikir saya.

Tapi begitu beliau berbicara. Boooooom. Saya terhenyak.

English yang begitu fasih dengan dialek yang elegan. Gesture yang berwibawa dengan tidak dibuat-buat. Persentasi yang padat dan tidak bertele-tele. Percaya diri yang solid tapi sekaligus membuat orang tidak bisa untuk mengartikan kepercayaan diri itu sebagai kesombongan, yang tertampil adalah citra low profile, rendah hati semata-mata. Saya terdiam. Sampai selesai kelas pun saya terdiam. Orang ini luar biasa.

Selepas hari itu, saya mengamati beliau itu dengan diam-diam, karena sudah merasa malu atas sikap penyangsian saya berapa tempo lalu. Sewaktu jumatan, saya liat dia duduk di pojokan, membawa mushaf dan mengaji. Lho…ini jarang. Menemukan orang dengan posisi seperti beliau pada perusahaan yang didominasi manajemen bule, tetapi tetap hidup dengan kultur yang agamis, itu luar biasa. Mulai hari itu, saya menjadikan beliau role model. Anak muda, yang tampil dan berkontribusi dalam kehidupan, tetapi tetap “spiritualis”.

Saya sih tetap begini-begini aja dari dulu, hehehe… tetapi beliau meroket menjadi area manager. Dan tetap dalam low profilenya. Kebersahajaannya. Ke kantor “Cuma” pakai mobil toyota seri apa itu saya lupa, yang hanya muat empat orang. Yang versi murah. Seorang area manager lho.

Sampai suatu ketika ada kabar mengejutkan bahwa beliau resigned. Mengundurkan diri dari jabatannya yang prestisius. Saya dengar kabar beliau melanjutkan studinya. Sebuah keputusan yang agak aneh sih menurut saya dengan pencapaian karirnya.

Saya tiba-tiba teringat dengan beliau ini karena setelah berapa lama, di lebaran kemarin ndilalah beliau mengirimkan ucapan maaf lahir batin. Lho… beliau masih ingat saya yang remah-remah roti semata ini, hahaha…. Luar biasa.

saya melihat track record beliau di Linkedin, lalu saya menyadari keputusan beliau mungkin tepat. Karena beliau bisa menghabiskan lebih banyak waktu diundang ke seminar-seminar. Mengisi panel dengan orang-orang besar di dunia migas dan energi. Terkadang dengan menteri. Saya melihat seorang “spiritualis” yang hidup dan berkontribusi bagi kehidupan. Semakin berkontribusi.

Seperti pepatah jawa, Urip iku Urup, hidup itu nyala (mencahayai). Konon ini adalah pepatah dari Sunan Kalijaga. Senada dengan sebuah hadits bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. [1]

Saya teringat sebuah ungkapan, kalau ingin melihat spiritualis, tidak usah cari di gua-gua. Tetapi carilah di puncak-puncak gedung dunia korporasi. Kalian akan temukan bahwa orang-orang yang menghabiskan hidupnya dengan pekerjaan dan berjibaku dalam kontribusi kehidupan, banyak yang menjadi spiritualis. Dan itu saya rasakan betul setelah tidak sekali dua saya bertemu orang-orang model begini.

Kontribusi aktif dalam masyarakat, inilah filosofi sedekah. Setiap sendi manusia ada diwajibkan sedekahnya, kata Rasulullah SAW. Yang maknanya kurang lebih saya pahami bahwa setiap kemampuan yang diberikan kepada kita, tak lain tak bukan harus menjelma kebaikan yang mencahayai orang lain. [2]

Inilah yang seringkali luput dipahami. Bahwa spiritualis dianggap orang yang menyepi di gua-gua. Atau yang melaburkan diri dalam semata bahasan-bahasan teologis.

Bahasan-bahasan teologis itu penting, sebagai landasan kepahaman. Pengenalan kepada Tuhan, dan pemaknaan hidup sebagai senda gurauNya, pengenalan akan DIA. Tetapi setelah landasan itu (syahadat) ada ibadah personal seperti sholat dan puasa yang memurnikan, lalu dilanjut dengan kontribusi sosial seperti sedekah.

Secara fikihnya semisal zakat fithrah di bulan ramadhan. Tetapi secara maknawi, sedekah adalah juga berarti apapun kebisaan kita, kita haturkan untuk kontribusi bagi kemanusiaan.

Saya mengutip kembali tulisan dari seorang sufi besar yaitu Syaikh Ahmad Sirhindi dalam kumpulan tulisan beliau yang dijuduli “Sharia and Sufism”. Kurang lebih, secara ringkasnya jalan spiritualitas itu ada dua. Yang pertama adalah spiritualitas para wali, atau “saintly way”. Jalan para saint. Ciri perjalanan spiritualitas model seperti ini adalah menghabiskan hari-hari dengan ibadah dan tirakat yang berat seperti pertapa atau rahib-rahib, dengan tujuan untuk mendapatkan insight ketuhanan di ujung perjalanan. Teman-teman kalau menyukai spiritualitas, akan melihat bahwa bahasan mengenai Tuhan Yang Maha Esa, itu ada dalam banyak literatur lintas agama dan budaya. Karena para “saint” itu banyak.

Jalan ini bisa ditempuh, tetapi rawan. Banyak yang gagal di tengah jalan. Kehidupan dengan peribadatan yang super ketat seperti pertapa dan rahib-rahib dengan harapan mendapatkan insight ketuhanan di ujung jalan, malah membuat orang gugur sebelum sampai.

Tetapi ada Jalan kedua, yaitu jalan yang diajarkan para Nabi, atau “Prophetic Way”. Alih-alih menempatkan pengetahuan ketuhanan di ujung perjalanan sebagai hasil dari insight, jalan ini memulai perjalanan dengan makrfifatullah lewat keilmuan. Kajian keilmuan yang mengenalkan manusia kepada yang jamak disebut Tuhan Yang Maha Esa, islam menyebutnya Allah SWT.

Lalu setelah kenal karena ilmu, yang tinggal adalah ibadah, selepas ibadah personal, dilanjut dengan kontribusi sosial.

Penghambaan bukan lagi dimaknai sebagai –semata– sholat lima waktu, misalnya. Atau tadarus Qur’an semata. Tetapi keseluruhan hidup kita inilah penghambaan.

Dalam pemaknaan yang seperti ini, saya melihat banyak orang-orang di sekitar kita yang sebenarnya seorang spiritualis tanpa mereka sadari, karena mereka menghabiskan waktu untuk kontribusi bagi kehidupan.

Tetapi yang lebih penting, hal ini adalah sebuah pengingat juga bagi sesiapa yang menyukai kajian spiritual, agar tidak terlelap dalam semata-mata bahasan teologis, tetapi lupa bahwa ujung-ujungnya adalah berbuat untuk sesama.


[1]  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni

[2] “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. [HR. Bukhari dan Muslim]

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

2 Responses

  1. Hendri Marthenta Yoga says:

    Assalaamu’alaikum Om..salam kenal…

    Saya adalah hamba ciptaan Alloh SWT yang memiliki banyak keburukan, dalam arti dari segi materi saya kalah dari teman2/saudara2/kenalan2 saya yg sudah mapan, punya mobil, rumah dll..dari segi sifat saya memliki ckup bnyak sifat jelek…beruntung saya terlahir dengan Iman, meski dg tertatih2 sampai saat ini, alhamdulillaah saya dimampukan untuk memaksa diri agar bisa istiqoamah “baik” dgn harapan bisa khusnul khotimah dg izinNYA.

    Mohon doanya ya Om agar saya tetap dimampukan untuk memaksa diri menjadi lebih baik sampai nafas terakhir…..dan semoga kita kelak ketika dikumpulkan di hari pengjhisaban, termasuk orang2 yang layak “dilihat” oleh Tuhan Semesta Alam..aamiin

    Saya senang baca artikel2 dari Jenengan, meski kdang2 saja bacanya…Salam kenal ya Om…Terima kasih

    • debuterbang says:

      Salam kenal mas. Sama aja. Saya juga banyak salah dan kurang. Terimakasih sudah berkunjung Mas. Tetap semangat dan gembira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *