TUKANG OJEK DAN PRASANGKA YANG BAIK

Saya senang sekali jika bertemu dengan supir ojek online yang ramah, di pagi hari terutama. Bertemu dengan orang yang ramah, dan obrolan baru yang ringan rasanya seperti memberikan nutrisi hikmah pada awalan hari.

Seperti pagi ini, seorang supir Grab Bike menjemput, dan di sepanjang jalan bertanya dan diskusi mengenai rumah. Dia banyak bertanya mengenai mekanisme membeli rumah, juga mengenai komparasi tinggal di komplek vs bukan komplek, dan cara mengurus sertifikat. Obrolan yang sederhana, tetapi saya menangkap sebuah semangat disana. Semangat untuk membeli rumah.

Spontan saya teringat dengan sebuah hadits, tentang prasangka kepada Tuhan. Jika kita berjalan, DIA berlari. Jika kita mendekat sejengkal; DIA sedepa. Kita sedepa; DIA sehasta. DIA sebagaimana prasangka hamba-Nya. [1]

Sebagian motivator, menggunakan hadits ini sebagai pijakan untuk selalu membaikkan persepsi. Atau positif thinking. Kalau kita mau beli rumah, bayangkan rumah, bayangkan rumah, nanti kita akan diberi rumah. Belakangan, baru saya tahu bahwa sikap begitu kuranglah tepat.

Membiasakan positif thinking itu baik, hanya saja, setelah mempelajari spiritualitas islam barulah saya sedikit mengerti bahwa bukan positif thinking yang seperti itu maksudnya.

Hadits tersebut berbicara mengenai “sambutan” Allah yang mendahului atau lebih cepat ketimbang gerak sang hamba menuju-Nya. Kita mendekat pada-Nya sejengkal, DIA melampaui kita dengan mendekat sedepa. Dan seterusnya. Artinya, sekecil apapun upaya kita menggapai-Nya, tidak jadi soal –selama kita tetap bergerak-. Karena sebenarnya DIA akan menggapai kita lebih cepat.

Nah…. Dalam upaya menuju DIA itulah, konteks positif thinking yang benar, dalam hemat saya.

Jadi, jika kita ada kebutuhan, katakanlah membeli rumah. Yang dibayangkan bukan rumahnya itu. Tetapi menyadari bahwa kita ini fakir dihadapan Tuhan. Melalui kebutuhan untuk membeli rumah, kita lalu menyadari kefakiran dihadapan Tuhan. Dalam menyadari kefakiran itu, kita positif thinking pada Tuhan, bahwa Tuhan akan menerima kita mendekat pada-Nya meski dengan awalan rasa fakir dan butuh akan rumah. Dalam bahasa spiritualitas islam, ini namanya menyifati Tuhan dengan sifat yang layak bagiNya.

Kita positif thinking bahwa sesiapapun menuju-Nya, bahkan dengan upaya sesederhana apapun saja, akan digapaiNya dengan kecepatan yang melampaui gerak kita yang lamban.

Meskipun, kita mendekati-Nya karena rasa fakir dan butuh pertolongan agar DIA memberikan kita tempat tinggal. Meskipun penggerak kita menuju-Nya itu kalah elegan dengan kisah agung para zahid, misalnya Rabi’ah Al Adawiyah yang menuju-Nya semata-mata dengan cinta.

Jadi, kebutuhan apapun dalam hidup, masalah apapun dalam hidup, hanya jadi pintu saja, untuk mendekati-Nya dalam prasangka yang baik.

Meski dosa sekalipun. Dalam prasangka yang baik kepada Tuhan, kita menyadari bahwa jika kita mendekati-Nya karena rasa bersalah atas dosa, DIA akan menggapai kita lebih cepat dari awalan kita yang buram dan kotor itu.

Itulah positif thinking dalam pengertian yang saya baru sadari setelah mendengar wejangan para arif dalam spiritualitas islam.

“Tapi Mas…saya sih sudah ridho Mas… semua ini lakonan Tuhan.” kata seorang rekan.

Wah… alhamdulillah. Ridho itu level di atasnya sabar. Jika sudah sampai pada level itu ya sangat bersyukur sekali.

Kondisi ridho, karena benar-benar terpatri dalam diri bahwa semua ini dalam pengaturan-Nya. Semua sebab-sebab apapun saja dalam kehidupan, hanya kelihatannya saja menjadi “sebab”, sebenarnya tak ada “sebab-sebab”.

Hanya saja, haruslah kita menjujuri diri. Bahwa level itu adalah suasana hati yang ga bisa dibuat-buat. Nabi zakariya a.s saja, saat dijanjikan mempunyai keturunan saat usia beliau sudah sepuh, kemudian beliau heran. Bagaimana mungkin aku memiliki anak, sedangkan saya sudah sepuh, istri sudah tua. Nabi zakariya a.s pun lupa, bahwa anak lahir bukan karena “sebab-sebab”. Bukan karena muda atau tua. Bukan karena faktor biologi.

Karena memang fithrahnya dunia, kita seakan-akan melihat banyak hal yang “wujud” seperti seolah menjadi sebab-sebab.

Itulah mengapa, Sedikit saja ada rasa butuh, rasa salah, perasaan kerdil, dalam diri kita, maka sebenarnya adab kita masih di pintu depan. Masih berada pada posisi dimana kita harus mendekati-Nya dalam prasangka yang baik itu. Do’a!

Disakiti orang; kita berdoa. Ada butuh ; kita berdoa. Kita salah; kita berdoa. Dalam kemudahan hidup; kita berdoa dan bersyukur. Semua hal itu adalah awalan pijakan untuk kita mendekatiNya dalam prasangka yang baik.

Nanti, apabila sudah selalu mendekatiNya dalam prasangka yang baik, lewat doa, kondisi ridho itu akan sampai dengan sendirinya. Dari depan masuk ke belakang. Dan adab fisikal kita menyesuaikan secara otomatis. tidak dibuat-buat.


[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Muslim: 4851)

* image sources from this link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *