TENTANG PENDIDIK SEBENARNYA

Teringat dengan salah satu pembahasan mengenai do’a untuk kedua orang tua. Rabighfirli waliwalidayya…..dst. Hingga sampai pada bagian warhamhuma kama “rabbayani”….

Dikatakan, bahwa makna yang lebih tepat untuk istilah rabbayani itu adalah makna “pendidikan”, mendidik.

Sehingga arti do’a itu adalah sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka “mendidik” kami sewaktu kecil. (bukan sebagaimana mereka “menyayangi” kami di waktu kecil).

Memang dipikir-pikir, kalau “sayang” sih semua ortu sayang pada anaknya. Tetapi kalau “mendidik”, tak semua ortu mampu menerjemahkan rasa sayang mereka dalam pola pendidikan yang tepat.

Dan inilah kelemahan saya. Kurang terampilnya saya dalam menerjemahkan rasa sayang kedalam sikap pendidikan yang tepat untuk anak.

Ada sebagian orang, yang orang-orang sekitarnya tak tahu bahwa dia menyayangi mereka, tersebab kurang ekspresif. Ini adalah salah satu ketidak trampilan menampilkan rasa di hati dalam bentuk laku yang dimengerti oleh orang terdekat. Acapkali saya pun begitu.

Akan tetapi yang lebih penting lagi, dalam soal mendidik anak ini. Apa yang sudah saya lakukan?

Dalam kekurang-mahiran saya bersiasat dalam pendidikan anak ini, saya menyaksikan bahwa lingkungan pelan-pelan membentuk anak saya.

Untungnya, disekitar rumah cukup kondusif.

Di seberang rumah ada musholla yang pengurusnya membuatkan sebuah TPA. Tahu-tahu saja anak saya yang usia TK sudah ikut ngaji tiap sore disana. Sudah tahu banyak sekali cerita-cerita islami. Sudah bisa bercerita ulang.

Seberapa persenkah porsi keterlibatan saya dalam pendidikan anak? Ini PR besar saya. Agar bisa dalam tanda kutip turut andil terhadap warna pendidikan anak saya. Karena orang tua akan diganjar bukan pada kadar sayangnya, tetapi pada bagaimana dia menerjemahkan rasa sayang ke dalam aksi pendidikan yang mewarnai anaknya itu.

Itu dari satu sisi pandangan.

Tetapi menilik dari sisi sebelahnya lagi, dari sudut yang lebih spiritual. Mengertilah saya sekarang bahwa memang bukan kita yang berperan dalam menghantarkan anak kita menuju masa depan mereka. Betapapun kita merasa kita yang berperan, sebenarnya terlalu banyak faktor luar yang akan mengantarkan seorang anak pada takdirnya sendiri kelak.

Harmoninya disana. Sebisa mungkin andil, tetapi pada saat yang sama juga melihat bahwa sebenarnya bukan andil kita yang mewarnai anak. Sebenarnya plot takdir yang membawa anak (dan membawa kita) terapung-apung pada lautan peran kita masing-masing.

Melihat inilah, saya menjadi sedikit mengerti bagaimana sikap doa Rasulullah SAW kala di thaif. “Tuhanku, kepadaMu aku mengadukan kelemahan siasatku dihadapan manusia”.

Begitu pula saya hendak mengadukan kelemahan siasat saya, ketidak-trampilan saya, kekurang-ekspresifan saya, dan segala hal yang kurang lainnya, dalam lingkar perhubungan sosial ini. Dalam muamalah ini.

Sambil dalam pengakuan itu mengakui pula bahwa benarlah takdir DIA semata yang mengombang ambingkan manusia pada jalannya masing-masing.

Dalam pengakuan kelemahan dan ketidakberdayaan semacam inilah saya baru paham pesanan para arif.

Bahkan dalam menuju Tuhan pun kita mengandalkan Tuhan. Karena kemampuan kita tak ada. Tak seberapa. Habis…..lebur….sirna tak ada apa-apanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *