TENTANG NYAMUK DAN DUA JALAN DERAJAT KETINGGIAN

Sambil menunggu sholat Dzuhur, saya bersandar pada pilar masjid dan secara refleks menepuk seekor nyamuk yang hinggap dan menggigit tangan. Setelah melihat nyamuk yang mati itu, saya teringat bahwa seorang guru bahkan tak tega membunuh seekor nyamuk, karena mengerti bahwa dari-Nya-lah semua yang ada ini.

Dipikir-pikir, jauh sekali kualitas saya dan orang-orang yang sampai pada kesadaran seperti itu.

Tetapi melihat nyamuk yang kecil itu, saya jadi tersadar, bahwa seekor nyamuk tidak pernah bertumbuh kesadarannya. Meski nyamuk ini tentu punya akal.

Benarlah saat seorang guru mengatakan bahwa segala yang hidup, sejatinya memiliki akal.

Akal ini, ya sesungguhnya kesadaran atau consciusness itu sendiri.

Akal, kata Imam Ghazali, adalah fakultas ilmu. Penampung ilmu. Karena ada akal, maka ada yang dipelajari. Untuk seekor nyamuk, yang dia pelajari barangkali tak banyak. Sedangkan manusia, akalnya bisa menampung ilmu luar biasa banyaknya.

Ilmu-lah yang membedakan manusia dan ciptaan yang lain. Dengan ilmu itu pula, manusia bisa bertumbuh kembang kesadarannya.

Saya tak pernah melihat seekor harimau atau sapi atau kambing yang lebih bijak ketimbang jenisnya yang lain. Lebih tangkas barangkali ada, lebih lincah ada, tetapi itu instingtif.

Sedangkan manusia, jelas sekali kita melihat strata itu. Sebagian orang lebih pandai dari sebagian lainnya, sebagian lainnya lebih bijak dari sebagian lainnya lagi. Tergantung apa yang manusia itu cerap.

Dan secara umum, memang Allah meninggikan manusia di atas ciptaan lainnya. Contoh yang paling masyhur adalah Adam a.s. yang memang secara gamblang oleh Allah SWT diajarkan asma-asma, sehingga Adam mengungguli malaikat. Bukan karena malaikat tak berakal, tetapi kepada siapa hikmah itu diturunkan, maka tinggilah derajat siapapun yang dianugerahi hikmah itu. Dalam hal ini Adam a.s lah yang diajarkan asma-asma.

Saya mengamati dua tipe dalam spiritualitas. Yang pertama adalah tipe orang-orang yang mengamati dan tadabur dari alam semesta,lalu tadabur-nya terhadap alam semesta itu menyampaikan-Nya pada kesimpulan dan kemengertian tentang penciptanya.[1]

Orang ini, “mendaki” lewat tangga ilmu.

Ada yang diatasnya lagi, yaitu orang-orang yang selalu mengingati-Nya, bahkan kepada alam tak hirau lagi.[2] Tipe ini, SUDAH DI ATAS karena anugerah iman.

Tipe pertama adalah mendekati Tuhan lewat observasinya di alam semesta. Sedang tipe kedua adalah orang-orang yang atas anugerah-Nya sudah selalu terpatri mengingati-Nya, sehingga orang-orang tipe ini tidak perlu observasi. DIA tenggelam dalam ingatan kepada-Nya.

Satu yang mengagetkan saya adalah baru saya mengerti kaitan antara dua tipe itu, dengan fakta bahwa memang Allah meninggikan derajat manusia dengan dua jalan, yaitu ilmu dan iman.

Dari QS Al Mujaadalah:11, “……niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”[3]

Jadi memang derajat meningkat karena dua anugerah. Yaitu iman, dan ilmu. Dua-duanya sebagai jalan kepada-Nya.

Jika anda, rekan-rekan sekalian. Sibuk mengingati-Nya hingga tak hirau kepada nyamuk misalnya, bersyukurlah karena Allah menganugerahkan derajat yang tinggi itu. Derajat yang Allah berikan kepada orang-orang yang sibuk mengingati-Nya sampai lupa meminta. Orang yang ada di puncak karena anugerah iman ini, maka dia akan menjadi berilmu dengan sendirinya tanpa perlu observasi.

Seperti suatu ketika Ibnu Rusyd bertemu dengan Ibnu Arabi. Dan Ibnu Rusyd mengatakan betapa bersyukur dia kepada Allah SWT, karena dipertemukan dengan orang yang mendapatkan “ilmu” tanpa proses belajar atau diskursus, atau observasi. Sebuah perkara yang dia yakini, tetapi belum sekalipun dia bertemu dengan orang yang betul-betul menguasainya.[4]

Tetapi jika anda masih hirau kepada nyamuk, ya bersyukurlah juga. Maka observasilah. Dan dekatilah Allah lewat kesukuran atas tangga ilmu dan kepahaman. Karena berarti jalur anda adalah pendakian. Ilmu anda dapatkan di depan, lalu dengan tangga ilmu anda mencecap Iman.

Melihat alam semesta, lalu mengatakan Rabbana Ma Khalaqta hadza bathila… Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.


[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

[2] Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[3] Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujaadalah : 11)

[4] Al-Hakim, Su’ad. Mendaki Tangga Langit. (Yogyakarta: Indes Publishing), 10.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *