TELAGA RUHANI DI KEHIDUPAN MODERN

oaseSeseorang yang meninggalkan sisi keruhanian, karena terlalu larut dalam kehidupan modern yang materialis ini, kata Buya Hamka, umpama seseorang yang berangkat ke suatu tempat, tetapi ketinggalan sesuatu.
Dirabanya saku bajunya. Saku celananya. Dilihatnya isi dompet dan tas nya. Rasanya tak ada yang tertinggal. Setelah semua dicek, dia yakin tak ada yang tertinggal.

Dilanjutkannyalah perjalanan, tetapi seperti selalu ada sesuatu yang kurang. Dia terlupa akan sesuatu. Maka dia selalu merasa seperti meninggalkan sesuatu, yang entah apa diapun tak tahu.

Cantik sekali penggambaran Buya Hamka akan sisi hidup keruhanian, dalam buku beliau.

Kehidupan modern yang terlampau materialis ini, digambarkan Buya seumpama kisah Nietzche, seorang filosof terkenal yang menentang ajaran kasih dalam agama kristiani itu. Baginya, ajaran kasih itulah penyebab kemunduran. Akan tetapi kemudian Nietzsche menjadi gila. Suatu hari dia ditemukan menangis memeluk seekor kuda. Kuda yang meringkik kesakitan karena dicambuki dengan begitu brutal oleh sang sais-nya.

Disitulah Nietzsche menangis memeluk kuda karena rasa kasihnya. Lalu dia menjadi gila. Filsafatnya sendiri yang menentang kasih dalam agama-agama, bertabrakan dengan ruang “rasa” di hatinya sendiri.

Kita berlindung dari kisah hidup semacam Nietzche. Kita juga berlindung dari kisah hidup semacam Abraham Maslow yang mengakhiri hidupnya sendiri dengan tragis. Padahal dia bapak psikologi.

Tetapi pelajarannya jelas, ruang ruhani tak bisa digenapi dengan materi semata.

Adapun kini, setelah merenungi dan memelajari spiritualitas islam, barulah saya mengerti bahwa “keruhanian” islam itu tidaklah semata premis-premis dunia fikih dan hukum-hukum syariat.

Hidup keruhanian yang lebih dalam adalah menjawab mengenai siapa Tuhan, siapa kita, dan untuk apa kita ada di dunia. Sesuatu yang baru saya temukan jawabannya dalam kajian tasawuf.

Di masa lalu, tasawuf tak ada namanya, tetapi ada realitanya. Hidup zuhud sudah menjadi bagian integral dari kehidupan para Nabi dan Sahabat.

Selang berapa lama berjalan, kehidupan sudah menjadi begitu materialis, dan kajian aspek keruhanian islam yang awalnya adalah antitesis dari hidup yang materialis itu, menjadi salah satu ilmu tersendiri. Sebagaimana dulu ilmu tafsir tak ada, juga ilmu hadits tak ada. Tetapi menjadi ada setlah dikodifikasikan belakangan.

Satu hal yang menarik dari tulisan Buya Hamka adalah, mengembalikan tasawuf pada kemurnian telaganya.

Aspek keruhanian, dan pendakian manusia menuju Tuhan seringkali beririsan, dan membuat orang sering kebingungan apakah bedanya kajian keruhanian islam dan agama lainnya? Apakah kehidupan keruhanian islam ini adopsi dari keruhanian agama dan paham lainnya?

Padahal tidak sekali-kali, dalam telaganya sendiri, keruhanian islam itu menemukan sumbernya.

Dari Buya Hamka, saya melihat bagaimana upaya seorang ulama syariat mengembalikan tasawuf pada duduk asalnya yang jernih.

Sebagaimana saya melihat keping satunya lagi pada seorang Arif, yang mengajarkan tasawuf lewat telaga yang bersih karena pengetahuan Ladunni beliau.

Mungkin tulisan ini tak menyentuh pokoknya. Tetapi saya ingin pungkasi dengan sebuah kisah yang klasik tentang seorang yang menikmati sebuah taman kota. Setiap hari dia bisa duduk-duduk dan menikmati taman kota yang rindang dan cantik, tanpa perlu dia merawat taman itu, tanpa perlu keluar uang, dan orang ini merasakan kebahagiaan yang amat indah karena rasa syukurnya atas kesempatan bersantai di taman itu.

Sementara, seorang lainnya, yang memiliki uang sangat banyak, membeli sebuah taman dengan harga yang sangat mahal. Tetapi dia tidak pernah berkesempatan menikmati tamannya sendiri. Hidupnya dihabiskan untuk mengumpulkan uang dan lalu membayar tukang untuk membersihkan taman, padahal dia sendiri tak pernah menikmati taman itu. Kebahagiaan bagi dirinya adalah status kepemilikan bahwa dialah pemilik taman.

Dua orang yang melihat hidup dari sisi yang berbeda. Yang satu melihat hidup dan menterjemahkan kebahagiaan itu pada “rasa” yang di dalam. Yang satu lagi menerjemahkan kebahagiaan itu sebagai sisi material semata.

Pada sudut “membenarkan persepsi atas hidup” inilah saya temukan bahwa tasawuf memainkan peranannya dengan sangat baik. Karena persepsi yang diajarkan adalah yang paling fundamen.

Demokrasi. Khilafah. Hukum-hukum fikih. Dan banyak varian lainnya ternyata -dalam persepsi saya sekarang- masih belum fundamen.

Benarlah Imam Ghazali mengatakan, awaluddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Dari situlah persepsi disusun ulang, dan hidup menjadi berbeda sekali.

::

*) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

2 thoughts on “TELAGA RUHANI DI KEHIDUPAN MODERN

  1. benar adanya Mas Rio, apa yang mas Rio bahas dalam tulisan ini bersentuhan erat dengan diskusi saya dengan Mang Asep (temen kosan saya) tentang Tasawwuf. Bahkan Mang Asep bilang kemurnian ilmu inilah yang dengan sengaja dtutup-tutupi oleh penganut materialime.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *