TATO NYIMAS (cerpen)

Rojak hampir mati. Kalau saja tidak ada bus melintas, dan rimbun pisang serta alang-alang, mungkin dia benar-benar sudah mati.

Orang-orang malas mengejarnya lagi. Masuk ke dalam alang-alang dan disayat duri-duri rumput bukan perkara menyenangkan, terutama sekali kalau kau melakukannya untuk sesuatu yang tidak penting. Sesuatu yang tidak penting itu semisal jika kau menggebuk orang yang tidak kau kenal, yang kau dapatkan hanya kenikmatan psikologis secara sementara. Tidak ada sesuatu hal yang seperti keuntungan riil
yang kau dapat. Tentu saja dengan mengesampingkan fakta bahwa boleh jadi dompet yang hilang akan kembali. Tapi omong-omong itu bukan dompetmu, kan? Bukan dompet mereka, maka mereka tak lagi mengejar Rojak.

Rojak tadi lari pontang-panting dari sebuah bus . Seorang teman mendampingi Rojak, mereka mengincar seorang perempuan.

Apa alasan mereka untuk memilih korban? Tak ada, hampir tak ada. Random saja. Sesuatu yang random adalah mirip kepastian hidup. Takdir itu, kata Rojak juga random. Tak pernah dia pilih untuk lahir dalam keluarga yang ribut-ribut dan akhirnya dia pilih keluar rumah lalu menggelandang. Pun akhirnya dia menjadi pencuri adalah sebuah takdir rumit yang random.

Perempuan itu, sepertinya menemukan takdirnya. Dan itu rumit. Dimulai dari sepasang mata Rojak yang mengamati lekuk tubuh wanita itu, dan memutuskan mendekatinya dengan bergeser pelan-pelan diantara berjejal tubuh penumpang-penumpang, itu saja sudah jadi satu cerita panjang. Wanita itu tidak memilih dilahirkan berwajah cantik, sebagaimana dia tidak memilih untuk hari ini bertemu bus patas itu, lalu tidak juga dia memilih untuk jadi target Rojak dan kawannya. Seperti itu juga Rojak tidak pernah pilih jadi pencuri. Ini takdir, katanya dalam hati. Tapi kadang-kadang dia masih juga ragu apa benar ini takdir?

Lalu kawan si Rojak ini mengkodenya dengan ekor matanya. Mulailah laki-laki itu memepet-mepet sang mahasiswi bernasib sial. Mahasiswi itu gerah, dan terusik, dia merasa ada yang tidak beres dengan laki-laki ini, dia bergeser menjauh, malang dia malah mendekati Rojak. Rojaklah yang mengambil dompet dari tas wanita itu, lalu dengan cekatan memasukkannya kedalam saku jaket levis.

Rojak senang, akhirnya hari ini dapat satu, pikirnya dari tadi pagi mereka belum mendapat satu jua dompet. Takdir memang kadang-kadang kejam. Orang suka memfitnah para pencopet hanya mau enaknya saja, tak mau berusaha. Rojak marah. Mencopet itu susah. Sensasinya seperti demam panggung. Dan apa mereka pikir dalam sehari Rojak bisa dapat banyak? Belum tentu, sering malah tidak dapat seberapa.

Orang-orang kaya, tak pernah naik bus berdesak-desakan. Maka Rojak selalulah mencuri orang yang mungkin sedikit saja uangnya. Dan hari ini Rojak baru dapat satu. Itu takdir. Semua di dunia ini takdir, Rojak senang dengan ide begitu, membuatnya merasa tidak terlalu berdosa.

“Copeeett!” Teriak nenek-nenek di bangku. Rojak panik setengah mati. Orang-orang melihat dia. Pukul! Pukul! Kata orang-orang.

Rojak meloncat, meloncat dari bus yang berjalan lalu berlari melewati jalan raya yang padat dan bising. Orang-orang mengejar di belakangnya. Orang-orang ingin menghajar Rojak. Teman Rojak tak ketahuan, dia lalu loncat dari bus, lari dalam keramaian, pura-pura tak tahu.

Rojak lari dan melintas pagar, masuk dalam rimbun-rimbun pisang, masuk dalam alang-alang yang dibelit-belit duri. Orang-orang malas lagi mengejar, orang-orang banyak kerjaan. Di kota besar waktu juga uang. Tak terlalu penting mengejar pencuri, menghabiskan waktumu. Tak penting payah-payah masuk alang-alang.

Di dalam alang-alang Rojak mengutuk-ngutuk temannya, penakut tak tahu diuntung.

***
Rojak kurus, kurus yang terlihat tidak begitu kurus, karena Rojak itu pendek. Dia berambut lurus agak panjang sebahu, dan tidak punya kumis, tidak punya janggut. Kadang-kadang Rojak ingin punya codet, supaya dalam lingkaran kawan-kawannya yang maling, dia agak sedikit dihormati.

“Tampangmu seperti anak masjid saja!” kata kawan Rojak suatu kali.

Rojak bercermin, iya juga, pikirnya. Maka ingin juga Rojak mentato tangannya. Mentato lengannya. Rojak pikir tato hampir sama dengan codet, kawan-kawannya mungkin akan segan. Maka Rojak ditato pada lengan, di pinggir jalan yang banyak sampah dan bau-bau pesing.

Pertama Rojak ingin ditato naga, lalu berganti ingin ditato harimau. Apakah ditato itu sakit? Tanya Rojak. Si pentato tertawa, mana ada preman takut sakit? Katanya. Rojak diam.

“Okelah, tato harimau!” Kata Rojak.

Mulailah lengannya dirajah harimau. Tiba-tiba Rojak seperti mau mati, baru dia sadar kawan-kawannya tolol setengah mati. Ditato itu sakit begitu rupa, kenapa apa ada yang mau memenuhi sekujur badannya dengan tato?

“sebentar-sebentar.” Kata Rojak.

“kenapa? Kau tak tahan sakit?” tanya pentato.

Malu diejek seperti itu, maka Rojak berkelit. “Tidak, ganti saja gambarnya, tato saja nama istriku!” katanya.

Begitulah, akhirnya tato ‘Nyimas’ terpampang pada lengannya. Rojak berbohong waktu dia bergaya-gaya memaju-majukan bibirnya dengan bilang tato itu tak sakit, padahal dia pilih nama istrinya karna yakin lebih gampang mentato tulisan daripada gambar, apalagi gambar harimau.

Tapi memang dia jujur waktu dia katakan dia cinta istrinya. Sambil ditato, Rojak bayang-bayangkan istrinya. Yang di rumah gubuk sedang memasak, memasak bubur kacang hijau. Lalu nanti Rojak akan menyeruput kuahnya yang panas dan gurih, dengan senyum-senyum. Istrinya nanti mendekati Rojak sambil memijit-mijit pundaknya.

“Dapet hari ini, bang?” kata istrinya.

Setiap kali istrinya bertanya seperti itulah, Rojak akan merasa ada yang berdesir pada nadinya. Sesuatu yang dia lihat pada muka istrinya sebagai takdir yang baik. Rojak tahu dia salah, tapi setidaknya dia jujur, dia bilang pada istrinya kalau dia mencopet.

Mulanya istrinya marah pada Rojak. Tapi lama-lama tidak lagi. Lapar mengalahkan marah. Aneh memang. Sama anehnya dengan trenyuh mengalahkan lapar.

Tiap kali istrinya bertanya apa yang dia dapat hari ini, maka Rojak akan kehilangan selera makannya. Rojak malu, malu pada uang yang dia ambil dari dompet orang. Malu pada istrinya yang kadang-kadang menatap kosong sambil membawa barang belanjaan dari warung dekat rumahnya.

Mungkin uang hasil curian sering membuat orang melamun. Mungkin juga uang curian tidak menjadi daging, itu kenapa Rojak kurus.

Rojak cinta istrinya. Maka tato ‘nyimas’ pada lengannya sering berkhasiat mistis, pada saat Rojak sedang lelah mencopet, dan putus asa tidak mendapat mangsa, maka dia akan melihat tato ‘nyimas’ lalu Rojak akan bersemangat lagi. Tapi kadang-kadang sebaliknya, setelah mendapatkan mangsa, lalu Rojak akan melihat ‘nyimas’ pada lengannya, dan bersedih lalu ingin tobat.

Rojak ingin sekali-kali, dia mendapatkan semacam ‘panggilan’, semacam sesuatu yang membuat orang merasa sangat ingin naik haji. Sesuatu yang membuat dia bisa meninggalkan profesi dan kawan-kawan yang maling. Tapi itu tak pernah datang. Rojak marah, pada takdir dan pada Tuhan.

Kenapa, tidak ada orang baik yang menyadarkannya, yang membuat dia menitis airmata lalu berjanji berhenti mencopet. Lalu bekerja di jalan halal? Sedang kenyataannya dia berjalan pada trotoar jalanan raya yang bising, debu, panas, orang-orang berteriak, dan selalu melihat muka istrinya pada setiap muka perempuan di jalan.

Maka demi makan istrinya, hari itu Rojak ingin mencopet lagi. Marah, dia. Pada ‘panggilan’ yang tak datang. Kalau Tuhan tak lagi sayang dia, biarlah, pikirnya, yang penting dia sayang istrinya, dan itu berarti dia orang baik.

Praak! Suara kaki Rojak menginjak lantai bus, dia melompat dari trotoar ke bus yang berjalan. Lalu mengincar buruan dengan matanya yang nyalang. Kali ini dia sendiri, tak ada teman. Tak ada pengkhianat.

Rojak sukses, dia mendapat dompet. Dia turun dari bus, lalu berjalan lewat jalan setapak yang debu dan belukar. Menimang-nimang dompet pada tangannya yang kering.

Di tengah jalan tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada kakek-kakek rebah, pada tanah, pada sepedanya yang tua dan dijejali rumput. Merintih-rintih dengan suara yang serak dan pelan. Dibantulah kakek itu oleh Rojak. Luka pada lutut orang tua itu disapunya dengan tangan dan percikan ludah, lalu dilumurinya dengan daun-daun.

Rojak sebenarnya baik, dia lalu entah kenapa menangis, menangis sebentar dalam hatinya, sembari melihat ‘Nyimas’ di lengannya. Ah…kakek ini saja bisa berusaha menyabit rumput, menjual rumput, lalu dengan sepeda tua terjatuh-jatuh pada setapak jalan kerikil.

Ini ‘panggilan’ kata Rojak dalam hati.

Dia tuntun orang tua itu, lewat kelok-kelok jalan. Dipapahnya sepeda yang berdecit-decit. Ada hatinya yang teriris dengan decit sepeda tua itu. Tuhan, terimakasih kau ‘panggil’ aku lewat orang tua ini, ucap Rojak.

Lalu orang tua itu tiba-tiba berteriak.

“ini dia!! Ini dia!!” katanya.

Dari rimbun pisang keluar dua orang berjaket hitam. Rojak terkejut. Rojak lari. Lari dengan kencang sekali sambil memaki-maki kakek tua. Bedebah! Bedebah! Katanya.

Rojak terus lari. Lari meniti jalan, melewat duri-duri, menembus rimbun belukar, sela-sela rumah orang. Tak mau dia tertangkap intel. Tak mau dia dipenjara. Tak mau dia tak melihat nyimas lagi.

Rojak letih pada kakinya, pada semangatnya, lalu dia melihat ‘nyimas’ di lengannya. Semangatnya bangkit lagi dan berlari lebih kencang, lebih kencang. Dua orang berjaket hitam tertinggal dan tampak tak tahu kemana Rojak.

Tuhan memang keterlaluan! Pikir Rojak. “Tuhan, aku sudah kira itu ‘panggilan’ aku ingin datang padamu, tapi tega nian kau kirimkan intel untuk menangkapku!” Kata Rojak.

Rojak percaya Tuhan sudah benci, benci pada orang yang memasukkan bulir demi bulir barang haram pada perut istrinya.

Ya sudah, kepalang Tuhan benci, Rojak ingin membalas. Membalas ‘panggilan’. Dia tahu Tuhan sudah menipunya. Maka dia ingin mencuri lagi, dia dendam pada Tuhan.

Dia menyusur rumah-rumah, melihat siapa saja yang bisa dia jadikan korban. Pada sebuah jenak dimana orang lengah maka Rojak menyambar handphone kecil di muka warung, handphone seorang perempuan penjaga warung yang asik memlototi infotainment.

Rojak senang sekali. Lalu pulang, dendam terbayar. Disusurinya jalan setapak, melewati kebun pisang, menimang-nimang handphone. Dimana akan dia jual handphone ini? Pikirnya, sambil melewati jalan-jalan tikus perumahan yang sempit dan berjejal.

Pada sebuah gang yang digenangi air-air pada sebagiannya, tiba-tiba saja Rojak mencium bau bubur kacang hijau.

Dia membayangkan gurihnya. Membayangkan panas kuahnya yang mengepul, lalu membayangkan istrinya. ‘Nyimas’ pada lengannya ditatapnya. Lalu tiba-tiba Rojak ingin menangis entah kenapa. Dia seka lembab-lembab yang menggantung di matanya. Tangannya kurus dan kering. Ah…

Dia lari, bertambah cepat, bertambah cepat, dia ingin pada larinya yang cepat orang-orang tak melihat dia menangis. Menangis juga seperti takdir, datang begitu saja tanpa permisi dan ketok pintu. Rojak menyeka butiran yang terbang-terbang lewat matanya. Dia tiba-tiba saja rindu istrinya. Dia ingin kembali. Dia buang handphone itu pada selokan keruh dan hitam. Dia ingin kembali.

Dia pikir Tuhan mungkin benci, itu kenapa Tuhan tidak ‘memanggil’. Tak apa, pikirnya, aku ketuk saja rumah Tuhan. Lalu meminta atas nama ‘nyimas’. Tuhan sepertinya masih sayang nyimas, pikirnya.

Dia lari terus. Tuhan mungkin masih sayang nyimas, pikirnya. aku ketuk saja rumah Tuhan. Lalu meminta atas nama ‘nyimas’. Dalam pelariannya yang letih itu Rojak mencari masjid, dia harap masjid akan dia temukan pada sebuah sore yang syahdu dan menjelang senja, pada sebuah gurat-gurat merah awan yang dilukis matahari sore. Atau juga lewat tuntunan suara orang mengaji dan azan. Tapi yang ditemukannya cuma gang-gang kumuh, lalu genangan air yang becek, lalu ilalang-ilalang, tapi ada bau bubur kacang hijau, bau yang menyengat, pada segalanya, pada air, pada tanah, pada duri-duri rumput, pada lembab di matanya juga pada tato ‘Nyimas’ di lengannya, lalu Rojak tersungkur.

“Ampun Gustiiiii!” teriaknya.

4 thoughts on “TATO NYIMAS (cerpen)

  1. Subhanallah, cerpen yang sangat bagus. Salam kenal, saya mahasiswa sastra yang sudah membaca artikel2 di web ini sejak kelas 2 SMA.
    Rasanya cerpen ini bisa saya analisis untuk tugas UAS ^_^

    Saya rasa cerpen ini bisa dicoba untuk dikirim ke media massa,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *