TASAWUF, KE DALAM DAN KE LUAR

Berapa tahun lalu, di kantor saya mendapatkan seorang manajer yang kebetulan punya kecenderungan introversi persis seperti saya. Bedanya, beliau adalah seorang introvert dengan kemampuan manajerial yang luar biasa. Hampir semua lini dikuasai. Managerial, Financial, Technical.Saya amati, beliau memang menggunakan kemampuan introversinya dengan maksimal. Seorang perenung sejati, banyak belajar dan membaca.

Menilik bahwa beliau dan saya ada kemiripan dalam hal introversi. Maka saya terapkan betul petuah-petuah beliau pada saya, salah satunya adalah petuah “Don’t fall into silent trap”. Jangan terjatuh pada jebakan kesunyian. Hehehe anggap aja terjemahnya begitu.

Apa itu jebakan kesunyian, atau silent trap? Menurut manajer saya dulu, salah satu jebakan yang sering dilakukan para manajer kepada bawahan, adalah silent trap. Misalnya manajer memanggil seorang bawahan ke ruangan, lalu manajer tersebut bicara sepatah dua patah kata. Lalu diam. Sengaja diam sehingga ruangan menjadi hening.

Dalam suasana sunyi itu, biasanya akan kikuk. Karena kikuk, maka sang bawahan yang merasa dalam tekanan akan berusaha bicara untuk memecah kesunyian. Dan pembicaraan yang seperti itu biasanya kurang bermutu, dan malah jadi ajang dimana bawahan membongkar hal-hal tentang dirinya, yang semestinya tak perlu. Dan manajer pun bisa menilai bawahannya dari apa yang dia bicarakan pada saat silent trap itu.

So let the silence happen. Biarin aja “kesunyian” terjadi. Begitu kata beliau. Bersahabatlah dengan sunyi.

Hanya saja, selang berapa waktu kemudian, barulah saya menyadari bahwa terlepas dari kemampuan mengakrabi kesunyian, kemampuan untuk membangun relasi dan menjadi bersahabat pada orang-orang adalah juga penting.

Maka saya belajar kemampuan lainnya yang memang selama ini belum saya kuasai, atau lebih tepatnya saya mengira sudah menguasainya, ternyata belum. Karena saya dulu termasuk yang agak besar kepala, telah mengira bahwa saya seorang yang sangat ahli dalam komunikasi.

Sampai pada satu kesempatan, Allah takdirkan saya Training di San Antonio Texas, di sana saya melihat diskusi panel para pembesar kantor dengan Analis dari Wall Street. Baru saya tahu mereka adalah orang-orang dengan kapasitas luar biasa, saya –meminjam istilah teman saya- Cuma kuah indomie aja dibanding orang-orang itu, hehehehehe.

Dari pengakuan kelemahan diri itulah, baru minat belajar tumbuh. Tetapi kemampuan komunikasi yang saya maksud ingin saya pelajari adalah bukan semata pada kemampuan berorasi di atas panggung. Melainkan Small talk. Kemampuan komunikasi yang ringan-ringan. Bertanya kabar, ngobrol basa basi tentang cuaca, ngobrol tentang hobi, ngapain aja pas weekend kemarin, dan seterusnya.

Yang kesemuanya rupanya ada seninya. Seni bertanya, misalnya membiasakan bertanya open ended question, pertanyaan terbuka yang menjawabnya ga hanya pakai Yes or No. Dan ibarat anak tangga, seseorang tidak bisa masuk dalam bahasan lebih dalam tanpa melewati small talk, obrolan ringan. Dan disitulah Saya sama sekali tak mahir.

Maka saya sengaja betul cari-cari literatur tentang itu. Dan termasuk menonton video-video tentang membangun percakapan semacam itu.

Satu fakta yang menarik adalah tips dari seorang pembicara di TED TALKS. agar jangan “saingan” dalam bicara. Misalnya seseorang berbicara tentang betapa beratnya masalah di pekerjaannya. Jangan kita ikutan pula menyampaikan bahwa pekerjaan kita juga berat dan bahkan lebih menantang darinya.

Belajar empati. Karena Ini bukan tentang kita. Melainkan tentang orang tersebut.

Karena menyinggung tentang “ini bukan perkara diri kita” Dari sana saya teringat sebuah hadits, dimana Allah SWT menegur hambaNya di hari akhir. Aku sakit mengapa engkau tak menjenguk? Tentu saja hambaNya bingung, bagaimana bisa Tuhan semesta alam sakit?

Ternyata maksudnya lihatlah sekitar kita. Jika ada orang sakit, ada orang kesusahan, maka saat kita menjenguk mereka, membantu mereka akan “kita temukan ada DIA” disana. Karena sejatinya makhlukNya itu dalam genggaman dzatNya semata-mata.

Dan meluaskan jangkauan kita ke sekitar, membantu orang-orang, ini rupanya mengharuskan juga kita belajar seni mendekat pada orang lain.

Baru saya temukan kaitannya tasawuf dalam ilmu personaliti dan komunikasi.

Di satu sisi belajar Masuk ke dalam, larut dalam renungan, sunyi dalam kontemplasi, dzikrullah. Tapi sisi lain kita Juga belajar berjalan ke luar, membangun relasi dalam rangka berkebaikan, dan menawarkan bantuan.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *