TASAWUF GO-JEK

gojekHari ini naik Go-Jek ada pengalaman unik. Pagi-pagi menunggu Go-jek di depan rumah, selang berapa menit eh yang nongol ibu-ibu bawa motor, sama sekali tak disangka. Waddduuuuhhhh.

Saya rasa-rasa ndak enak toh ya? Mau dicancel, rasa tak enak hati. Akhirnya ya sudah saya naik saja.

Ibu-ibu ini sedikit gemuk, tetapi diluar perkiraan saya dia sigap dan tangkas. Kalau lampu sein ke kanan, dia belok ke kanan, kalau ke kiri dia ke kiri. Tidak seperti umumnya yang dituduhkan meme-meme humor di medsos, katanya kalau ibu-ibu naik motor, sein ke kanan beloknya kiri, hehehe.

Dari Rumah ke kampung rambutan ditempuh singkat saja, dan hapal jalan-jalan pintas. Wah… mantap juga ternyata. Begitu sampai tujuan, saya beri nilai penuh, dan saya beri tips lewat aplikasi Go-Pay. Pasalnya…… “saya kasihan”, ibu-ibu terpaksa ngojek.

Lalu sorenya, kembali lagi pengalaman yang unik. Di sebrang kampung rambutan saya duduk ganteng menanti abang Go-Jek. Tak lama kemudian yang nongol bapak-bapak sepuh. Waddduuuuh….  Rasa tak enak hati. Lagi pula, bapak-bapak ini tidak memakai seragam Go-Jek, “maaf mas, jaketnya belum jadi.” Ujarnya.

“aman aja pak….” Kata saya.

“Tapi satu lagi Mas, ini motor saya kalau naik tanjakan agak ndut-ndutan, maklumlah motor tua.”

“Ooooh gapapa Pak, sante aja.” Saya jawab begitu.

Eh ternyata benar, motornya lamaaaa dan ndut-ndutan, hehehe.

Tapi setelah sampai rumah, akhirnya saya berikan nilai bintang lima di aplikasi Go-Pay, dan saya berikan tips. Alasannya sama, “saya kasihan” bapak-bapak sudah tua malah ngojek.

Dipikir-pikir, saya renungkan, eh….ternyata begitu polanya. Seringkali saya tergerak berbuat amal sosial di-drive oleh rasa kasihan. Sisi emosional saya yang tersentuh, menjadi pemantik untuk berbuat kebaikan.

Hal ini, dalam tangga-tangga kebaikan, saya pikir berada dalam level kebaikan yang saya  sangat bawah sekali.

Saya teringat dengan wejangan seorang guru, bahwa perumpamaan seseorang yang melakukan kebaikan karena Allah itu adalah seperti lilin. “Membakar diri sendiri”.

Seperti keluarga Rasulullah SAW yang memberikan makanan yang tersisa kepada fakir miskin meskipun mereka sendiri kelaparan dan tak ada makanan untuk berbuka.

Mereka berbuat baik kepada siapapun saja, melintasi kebaikan yang disetir oleh emosi. Tak perduli apakah sasaran kebaikan itu menyentuh sisi emosi dan berhak dinelongsoi apa tidak.

Waduh… saya jauh sekali dari tingkat seperti itu.

Umpamanya saja memberi sedekah, atau memberikan sebagian rizki untuk yang memerlukan, siapapun saja. Ada semacam gejolak tarik menarik di diri saya. Beri…engga….beri…engga’, sampai kemudian saya secara prinsip menyadari bahwa kebaikan ada pada “memberi”, tetapi untuk memenangkan “memberi” itu; saya harus menyelami sisi empati saya sendiri. Ketika saya membayangkan bahwa yang akan diberi ini sangat butuh, dan nelongso, maka empati saya terbit dan saya memberi.

Sehingga, pemberian saya belum melampaui batasan itu. Pemberian yang terbit karena sisi empati dan emosional saya yang tergugah. kalau ga tergugah, atau orangnya songong, ya sulit saya memberi.

Kalau para arifin, mereka-mereka memberi karena paham siapa sebenarnya “yang memberi” dan siapa sebenarnya “yang diberi”. Bahasa njlimetnya adalah “sejatinya yang memberi dan yang diberi tak pernah ada, non existence, yang ada hanyalah dzat-Nya, karena makhluk sejatinya non existence, alias tak punya wujud sejati. Bahasanya Buya Hamka, kajian mengenai yang ada ini disebut “ontologi” tapi kalau bahasan tasawuf membahas ini dalam ranah wajibul wujud dan mumkinul wujud. Wis tapi bukan ranah saya membahas detailnya. hehe.

Contohnya, seperti sebuah hadits, dimana dikatakan di akhirat kelak Allah SWT bertanya bahwa DIA sakit, tetapi tidak dijenguk. Lalu hamba kebingungan, bagaimana mungkin Tuhan semesta alam sakit? Lalu dijawab bahwa si Fulan sakit, kenapa tidak dijenguk? Si fulan lapar kenapa tidak diberi makan? seandainya diberi makan atau dijenguk, akan kita dapati orang-orang yang butuh itu ada disisiNya.  [1]

Kepahaman seperti itulah yang berada di tangga lebih atas lagi. Melampaui kebaikan-kebaikan yang disetir oleh rasa kasihan dan empati atas nelongsonya orang lain.

Tapi ya kebaikan seperti itu ga bisa dikarang-karang. Kalau belum nyampe ya belum nyampe, hehe.

Secara jujur saya mengaku kepada seorang guru yang arif, bahwa saya masih sangat jauh dari capaian sebegitu. Tetapi beliau katakan, bahwa setiap buah akan ada masa ranumnya. Jadi yo wis….. nikmati sajalah…segini yo rapopo. hehe.

Saya jadi teringat kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang menafkahkan seluruh hartanya. Dan itu “boleh” untuk beliau. Kasus yang khusus.

Sahabat lainnya, menafkahkan lebih dari sepertiga harta, tak boleh, dikatakan bahwa sepertiga itupun sudah banyak.

Kembali lagi. Artinya bukanlah tidak boleh beramal. Ada hal-hal yang wajib dan sudah diset menjadi standar setiap orang harus melakukan. Misalnya ya sholat lima waktu.

Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, saya baru pahami maksudnya para arif yang mengatakan bahwa amaliyah itu terzahir dari ahwal-ahwal (situasi ruhani). Berbeda ahwalnya, maka akan berbeda pula amaliyah yang zahir pada orang tersebut.

Yang perlu pokok dipahami adalah betapa pentingnya “pemahaman”. Pemahaman yang benar akan pada gilirannya menghantarkan pada terbitnya amaliyah yang lebih tajam.

Teringat saya sebuah perumpamaan dari sang arif tersebut, bahwa jika belum ada “impact” bagi kita –utamanya saya-, belum ada bekas yang nampak pada kehidupan pribadi kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah kembali mengaji lagi ilmunya. Sampai kepahamannya benar dan tajam. Nanti, pada masanya kepahaman yang benar itu akan berbuah manis.

Mintalah padaNya kepahaman, karena kepahaman itulah yang akan menerbitkan perbuatan.

Begitu…. Laporan dari naik gojek hari ini. Demikian.


Ref:

[1] “Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?” “Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?” “Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” Jawab anak Adam; “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala menjawab: “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR. Muslim: 4661) – http://hadits.in/muslim/4661

* ) Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *