TANGGA BIASA, HUKAMA, DAN MUQARRABIN

 

stairsOrang mukmin biasa, kata Buya Hamka, mengenal Allah karena memang begitulah ajaran yang diterima mereka. Jadi kebanyakan orang mengenal Allah; karena memang begitulah ilmu yang mereka dapati mengenai Allah, sejak dari mereka lahir.

Di atas itu, ada hukama atau ahli hikmah. Yaitu sederhananya adalah orang-orang yang selalu mentafakuri kehidupan, dan mengenal Allah lewat analisa akal dan manthiq atau logika.

Diatasnya lagi, adalah golongan muqarrabin. Yang sampai pada tahap “merasakan” kedekatan dengan Allah.

Golongan muqarrabin inilah orang-orang dengan derajat pengenalan yang paling tinggi.[1]

Di dalam Al-Qur’an ada banyak sekali ayat dengan perintah untuk berfikir atau merenung. Orang-orang yang berfikir tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian pada ujung renungannya mereka mensucikan Tuhan.

Orang-orang yang merenungi tentang kehidupan ini, inilah ahli hikmah. Dengan renungan dan analisa logika mereka mendapatkan bukti kekuasaan Tuhan.[2] ini adalah sebuah kebaikan.

Akan tetapi, setelah bertemu dengan seorang arif[3], barulah membuat saya paham bahwa di atas “tahu” ada kenikmatan “merasakan”. Hal ini adalah gambaran tangga-tangga pengenalan.

Di atas para ahli hikmah yang piawai mengumpulkan bukti tentang kekuasaan Tuhan, adalagi orang-orang muqarrabin yang merasakan lezatnya kedekatan. Begitu bahasanya Buya Hamka meniru Zun Nun Al Mishri.

Kalau para hukama, mengumpulkan bukti tentang Tuhan lewat analisa manthiq. Maka orang-orang muqarrabin sibuk “merasakan” kehadiran Tuhan, kedekatan pada Tuhan.

Jadi bukan saja setakat mengumpulkan bukti tentang-Nya, tetapi melangkah lebih jauh dengan selalu menyadari / merasakan bahwa semua kejadian adalah af’al-Nya yang begitu dekat dengan kita. Lebih-lebih tak semata af’al-Nya yang dekat dengan kita, melainkan pula dzat-Nya.

Orang mukmin biasa mengenali Allah karena lingkungan membuat mereka begitu. Naik sedikit ke tangga atas, para hukama mengenali Allah karena mentafakuri bukti tentang-Nya. Naik lagi ke atas orang-orang muqarrabin sudah tak lagi membahas bukti, melainkan merasakan “kehadiran-Nya” dalam keseharian.

©debuterbang


[1] Prof. DR. Hamka. 1952. Perkembangan & pemurnian Tasawuf: Dari Masa nabi Muhammad Saw. Hingga Sufi-sufi besar.

[2] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

[3] Ust H. Hussien Abd Latiff

*) Ilustration image, taken from this link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *