TAK MESTI PUNYA TAMAN SELUAS LAPANGAN BOLA

GardenLawnAda sebagian khalayak, yang hanya bisa berbahagia setelah memiliki rumah dengan taman yang luas. Seluas lapangan sepak bola. Lengkap dengan tetumbuhan yang hijau ranum, dipangkas rapih oleh tukang kebun, dan dihiasi lampu-lampu taman ala yunani kuno, dengan burung-burung merpati yang terbang hinggap di sembarang tempat. Orang-orang yang seperti ini, rela bekerja siang malam dengan keras untuk kepemilikan sebuah taman nan indah, walaupun kenyataan realitanya adalah mereka tidak pernah punya waktu menikmati taman itu. Kebahagiaan mereka adalah dengan mengaku-ngaku bahwa “taman itu punya saya”. Perkara saya sibuk bekerja tanpa pernah menikmati taman, itu lain soal. Yang jelas taman itu milik saya.

Ada kebalikannya, yaitu orang-orang yang bisa berbahagia dengan menikmati taman. Misalnya mereka berjalan di taman kota setiap pagi. Melihat burung-burung yang terbang hinggap, melihat pohon-pohon beringin kecil yang dipapas jadi bentuknya seperti bola, merendamkan kaki di pancuran tengah-tengah taman, atau sekedar duduk dan ngobrol santai di bangku taman. Taman itu bukan milik mereka, tidak soal, yang jelas realitanya mereka bisa menikmati taman itu. Kebahagiaan mereka adalah pada kemanfaatan yang bisa mereka terima, mereka rasakan.

Saya hendak menuliskan ini untuk diri saya sendiri. Bila pada kenyataannya dua orang dengan dua tipe ini tadi bisa sama-sama berbahagia, maka sebenarnya kita boleh memilih. Pada posisi mana kita ingin berbahagia? Mana kebahagiaan yang jauh lebih real? Mana yang tertipu?

Itulah bedanya rejeki dengan harta. Harta itu adalah sesuatu yang diaku-aku milik kita. Seperti taman. Boleh jadi kita punya taman indah seluas lapangan golf, tapi bila tiada pernah ada luang untuk sejenak menikmati hijau-hijaunya rumput taman itu, dan kita hanya sibuk bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, mungkin taman itu bukan rejeki kita. Mungkin rejeki pengemis yang kebetulan numpang lewat dan numpang tidur disana.

Singkat cerita, rejeki adalah sesuatu yang kemanfaatannya secara real kita rasakan. Maka boleh jadi harta kita banyak, tapi ingat bahwa rejeki siapapun bisa kait mengait dengan harta kita. Dan bila kita selamanya mengejar harta, tanpa sebuah persepsi indah bahwa dengan banyak harta maka kita bisa membagi rejeki buat orang lain; jangan-jangan kita sudah salah fokus. Kita mengaitkan kebahagiaan kita dengan kepemilikan, padahal kepemilikan akan sesuatu tidak lantas secara serta merta membuat kita bisa menikmati sesuatu itu.

Boleh kita bekerja keras, asal sebuah mindset tertanam dalam benak kita, bahwa dengan kerja inilah kita mendapatkan titipan sebuah harta yang jadi jalan rejeki untuk orang lain. Jadi meski kita tak nikmati, tak soal. Itu kalau mindset kita benar.

Pantas saja, orang-orang arif yang bijak bisa selalu bahagia, karena untuk bahagia tidak harus menunggu barang atau apapun itu menjadi milik mereka, asalkan saja mereka bisa menikmati kenyataan bahwa mereka senang dan syukur dengan kemanfaatan sesuatu itu; mereka sudah bahagia. Dan orang-orang di dunia ini triliunan jumlahnya yang keliru-keliru, mengira bahwa untuk bisa menikmati sebuah taman, harus memiliki dulu taman seluas lapangan bola.

Jikalau kita tak bisa bahagia sebelum punya taman seluas lapangan bola, kita harus jeda sejenak dan seting ulang mindset. Padahal mungkin rejeki untuk kita; sesuatu yang bisa kita nikmati dan mendatangkan kesyukuran; itu sudah serak-morak amburadul tak karu-karuan di sekitar kita, hanya saja kita tidak pernah benar-benar menyadarinya.

Hati-hati.

—–

*) gambar dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *