MENSYUKURI PENGALAMAN HIDUP

journeyPagi ini, dorongan di hati begitu kuat untuk menuliskan tentang rasa syukur. Kapan terakhir kali kita benar-benar menyampaikan syukur pada Tuhan? Dalam setiap sholat kita mengucapkan hamdalah, tetapi hamdalah yang terlalu seremonial dan jarang dijiwai itu berhenti sebatas formalitas. Kapan terakhir kali saya benar-benar mengucapkan syukur pada Tuhan?

Yang membedakan, antara ibadah formal seperti sholat dengan hal-hal selain ibadah, ternyata adalah “komunikasi” kepada Tuhan. Setiap komunikasi mestilah ada konteks, ada tema-nya. Salah satu tema komunikasi pada Tuhan adalah ekspresi syukur itu.

Alhamdulillah… saya bersyukur pada Allah untuk setiap jenak inspirasi. Bagi saya pribadi, menulis adalah moment yang sangat menyenangkan. Karena menulis berarti menangkap inspirasi yang turun.

Setiap inspirasi atau gagasan yang datang, bagi saya pribadi adalah hadiah dari Tuhan. Jika kita bandingkan diri kita yang sekarang, dan diri kita waktu SD atau TK  dulu; tentu berbeda. Selain dari perbedaan fisik, yang berbeda adalah cara kita memandang hidup.

Karena diri kita yang sekarang, memandang hidup dalam kedewasaan yang lebih daripada kita yang kanak-kanak dulu. Sedangkan kalau kita pikir-pikir apatah itu kedewasaan? Kalau bukan kumpulan-kumpulan gagasan dan inspirasi sepanjang hidup kita? Jadi betapa saya bersyukur untuk setiap jenak inspirasi yang datang. Dengan inspirasi, ilmu dan kebijakan itulah kita tumbuh menjadi pribadi baru.

Saya bersyukur pada Allah, Alhamdulillah, untuk telah diberikan kesempatan belajar. SD hingga kuliah. Terimakasih untuk telah diberikan kemampuan berbahasa inggris meski pas-pasan. Dengan terbukanya satu gerbang bahasa, terbuka bula sedemikian banyak pintu-pintu ilmu.

Dari segenap ilmu yang kita pelajari itu, pada gilirannya menambah wawasan dan mempengaruhi cara kita memandang hidup. Karena gerbang ilmu yang terbuka untuk dipelajari menjadi lebih luas.

Satu keinginan saya sekarang adalah belajar bahasa arab. Sempat mempelajari ilmu sharaf bahasa arab, tetapi terpotong oleh kesibukan yang sangat padat membuat proses belajar masih belum optimal. Semoga lain waktu bisa mengulang kembali.

Betapa saya bersyukur pada Allah untuk setiap detail-detail kecil yang terlewat. Untuk handphone Android misalnya. Dulu sewaktu saya kecil, saya nonton filem kura-kura ninja, dan saya menghayalkan bahwa suatu saat kelak akan ada telepon genggam seperti milik kura-kura ninja itu. Dimana orang yang menelepon dan ditelepon bisa saling melihat video. Dan sekarang, setelah saya dewasa, saya hidup pada era dimana video call seperti diobral lewat segala lini chatt app. Hidup memang terkadang lucu. Seringkali, gumaman masa kecil menjadi kenyataan saat dewasa.

Saya mensyukuri pula kesempatan untuk telah bekerja pada tempat saya bekerja sekarang. Saya teringat bahwa saya sejak kecil hidup pada lingkungan yang begitu marjinal secara ekonomi. Atas rahmat Allah sematalah saya bisa menyelesaikan kuliah dan masuk pada sebuah perusahaan yang memberikan saya kesempatan terpapar pada berbagai-bagai pengalaman pekerjaan. Di anjungan pengeboran darat, pada tengah hutan, pada pinggir jalanan lintas di dekat penduduk desa, pada anjungan lepas pantai yang dimana-mana memandang hanya biru laut yang pekat. Alhamdulillah….

Seumur hidup, saya menjalani kehidupan dengan cara pandang seorang yang begitu nyaman dengan present moment. Saya tak menyukai petualangan…. Maksudnya, saya tak menyukai terlalu banyak bepergian. Tanpa saya “dicemplungkan” ke tempat saya bekerja sekarang, saya tak mungkin sengaja menyempatkan diri pergi ke semua tempat-tempat itu. Alhamdulillah…. Pernah tertakdir berkunjung ke Malaysia, Thailand, Singapura meski hanya lewat, Juga Rusia dan Dubai meski hanya transit. Ke Houston dan San Antonio US. Pernah sampai ke Cairo. Alhamdulillah….Alhamdulillah…….rasanya tanpa “paksaan” tak akan saya menyempatkan diri menyegaja menjelajahi tempat-tempat itu.

Dalam perjalanan-perjalanan itulah semakin menyadari kita ini kerdil….sangaaaat kecil.

Saya mensyukuri jenak dimana setiap saya pulang kantor, meskipun saya tiba di rumah seringkali lepas maghrib, saya masih bisa bersantai-santai dan ngaso. Meskipun masih harus membuka laptop dan mengerjakan tugas kantor yang menanti antri untuk dibereskan. Teringat betapa dulu saya harus menghabiskan hari-hari bekerja di lapangan, dan dalam pada itu saya selalu memimpikan untuk bisa bekerja kantoran. Dan sekarang saya bekerja kantoran, dalam setiap penat dan letih itu saya mengingat bahwa kerja sekarang, adalah lebih nyaman bagi saya ketimbang kerja dahulu. Maka saya bersyukur….

Saya bersyukur pada Tuhan, Alhamdulillah….untuk setiap jenak minum kopi, atau jenak minum teh di pagi hari. Untuk setiap jenak personal membaca buku. Untuk telah dirubahnya cara pandang saya 180 derajat. Dulu saya memandang hidup begitu kaku. Keberagamaan-pun hanya urusan Syariat formal semata. Tetapi seiring perjalanan, dengan gonjang-ganjing ujian hidup, saya baru memahami bahwa segala riuh rendah hidup ini adalah cara Tuhan mengajari kita. Lepas dari obligasi ibadah formal, hidup ini ternyata sangat spiritual.

Saya bersyukur atas nikmat keluarga. Yang juga berarti kesempatan memandang hidup dengan gagasan dan kacamata yang berbeda pula.

Ternyata ada DIA yang ingin dikenali. Dalam konteks mengenali-Nya itulah, kita semua diperjalankan dalam hidup kita masing-masing. Lewat suka-duka, lapang-sempit, kita mengeksplorasi hidup. Itu sebab banyak sekali dalam ayat suci kita temukan perintah, “BERTEBARANLAH DI MUKA BUMI”, ulama-ulama banyak menyuruh kita, “MERANTAULAH”, banyak sekali kebijakan agar banyak bepergian, melihat, mentafsir. Karena hidup ternyata memang jalan-jalan kok.

Ada yang memang menyukai perjalanan fisikal, pergi ke banyak tempat, melihat macam-macam. Ada orang yang sibuk berjalan-jalan ke dalam dirinya sendiri. Hidup sebagai orang yang begitu kontemplatif, karena dalam diri manusia sendiripun banyak aspek yang bisa “dilihat” dan dipelajari. Tetapi, semua bentuk perjalanan itu, perjalanan usia, perjalanan dalam artinya yang harfiah dan arti yang majazinya, semuanya karena kita sedang dalam konteks menyaksikan DIA dalam hidup kita. Perjalanan yang berbagai-bagai, dalam konteks-Nya yang tunggal.

Dalam konteks menyaksikan DIA itulah, kita melaksanakan peribadatan yang “komunikatif”. Ada bentuk-bentuk permintaan tolong. Karena dalam perjalanan kita menempuh kesulitan. Ada bentuk-bentuk pujian, ada bentuk syukur…. Semuanya karena kita menemukan itu. Karena kita sudah mengerti konteks.

Hidup, dalam kemengertian akan konteks, menjadi sangat menyenangkan.

Alhamdulillah… segala puji bagi Allah, atas nikmat hidup. Atas nikmat diperjalankan dan melihat beragam-ragam penzahiran. Atas nikmat Iman Islam. Atas nikmat pengertian-pengertian. Atas nikmat pengenalan.


the picture taken from this source

TAK MESTI PUNYA TAMAN SELUAS LAPANGAN BOLA

GardenLawnAda sebagian khalayak, yang hanya bisa berbahagia setelah memiliki rumah dengan taman yang luas. Seluas lapangan sepak bola. Lengkap dengan tetumbuhan yang hijau ranum, dipangkas rapih oleh tukang kebun, dan dihiasi lampu-lampu taman ala yunani kuno, dengan burung-burung merpati yang terbang hinggap di sembarang tempat. Orang-orang yang seperti ini, rela bekerja siang malam dengan keras untuk kepemilikan sebuah taman nan indah, walaupun kenyataan realitanya adalah mereka tidak pernah punya waktu menikmati taman itu. Kebahagiaan mereka adalah dengan mengaku-ngaku bahwa “taman itu punya saya”. Perkara saya sibuk bekerja tanpa pernah menikmati taman, itu lain soal. Yang jelas taman itu milik saya.

Ada kebalikannya, yaitu orang-orang yang bisa berbahagia dengan menikmati taman. Misalnya mereka berjalan di taman kota setiap pagi. Melihat burung-burung yang terbang hinggap, melihat pohon-pohon beringin kecil yang dipapas jadi bentuknya seperti bola, merendamkan kaki di pancuran tengah-tengah taman, atau sekedar duduk dan ngobrol santai di bangku taman. Taman itu bukan milik mereka, tidak soal, yang jelas realitanya mereka bisa menikmati taman itu. Kebahagiaan mereka adalah pada kemanfaatan yang bisa mereka terima, mereka rasakan.

Saya hendak menuliskan ini untuk diri saya sendiri. Bila pada kenyataannya dua orang dengan dua tipe ini tadi bisa sama-sama berbahagia, maka sebenarnya kita boleh memilih. Pada posisi mana kita ingin berbahagia? Mana kebahagiaan yang jauh lebih real? Mana yang tertipu?

Itulah bedanya rejeki dengan harta. Harta itu adalah sesuatu yang diaku-aku milik kita. Seperti taman. Boleh jadi kita punya taman indah seluas lapangan golf, tapi bila tiada pernah ada luang untuk sejenak menikmati hijau-hijaunya rumput taman itu, dan kita hanya sibuk bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, mungkin taman itu bukan rejeki kita. Mungkin rejeki pengemis yang kebetulan numpang lewat dan numpang tidur disana.

Singkat cerita, rejeki adalah sesuatu yang kemanfaatannya secara real kita rasakan. Maka boleh jadi harta kita banyak, tapi ingat bahwa rejeki siapapun bisa kait mengait dengan harta kita. Dan bila kita selamanya mengejar harta, tanpa sebuah persepsi indah bahwa dengan banyak harta maka kita bisa membagi rejeki buat orang lain; jangan-jangan kita sudah salah fokus. Kita mengaitkan kebahagiaan kita dengan kepemilikan, padahal kepemilikan akan sesuatu tidak lantas secara serta merta membuat kita bisa menikmati sesuatu itu.

Boleh kita bekerja keras, asal sebuah mindset tertanam dalam benak kita, bahwa dengan kerja inilah kita mendapatkan titipan sebuah harta yang jadi jalan rejeki untuk orang lain. Jadi meski kita tak nikmati, tak soal. Itu kalau mindset kita benar.

Pantas saja, orang-orang arif yang bijak bisa selalu bahagia, karena untuk bahagia tidak harus menunggu barang atau apapun itu menjadi milik mereka, asalkan saja mereka bisa menikmati kenyataan bahwa mereka senang dan syukur dengan kemanfaatan sesuatu itu; mereka sudah bahagia. Dan orang-orang di dunia ini triliunan jumlahnya yang keliru-keliru, mengira bahwa untuk bisa menikmati sebuah taman, harus memiliki dulu taman seluas lapangan bola.

Jikalau kita tak bisa bahagia sebelum punya taman seluas lapangan bola, kita harus jeda sejenak dan seting ulang mindset. Padahal mungkin rejeki untuk kita; sesuatu yang bisa kita nikmati dan mendatangkan kesyukuran; itu sudah serak-morak amburadul tak karu-karuan di sekitar kita, hanya saja kita tidak pernah benar-benar menyadarinya.

Hati-hati.

—–

*) gambar dipinjam dari sini