MAZHAB JALAN TENGAH

Selalu ada sebuah desakan dari dalam diri manusia yang membuat manusia bergerak dan melakukan sesuatu. Apakah itu karna tuntutan biologisnya, atau kecintaan kebendaan, atau keinginan untuk diakui dan dianggap ‘ada’. Sebuah desakan dari dalam diri itulah yang membuat manusia melakukan sesuatu. Dan saat sesuatu yang dia lakukan itu berhasil, atau keinginannya terpenuhi, maka manusia akan menjadi bahagia.

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan –desakan- dari dalam diri itulah manusia ‘bekerja’ atau melakukan aktivitas.

Paradoksnya adalah saat melakukan aktivitas atau melakukan pekerjaan itulah manusia akan terbentur dengan pelbagai tantangan yang pada gilirannya membuat manusia itu susah sendiri dan menjadi tidak bahagia.

Contoh sederhananya, manusia bekerja untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Seiring berjalan waktu manusia disetir oleh kecintaan kebendaan, maka manusia bekerja lebih keras lagi untuk membeli sesuatu melebihi apa yang dia butuh. Saat manusia bekerja lebih keras dari yang semestinya itulah manusia akan merasa tersiksa, tapi anehnya manusia merasa tersiksa untuk mendapatkan rasa bahagia. Lucu juga kalau dipikir.

Mungkin, karena menganggap bahwa paradoks semacam ini ‘lucu’ dan tak seharusnya, maka manusia mencari cara bagaimana baiknya agar kebahagiaan manusia tidak terganggu.

Saya mengamati ada dua hal yang manusia lakukan untuk mempertahankan kebahagiaannya. Yang pertama adalah menghilangkan hal eksternal.

Pertama, saya ingin mengutip sebuah cerita mengenai seseorang yang disibukkan dengan aktivitas eksternalnya, sehingga dia mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya semu. Bahagia tapi tidak bahagia.

Pernah kita dengar bersama, sebuah hadist tentang seorang sahabat bernama Tsa’labah yang mendesak Nabi Muhammad SAW agar mendoakan dirinya menjadi orang kaya raya. Sang Nabi yang tadinya menolak mendoakan –tersebab khawatir bahwa kekayaan tak baik untuk Tsa’labah- akhirnya mendoakan juga setelah didesak terus.

Doa Nabi terkabul, Tsa’labah menjadi kaya lewat kambingnya yang beranak pinak. Tsa’labah sampai kesulitan memelihara kambingnya dan kekayaannya yang menggunung.

Dia memang menjadi kaya raya, tetapi kekayaannya itu menjauhkan dia dari Allah, tersebab dia menjadi sibuk mengurus kambingnya itu. Tsa’labah, sudah lupa akan tujuan hidupnya.

Jika kita mengaitkan kisah Tsa’labah dengan pencarian makna hidup manusia, kita bisa kerucutkan bahwa hal paling penting bagi Tsa’labah adalah harta. Kekayaan yang pada gilirannya membuat dirinya diakui.

Sebagian spiritualis menyadari hal ini, bahwa faktor eksternal (pekerjaan, keluarga, pangkat, dll) itulah sebenarnya penyebab manusia tidak bahagia. Maka mereka memilih jalan kerahiban. Meninggalkan dunia untuk kemudian menjalani hidup dalam kebahagiaan yang tak terusik oleh tanggung jawab keduniawian.

Pada sisi ekstrim satunya lagi, orang-orang hedonis menggunakan “shortcut” untuk menghilangkan sementara hal-hal eksternal yang membuat mereka tidak bahagia. Mereka minum khamr, atau hal semacam itu yang efeknya bisa membuat mereka ‘lupa’ dengan masalah eksternal mereka. Karena tidak sadar, dan masalah eksternal luput dari perhatian mereka, maka mereka bahagia. Bahagia yang semu.

Padahal islam rasanya tak begitu. Tentu tak begitu.

Itulah kenapa islam melarang kita mabuk dan menghilangkan kesadaran. Pada sisi lainnya, islam juga melarang kita menjalani kehidupan kerahiban.

Kita tahu Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nabi tetapi sekaligus Kepala Negara dan Panglima perang.

Banyak juga contoh sahabat Nabi yang lainnya, mereka menjalani hidup yang asketis tetapi disaat yang sama juga business man dan saudagar.

Artinya tentu kesibukan eksternal tak ditinggalkan sama sekali. Jadi bukan perkara sibuk tak sibuk, kaya tak kaya, atau pangkat tak berpangkat. Tapi ini soal cara pandang pada kehidupan.

MAZHAB JALAN TENGAH

Para arifin mengajarkan kepada kita jalan pertengahan. Segala permasalah kehidupan yang membebat dan menyiksa manusia, sebenarnya adalah imbas dari ‘wujud’nya diri manusia itu sendiri. Imbas dari persepsi bahwa manusia ‘punya andil’ dalam drama kehidupan ini.

Nanti di belakang saya akan cerita bahwa semua ini bukanlah berarti manusia tidak harus bekerja dan berusaha, melainkan sebaliknya. Tetapi singkatnya adalah, saat manusia merasa bahwa dirinya sudah punya kemampuan untuk mengatur, maka saat itulah ego-nya muncul. Atau kalau bahasa sufistiknya adalah saat itulah manusia itu merasa ‘wujud’, mengaku ada. Dan bersama pengakuan akan keberadaan diri itulah, segala hal yang menyakitkan menjelma.

Para guru yang arif mengatakan, bahwa segala hal yang terjadi ini sebenarnya bukanlah perkara tentang kita.

Tengoklah awan berarak. Tengok pula dedaun yang melambai dan gugur disapu angin. Tengok pula debu-debu beterbangan. Matahari yang pijar. Ibu menggendong anaknya. Ayah bekerja. Binatang-binatang mencari makan. Segala kesibukan yang ada di alam raya ini sebenarnya adalah urusan Allah, untuk menyatakan diriNya.

Allah memiliki sifat-sifat, setiap sifat terangkum dalam nama-namanya yang baik. Setiap sifat itu tergulirkan dan mengejawantah lewat kejadian-kejadian hidup. Jadi sebenarnya semua tentang Dia, tak pernah tentang kita.

Menyadari hal tersebutlah, seorang arif pernah mengatakan bahwa kita mesti melepaskan diri kita dari keinginan untuk ikut mengatur. Keinginan untuk ikut mengatur itulah yang pada gilirannya membuat kita merasa bahwa sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini; adalah tentang diri kita. Seakan-akan kita adalah tema sentralnya. Maka bersamaan dengan pengakuan diri itulah segala rasa sakit akan datang. Rasa sakit karna tak dihargai, rasa sakit karna tak berhasil, rasa sakit karna diacuhkan, rasa sakit karna iri, dan segala bentuk penyakit hati yang bisa kita sebutkan.

Saat manusia bisa melepaskan diri dari keinginan untuk ikut mengatur, maka manusia akan terbebas dari ‘aku’ nya. Dan mereka akan melihat bahwa dimana-mana yang berlaku adalah pengaturannya Allah. Mereka menjadi tiada ‘wujud’.

MENJALANKAN PERANAN

Saat manusia sudah tidak mengaku bahwa dirinya memiliki kemampuan mengatur. Saat manusia sudah menyadari bahwa dirinya sama sekali tiada daya dan upaya, karena semua adalah urusannya Allah, milik Allah, maka manusia itu umpamanya sudah zero.

Dan orang-orang zero inilah yang pada gilirannya nanti akan benar-benar menjalankan fungsi kekhalifahan. Yaitu sesuatu yang Rasulullah sampaikan dengan bahasa : “Khoirunnas anfauhum linnnas”. Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Orang-orang yang tidak mengaku bahwa dirinya memiliki kemampuan dan daya upaya, akan memandang bahwa segalanya adalah kuasa Allah. Dan mereka akan umpama perkakas yang siap menjalankan masing-masing mereka punya peranan.

Mereka akan berkebaikan. Mereka akan bekerja. Mereka akan bergerak. Yang dalam keseluruhan bingkai aktivitas itu mereka tidak merasa diri mereka punya andil, tak merasa mereka punya kemampuan, melainkan yang mereka pandang adalah bahwa semakin mereka bergerak; semakin mereka mengerti bahwa segala-gala di dunia ini ternyata perkara Allah menyatakan diri semata.

Sifat-sifat Allah tergelar di semesta raya ini, dan hanya para penyaksi sajalah yang Allah berikan anugerah memandang tajam pada sebalik tirai hijab kejadian hidup.

Wallahu alam

*) “Istirahatkan dirimu dari at-tadbir(kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yang sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu (pengaturan Allah), tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.” (Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam)

MENGGALI AKAR BATIN

Beberapa kali menginvestigasi kecelakaan kerja di sebuah lokasi, atau juga menginvestigasi sebuah isu service quality pada sebuah aktivitas pekerjaan, saya jadi terfikir bahwa metoda investigasi untuk menemukan sebuah akar masalah ini juga menarik untuk diterapkan pada hal-hal keseharian yang lebih “dalam” dan prinsipil.

Sekilas mengenai akar masalah, saya ingin berikan satu ilustrasi. Pada sebuah rig pengeboran, Ada seseorang berjalan di tangga kemudian dia terjatuh dan mengalami patah tangan. Setelah diinvestigasi, apa kira-kira sebuah tindakan logis yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal tersebut terulang kembali? Kebanyakan dari kita mungkin berfikir bahwa metoda pencegahan yang logis untuk di lakukan misalnya memasang plang tulisan “hati-hati, tangga licin”, atau semisal itu.

Tapi nyatanya tidak, dalam kasus tadi, metoda pencegahan yang di lakukan agar hal tersebut tidak terjadi lagi di masa depan, adalah dengan mensosialisasikan kepada para pekerja untuk tidak menonton hingga larut malam jika mereka seharusnya bekerja pada shift siang. Karena setelah dilakukan investigasi menyeluruh, tangganya ternyata tidak licin, handrail tersedia, tidak ada yang kropos, tapi ternyata orang yang mengalami kecelakaan itu mengantuk akibat begadang hingga larut malam karena menonton TV, sedangkan dia bekerja pada shift siang hari.

Itulah akar masalah. Menemukan akar masalah menjadi penting, agar tindakan yang dilakukan untuk mencegah sesuatu bisa tepat sasaran. Temukan intinya, lalu dari sanalah kita bisa menemukan solusi.

Dengan logika yang sama, saya berfikir, bahwa metoda kita menemukan akar masalah ini bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita untuk menemukan alasan batin paling tersembunyi yang mendasari sebuah hal kita lakukan.

Saya akan memberikan ilustrasi sederhana mengenai metoda ini. Metoda ini dinamakan 5 WHY. Sederhana sekali. Jika kita melakukan sesuatu, maka tanyakan pada diri kita sendiri, WHY?

Menurut teori yang simple ini, jika kita menggali cukup dalam dengan menanyakan “mengapa?” sampai kurang lebih lima kali, maka kemungkinan besarnya adalah kita akan menemukan akar masalah itu pada jawaban untuk pertanyaan WHY yang terakhir. Artinya, jawaban terakhir itulah yang sebenarnya menyetir kita untuk melakukan sesuatu itu.

Ayo kita coba, tentu tidak harus lima kali tanya. Seberapapun yang nyaman menurut kita saja.

Answer this question: “Kenapa kita bekerja?”

MENGAPA 1

Kalau kita lihat ilustrasi di atas, kita bisa menganggap bahwa sesuatu yang men-drive kita bekerja adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Which is FINE. Sesuatu yang Normal dan masuk akal.

Tapi sebenarnya, kita masih bisa menilik diri kita sendiri lagi lebih dalam. Misalnya lagi, kita sudah punya rumah, dan kita masih tetap bekerja keras, lembur. Apakah bekerja keras yang kita lakukan itu merupakan cerminan semangat juang dan produktivitas yang baik? Atau mungkin kita sudah salah arah? Coba kita tengok

MENGAPA 2

Setiap orang bisa berbeda dalam hal apa yang mendasari mengapa mereka melakukan sesuatu. Tetapi, kalau saya meneliti diri saya sendiri, saya menyimpulkan dengan sederhana bahwa hal yang mendasari kita melakukan sesuatu itu bisa jadi karena:BASIC NEEDS (keinginan dasar seperti kebutuhan primer kita), atau hal yang lebih abstrak semisal keinginan untuk diakui dan menjadi berada, atau hal yang lebih abstrak lagi yaitu keinginan untuk menjadi berguna bagi Allah.

Para guru, yang demikian trampil dalam menelisik kedalam diri mereka, bahkan mungkin menemukan dibalik sesuatu, ternyata masih ada lagi sesuatu yang mendasarinya. Penglihatan batin mereka amat tajam.

Mungkin inilah realita dari yang dimaksud dengan Hadist Nabi, semuanya berawal dari niat. Karena niat-lah yang menentukan apakah seseorang itu berguna / dinilai baik keseluruhan perihidupnya, atau tidak.

Seperti permisalan berikut ini lagi. Ayo kita telusuri ruang batin kita lebih dalam, kita periksa batin kita dan kita tanya.

MENGAPA 3

Pada tatanan luarnya semuanya akan tampak sedemikian serupa. Seseorang yang bekerja keras, dan berderma untuk sosial. Tapi nilai keduanya akan sangat berbeda. Yang satu akan menemukan Tuhan dalam perjalanan kehidupannya, yang satunya akan menemukan dirinya sendiri. Dia hanya akan memenuhi kebutuhan abstrak dalam psikologi batinnya sendiri. Dia sebenarnya bukan menolong orang lain, tapi menolong dirinya sendiri.

Hal ini menjadi menarik, kita akan menjadi tahu kenapa sebagian orang menemukan dirinya menjadi lebih besar egonya, meskipun telah melakukan sedemikian banyak hal-hal baik tampak luarnya. Dan kita juga akan bisa mengerti pada sisi lainnya, apa yang dimaksud oleh guru-guru yang arif dengan ‘menjadi nol’.

Kalau engkau kenal diri engkau, engkau kenal Tuhan engkau, engkau tahu bahwa engkau tiadalah memiliki wujud. Kata Imam Al Ghozali.

Ada orang-orang yang semakin dia melakukan sesuatu, semakin dirinya muncul dan menjadi ADA. Ada orang-orang yang semakin dia melakukan sesuatu, semakin dirinya menjadi HILANG.

Dan perjalanan kita menemukan landasan dari semua itu sebenarnya bisa kita mulai sekarang juga, dengan banyak-banyak menilik ruang batin kita dan jujur menanya dan menjawab.

Pada gilirannya nanti, semakin sering kita menjelajah ruang batin kita sendiri, kita akan menjadi tahu apa saja yang selama ini menyetir seluruh perikehidupan kita.

Hal-hal dasar kah? Kebutuhan kita sendiri kah? Ego kita kah? Atau sesuatu yang lebih luhur dari pada itu?

Mungkin baik untuk dibiasakan, kita sejenak berhenti dan melihat diri kita sendiri, mungkin kita tidak perlu bekerja sekeras ini, jika ternyata sesuatu yang menyetir kita bekerja adalah hal yang sangat kekanakan dan egois.

Atau sebaliknya, mungkin kita tetap harus bekerja sekeras ini, meski penat letih dan tak ada orang menilai, karena sesuatu yang menyetir kita untuk melakukan semua ini adalah sesuatu yang membuat kita menemukan kenyataan Dia ada dimana-mana, dan kita hanya sekedar menjalani peranan