SPIRITUALITAS BUKAN ILMU ORANG TUA SAJA

Tadi malam anak saya camping di sekolahnya. Keren juga jaman sekarang, anak TK saja sudah ada camping segala, hehehe.

Tapi sesungguhnya yang lebih cemas bukan anaknya, melainkan orang tuanya. Malam-malam saya dan istri menyambangi TK anak saya, dan menyerahkan sekotak susu UHT, kebiasaan anak kalau malam-malam selalu minum susu sebelum tidur.

Istri saya memberitahu, bahwa banyak para orang tua yang malah tak bisa tidur karena mencemaskan anaknya, dan selalu bertanya pada guru-guru di sekolah tentang bagaimana kondisi anaknya.

Ibu gurunya, kemudian melaporkan secara berkala kondisi anak lewat media group whatsapp. Seru juga saya lihat.

Saya teringat, sebelum camping, anak saya bertanya macam-macam pada kami. Tentang bagaimana nanti dia tidurnya? Bagaimana kalau dia berebut selimut dengan teman-teman? Bagaimana kalau dia tidak ada tenda? Dikiranya setiap orang harus punya tenda sendiri. Dan banyak lagi pertanyaan yang keluar dari ketidak-tahuannya mengenai konsep camping itu.

Tapi lepas dari itu, satu yang saya sadari, bahwa pertanyaan anak saya itu banyak berkaitan dengan bagaimana dia harus bersikap dalam interaksinya dengan orang lain. Itu inti dari pertanyaannya.

Saya perhatikan, anak-anak usia TK sudah mulai melihat keragaman pada dunia, dan mulai mencoba menemukan ritme yang pas untuk memposisikan diri dalam keragaman itu.

Dan banyak pendidikan sekarang sudah mulai mengenalkan pendekatan “bersikap dalam keragaman” itu.

Umpamanya saja, sering kita baca di media sosial, sebuah meme atau sebuah artikel tentang bagaimana jepang lebih khawatir anak-anak mereka usia SD tak tahu bagaimana cara mengantri, tinimbang anak-anak mereka tak bisa mengerjakan soal-soal berhitung. Karena, menurut mereka kemampuan mengantri itu lebih penting, lebih elementer dibanding hitung-menghitung

Baru saya paham duduk perkaranya sekarang, bahwa kemampuan antri dianggap lebih elementer dibanding hitung-hitungan adalah karena kemampuan antri mengajarkan anak untuk tahu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Saat anak-anak mulai mengenal bahwa dalam kehidupan sosial mereka tak hanya ada mereka sendiri, tetapi ada juga orang lain. Maka pertanyaan mendasar anak saya tentang bagaimana kalau nanti dia berebut tenda, bagaimana kalau nanti rebutan selimut, dan sebagainya, sebenarnya adalah sudah mulai merupakan bagian dari upaya anak untuk menemukan “makna” itu, yaitu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Itulah sekarang sudah mulai banyak ditemukan apa yang orang-orang sebut dengan “pendidikan karakter”. Tentang bagaimana “behave”, bersikap dalam keragaman itu.

Tetapi, hal ini menyadarkan saya satu hal. Bahwa bagaimana “bersikap” dalam keragaman itu masih normatif. Masih belum mendasar dibandingkan “kenapa ada keragaman?”

Disinilah saya baru paham, sisi spiritualitas, dimensi esoteris agama adalah keping mata uang yang menjawab pertanyaan itu. Tentang kenapa ada keragaman? Tentang mengapa manusia ada, dan mengapa berbagai-bagai? Semua adalah untuk menceritakan Sang Empunya. Maka keragaman adalah fithrah yang tidak bisa dibantah. Sebagai wujud kreasi tak terbatas dari Sang Empunya yang tunggal.

Itulah mengapa, menurut saya, mempelajari tasawuf atau sisi spiritualitas agama menjadi begitu penting. Belajar menemukan makna itu.

Kita sudah belajar bahwa ada keragaman di dalam hidup. Lalu orang-orang mulai memperkenalkan cara “behave” cara bersikap normatif dalam keragaman yang ada lewat macam-macam pendidikan karakter, moral, kenapa tidak menyelam lebih dalam pada sesuatu yang lebih elementer lagi?

Dan itulah sebenarnya tasawuf. Atau namakanlah apapun saja itu, selama itu mengajak kita untuk bertanya dari hal yang paling mendasar dalam hidup, siapa kita, siapa Tuhan kita, dan kenapa ada keragaman berbagai-bagai ini?

Melihat lewat bingkai paling besar dalam hidup, bahwa DIA menceritakan diriNya sendiri lewat keragaman makhluq-Nya. Itulah tema tunggal dalam hidup.

Dalam konteks belajar memberi makna pada hidup inilah, saya baru sadar bahwa tasawuf bukan melulu ilmu orang tua. Tasawuf adalah bagian tak terpisahkan dari syariat itu sendiri. Aspek fisikal, dan aspek batin yang mesti seiring.

Syariat mengajari kita tata aturan yang harus dipahami, dalam corak kita masing-masing sebagai bagian dari keragaman. Maka tasawuf mengajari kita melihat keragaman sebagai cara Tuhan bercerita tentang diri-Nya sendiri. Dua-duanya penting. Dan dua-duanya mengiringi manusia sejak kecil hingga dewasa, pada tahapannya sendiri-sendiri.

 

DAYA HIDUP DAN FILEM INDIA

nil-battey-sannata-collection

Seorang anak wanita usia SMA, terlahir dari keluarga yang marjinal. Ibunya seorang asisten rumah tangga. Anak itu tak punya semangat hidup. Tak punya cita-cita sama sekali. Karena baginya kehidupan hanyalah sebatas meneruskan jejak ibunya saja. Anak asisten rumah tangga tak perlu belajar karena nanti toh akan meneruskan jejak ibunya hanya jadi asisten rumah tangga. Begitu pemikiran anak itu.

Sang Ibu, begitu kecewa karena anaknya tak punya semangat juang, padahal Ibu itu banting tulang ingin membiayai anaknya.

Singkat cerita…namanya juga filem, saking inginnya Ibu itu mengajari anaknya supaya lulus sekolah dan bisa melanjutkan dengan beasiswa, Ibu itu kembali bersekolah juga. Lalu konflikpun dimulai. Sang anak kesal karena ibunya satu kelas dengan dia, keributan demi keributan di rumah terjadi, dan mereka bertaruh jika sang Ibu kalah, maka Ibunya harus keluar dan berhenti melakukan hal gila yaitu sekolah lagi itu. Dan sang Ibu mengatakan dia akan berhenti sekolah hanya jika sang anak mengalahkan nilainya dalam matematika.

Entah kapan terakhir saya nonton filem India. Barangkali waktu masih tenar-tenarnya film 3 Idiots. Sebelum itu, mungkin terakhir saya menonton pas saya SMA dulu. Saya bukan penikmat filem, tapi beberapa filem memang berkesan. Mayoritas yang berkesan buat saya adalah filem action semisal The Raid, Merantau-nya Iko Uwais, atau Ip-Man-nya Donnie Yen. Dan selain genre itu, ada beberapa filem yang berkesan dengan drama-nya yang mengharu biru, seperti Pursuit Of Happiness, dan baru saja kemarin saya menonton Filem India itu yang judulnya saya tak ingat Apa[1].

Saya tergerak menuliskan ini, bukan pengen buat resensi, melainkan karena tercenung dengan sebuah hikmah tentang “daya hidup”. Ambillah misalnya sebagai contoh cerita laskar pelangi, atau negeri lima menara yang menceritakan tentang perjuangan anak-anak yang marjinal untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Semua mengisahkan tentang orang-orang yang punya “daya hidup”. Semangat mengalahkan keadaan. Tetapi, filem India yang saya sebut diatas tadi menyoroti tentang orang yang tak punya “daya hidup”.

Coba renungkan ini ya, jika orang tua sudah bersusah payah banting tulang membiayai anaknya, maka bagaimanakah bentuk penghargaan anak kepada orang tua? Salah satunya adalah dengan tidak mematikan “daya hidup” itu.

Kehilangan semangat dan nyala untuk belajar dan bertumbuh, bukan lagi sekedar urusan pribadi, tetapi dia menjadi sebuah sikap abai terhadap pengorbanan orang tua.

Menarik sekali, bahwa dalam sebuah hadits ada disebutkan tidak akan berterimakasih kepada Tuhan, jika seseorang itu tidak berterima kasih kepada manusia, alias yang menjadi jalan rizki mengalir padanya.[2]

Baru saya melihat koneksi itu, antara keberanian bercita-cita dengan koneksinya sebagai bentuk terimakasih kepada orang-orang yang mensupport kita, dan dalam kaitannya yang lebih spiritual lagi keberanian bercita-cita sebagai bentuk kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Kaya.

Urusan hasil itu belakangan, boleh jadi dapat boleh jadi tidak. Tetapi “daya hidup” itu tak boleh mati. Matinya kepercayaan dan daya hidup itu, itulah pengkhianatan kepada rasa terimakasih, pada manusia dan pada Tuhan.

Mengenai cita-cita, mengenai keinginan ini, setidaknya saya klasifikasikan menjadi beberapa tipe orang dalam menyikapinya.

Yang pertama, adalah tipe kebanyakan orang, yang ingin menggapai cita-cita maka mereka bekerja keras. Ini adalah tipe standar. Kerja keras mereka adalah ejawantah puzzle untuk menutupi kepingan yang kosong, yaitu keinginan. Keinginan dimaknai hanya sekedar sebagai penggerak aktivitas. Meskipun standar, ternyata tipe ini masih lebih baik daripada orang yang malas sama sekali.

Yang kedua, adalah tipe yang lebih dalam sedikit. Tipe ini, adalah orang yang mulai mengerti bahwa keinginan itu adalah sumber penderitaan. Seperti lagunya Bang Iwan Fals. Duka, itu adalah salah satu sisi yang pasti berkaitan dengan keinginan. Itu sebab, bagaimana cara mengurangi duka? Yaitu dengan mengurangi keinginan. Yah… logis juga sih, sedikit keinginan, sedikit pula duka. Untuk mencapai tipe kedua ini, seseorang harus membongkar paradigmanya yang pertama yang terlalu materialis, menjadi paradigma yang sedikit lebih spiritual. Tetapi berhenti disini belum selesai.

Yang ketiga, tipe ini melintasi golongan pertama dan kedua. Mereka tidak melihat bahwa kerja keraslah yang menghantarkan kepada pencapaian cita-cita. Mereka tidak pula melihat bahwa keinginan adalah wajah lain dari duka nestapa. Tetapi mereka melihat keinginan sebagai jendela rasa syukur. Mereka memaknai keinginan sebagai isyarat pemberian. Sebagaimana Umar Bin Khattab berkata, aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a maka aku tahu pengabulan bersamanya.

Keinginan yang murni, itu adalah sesuatu yang “diilhamkan” pada manusia karena DIA ingin dunia ini bergerak.

Analogi sederhana untuk memahami cara pandang golongan ini adalah analogi filem itu tadi. Jika orangtuamu bersusah payah membiayai sekolahmu, maka ketakutan untuk berharap dan hilangnya semangat atau “daya hidup” adalah pelecehan terhadap kerja keras orang tuamu. Maka semangat tidak boleh mati.

Dalam garis singgungnya yang lebih spiritual, ketakutan untuk berharap, adalah karena ketidak mengertian akan Kekayaan Tuhan. Ini perkara “daya hidup”-nya ya, kalau masalah harapan itu terjadi atau tidak itu lain soal. Tetapi “daya hidup” itu. Semangat itu, dia jangan mati. Karena yang melihat kepada Al-Ghaniy, Sang Maha Kaya, dia tak akan kehilangan harapan.

Seseorang makan, dan minum, karena sebuah dorongan “lapar”. Begitupun seseorang bekerja, karena dorongan “kebutuhan”. Dan seseorang bergerak bertumbuh, karena dorongan “cita-cita”. Baik lapar, kebutuhan lainnya, ataupun cita-cita, semua hanyalah bentukan lain dari “daya hidup”. Daya yang diadakan oleh Tuhan agar kehidupan mengalir dalam gerak.

Boleh jadi, keinginan seseorang tidak melulu berkaitan dengan harta ya. Boleh jadi pusaran keinginan hidup orang itu adalah ilmu. Bisa…. Orang itu bisa bertumbuh menjadi orang yang berkontribusi terhadap hidup lewat ilmunya. Sebutlah sekian deret ulama dan orang-orang Shalih, Ibnu Khaldun, Ibnu Qayyim, Bukhari. Siapapun…. Sebutlah misalnya para ilmuwan, Newton, Archimedes, Galileo, Al Khawarizmi.

Semuanya menjadi bertumbuh karena keinginan. Tetapi keinginan, oleh para arifin dimaknai secara spiritual sebagai “ilham” yang diturunkan karena DIA ingin dunia ini bergerak menceritakan diriNYA.

Pencapaian para para arif sepanjang sejarah. Rumi misalnya, Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Athaillah….mereka tidak bisa hanya hadir lalu hilang? Mereka akan “dipaksa” oleh kekuatan itu untuk bertumbuh dan meninggalkan jejak. Daya hidup yang membuat seseorang menjadi produktif. Yang menghantarkan seseorang memainkan porsinya di dalam kehidupan ini. Seperti arloji, setiap orang memainkan tariannya sendiri, ada peran, ada porsi.

Tetapi daya hidup tak boleh mati. Spiritualitas yang mematikan daya hidup itulah yang hemat saya dilarang oleh Rasulullah SAW. Saat seorang sahabat dilaporkan hidup dalam sikap kerahiban yang melulu ibadah sampai melupakan segala sesuatu. Tetapi kemudian ditegur. Jangan begitu, islam tak memperbolehkan hidup dalam kerahiban.

Siklusnya menarik sekali. Dari yang pertama produktif tetapi materialis, lalu menjadi abai terhadap hidup karena spiritualis tapi belum selesai, lalu kembali menjadi produktif karena dialiri ilham-ilham kebaikan. Spiritual yang selesai. Kalau betul seseorang itu spiritualis, saya rasa pasti melimpah ruah daya hidup padanya. Dihujani ilham-ilham kebaikan.


[1] Belakangan saya search ulang di mbah google dan menemukan kembali ternyata judul filem ini adalah Nil Battey Sannata

[2] “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

Image sources

APA BEDANYA SPIRITUALITAS DAN REKAYASA KEJIWAAN?

14344809_10155772024997925_1202872950612700110_n

Suatu kali, istri saya bertanya kepada saya mengenai gramatikal sebuah lirik lagu, “Mas…kenapa pakai ‘walk it out’, kenapa ga pakai ‘walk it off’ “, tanyanya pada saya.
Saya, yang memang pada dasarnya tidak memiliki kemampuan lebih di grammar bahasa inggris, tentu saja bingung, hehehe…. Saya ga tahu jawabannya. Paling jauh, saya katakan bahwa itu gaya bahasa saja, bisa dua-duanya. Jawaban klasik.

Tetapi intinya bukan pada grammar-nya, melainkan pada “cara belajar”.

Istri saya, orang yang sangat tekstual, dia tidak bisa melanjutkan membaca lirik lagu, atau potongan paragraf berbahasa inggris jika dia melihat ada satu dua kata atau frasa yang dia tidak mengerti maksudnya.

Sedangkan saya, orang yang kebalikannya. Saya bisa menikmati satu artikel utuh, meskipun banyak di dalamnya kata atau frasa yang tak saya mengerti arti akuratnya, tetapi saya skip saja, dan saya tetap bisa menangkap isi cerita dalam artikel itu.

Saya katakan kepada istri saya, bahwa setiap orang harus mengenali pola pada dirinya sendiri. Mengenali pola, cara belajar, kebiasaan diri, sikap mental diri sendiri, itu bagian dari “mencari jati diri”. Setidaknya dalam versinya yang lebih sederhana.

Saya teringat sewaktu saya baru pertama kali masuk kerja. Sembilan tahun lalu. Saya satu kamar dengan seorang rekan yang dalam pandangan saya luar biasa pintarnya. Dan dia termasuk orang yang pintar sekaligus mengerti filosofi sebuah ilmu. Jadi dia tidak hanya mengerti cara mengerjakan sebuah hitungan matematika, tetapi juga mengerti apa gunanya hitungan matematis itu dalam dunia kenyataan, dan bisa pula dia jelaskan kepada saya secara apik.

Suatu kali, saya dan rekan-rekan lainnya hendak jalan-jalan waktu itu, tetapi dia masih saja berkutat dengan bukunya. Padahal ujian masih seminggu lagi. Bagi saya itu berlebihan, hahaha…. Saya sistem kebut semalam.

Saya katakan padanya, ayolah keluar sebentar dan berjalan-jalan, toh saya tahu betul kapasitasnya, dia itu orang yang sangat pintar. Dia pasti lancar dalam ujian.

Tetapi jawabannya waktu itu sungguh mengagetkan saya, katanya, “Aku tahu kelemahanku sendiri, aku ini kalau menangkap suatu pelajaran lebih lambat dari kalian-kalian, itu sebabnya aku harus mengulang pelajaran jauh lebih banyak dari kalian yang lebih cepat menangkap pelajaran dibanding aku”.

Saya tahu betul, waktu itu dia tidak sedang bercanda atau menembakkan kalimat satire. Dia sungguh jujur. Dan dari sanalah saya mengenali dia sebagai seseorang yang mengerti betul tentang dirinya sendiri. Kenal diri.

Mengerti kelemahan diri, atau mengerti pola pada diri sendiri, pada gilirannya bisa mengubah sesuatu yang tadinya kelemahan menjadi strong point alias menjadi kekuatan unik kita masing-masing.

Pola kerja kejiwaan masing-masing jangan disangkal. Penyangkalan terhadap pola kerja kejiwaan masing-masing malah akan kontra produktif.

Kalau memang kita orang yang tekstual, tak apa, maka berarti kita hanya harus menghabiskan jauh lebih banyak waktu ketimbang orang yang tidak tekstual.

Kita belajar lebih dulu dari orang-orang kebanyakan, dan selesailah lebih akhir dari orang-orang kebanyakan, karena kita memang tipikal seperti itu. Butuh mengerti detail teks-nya.

Akan tetapi, dari sana justru akan lahir kekuatan, yaitu kemampuan kita untuk mengetahui detail makna kata per kata.

Dari sisi spiritualitas, pengenalan terhadap pola kerja diri sendiri ini, adalah sesuatu yang juga sangat mustahak alias sangat penting.

Orang barat, mengatakan hal ini sebagai “inner engineering”, rekayasa “dalam”, rekayasa kejiwaan.

Maksudnya adalah dengan mengetahui pola kerja diri sendiri, bagaimana fikiran bekerja, bagaimana emosi bekerja, maka kita bisa memanfaatkan atau membuat diri kita sendiri berjalan dengan lebih efisien dan optimal.

Contohnya, dengan mengetahui bahwa emosi sebenarnya adalah sesuatu yang muncul sebagai imbas dari fikiran, maka kalau datang emosi, yang harus diatasi sebenarnya bukan emosinya, melainkan fikirannya dulu. Logis, bukan?

Kalau kita sedang marah, marah itu emosi, emosi terbit dari fikiran, maka kalahkan fikiran marahnya dulu. Misalnya dengan memikirkan hal lainnya yang menyenangkan. Atau dengan mensuplai diri dengan data-data yang membuat kita tidak jadi marah. Misalnya alasan-alasan mengapa hal itu terjadi. Alasan-alasan mengapa seseorang itu kok nyebelin, barangkali dia tidak bermaksud begitu. Dan seterusnya. Itu adalah inner engineering. Itu logis.

Dalam literatur islam pun ada. Contohnya sebuah hadits yang masyhur. Kalau kita sedang marah, maka dari posisi berdiri kita duduk. Kalau pas duduk masih marah, kita berbaring. Bisa juga dengan wudhu. Ini semua juga inner engineering. [1]

Polanya saya rasa, fikiran menerbitkan emosi, lalu emosi menyetir fisik. Kalau kita bisa “engineering” rekayasa agar fisik ditenangkan, maka dia akan berlaku alur kebalikannya, dari fisik yang tenang, lalu emosi reda, lalu fikiran menjadi lega. Logis…. Inner engineering.

Akan tetapi, satu hal yang saya kira penting adalah agar kita tidak mencampurkan antara inner engineering ini, kemampuan mengenal sistem kerja diri sendiri ini, dengan spiritualitas yang bernuansa ubudiyah, penghambaan, ibadah.

Jika kita sudah masuk dalam ranah ubudiyah, dianya harus lurus, jangan sekali-kali melenceng tercampur dengan sesuatu yang berbau inner engineering ini, jangan tercampur dengan apapun.

Seperti halnya, kita bisa saja, duduk diam dan membayangkan bahwa kita sedang ada di pantai. Membayangkan kita sedang ada di kamar kita yang nyaman, saat sesungguhnya kita sedang ada di bus yang penuh sesak dan menyebalkan. Kita bisa terlepas dari suasana sesak yang menyebalkan itu jika kita melakukan inner engineering seperti tadi. Bisa dan logis.

Tetapi, dengan melakukan itu tidak membuat kita menjadi seorang yang spiritualis. Karena, bagaimanapun teknik rekayasa kejiwaan itu bukan sikap ubudiyah. Dianya hanya ketrampilan mengenali pola kerja pada diri sendiri.

Tetapi, sikap denial, sikap pengabaian sama sekali pada ilmu-ilmu itu juga kontra produktif, karena secara natural, manusia sebenarnya melakukan inner engineering tanpa dia sadari.

Saat seseorang sedang grogi atau cemas, dia akan menyibukkan dirinya dengan gerak. Memlintir rambutnya sendiri. Atau bergumam. Atau jalan kesana-sini untuk menetralisir cemasnya. Itu semua alamiah.

Tetapi, semua itu saya rasa baru akan berubah menjadi bernilai ubudiyah saat kita sudah mengaitkan konteks kejadian apapun dengan Tuhan. Di dalam gelisah, kita bisa pergi ke tempat yang nyaman, kita bisa cari tempat duduk yang rileks, kita bisa saja minum teh agar lebih santai, tetapi sikap ubudiyah adalah mengingati Tuhan, lalu menyadari bahwa yang terjadi hanyalah cara DIA bercerita, dan segala hal praktis yang kita kerjakan secara fisikal dalam bentuk aksi adalah semata bentuk kita bersandar kepada DIA.

Hanya dengan mengunci ingatan kita kepada DIA-lah, maka aspek engineering apapun saja, dan aspek aksi apapun saja akan bisa bernilai ubudiyah. Tanpa itu, kita mengira melakukan spiritualitas ternyata tak lebih dari mental game.


[1] Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hindin dari Abu Harb bin Abu Aswad dari Abu Aswad dari Abu Dzar dia berkata, “Ketika dia sedang mengambil air di kolam miliknya, datanglah sekelompok orang yang salah seorang dari mereka berkata, “Siapakah di antara kalian yang akan menghampiri Abu Dzar dan mengambil rambut kepalanya?” lalu seseorang berkata, “Saya!” Kemudian laki-laki itu mendatangi Abu Dzar, ia lalu melewati kolam dan memukul airnya. Saat itu Abu Dzar dalam kondisi tegak berdiri, kemudian dia duduk dan berbaring, maka ditanyalah ia, “Wahai Abu Dzar, kenapa kamu duduk kemudian berbaring?” Abu Dzar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami: “Jika salah seorang di antara kalian marah sementara ia sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika kemarahan itu reda (itulah yang diharapkan), jika tidak maka hendaklah ia berbaring.” (H.R. Ahmad No.20386)

*) Gambar ilustrasi saya ambil dari hape saat sedang bertugas di Balikpapan.

DZIKIR KOPI PAK GEMBONG

20130409-154452.jpgAwal mula pak Gembong dan Hasan berkenalan adalah kala hujan lebat sore-sore sekitar berapa bulan lalu. Orang-orang berebut pulang ke rumah dengan menumpang mobil antar-jemput kantor, tapi Hasan kalah cepat. Mobil kantor yang memang terbatas itu sudah penuh, terpaksa pulang menggunakan bus kota. Tapi hujan seperti ini jalanan pasti porak-poranda. Maka Hasan kembali ke kantornya hendak tidur-tiduran saja dulu di musholla, sambil membaca buku. Waktu itulah pak Gembong menyapanya kala melewati koridor. “Mampir dulu mas, ngopi-ngopi”. Kata pak Gembong.

Hasan berbelok masuk ruang kopi di pinggir koridor jalan menuju musholla. Lalu diseduhkan segelas kopi oleh Pak Gembong. Ngobrol ngalor ngidul sekedar membunuh waktu. Hasan yang memang sifat bawaannya gampang bergaul itu lalu merasa cocok ngobrol dengan Pak Gembong. Dia merasakan hawa kebaikan dari Pak Gembong. Entah bagaimana itu. Dari situ dia mulai kenal lebih dalam tukang serba bisa di kantor-nya itu. Tidak terlalu jelas apa pekerjaan sebenarnya pak Gembong. Dikata office boy, tapi bisa mengedit draft-draft laporan sedikit kalau dimintai tolong, bisa juga jadi tukang jilid, bisa juga jadi tukang buat mie rebus kalau lagi beredar di ruang kopi. Membuat kopi apalagi. Secangkir kopi dan berjam-jam curhat tentang makna hidup.

Hujan tidak berhenti juga waktu itu, hari sudah semakin gelap. Hasan undur diri. Sebelum pulang Pak Gembong menawarkan menyeduh kopi lagi, kopi jahe, disimpankannya dalam sebuah tempat minum perak yang sudah pudar-pudar. Hasan menerimanya dengan riang lalu berjalan pulang.

Pak Gembong memandangi Hasan sambil tersenyum. Senyum yang kharismatik dan kebapakan. Tapi Hasan tidak melihatnya. Sama seperti dari tadi dia tidak memperhatikan sebuah tasbih kecil di genggaman Pak Gembong, tasbih yang tetap dia putar pelan di tangannya, meski saat mereka ngobrol ngalor ngidul dan tertawa tadi. Pak Gembong masih melarut dzikirnya.

***

Hasan sebenarnya selalu bisa menemukan sisi keasyikan dari segala dinamika Jakarta. Saat macet misalnya, dia tetap santai saja di jok belakang mobil jemputan kantornya dan menghabiskan buku-buku bacaan yang dia beli dari Gramedia. Saat banjir mulai menggenang pada sebagian jalan misalnya, dia santai saja memasukkan sepatu dalam tas dan mengenakan sandal capit, jangan dibuat pusing, itu prinsipnya.

Maka perjalanan serunyam apapun dalam dinamika Jakarta, dianggapnya sebuah hiburan saja, itung-itung wisata. Seperti waktu dia terjebak hujan lebat, sedang tak ada jemputan, sambil santai saja dia mengeluarkan tempat air minum dari dalam tas-nya, sudah diisi kopi panas dari ruang kopi Pak Gembong sejak dari pulang kantor tadi. Hujan dan kopi panas, apalagi yang kurang?

Satu-satunya yang tidak bisa dia ambil sela enjoynya adalah saat bos-nya diganti, dan lalu bos baru yang sekarang memperlakukan segala bawahannya seperti kuda karapan. Pecut sana-sini. Tidak terima silakan keluar. Dan Hasan sudah luar biasa suntuk dengan model relasi seperti ini.

Hasrat hati ingin pindah kerja saja rasanya. Belum lagi rasanya bos baru ini memang punya niat terselubung merampingkan jajaran orang-orang kantor. Hemat duit. Tapi semakin dipikir kok ya semakin banyak hal yang menghantu seram. Bagaimana nanti kalau tempat kerja baru tidak cocok? Bagaimana kalau harus adaptasi lagi? Bagaimana kalau ternyata bos baru ini ke depannya siapa tahu jadi baik? Tapi kalau tidak baik-baik juga pindahnya ya pindah kemana? Bagaimana kalau macam-macam. Jenuh dia memikirkan jalan keluar.

Waktu-waktu dia jenuh dan penat itu, dia selalu lari ke musholla kantor. Sekedar melepas beban dengan dhuha. Atau memperpanjang doa di waktu zuhur. Entah apa yang Hasan mintakan dalam doa itu. Tapi Pak Gembong dari sudut musholla di dekat rak buku memerhatikan dengan detail raut wajah Hasan yang tidak serupa biasa itu. Raut muka yang tidak bisa diartikan kiasan lain selain dari bentuk orang sedang kebingungan dan jenuh.

Hasan tidak sadar Pak Gembong melihatnya dari jauh. Terlebih Hasan sedang membenarkan posisi duduk dan siap menyimak kultum bakda zuhur yang biasanya ada di musholla kantornya itu. Serupa orang sedang hanyut di sungai, Hasan butuh benar-benar pegangan, sekarang segala yang berbau religi dia siap santap sampai tandas. Sang Ustadz membuka kultumnya dengan mengutip Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

Hadistnya levelan batin tingkat wahid, tapi sang penceramah berapi-api menembakkan logika yang membuat Hasan yang awam itu jadi mundur teratur tambah bingung. “Jadi jangan sembarangan berdoa kepada Tuhan! Tuhan sudah tahu, tidak usah banyak pinta! Baca hadist qudsi tadi”. Kata sang juru ceramah.

Pak Gembong hening dalam zikirnya. Jamaah yang lain angguk-angguk entah paham entah ngantuk. Hasan mukanya malah tempias makin merah. Semakin runyam.

Hari-hari berikutnya Hasan ke musholla juga, tapi tiap kali hendak berdoa, maka bom mortir ceramah pak Ustadz tadi mampir lagi ke telinganya. Jadi Hasan ngeri berdoa. Nanti jangan-jangan saya salah berdoa? Pikir Hasan. Jangan-jangan saya nanti tidak sopan kepada Tuhan? Tidak sopan kepada yang punya jagadita semesta ini; bukan main menakutkannya, fikir Hasan.

Maka dia surut selangkah. Tapi was-was di hatinya belum reda. Meskipun dia masih ingat juga kalau tidak meminta nanti malah dapat yang lebih baik.

Sebenarnya dalam hati Hasan ada keinginan untuk berbagi cerita, tapi dengan siapa? Tidak ada orang yang membuatnya cukup nyaman untuk terbuka, belum lagi kawan-kawannya kadung menilai Hasan sebagai problem solver. Lengkap sudah sesak di dada Hasan. Orang mengira dia problem solver tingkat papan atas, dia sedang kalut dan tak tahu hendak cerita ke siapa, ingin berdoa takut salah doa, kata Ustadz mendingan tidak berdoa.

Sampai Hari itu seperti dejavu. Hujan turun lebat lagi, Hasan selalu kalah cepat dan tertinggal mobil jemputan yang terbatas itu. Lalu kembali pulang ke kantor hendak menuju musholla lagi. Pak Gembong menyapanya lagi, lalu mereka berbelok ke ruang kopi lagi, duduk di kursi sambil minum kopi lagi.

“Jadi muka mumet ini pasti tentang bos baru itu, ya?” tanya Pak Gembong memecah sepi dengan tembak langsung.

“Ah….sampai pak Gembong juga tahu, kirain berita begini ga bakal nembus ruang kopi pak.” Kata Hasan mencoba bercanda, tapi gagal. Tawanya menjelma miris. Ditembak langsung membuat dia tak siap dengan retorika penyelamatan diri. Tapi dipikir-pikir cerita ke Pak Gembong ada baiknya juga.

Hasan lalu malah membuka segala kesal dan amarahnya. Dia ceritakan segala sesak yang dia rasa. Sementara di kursi yang lain Pak Gembong hanya mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi panas. Mendengarkan sembari tidak pernah menyela.

Selepas bercerita, Hasan menjadi lega, sekaligus menjadi heran. Bagaimanapun dia merasa lebih berwacana pendidikan dibanding Pak Gembong, lebih menguasai segala filsafat kesadaran dan pengendalian diri dari pak Gembong, juga lebih banyak hadir pengajian dan membaca buku-buku agama dari pak Gembong; tapi fragmen dimana dia melontarkan segala uneg-uneg kekesalan dan di sudut lain Pak Gembong mendengarkan dengan anggukan yang penuh kebijakan; seakan-akan memutar balikkan keadaan.

Dia merasakan sebuah kekalahan perbawa dari Pak Gembong. Kenapa Pak Gembong begitu kharismatik, ya? Fikirnya.

“Sudah dibawa ke sholat, mas Hasan?” tanya Pak Gembong.

Yang ditanya mengangguk pelan, tapi setelah mengangguk lalu Hasan menyeruput kopi agak cepat, meletakkannya cepat, membenarkan duduknya dan, “Tapi saya bingungnya Pak Mbong, kata ustadz waktu itu kan kalau tidak meminta maka bakal diberi yang lebih baik. Nah saya sudah tidak meminta, tapi was-was di hati ini tidak hilang-hilang juga Pak Gembong, gimana ya?”

Pak Gembong mengaduk-aduk kopinya. “Mungkin maksudnya bukan tidak meminta, mas Hasan” kata Pak Gembong pelan-pelan sambil tersenyum. “tapi teralihkan dari meminta karena ada yang lebih ‘menyibukkan dan menyenangkan’ dirinya”.

“Menyibukkan gimana Pak Mbong?”

“Ya sibuk dzikir. Yang beneran dzikir, beneran mengingat, bukan yang ngaku-ngaku dzikir. Misalnya, mas Hasan waktu ada masalah ini yang kepikiran pertama apa?” Pak Gembong bersandar pada kursi dan menatap Hasan.

“Lowongan kerja, Pak” jawab Hasan sambil senyum simpul.

“Nah…kalau detak pertama di hati masih lowongan kerja, itu tandanya mas Hasan masih belum sibuk dzikir, belum total ‘ingat’ ke Tuhannya. Belum mancer kata orang Jawa mas.” Pak Gembong berseloroh santai.

Hasan merenung-renung sambil menyeruput kopinya. Tidak diminum sebenarnya, karena sibuk merenung. Lalu Pak Gembong menambahkan lagi.

“Saat mas Hasan sudah jenuh sekali dan ingin bercerita, siapa yang terpikir oleh mas Hasan?”

“Pak Gembong mungkin, hahahaha.” Hasan tergelak. Sudah mulai rileks dia.

Pak Gembong tergelak juga. Suasana cair sekali. Pak Gembong mohon izin menambahkan penjelasan. Hasan takzim mengangguk sambil menunjuk sopan pak Gembong dengan ibu jarinya, persis gaya abdi dalem kraton memberi hormat. “Monggo Pak Gembong, saya tekun menyimak paduka.” Canda Hasan.

Lalu berceritalah Pak Gembong dengan permisalan-permisalan yang sederhana. Kata Pak Gembong, level kesadaran batin tiap orang itu berbeda, dan Sang Nabi tahu persis kala berbicara dengan seseorang; siapa orang itu, ada di level mana orang itu. Makanya kita pernah dengar cerita bahwa Abu bakar menafkahkan seluruh hartanya, dibolehkan Nabi. Tetapi juga ada kisah sahabat lain yang hendak menyerahkan seluruh hartanya, tapi tidak dibolehkan. Cukup sedikit bagian saja. “kira-kira kenapa Mas Hasan?”

“Wah…blank aku gini-ginian Pak, hehehe… kenapa itu Pak”

“Karena orang itu memberi tidak disertai dengan sebuah kepahaman batin, Mas.” Lalu Pak Gembong menjelaskan. Bahwa tuntunan yang umum diberikan Nabi itu sudah terukur untuk level rata-rata manusia. Cobalah ambil contoh Sang Kekasih Tuhan, Nabiyullah Ibrahim yang kala hendak dibakar raja Namrud pun masih menolak bantuan Jibril, dan beliau juga “enggan” berdoa untuk keselamatan dirinya. Apa pasal? Karena hatinya sudah penuh dengan dzikir, dengan kondisi batin yang ‘ingat’ betul-betul ingat kepada Allah. Dengan segala kefahaman tentang sifat Maha Baiknya Tuhan. Maka ‘dzikir’nya itu mengalihkan dia dari ‘meminta’. Karena bagaimana meminta? Sedang hatinya dipenuhi dengan ingatan dan keyakinan tunggal bahwa Tuhan maha memberi, maha tahu, maha baik. Sampai ‘lupa’ dia meminta.

“lha…kalau level kita ini jadi gimana pak Mbong? Doa apa enggak?” Hasan bertanya.

“Lha mas Hasan di hatinya masih ada kepikiran nyari lowongan kerja ga?”

Yang ditanya tersenyum simpul.

“Masih ada was-was dan mencari teman tempat curhat ga?”

Yang ditanya senyum lagi.

“Masih ada kesal di hati dan dongkol sama bos ga?”

Kali ini tergelak dia, kencang sekali.

“Kalau semua itu masih ada, berarti hatinya belum ‘dzikir’, masih banyak lintasan duniawi. Levelan kita ini mas, kalau ga ‘sowan’ ke Allah lewat doa, jatuh-jatuhnya malah sombong nanti. Nah caranya agar lintasan duniawi itu tidak memenuhi ruang batin kita adalah menjadikannya ‘kendaraan’ menuju Tuhan. Sedang kesal sama bos ya berdoa ke Allah agar dihilangkan rasa kesal itu. Sedang was-was cari teman curhat, langsung doa ke Allah dan jadikan Dia tambatan hati paling pertama, jangan manusia. Sedang hasrat menggebu sekali pindah kerja ya doa lagi ke Allah minta dituntunkan kemana tempat terbaik dalam pandanganNya. Jadi jangan biarkan dunia bertahta dalam hati Mas.”

“Agar tidak bertahta, maka segala urusan dunia yang mencemaskan benak saya, harus saya ‘lapor’ dan minta tuntunan pada Allah lewat doa, begitu Pak Mbong?” Hasan menyimpulkan dengan suara yang lirih.

“Nah…Mas Hasan sudah paham itu,” kata Pak Gembong sambil bangkit dari kursinya. Cangkir kopinya sudah habis. Dibawa ke wastafel cucian. Sambil mencuci cangkir kopi, pak Gembong bilang, “Nanti kalau setiap urusan dunia yang menggelisahkan hati ‘dilapor’ sama Tuhan lewat doa. Setiap detak di hati dilapor ke Allah lewat doa dan minta tuntunan, Lama-lama mas Hasan akan lupa dengan apa yang dipinta, tapi lebih mengingat dan ingiiiiiiin dekat dengan yang selalu kita mintai itu. Dan kalau sudah disitu nanti mas, mas Hasan akan tahu apa maksudnya dengan sibuk ‘mengingat’ sampai lupa meminta”.

Hasan bangkit juga dari duduknya. Hujan sudah reda. Dia undur diri. Wajahnya kini tidak lagi pias. Dalam hati tadi dia sibuk berdoa meminta tuntunan kepada Tuhan yang Maha Segala, sekalian bersyukur obrolan kopi sore-sore ini mencerahkan fikirannya. Lalu dia pamit undur diri dari ruang kopi Pak Gembong.

Hasan tidak melihat Pak Gembong yang memutar-mutar tasbih kecil di tangan kanannya tersenyum kharismatik dan kebapakan di balik punggungnya. Pak Gembong tak melihat Hasan yang menjauh itu menyeka sembab di ujung matanya. Mereka berdua tidak melihat keran air yang mengguyur ampas kopi di dasar cangkir pada wastafel. Tapi selalu Ada Yang Menyaksikan Segalanya. Yang ‘mendengarkan’ Semuanya.

——-

kita sepakati saja ya, rekan-rekan, baik Pak Gembong ataupun Hasan, fiksi semua. Kalau ada yang mirip-mirip…ah…tak ada yang kebetulan, bukan 🙂

BERKAH DI POJOKAN MUSHOLLA (cerpen)

NYXHasan selalu duduk di pojokan belakang shaff musholla kecil itu. Di atas hamparan sajadah dengan warna hijau yang nyentrik itu disitulah Hasan setiap kali datang hendak menunggu waktu sholat; dia mendudukkan dirinya.

Bukan Hasan tidak tahu, santer kabar tentang besarnya pahala orang yang mengambil barisan pertama shaff sholat, tapi setiap kali Hasan hendak menyela orang-orang yang duduk tepekur pada lini pertama jamaah itu; Hasan merasa dirinya kerdil bukan buatan. Lalu semacam ada rasa tahu diri yang sungguh jujur, jadilah Hasan menyempil pada pojokan musholla, begitu terus.

Uwak Imam musholla itu, Uwak Karsi bukan main hafalan ilmu fiqihnya di mata Hasan. Belum lagi berjejer orang-orang yang duduk rapih di belakang Uwak Imam masjid, rata-rata jidatnya hitam bekas sujud, belum lagi lepas maghrib diadakan kajian oleh Uwak Karsi, ramailah orang-orang pada baris pertama shaff itu berdebat larat tentang ilmu agama yang tinggi-tinggi. Lengkap dengan adu logika premis-premis tingkat wahid, mana yang paling benar hukumnya. Hasan tidak kuasa menahan decak kagum.

Cuma satu yang Hasan tidak setuju, waktu Uwak itu marah dengan luar biasa kencang sama anak-anak tetangganya yang lari-larian di beranda musholla. Hasan merasa pilu ketika dilihatnya Uwak Imam Musholla mengeplak kepala anak tetangganya dengan kopiah.

Memang keplakan itu tidaklah kencang, hasilnya cukup lumayan juga, anak-anak itu tidak lagi brutal lari-lari menjelang orang sholat. Tapi ada rasa yang tidak enak di hati Hasan. Mau menegur Hasan tidak sampai hati, mau meluruskan Hasan kalah kharisma. Ilmu agama tidak pandai, jidat Hasan tidak hitam, ditambah masa lalunya yang buruk dimatanya, membuat Hasan kalaulah diandai-andai mungkin serupa anak kemarin sore dalam kancah musholla ini. Hasan diam dan duduk saja di pojokan belakang.

Awalnya musholla di kampung itu kecil saja. Dibangun oleh Uwak yang lain lagi, Uwak Abni. Tanahnya wakaf beliau, lalu dengan seadanya dibangunlah musholla kecil di atas tanah itu. Hasan tidak kenal secara pribadi dengan Uwak Abni. Beliau sekarang sudah almarhum. Tapi sekali saja pertemuan di waktu lalu itu, cukup membuat Hasan merasakan kedekatan yang unik dengan almarhum.

Hasan waktu itu baru saja pulang kampung. Setelah lama Hasan merantau ke Jawa. Tadinya Hasan pamitnya ingin pergi belajar, kuliah. Orang tua Hasan mengiyakan saja. Bapak dan Ibunya tidak banyak cakap. Hanya mengirim doa-doa saja setiap lepas sembahyang. Mereka tidak mengerti dengan dunia akademis. Satu-satunya kucuran ilmu untuk orang tua Hasan dan kebanyakan orang tua di kampung itu ya Uwak Abni itu tadi. Pengajiannya tiap lepas maghrib itu.

Tapi Hasan terlupa dengan tujuan awalnya merantau. Godaan di negeri orang sangat menutupi pandangannya. Kuliahnya runyam. Semakin hari semakin tidak karuan dan akhirnya dia berhenti sebelum sampai. Sempat Hasan membual-bual pada orang tuanya yang lugu itu, tapi semakin Hasan membual semakin dia merasa tidak nyaman.

Akhirnya pada suatu hari, Hasan memaksakan diri pulang. Dia mengaku salah-sesalah salahnya pada Bapak dan Ibunya. Bapak dan Ibunya kecewa sudah pasti. Tapi sebentar saja. Kecewa mereka teralihkan dengan sakitnya Bapak Hasan. Lalu Bapak Hasan berpulang. Bukan Hasan penyebabnya memang, tapi Hasan menjadi kecewa pada dirinya sendiri, kenapa mesti dia mengaku salah pada saat Bapaknya sedang sakit?

Tinggallah hari-hari Hasan cuma dia dan Ibunya semata. Hasan merasa sedemikian salahnya. Satu-satunya cara dia menebus salahnya adalah dengan sebaik-baiknya membantu Ibunya. Apa saja dia bantu. Kemana-mana dia temani. Termasuk setiap lepas maghrib dia menemani Ibunya hadir pada taklim rutin Uwak Abni almarhum.

Hasan mulanya tak acuh saja. Uwak Abni di mata Hasan biasa saja. Satu-satunya nama santer yang Hasan dengar saat kembali pulang ke kampungnya adalah Uwak Karsi. “Siapa guru agama yang paling mantap ilmunya di sini ya? Saya mau berubah”. Kata Hasan bertanya pada seseorang.

Yang ditanya menatap Hasan dengan cermat, mungkin melihat ada sisa-sisa sentuhan akademis pada paras Hasan yang tidak ndeso. “Uwak Karsi mungkin yang cocok untuk mas”, kata Bapak-bapak yang dihampiri Hasan tadi. Lalu Hasan mengingat-ingat nama itu dengan detail.

“Uwak Karsi itu yang biasa isi taklim lepas maghrib di musholla ini bukan?” Tanya Hasan lagi.

“Bukan, itu Uwak Abni, uwak Karsi guru agama di madrasah aliyah sebrang kampung” Jawab Bapak itu.

Hasan mengangguk-angguk lalu berterimakasih dengan takzim dan pamit, sewaktu Hasan menjejakkan kakinya menjauh; Bapak tadi menghampiri Hasan lagi, dia menambahkan, kalau ingin belajar ilmu agama tinggi-tinggi memang Uwak Karsi pakarnya, tapi kalau Hasan sedang gundah gulana ada masalah biasanya orang lebih tentram cerita pada Uwak Abni.

Itulah awalnya Hasan tergerak juga untuk duduk tepekur habis maghrib pada musholla kecil itu, pada taklim Uwak Abni, sekalian menemani Ibunya yang tak pernah absen.

Ingat sekali Hasan waktu itu, Uwak Abni berkata, bermacam-macam cara Allah menuntun hambanya padaNya. Ada orang yang “sampai” pada Tuhannya lewat rupa-rupa amalnya, ada pula orang yang tertakdir berdosa, lalu sebegitu menyesalnya dan ingin “kembali”, maka dia sampai pada Tuhannya lewat jalan taubatnya.

Seperti gelegar petir dihantam hati Hasan. Lalu selepas taklim dia beringsut salam pada Uwak Abni dan menunggu musholla agak sepi lalu bertanya-tanya.

“Uwak…banyak nian dosa saya, orang lain sudah sebegitu jauhnya panjang amalnya, saya ini baru sadar kemaren sore, sehari baik sehari lupa, sholat tidak pernah khusyu, ilmu agama dangkal, apalah harapan saya untuk bisa baik, Uwak?”

Ditatapnya dalam-dalam Hasan, oleh Uwak Abni. Hasan tundukkan kepalanya kalah kharisma. Kata Uwak Abni, “Semakin sadar bahwa kita ini tidak bisa beramal dengan benar, semakin baik Hasan”. Uwak Abni tambahkan, bahwa setelah sadar kita tidak bisa beramal itu, maka mintalah sungguh-sungguh kesempatan dan tekad dari Allah supaya bisa meniti jalan kembali. Agar disempatkan punya amal untuk sisa hidup. Agar amal yang dipunya benar-benar dirasakan sebagai kado dari Tuhan, bukan hasil buah karya kita.

Hasan mengangguk. Tidak benar-benar paham. Tapi ada embun yang menyublim pada ceruk sudut matanya. Dia menahannya untuk tidak tumpah.

Sudah…itu saja yang Hasan tahu dari pertemuan dengan Uwak Abni. Lepas itu Uwak Abni berpulang juga. Kata orang-orang Uwak Abni berpulang pada waktu dhuha. Tersujud demikian lama pada sajadah tua di mihrab rumahnya. Lalu tak pernah bangun lagi.

Hasan sedih, padahal dia merasa baru saja bertemu oase di taklim Uwak. Sekarang Uwak sudah pergi. Tapi Hasan gembira lagi. Kabarnya Uwak Karsi, sang guru madrasah yang kaya ilmu itu yang akan menggantikan Uwak Abni taklim. Duduklah Hasan pada baris depan shaff musholla yang kecil itu. Ingin menangguk mutiara pada petuah taklim sang Uwak yang konon juara cerdas cermat agama tingkat Kabupaten. Juara dua. Hanya kalah tipis dengan grup SMA islam unggulan. Jadi memang Uwak ini punya bakat cerdas dari SMA dulu.

Tapi Hasan agak terkesima, Uwak Karsi ini agak lain dengan Uwak Abni. Tinggi bukan buatan bahasannya. Diselingi dengan debat-debat dalil yang panjang. Orang-orang tua yang awam mulai tersingkir. Diganti anak-anak muda kampung yang cerdas dan berwawasan. Maka musholla menjadi meriah. Apa pasal? Uwak Karsi berjiwa muda dan pandai merekrut anak muda. Orang muda senang yang menggebrak. Mereka senang dengan debat-debat salah-benar. Uwak Karsi memang benar-benar pandai retorikanya.

“Uwak, apa boleh saya habis sholat saya berdoa yang panjang lalu sholawatan banyak-banyak minta dibebaskan hutang?” tanya seorang jamaah.

“Ibadah itu harus ikhlas, jangan karena hutang!” tegas sekali jawaban Uwak Karsi. Baru Hasan mau bertanya menambahkan maksud jamaah tadi, Uwak Karsi sudah mengutip dalil panjang-panjang. Ikhlas itu sendi-sendi keberagamaan kita. Ini tingkat tinggi sekali.

Semakin Hasan mengikuti taklim, semakin ada yang bertabrakan pada hatinya. Dia makin paham berdebat dalil tapi tidak pernah ada embun menyapu sudut matanya setiap pulang taklim. Jadi Hasan gelisah, semacam rindu tertahan yang tidak tahu harus bagaimana.

Sampai suatu kali musholla itu rasanya sudah penuh, jamaah bersepakat membangun musholla lebih besar. Orang-orang mengumpulkan uang pada kencleng musholla. Sebagian orang memberi sumbangan yang lebih dari sebagian yang lain. Sedang Hasan tidak punya lebih harta untuk urun menyumbang.

“Ya Tuhan, apalah daya hamba beramal menyaingi orang-orang itu, jika tidak kau berikan kesempatan, tidak mungkin hamba bisa berbuat baik”. Doa Hasan dalam hati.

Maka ketika orang-orang sibuk mulai membangun musholla itu, Hasan ambil bagian. Dia ikut sumbang tenaga menggali pondasi. Lalu menumpuk batu-batu kali di pojokan bakal musholla baru itu.

Di dengarnya orang-orang sekalian berbincang tentang besarnya amal membuat musholla, Hasan makin miris, tidak ada yang dia punya selain hasrat meminta ditakdirkan beramal pada Tuhannya. Lalu Hasan sibuk saja menumpuk batu kali dan semen.

Musholla jadi. Baru dan lebih luas. Anak-anak kecil senang berlari-lari pada beranda yang lapang. Sempat musholla menjadi riuh rendah setiap jelang taklim Uwak Karsi. Tapi waktu itulah Uwak Karsi marah dan anak-anak menjadi takut lalu berhenti berisik.

Kala itu Hasan merasa semakin kecil dan tak tahu harus bagaimana selain menyendiri di pojokan sudut musholla yang dia ikut bangun dengan keringatnya itu.

Lalu orang-orang ramai berdebat tentang tidak bolehnya menggunakan bedug, dan harusnya bedug tua peninggalan musholla lama Uwak Abni itu dibuang saja; Hasan tidak lagi hirau dan hanya menutup mata sambil berdzikir saja. “Allah…dimanakah Engkau? Betapa jauhnya aku dariMU, sedang orang-orang alim semua berkata Engkau lebih dekat dari yang dekat?”.

Aneh…tiba-tiba ada lagi sembab pada ujung matanya. Kerinduan yang sangat untuk kembali pada Tuhannya merasukinya pelan-pelan. Antara tidur dan jaga pada dzikirnya, sayup-sayup dia dengar suara yang dikenalnya, Uwak Abni, “Hasan…dosa yang mengantar pada penghambaan dan pertaubatan pada Tuhannya jauh lebih baik daripada Amal yang mengantar pada kesombongan”.

Lepas kejadian itu Hasan sering pergi ke masjid-masjid lain, dia mencari guru yang bisa menuntunkan jalan pada Tuhannya. Yang benar-benar mengenalkannya pada Tuhannya.

Sementara pada musholla kampungnya yang sudah bertambah besar itu, orang-orang sudah semakin modern dan mengelola kegiatan musholla secara fantastis dan berkelas. Acara-acara dibuat dengan rapih dan tertata. Semakin banyak yang datang, semakin mengundang anak-anak muda. Semakin meriah musholla, tapi jarang ada yang tertembak hatinya seperti gelegar petir di kala Hasan pertama kali ikut taklim dulu.

Hanya ada satu dua orang yang juga merasa asing dengan hiruk pikuk itu, lalu mengambil shaff di pojokan belakang musholla, dan tiba-tiba merasakan kerinduan yang sangat pada Tuhannya. Ada berkah pada pojokan itu.

——

foto ilustrasinya itu foto rekan saya, difoto secara diam-diam. Tapi tentu saja dia bukan Hasan, hehehe… kisah ini fiksi belaka. Tapi secara esensi, jamak adanya.