MAJELIS ORANG-ORANG FAKIR

Ada salah satu do’a Rasulullah SAW yang jarang diamalkan oleh kita. Yaitu do’a beliau meminta hidup dalam keadaan miskin.

Saya ingat, dulu waktu saya masih kecil, KH. Zainudin MZ pernah guyon dalam ceramahnya, mau memberikan sebuah amalan kepada para jamaahnya, tetapi dengan syarat harus janji diamalkan. Setelah diberi tahu, semua orang tertawa dan senyum-senyum sendiri, karena enggan mengamalkan. Termasuk Pak Kiai pun mengaku tidak mengamalkan doa tersebut.

Inilah do’a tersebut:
“Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin”

Artinya : “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan matikanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang MISKIN”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah

Dulu kala saya mengira Rasulullah mengajarkan tentang Miskin secara harfiah. Memang, dalam tempo-tempo tertentu kita lihat beliau serba kekurangan. Tetapi dalam kali lain kita tengok prasarana da’wah penunjang yang beliau gunakan pun tidak murah, Unta Merah. Jadi rasanya ada yang kurang tepat dengan pemaknaan miskin di do’a itu.

Baru saya paham bahwa do’a beliau tentang miskin ini adalah miskin “majazi”. Istilah. Beberapa ulama pun memberikan penjelasan bahwa miskin di sini adalah tawadhu, tunduk, merendah.

Singkat kata maksudnya adalah ‘ingin dikumpulkan, dihidupkan, dan mati dalam golongan orang-orang yang merasa selalu “butuh” kepada Allah. Merasa “fakir di hadapan Allah” Begitu kata para ulama, termasuk Imam Ghozali.

Menarik kalau kita cermati, bahwa keseluruhan panjang kehidupan Rasulullah SAW dilalui dengan rasa fakir di hadapan Allah. Begitupun para Nabi yang lain, para aulia dan para salihin. Selalu merasa butuh di hadapan Allah.

Bagaimana sikap merasa fakir di hadapan Allah ini terjelma dari masing-masing pribadi; akan berbeda sesuai derajat ketersingkapan ilmu, dan ketersingkapan pandangan ruhani tiap orang.

Orang-orang yang selalu diterpa masalah, bisa menghayati rasa “fakir di hadapan Allah” dengan meminta tolong kepada Allah. Menegakkan kehambaan dengan meminta pertolongan.

Seperti Zakariya as yang melafadzkan do’a, “Ya Allah berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.”  Zakariya AS, Mengakui betapa berhajatnya dia kepada pertolongan Allah. Fakir di hadapan Allah.

Setiap kesulitan hidup yang mendera, setiap apa saja yang kita jalani dalam hidup ini, saya rasa sebenarnya gerbang untuk menjadi fakir di hadapan Allah. Dengan selalu menjadi fakir dan merasa butuh kepada Allah, Allah akan antarkan kita kepada pemaknaan yang lebih dalam, untuk semakin merasa butuh kepada Dia.

Tetapi  kita mengerti bahwa rasa butuh kepada Allah itu akan terejawantah dan akan menjadi semakin mendewasa bentuknya seiring apa yang terpandang oleh ruhani kita.

Umpama Musa yang berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Do’a yang penuh isyarat dan tak meminta sesuatu. Tetapi yang pokok adalah, di dalam hatinya, tetap Musa menjadi fakir di hadapan Tuhannya.

Rasa-rasanya, inilah yang sangat penting. Membenarkan persandaran, dan menjadikan diri kita hidup dalam rasa butuh, berkumpul dengan orang-orang yang juga fakir, dan mati dalam keadaan yang tetap merasa sangat perlu kepada Allah.

Jadi cara kita berfikir bukanlah “Kalau ada kebutuhan, baru mau ke Allah.” Melainkan “Justru dengan adanya kebutuhan itulah, kita merasa fakir di hadapan Allah.” Rasa butuh, merupakan anugerah, gerbang awal untuk memasuki majelis orang-orang fakir.

Saya tengok-tengok, caranya sederhana. Cukup menghayati hidup kita masing-masing, dan mengingatNya, lalu akan terpahamkanlah, bahwa beratus-ratus hal dalam hidup ini yang tak mungkin bisa kita selesaikan dari tugas peranan kita masing-masing tanpa meminta pertolongan kepada Allah.

Semakin minta tolong, semakin kita menjadi fakir di hadapan Dia.

PERMINTAAN TAK MENABRAK KERIDHOAN

Mari kita lihat, bagaimana para Nabi mengakrabi Tuhannya. Akrabi-lah Allah SWT sebagaimana tercontohkan oleh para shalihin, aulia, para Nabi, yang tak pernah berhenti curhat pada Allah.

Dialektika batin para pejalan ruhani, salah satunya adalah kegamangan apakah sebaiknya berdoa -karena Allah perintahkan- atau sebaiknya tak berdoa -sebab Allah Maha mengetahui; terlebih Allah yang mentakdirkan segala kejadian.-

Sebenarnya kalau kita tengok para Nabi, dalam puncak keridhoan mereka menghadapi segala yang terjadi, mereka tetap berdoa dan meminta. Itu berarti, permintaan tidaklah ‘menabrak’ keridhoan.

Saat mereka meridhoi apa yang terjadi, mereka meminta pertolongan Allah untuk diselamatkan dan diperjalankan menuju takdir yang lebih baik.

Hanya saja, maqom ruhani setiap orang berbeda. Ada orang yang meminta dengan begitu detail dan merincikan segala kebutuhannya seperti ‘to do list’ untuk Tuhan -sebab kurangnya pengenalan kepada Allah-, Ada orang yang sudah begitu dekat dan akrab, sehingga permintaan pun tak terlontar dari bibirnya, karena rasa malu yang sangat dan keyakinan akan kebaikan dan kebijakan Sang Pemberi.

Bagaimanapun. Setiap orang memiliki jenaknya sendiri untuk dekat dengan Tuhan, Para Nabi tetap berdoa, tetapi doa mereka memang lebih berupa munajat pujian dan pengagungan ketimbang permintaan, sebab mereka sangat dekat dengan Allah.

Terlepas dari itu, kebutuhan yang ada pada kita, sejatinya bisa dimaknai sebagai undangan dari Allah untuk kembali. Disitulah letaknya kita menegakkan kehambaan dengan mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menolong. Maka berdoalah.

Dengan selalu berdoa, Allah sendiri yang akan menaikkan maqom kedekatan kita dan pemaknaan kita akan doa bakal berubah dengan sendirinya.

Pada posisi manapun kita sekarang, tangga pertama yang harus dilalui ya sering-seringlah ‘curhat’ padaNya.

Allah sendiri yang akan menaikkan maqom kita.

MAQOM DAN DOA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——–

Saya tambahkan tulisan Ustadz Abdul Aziz yang juga berkaitan dengan ini, menarik. silakan dibaca di bawah ini:

Diantara sifat Allah adalah “Al-Mujib” Maha mengabulkan Doa. Tergelarnya sifat Allah ini, maka akan ada manusia yang datang MENGHADAP kepada -Nya melalui doa, munajat, i’tikaf mengajukan proposal untuk menyelesaikan urusan kekhalifahannya di dunia. Sebagaimana nabi Ibrahim menghadap Allah dengan membawa proposal masalah

(Aş-Şāffāt):99 –
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”

Di sisi lainnya ada sifat Allah, Al-Adhiim (Maha Agung) tergelar, maka ada yang datang MENGHADAP kepada-Nya dengan meng-Agungkan-Nya, melalui Sholat, berkhalwat, ada juga yang ‘bersilaturahiim’ dengan berzikir lisan, sirri atau haqiqi
Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim,

(Al-‘An`ām):79 – Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Setelah bermakrifat, baru kemudian nabi Ibrahim bersyariat

(Ash-Shu`arā’):78 – 81

“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,

dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,

dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) “

kita bisa datang menghadap kepada Allah, sesuai keadaan kita masing2 sebagaimana di teladani bapak Tauhid, nabi Ibrahim di atas.Yang terpenting sebenarnya adalah HADAPKANLAH wajah kita dengan lurus kepada Wajah-Nya

(Al-‘A`rāf):29 – Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah wajah (diri)mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Wallahua’lam bissawab

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑