BAJU BESI DAN JALAN NAIK TURUN

imagesDalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, Imam Ghazali menceritakan bagaimana beliau berusaha mencari sebuah keyakinan yang kokoh, yang tidak akan ada lagi gundah sesudah itu. Keyakinan itu, adalah sebuah fase yang jamak kita kenal sebagai “Haqqul Yaqin”.

Dalam literatur spiritualitas islam, para arif membagi dua macam urutan perjalanan. Yang pertama adalah jalan mendaki. Dari bawah ke atas.

Yang kedua adalah jalan menurun, dari atas ke bawah.

Kalau kita tarik korelasinya dengan fase perjalanan yang lumrah, yaitu Ilmul Yaqin, lalu Ainul Yaqin, lalu Haqqul Yaqin….maka tahulah kita bahwa fase perjalanan keyakinan yang kita sering dengar itu adalah fase perjalanan pertama. Yaitu dari bawah ke atas. Dari yang pertamanya keyakinan karena seperangkat ilmu yang dipelajari / diketahui, lalu meningkat menjadi lebih yakin karena melihat sendiri / observasi (ainul yaqin), lalu sangat yakin karena mengalami sendiri realita itu (haqqul yaqin).

Semisal seseorang yakin ada kutub utara karena membaca, dilanjut dengan yakin karena dia melihat rekaman video atau mungkin dia naik pesawat di atas kutub utara, lalu dilanjut dengan super yakin karena dia pernah berkemah di kutub utara dan mencecap rasa dingin saljunya. Dari bawah, ke atas. Skema perjalanan dari dasar, merangkak naik pelan-pelan sampai mencapai derajat haqqul yaqin inilah yang oleh para arif disebut dengan salik. “pejalan ruhani”.

Namun…. Ada skema perjalanan terbalik. Yaitu orang-orang yang karena anugerah Allah, langsung mengalami sendiri derajat haqqul yaqin. Orang begini, istilahnya dia ditarik masuk ke dalam penyaksian. Sering diistilahkan sebagai “madjzub”. Kalau pakai analogi kutub utara, ibaratnya ada orang yang tinggal di sebuah desa yang tertinggal dari pengetahuan dunia luar, lalu tiba-tiba entah bagaimana ada satu orang yang terlempar ke kutub utara. Lalu dengan suatu cara tiba-tiba orang itu kembali lagi ke desanya. Orang itu, terhadap kutub utara, sudah mencapai derajat haqqul yaqin. Super yakin.

Tapi ada satu masalah, masalahnya adalah bagaimana orang ini menceritakan yang dia alami kepada khalayak di desanya yang sama sekali tak pernah tahu kutub utara? Orang ini, akan disalah pahami, jika kemudian dia tidak pandai menerjemahkan atau membahasakan apa yang dia alami ke dalam bahasanya “para pejalan”. Misalnya, dimulai dari dia harus mencari literatur dulu, barangkali peta-peta yang ada membahas kutub utaranya. Lalu, kemudian kalau bisa dia menemukan video mungkin. Dan seterusnya dan seterusnya, sehingga meskipun dia sendiri haqqul yaqin, tetapi dia bisa menyampaikan kepahamannya kepada orang lain lewat jalan ilmul yaqin. Lewat keilmuan yang valid.

Dalam spiritualitas islam, para salik meniti jalan yang lumrah lewat belajar, dan rajin beribadah sampai kemudian keyakinan meningkat. Sedangkan yang madjzub, karena anugerah Tuhan, mereka berada pada keyakinan yang begitu kukuh, tetapi untuk menyampaikan keyakinan itu kepada khalayak mestilah tidak bisa tidak mereka harus menguasai aspek keilmuan pada tangga yang dibawahnya.

Teringat kisah Ali Bin Abi Thalib r.a, yang baju besinya diambil oleh seorang yahudi. Dan Ali kemudian melaporkan ke hakim. Tetapi, Ali r.a. kalah dalam persidangan, karena beliau tidak mampu menghadirkan bukti otentik, baik itu dari sisi keilmuan wacana ilmul yaqin, atau dari segi bukti ainul yaqin, bahwa baju besi itu milik dia. Maka, Ali bin Abi thalib kalah dalam persidangan.

Begitulah fithrah dunia. Dunia, menghukumi berdasarkan bukti yang tampak mata. Dalam kata lain, dunia mengikuti pola perjalanan salik, dari bawah ke atas. Kerangka keyakinan disusun berdasarkan bukti wacana, lalu bukti yang tampak mata, dan dipuncaki dengan keyakinan yang super teguh hasil mengalami sendiri realita.

Apa implikasinya?

Dari sudut pejalan. Bagi para pejalan ruhani, satu-satunya cara mereka untuk menerima kebenaran adalah dengan cara ilmul yaqin. Rasulullah SAW bersabda, telah ditinggalkan untuk kita dua perkara, Al Qur’an dan Sunnah sebagai uji validitas wacana. Karena kita adalah seorang pejalan, maka cara keyakinan bersemayam adalah dari bawah ke atas. Cari wacana ilmu sebanyak-banyaknya, dan uji validitas. Ilmul Yaqin, sampai kemudian Allah sendiri yang akan menghantarkan kita pada derajat berikutnya.

Dari sudut orang yang madjzub. Satu-satunya syarat bahwa mereka boleh menyampaikan apa yang mereka alami kepada khalayak, menyampaikan ilmu dan keyakinan mereka pada khalayak, adalah dengan pola menurun. Mereka mengetahui sesuatu berdasarkan burhan, intuisi, petunjuk, kasyaf, dst….tetapi dalam menyampaikan kepada khalayak mestilah yang bersesuaian dengan ilmul yaqin. Wacana ilmu yang valid. Tanpa itu, maka penyaksian pada derajat haqqul yaqin tak bisa dibawa kepada khalayak, karena tak ada pendukung bukti otentik.

Sebagaimana kisah Ali tadi.

Harmoni akan terjadi, jika seorang salik, menjadi bestari dengan menyadari bahwa sangat banyak disekitar mereka orang-orang yang secara ruhani telah tinggi dan Allah pahamkan akan sesuatu, tetapi mereka tak punya kemampuan menyampaikannya dengan bahasa yang dimengerti awam. Maka tugas pejalan adalah belajar dari sekian banyak orang, dan menyaring dari siapapun saja, dengan wacana ilmu yang valid yang mereka pelajari.

Harmoni akan terjadi, jika seorang madjzub, menyampaikan apa yang dia alami, dengan bahasa wacana ilmu yang jamak dipahami orang-orang. Maka mengetahui banyak wacana, adalah sangat penting bagi seorang madjzub dalam polanya yang terbalik. Dari atas ke bawah.

Menjadi pahamlah kita, kenapa tak semua orang madjzub boleh menyampaikan. Karena, tak semua yang madjzub diberikan anugerah pula selain dari anugerah haqqul yaqin, tetapi juga anugerah untuk dipertemukan dengan dalil keilmuan yang menjelaskan mengenai apa yang dia alami.

Dalam Al Munqidz Min Ad Dhalal, Imam Ghazali berkata, salah satu anugerah itu adalah jika Allah SWT menuntunkan bertemu dengan golongan yang benar, dan dituntunkan pula bertemu dengan dalil yang benar.

Indah sekali cara Allah mengajar.


*) image sources

 

MINDFULNESS, DAN PENEMUAN KEKERDILAN

images (1)Dalam suatu hadits, disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam sehari beristighfar tak kurang dari seratus kali.[1]

Sewaktu saya masih kuliah dulu, hadits ini saya maknai dengan begitu sederhana. Rasulullah saja yang maksum dalam sehari beristighfar seratus kali minimal, apatah lagi kita, maka kita harus banyak-banyak beristighfar paling tidak seratus kali. Syukur-syukur lebih.

Berbilang tahun berlalu, dan saya mencermati pesan-pesan dari guru-guru yang arif, barulah saya memahami dengan sedikit lebih dalam akan hal tersebut.

Para arifin, dengan terbiasanya mereka dzikrullah atau mengingati Allah, mereka berada pada kondisi yang istilah kerennya adalah “mindfulness” kondisi sadar penuh.

Ilustrasi sederhananya mengenai kondisi mindfulness ini mungkin begini, orang-orang awam seringkali mengalami apa yang disebut sebagai swing mood. Perubahan mood yang begitu drastis. Kadang gembira, kadang senang. Tetapi perubahan antara satu dan lain suasana kejiwaan itu terjadi begitu cepat, dan orangnya sendiri kadang-kadang tidak sadar, ujug-ujug sudah bad mood saja.

Padahal, senang dan atau gembira merupakan suasana kejiwaan yang dipicu oleh sesuatu, pemicunya biasanya adalah fikiran manusia itu sendiri.

Jadi apa sebab orang-orang sering tidak sadar kok ujug-ujug sudah bad mood atau ujug-ujug sudah kemrungsung? Sebabnya adalah karena, mereka tidak “awas” dengan gerak-gerik fikirannya sendiri. Fikiran mereka, pada gilirannya memicu emosi kejiwaan mereka. Sederhananya begitu.

Dan para arifin, ternyata terlatih untuk berada dalam kondisi mindfulness  itu tadi, yaitu sangat sadar terhadap gerak-gerik fikiran dan emosi kejiwaan mereka sendiri.

Apa konsekuensi dari kondisi mindfulness ini? Salah satunya adalah mereka menjadi sangat “kenal” dengan diri sendiri.

Apa konsekuensi dari semakin mengenal diri? Konsekuensinya adalah semakin tahu jelek-jeleknya diri. Karena, sesuatu yang tidak terlihat atau tidak teramati oleh tingkat kesadaran kewaskitaan orang awam; hal itu bisa diamati oleh orang yang sudah mindfulness.

Misalnya saja, dua orang yang sama-sama duduk diam di rumah karena tidak ada kerjaan. Orang satunya menghabiskan waktu dengan membaca, orang yang satunya juga membaca.

Jika salah seorang dari mereka adalah orang-orang yang mindfulness, maka konsekuensi logisnya adalah orang yang mindfulness tadi akan lebih banyak beristighfar atas “dosa”nya.

Apa dosanya? Wong mereka cuma duduk diam di rumah dan membaca?

“Dosa”nya –kalaulah boleh mengistilahkan begitu- adalah apa yang bergejolak pada batin mereka sendiri.

Orang yang mindfulness mengistighfari bersit fikiran yang mungkin mengutuk pemerintah saat membaca berita politik di majalah, mungkin mengistighfari kemarahan, mungkin mengistighfari kelalaian karena tahu batinnya disibukkan dengan sesuatu yang mengganggu ingatannya pada Allah. Mungkin mengistighfari rasa iri yang teramati terbit di hatinya. Dan apapun saja gerak-gerik fikiran dan imbas perasaan yang sama sekali tidak disadari oleh orang-orang yang belum mencapai kondisi mindfulness ini.

Mereka mengingati Allah, dan waspada terhadap gerak-gerik fikiran dan perasaannya sendiri.

Menyadari fakta itu, kita menjadi mengerti pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa orang-orang awam mengistighfari perbuatan mereka, sedangkan orang-orang yang arif mengistighfari sesuatu yang bahkan belum dia lakukan, karena dia sudah ‘awas’ terhadap gerak-gerik bibit fikiran dan gejolak rasa mereka sendiri sebelum semuanya itu terejawantah di alam perbuatan.

Seorang kawan pernah bercerita pada saya, ada seorang anak muda dari pesantren yang berkunjung ke rumah seorang temannya. Temannya menyodori minuman, dan menawarkan agar anak muda itu tadi segera minum.

Tapi apa jawab anak muda itu? “Tunggu sebentar, masih ada nafsunya.”

Jawaban yang sangat abstrak, dan baru bisa dimengerti dalam konteks cerita tentang mindfulness itu tadi. Orang yang awas, bahkan bisa meneliti apakah sebuah perbuatan dipicu oleh dorongan hawa, atau tidak.

Ketekunan untuk mengingati Allah, dan pada gilirannya berimbas pada kondisi mindfulness ini rupanya menjadikan hamba untuk selalu menilai banyak kesalahan yang terjadi pada dirinya.

Dan ternyata, menyadari bahwa diri sendiri bersalah, itu baik, selama kesadaran bahwa diri kita jelek itu menjadi pemicu kita untuk “kembali” kepada Yang Mengampunkan Segala Kejelekan.

Dan ternyata para Nabi pun juga mengakrabi Allah dalam suasana kejiwaan yang merasa diri hina-dina dan jelek sangat.

Nabi Adam, memulai tugas kekhalifahan dengan sebuah ‘kesalahan’. Nabi Yunus, menjemput kegemilangan dakwahnya, dengan ‘kekhilafan’ yang menyebabkan dia ditelan ikan NUN. Nabi Muhammad, beliau maksum, terpelihara, tetapi semakin tinggi seseorang semakinlah dia akan menyadari kekerdilan diri, yang pada gilirannya membuatnya mengakrabi Allah juga dalam suasana kejiwaan yang fakir seperti itu tadi. 100 kali sehari minimal beristighfar dan meminta ampun.

Jadi, untuk yang sudah ‘mendewasa’, saya rasa tahapan istighfarnya mesti dibalik. Bukan semata memperbanyak istighfar pada lafadz, tetapi tidak masuk kedalam kondisi mindfulness. Melainkan, secara subjektif saya rasakan kita mesti ikuti polanya para arifin itu tadi.

Mengingati Allah dengan sebanyak-banyaknya, lalu nanti kita akan menjadi awas dan waspada terhadap gerik fikiran dan rasa kita sendiri, sehingga nanti muncullah rasa fakir dan hina-dina, yang mau tak mau akan memaksa istighfar untuk keluar dari lisan kita.

Dalam pemaknaan seperti itu, barulah kita mengerti bahwa orang-orang yang berjalan “pulang” menuju Allah, tidaklah berhenti dalam sebuah posisi dimana mereka merasa sudah jadi orang baik. Maksudnya, mereka malah menjadi orang yang semakin mengerti bahwa diri mereka tidak baik. Semakin mengerti bahwa diri tidak baik, maka semakin mereka terus menuju Allah.

Disinilah baru saya sadari, kekhilafan sebagian pola peribadatan yang mengedepankan aspek lahiriah SEMATA. Mereka memperbanyak kuantitas, saat kuantitas menjadi banyak, mereka menilai itu sebagai suatu kebaikan. Saat kuantitas menurun, mereka desperate dan merasa urung menuju Allah.

Sedangkan pola yang diajarkan para arifin adalah membetulkan posisi aspek batiniah, seiring dengan menjalankan aspek lahiriah. Batin yang benar, akan berimbas pada pengenalan akan kekecilan diri. Semakin merasa kecil, semakinlah mereka meminta keampunan dari Yang Besar. Orang yang terus menerus merasa kecil, menganggap bahwa sejatinya perjalanan itu tidak pernah sampai, maka itu mereka terus menerus meminta tolong. Penambahan kualitas ibadah pada akhirnya adalah konsekuensi logis dari sikap yang semakin minta tolong dan semakin minta tolong.

Saat seseorang mengakui kekecilan dirinya, pada saat itulah dia akan bertemu dengan Kebesaran Dia.

Para pendosalah yang akan bisa memaknai Pengampunan. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau mendapati dirinya sendiri sebagai yang lemah dan fakir, dan akhirnya mengenali Allah sebagai yang Kuasa dan Kaya.[2]

Saat kita berjalan menuju Allah, kata orang-orang arif, kita haruslah menemukan diri sebagai yang kecil dan tak berdaya. Hanya dengan begitu, maka kita bisa melihat dunia ini sebagai pentas pagelaran demonstrasinya Allah lewat parade ilmu dan kreasiNya yang tak akan habis ditulis dengan pena sebanyak seluruh pepohon dan tinta sebanyak tujuh laut.

Hanya yang menemukan kekerdilan dirinyalah yang menyadari bahwa DIA-lah Al Mutakabbir. Yang Maha Sombong. Yang berhak sombong. Yang untuk mengenalkan diriNya kepada kita yang kecil dan sangat kecil…sangat kecil…sangat kecil ini; DIA sampai membuat pagelaran kolosal sebesar jagad raya ini.

Dan jagad raya yang -bagi kita manusia- sudah besar ini, bagiNya tetaplah kecil. Seumpama biji pasir pada hamparan gurun. DIA-lah Yang Besar. Yang  Berhak Sombong. Yang KebesaranNya hanya bisa ditemui oleh orang yang menemukan kekecilan dirinya sendiri.

 

catatan kaki:

[1] “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

[2] Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]” (Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (4)

Tanpa hidayah, perjalanan sejauh apapun yang dilakukan manusia hanya akan membuat manusia melihat “keteraturan-keteraturan” di alam ini, tidak sampai membuat manusia menyadari Sang Pencipta keteraturan itu.

Ambil contoh tentang gerhana. Bangsa primitif jaman dulu mempercayai mitos bahwa gerhana itu disebabkan oleh sesuatu yang ghaib karena bulan ditelan oleh batara kala. Oleh sebab itu, orang-orang dulu membuat bebunyian yang riuh dengan tujuan agar batara kala mengeluarkan kembali bulan yang telah dia telan.

Setelah lebih maju, sains, membantu manusia menyingkap, bahwa gerhana ternyata “disebabkan” oleh posisi bumi matahari dan bulan yang berada dalam satu garis lurus. Sains, telah menyibak bahwa gerhana bukanlah disebabkan sesuatu yang “ghaib”.

Semakin hari, semakin banyak hal yang disingkap oleh sains, dan sebab itu, persepsi manusia tentang keghaiban menjadi pudar. Termasuk dalam hal ini adalah kepercayaan tentang Tuhan.

Dulunya, manusia mengira bahwa Tuhan terlibat dalam hampir segala lini kehidupan manusia, tetapi setelah mengetahui fakta sains manusia menyadari bahwa semakin mereka “mempelajari” dan “menyibak” alam semesta, mereka akan bertemu dengan “keteraturan-keteraturan”.

Dengan memahami gejala keteraturan itu, maka manusia bisa menggunakan hukum sebab-akibat itu untuk kepentingan dirinya. Tetapi persandaran manusia kepada Tuhan menjadi pudar. Karena keteraturan di alam ini bisa dibuktikan secara empiris. Sedang Tuhan, tak terjangkau.

Siang dan malam karena rotasi bumi. Gerhana karena revolusi. Dan apel jatuh karena gravitasi. Hampir-hampir tak ada Tuhan disana, kata sebagian golongan.

Mengenai gravitasi ini, kita tahu bahwa cerita apel jatuh dan Newton yang mendapatkan “ilham” mengenai gravitasi; sangatlah masyhur. Kita dengarkan apa kata Newton mengenai hukum temuannya itu, “Gravitasi menerangkan gerakan planet-planet, namun tidak dapat menerangkan siapa yang menggerakkannya pertama kali. Tuhan mengatur semua hal dan mengetahui apa saja yang ada atau dapat dilakukan.”

Itulah yang saya maksudkan dengan “tanpa hidayah, manusia akan ‘hanya’ terpandang pada keteraturan-keteraturan di alam semesta”. Manusia semakin sulit menyadari keterlibatan Tuhan, karena kemana mereka menyibak, disitu mereka menemukan hukum alamiah yang menyebabkan sesuatu terjadi.

Ilmuwan besar, Stephen Hawkings, sempat menulis bahwa “tidak perlu Tuhan untuk menggerakkan alam semesta ini”, karena dalam pencariannya, Hawkings menemukan bahwa begitu banyak keteraturan di alam semesta. Hukum-hukum yang menjadi sebab segala yang terlihat. Saking teraturnya, dia menyimpulkan Tuhan tak perlu ikut andil dalam mengatur alam semesta yang sudah bergerak sesuai dengan tatanan yang ada ini.

Di sini, saya menemukan bahwa wejangan ulama-ulama arif -meski dengan bahasa yang tidak berbau sains- sejatinya melampaui jamannya.

Para guru-guru kearifan, mengatakan bahwa segala yang ada ini (benda-benda atau ciptaan apapun saja) adalah sesuatu yang “diadakan” oleh Tuhan.

Sesuatu yang diadakan atau dizahirkan oleh Tuhan, disebut dengan sesuatu yang “Baharu”, maksudnya, ciptaan adalah sesuatu yang memiliki awal, maka itu disebut “baharu”.

Sesuatu yang baharu, adalah kreasionalnya Allah. Sebuah pagelaran yang bercerita tentang sifat-sifat yang Dia hendak nyatakan.

Lawannya, -kalau boleh dikatakan begitu- adalah Sang Penciptanya. Yang ada tanpa ada permulaan, disebut QADIM.

Sang Pencipta, adalah tak serupa tak seumpama. Dia adalah rahasia dibalik rahasia. Begitu apik Allah menzahirkan alam raya sebagai bukti keberadaan diriNya, tetapi sekaligus sebagai tabir bagi orang-orang yang tak mampu “membaca” pertanda.

Sang Pencipta tidak akan bisa disentuh oleh pencapaian terhebat sains, ataupun pendakian tertinggi dari spiritual manusia siapapun saja.

Oleh ulama dulu, mereka samarkan bahasan ini dengan mengatakan bahwa, yang BAHARU (segala ciptaan), tak akan pernah bisa mengkaji yang QADIM. sebabnya adalah yang QADIM memang tak akan pernah terjangkau. Tak ada umpama yang bisa menggapainya.

Itu sebab, segala benda, segala kejadian hidup, hukum sebab-akibat, keteraturan alam raya, dan apapun saja yang bisa manusia kaji dan teliti adalah bukan Dia.

Hanya orang-orang yang menyerah, dan meyakini bahwa ada DIA yang tak serupa tak seumpama, yang menciptakan segala yang zahir inilah yang akan diberikan kepahaman.

Sebagaimana Ibrahim as, yang mengkaji bulan, mengkaji bintang, tetapi kemudian menyerah, dan mengaku ‘Sesung­guhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'” (QS. al-An’am: 77)

‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'” (QS. al-An’am: 78-79)

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” Thaha -110

Artinya, pembacaan, pengkajian, pencapaian terhebat manusia sekalipun, hanya akan bisa mengantar manusia “membaca” ismi Robbi. Asma-asma penciptaanya. Kreasionalnya. Kejadian hidup yang terzahir yang merangkum sifat-sifat dan makna-makna tentang Dia.

ALLAH sendiri tak akan terbaca, tak akan tertengok, tak tersentuh, oleh science semutakhir apapun saja, oleh pendakian spiritual setinggi apapun saja.

Sehingga, dengan mengetahui fakta ini kita akan tahu kemana tempat “pulang” kita, tak terkecoh kita oleh benda-benda, karena kita tahu bahwa kepada Sang Pemilik Kehidupan dan segala yang terhampar inilah kita “kembali”.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (3)

Setiap manusia, memiliki takdir kehidupan yang berbeda-beda. Setiap takdir kehidupan tak ada yang tanpa makna. Potongan kejadian apapun dalam hidup sesungguhnya adalah cerita tentang DIA.

Dalam setiap takdir, disitulah sifat-sifatNya terceritakan. Orang-orang yang hanya melihat potongan kejadian hidup semata, akan gagal melihat cerita dariNya.

Orang-orang yang memaknai hidup sebagai kendaraan pulang, akan melihat bahwa setiap kejadian hidup membawa pengenalannya sendiri akan Dia. Pengenalan itu bisa lewat suasana hati.

Suasana batin yang bergolak pada Nabi Musa as dan Nabi Sulaiman as, pastilah berbeda. Kita bisa tengok perbedaan itu dari potongan doa kedua Nabi tersebut.

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” (An-Naml :15).

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (An-Naml :19).

Dua doa di atas adalah potongan doa Nabi Sulaiman as.

Jika kita kelompokkan, doa-doa Nabi Sulaiman pada surat An-Naml adalah sangat jelas merupakan gambaran dari orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan kesyukuran. Situasi batin Nabi Sulaiman penuh dengan kebersyukuran atas anugerah yang melimpah menghujani beliau.

Kita bisa tengok bedanya dengan potongan doa Nabi Musa as berikut:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (Al-Qashas: 16)

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.” (Al-Qashas: 21)

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas: 24)

Sedangkan doa Nabi Musa as, merupakan gambaran orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan kefakiran. Doa yang mencerminkan rasa butuh yang sangat, doa yang lahir dari perasaan dan suasana batin yang merasa kecil dan tidak mampu.

Kan tak mungkin, Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah dengan muatan doa seperti Nabi Musa as?

Kenapa tak mungkin? Karena suasana batinnya berbeda.

Suasana batin, merupakan refleksi dari pengalaman kehidupan.

Singkat kata, takdir hidup yang berbeda, membuat kedua Nabi -yang tentu saja merupakan kedua hamba terpilih, Allah SWT itu- mengakrabi Allah lewat entry point yang berbeda.

Yang satu lewat rasa kebersyukuran yang sangat, yang satu lewat rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah.

Nabi Muhammad SAW, “dekat” dengan Nabi Musa as dalam hal bahwa Beliau-pun “kembali” pada Allah lewat gerbang rasa fakir.

Masyhur kita dengar bahwa Rasulullah SAW meminta hidup dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin, dikumpulkan dan dibangkitkan dalam keadaan miskin. Miskin adalah metafor dari rasa fakir pada Allah.

Akan tetapi, yang manapun juga, yang jelas bahwa segala takdir kehidupan -dan suasana batin itu- menghantarkan mereka “kembali” pada Allah.

Orang yang kembali lewat jalan kefakiran, berarti mengakrabi Allah lewat sifat-sifat keagunganNya. Mereka melihat bahwa kejadian hidup mereka merupakan cara Allah memperkenalkan diriNya lewat sifat-sifat keagungan semisal Yang Maha Menolong, Yang Mengatur Hidup, dan lain-lain.

Orang yang kembali pada Allah lewat jalan kebersyukuran, berarti mengakrabi Allah lewat pengenalan akan sifat-sifat keindahanNya. Maha Kasih, Maha Penyayang, dsb.

Sebenarnya. Setiap takdir manusia sudah sedemikian rupa di-set sehingga pastilah ada penzahiran dari makna atau sifat-sifat Allah, pengenalan Allah pada hambaNya.

Jadi sebenarnya, kendaraan pulang setiap orang adalah takdir hidup mereka masing-masing. Tinggal jadikan takdir kehidupan kita sebagai kendaraan pulang.

Akan tetapi tentu, hanya yang diberi anugerahlah yang mampu melihat pengaturan Dia di sebalik takdir kehidupan, dan akhirnya kembali lewat gerbang Nama-nama Nya (sifat-sifat).

Sedangkan yang tak mendapat anugerah, hanya melihat kejadian hidup semata. Kesulitan dan kelapangan hidup, tidak menghantarkan mereka “kembali”.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (2)

Ada sebuah hadist, yang dari dulu saya agak bingung apa korelasinya hadist ini? Alhamdulillah, saya mendapatkan pencerahan dari Ustadz Abdul Aziz. Saya hendak ceritakan pula disini.

Hadist tersebut kurang lebih isinya: “Yang paling aku sukai dari dunia ini, wanita, wangi-wangian, dan sholat.”

Hadist itu dulu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa sholat ditempatkan pada level yang sejajar dengan wanita dan wangi-wangian?

Ada penjelasan yang mengatakan bahwa wanita, wewangian dan sholat diletakkan dalam satu tema yang sama, yaitu konteks feminin-nya. Ya saya pikir okelah.

Tetapi, baru sekarang saya mengerti sebuah pendekatan yang menarik lagi bahwa hadist itu tidak bercerita tentang level yang sama. Maksudnya, Rasulullah bukanlah menyamakan antara sholat, wangi-wangian, dan wanita. Melainkan Rasulullah bercerita tentang penghalang “perjalanan” dan solusinya.

Jadi begini kurang lebih, telah kita pahami bahwa di dalam diri manusia ada “dorongan”, dan dorongan itu bermacam-macam bentuknya, tetapi mayoritas dorongan atau kehendak (hawa) dari dalam diri manusia (nafs/ nafsu) itu menuju ke arah keburukan.

Salah satu dari sekian banyak dorongan itu adalah syahwat. Dan itu natural sekali. Sangat logis, bahwa dorongan (hawa) dari dalam diri (nafsu) yang berupa syahwat ini merupakan salah satu palang terbesar bagi orang-orang yang ingin meniti jalan kembali kepada Allah.

Sebagian spiritualis, mereka menyadari akan hal ini, dan menjalani hidup kerahiban. Pada kuil-kuil, umpamanya. Mereka malah sama sekali meninggalkan hawa di dalam diri, untuk menjadi pandito. Sisi spiritual mereka meningkat pesat sekali, tetapi bagi islam ini tak sesuai fithrah. Tak natural. Karena manusia dilengkapi dengan dorongan jasadiah.

Solusi dalam islam adalah dengan lembaga pernikahan. Begitulah, memang benar bahwa menikah itu separuh agama. Karena sehebat apapun orang, dia akan sulit untuk total menuju Allah selama dia masih dihalangi kebutuhan jasadiah. Salah satu dari gejolak jasadiah itu bisa diredam dengan pernikahan.

Itulah maksud dari hadist itu, setelah penghalang perjalanan diredam, maka berwangilah dan menghadap kepada Allah tanpa dihalangi anasir-anasir tingkat rendah lagi. Make sense.

Serupa dengan itu, puasa-pun bertujuan meredam gejolak. Hanya saja, saya rasa puasa itu tidak hanya meredam gejolak syahwat, tetapi juga meredam gejolak yang lebih kompleks, semisal amarah, kesedihan, dan segala macamnya yang disetir oleh pengaruh hormonal.

Maka sebagaimana menikah sebagai upaya memuluskan perjalanan menuju Tuhan, saya kira puasa-pun begitu. Ianya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri tanpa konteks, tetapi dia berada dalam bingkai cerita orang-orang yang kembali.

Puasa, sebagai pemulus perjalanan.

YANG MENCINTA DAN KEMBALI (1)

Apa jadinya, seandainya kekisah para Nabi yang kita dengar, tidak sedikitpun menggambarkan bahwa merekapun adalah manusia biasa yang pernah khilaf?

Saya rasa, ummat mereka yang terlanjur berdosa akan hidup dalam penyesalan panjang dan rasa putus asa untuk “sampai” kepada Allah. Sebab tak ada tuntunan pertaubatan.

Tetapi tidak. Kita tahu dalam sejarah bahwa Adam as memulai tugas besar kekhalifahan dengan dosa memakan buah khuldi. Yunus as sempat pergi dan meninggalkan tugas dakwah pada kaum ninawa. Musa as pernah membunuh. Dan sederet nama orang-orang suci lainnya yang ternyata manusia biasa, pernah khilaf dan berdosa, namun mereka meniti jalan panjang pertaubatan yang mengantarkan mereka kembali kepada Allah.

Premisnya sederhana saja. Jika orang semulia mereka saja pernah bersalah, apalagi model kita ini?

Dan kesimpulan selanjutnya adalah, bahwa seperti apapun kesalahan kita, ternyata yang penting adalah kita meniti jalan “pulang”. Karena tema hidup ini sebenarnya mencari jalan pulang. Dan salah satu jalan panjang menuju Allah itu dimulai pada gerbang pertaubatan.

Taubat berarti “kembali”. Dan orang-orang yang kembali, diganjar langsung dengan peringkat “dicintai” Allah. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah : 222).

Tidak peduli seperti apa track record kekhilafan, asalkan kekhilafan menjadi jalan pertaubatan, yang berarti menghantarkan seseorang kembali kepada Allah, berarti orang itu diberi rahmat oleh Allah. Berarti pula dia masuk dalam golongan orang-orang yang dicintaiNya.

Dalam konteks “kembali” kepada Allah inilah, saya rasa, puasa menemukan maknanya. Sebagai  sesuatu yang Allah ganjar khusus. Salah satu sebabnya saya kira, karena puasa ini adalah salah satu lelaku yang memudahkan jalan “kembali” seseorang kepada Allah.

Saat manusia ingin kembali kepada Allah, banyak hal yang mengganggu mereka.

Hal yang mengganggu itu bisa jadi dorongan dari luar diri, yaitu sesuatu keburukan yang disetir oleh dorongan syaitan. Dan untuk sebuah keburukan yang datang dari LUAR diri kita ini, ada antitesisnya, yaitu sebuah dorongan kebaikan yang juga datang dari LUAR diri kita, katakanlah dorongan malaikat.

Itu jika kita bicara anasir di LUAR diri manusia. Tetapi, karena manusia selain merupakan makhluk ruhani, juga merupakan makhluk jasadi sekaligus. Maka ada satu lagi dorongan atau kehendak yang muncul dari dalam diri manusia itu sendiri.

Diri manusia itu disebut “Nafs” atau disebut “Nafsu”, dan kehendak yang muncul disebut “Hawa”. Kita mengenalnya sebagai Hawa Nafsu. Dorongan dari dalam diri kita sendiri.

Dorongan diri kita sendiri ini, lebih cenderung kearah keburukan. Tabiatnya adalah mencari sesuatu yang menyenangkan. Atau bisa juga membesarkan sesuatu sehingga menjadi tak terkontrol.

Ilustrasinya adalah begini. Semisal kita mendapatkan sebuah suasana ruhani yang “given”, artinya ada sebuah dorongan kebaikan yang “datang” kepada kita, sehingga kita merasakan perasaan takut kepada Allah. Bukankah itu baik?

Ya, itu baik. Sampai kemudian kehendak dari dalam diri, hawa dari nafs ikut bermain, dan membesarkan volume ketakutan itu, dari “khauf” yang tadinya mendorong orang kembali pada Allah, kemudian malah menjadi rasa putus asa yang menjauhkan manusia dari Allah.

Perumpamaan lainnya adalah semisal kita mendapatkan suasana ruhani yang “given” berupa rasa cinta kepada Allah. Tetapi karena faktor hawa dari dalam nafs, maka dorongan rasa cinta itu menjadi berlebihan, sehingga tadinya cinta, menjadi lalai dan menggampangkan saking merasa dekat.

Itu perumpamaan Hawa di dalam nafs manusia. Banyak lagi dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri, yang semuanya cenderung pada keburukan. Misalnya perasaan marah dan emosi yang hormonal. Contoh paling simpel adalah wanita saat menjelang haid.

Atau macam-macam lagi dorongan emosional karena pengaruh jasadi. Amarah. Kesedihan. Kegembiraan berlebih. Dan berbagai-bagai, yang disetir oleh hormon.

Manusia akan sangat sulit meniti jalan kembali kepada Allah, sebab rintangan ini banyak sekali. Sudahlah ada dari luar, ada pula dari dalam diri.

Maka, untuk orang-orang yang kesulitan meniti jalan kembali, kesulitan melakukan laku spiritual mengingati Allah dan meniti jalan pulang, dianjurkan berpuasa. (Tentu Ramadhan lain soal, itu kewajiban).

Maka puasa, hemat saya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri. Agak tidak masuk akal, bukan, jika kita tidak makan, kita tidak minum, kemudian kok ujug-ujug Allah cinta pada kita dan Allah mengatakan bahwa Puasa itu untukKu. Dan Allah membanggakan kita diantara para malaikatNya?

Kan agak aneh saja, seperti ada yang kurang.

Baru sekarang saya memahami, bahwa puasa merupakan sebuah mekanisme logis, yang memuluskan jalan bagi orang-orang yang meniti jalan pulang. Segala hambatan dari dalam diri manusia itu sendiri, hawa dari dalam nafs, akan diredam oleh mekanisme puasa. Gejolak diri mereda, dan manusia menjadi lebih mudah untuk meniti jalan “kembali”.

Dalam konteks meniti jalan kembali inilah, saya kira, jika kita puasa, maka kita akan menjadi orang-orang yang dibanggakan Allah diantara malaikatNya. Karena kita bersusah payah dengan segala cara, agar dalam kelemahan manusia yang natural ini, kita tetap bisa “pulang”.

 

YANG MEMULUSKAN JALAN PULANG

Suatu kali. Selepas pulang dari sebuah rig pengeboran, saya menjadi begitu bersemangat melakukan amalan puasa Daud.

Apa pasal? pasalnya saya bertemu dengan seorang senior di Rig pengeboran tersebut yang sudah belasan tahun mendawamkan puasa Daud.

Singkat cerita, saya langsung melakukan puasa Daud, selama sebulanan lebih, mungkin dua bulanan. Tetapi anehnya, semakin berpuasa saya semakin gelisah. Ada suatu kondisi dimana saya merasakan bahwa hawa nafsu itu ternyata seperti binatang buas. Dia tidak mati, melainkan hanya sembunyi untuk kemudian muncul lagi pada momennya yang tepat.

Lama saya merenungi kenapa puasa saya tidak membuahkan hasil yang saya harapkan? lalu saya belajar mengilmui puasa.

Ada beberapa catatan untuk diri saya sendiri, semoga saja catatan ini bisa berguna untuk rekan-rekan.

Yang pertama adalah, untuk segala macam ibadah sunnah yang manusia lakukan secara dawam, itu disetir oleh suasa ruhani. Suasana ruhani yang ada pada diri manusia itu disebut dengan “Ahwal”. Ahwal, akan melahirkan amal, kata Ibnu Athoillah.

Kenapa ada orang yang getol sekali beribadah sunnah puasa, misalnya. Getol sekali zikiran misalnya. Atau getol sekali bersedekah. Dan amalan mereka itu dawam bertahun-tahun mereka lakukan. itu disebabkan ada Ahwal yang men-drive mereka. Ahwal ini bisa berbeda-beda, dan setiap ahwal yang berbeda akan melahirkan bentukan amal yang berbeda pula.

Itu pertama. Saya mencoba melakukan amalah seseorang yang mendapatkan ahwal yang mendorong Beliau untuk dawam puasa daud berbelas tahun. Sedang saya, tak ada Ahwal-nya, maka amal saya akan sulit mewujud.

Lha….apa kalau begitu harus menunggu ahwal dulu?

Ndak begitu, ini kita bicara dalam konteks “Amalan itu amalan sunnah” dan yang kedua dalam konteks amalan sunnah yang dilakukan itu pada level superior-lah istilahnya. Sesuatu yang dahsyat.

Jadi kurang lebih, laksanakan kewajiban peribadatan kita dengan baik. Setelah itu tambahkan dengan amalan sunnah yang kita mampu. Setelah itu, biasanya kita akan tahu sendiri, amalan sunnah yang mana yang lebih “ringan” bagi kita untuk melaksanakannya dengan tekun dan dawam, berarti itulah amalan sunnah yang menjadi entry point kita untuk mendekat kepada Allah. Bukan berarti tidak beramal, ya. Saya yakin rekan-rekan paham maksud saya.

Yang kedua adalah, Bahwa puasa itu bukanlah untuk icip-icip suasana menjadi orang miskin. Dulu saya mengira puasa itu adalah untuk icip-icip menjadi orang miskin. supaya kita lebih bisa trenyuh terhadap penderitaan fakir miskin.

Ternyata bukan begitu. Tentu kita tahu itu salah satu efeknya. Yang berikutnya adalah kita tahu juga bahwa puasa goal-nya adalah membentuk manusia yang taqwa. Tentu.

Tapi bagaimana jelasnya prosesnya taqwa dibentuk karena puasa?

Ternyata puasa itu ibarat memuluskan jalan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah.

Saat manusia ingin kembali kepada Allah, maka akan ada banyak penghalang.

Dari dalam diri manusia saja, ada beberapa penghalang. Ada situasi hormonal manusia yang berupa gejolak nafsu. Amarah. Perasaan sedih dan duka yang disetir oleh hormon, dan macam-macam.

Kesemua hal itu akan diredam dengan puasa. Maka setelah berpuasa selama beberapa hari, metabolisme akan lancar. Hormonal terkendali. Dan segala anasir penghalang dari dalam tubuh manusia itu sendiri seakan dipangkas. Dan itulah saat yang tepat bagi jiwa manusia “kembali” ke Allah. MengingatiNya tanpa ada penghalang.

Maka berpuasa semata, tanpa ada langkah ruhani untuk “kembali” kepadaNya, istilahnya begitu, akan sia-sia saja. Karena puasa adalah memuluskan jalan, membersihkan rintangan.

Setelah mulus, dan rintangan dihilangkan, maka kita sudah semestinya berjalan.

PULANG.

——————-

gambar dipinjam dari sini

MEMBUKA PINTU RAHMAT

Manusia, adalah makhluk yang pembosan. Tabiat manusia adalah tergesa-gesa karena sifat pembosannya itu. Konon, sebelum selesai benar disempurnakan, Adam as sudah tergesa-gesa ingin berdiri.

Yang tak dilengkapi rasa bosan, adalah Malaikat. Konon kita dengar ada malaikat yang tugasnya hanya memuji Allah dengan bertasbih sejak dia diciptakan,sampai sekarang. Itu tok kerjaannya, tak mengeluh, tak ada bosan. Ada yang memanggul arasy, gitu tok, sejak dulu sampai kiamat.

Allah sangat mengetahui sifat pembosan manusia itu, itulah –mungkin– mengapa Allah SWT menciptakan berbagai-bagai amalan lahiriah sebagai jalan mendekatkan diri kepadaNya.

Kita berbicara di luar amalan wajib– Amalan sunnah itu berbagai-bagai, dan manusia bisa mendekatiNya dengan melalui berbagai-bagai entry point itu.

Setiap amalan yang manusia lakukan, disetir oleh kondisi ruhani yang turun kepada manusia itu. –sekali lagi, kita dalam konteks amalan sunnah-.

Maka ada orang yang getol sekali puasa. Ada yang hobinya sholat sunnah. Ada yang hobinya sedekah. Ada yang hobinya sholawatan. Ada yang hobinya tilawah. Kenapa? Ahwal yang berbeda-beda.

Silakan dekati Allah dengan entry point mana saja yang kita suka, karena entry point itu banyak.

Tetapi kuncinya satu. Apapun amalan sunnahnya (bentuk luar ibadah), dalemannya adalah mengingati Allah.

Maka, setelah mengetahui bahwa yang pokok adalah hati (dalam) selalu ingat Allah, dan mengetahui fakta bahwa manusia itu diciptakan dengan tabiat pembosan, dan mengetahui juga fakta bahwa Allah telah menzahirkan macam-macam amaliah; manusia bisa melakukan variasi dalam amaliahnya (luar), asalkan selalu mengingati Allah di dalam jiwanya.

Umpama kita sholat tahajud. Kok rasanya ga “dapet” ya pas sholat tahajud? Maka guru-guru yang arif mengatakan, jangan ngotot.

Ridholah dengan kenyataan bahwa tahajud kita belum bisa khusyu. Jika kita  memaksa ingin khusyu saat kita tahajud dengan ngotot, maka yang timbul adalah nafsu dan kemrungsung kata orang jawa. Hati gelisah dan tak tenang. Karena khusyu itu “given”, sesuatu yang diturunkan karena anugerah.

Sebaiknya terimalah kenyataan bahwa  tahajud kita barusan tak sempurna, lalu misalnya mendekati Allah lewat jalan istighfar atas ke-tak sempurnaan amal,  setelah itu tetaplah mencoba dekati Allah dengan variasi bentukan luar ibadah lainnya.

Bisa “kejar” lewat tilawah.

Lewat tilawah kok rasanya belum “dapet”? kejar lewat sholat dhuha. Atau kejar lewat sedekah.

Pendeknya, di DALAM harus selalu ingat Allah, dan bentukan LUAR ibadah akan menyesuaikan ahwal apa yang turun pada kita.

Seperti cerita Ibnu Qayyim al jauziyah, Beliau biasa berdzikir bakda subuh sampai waktu dhuha.

Saat itu beliau merasa berdzikir kok mentok, rasanya seperti hambar?

Maka beliau tidak ngotot, melainkan tetap zikiran dan “santai” menerima bahwa saat itu tidak bisa “total”.

Sejurus kemudian beliau mendengar berita ada tetangga yang meninggal. Dia tinggalkan zikirannya, lalu dia ganti amaliah dengan membantu pemakaman tetangga.

Aneh tapi nyata, saat bantu tetangga itulah dia merasakan “rahmat” turun.

Jadi, amaliah sunnah bisa berbagai-bagai, dan dekatilah Allah lewat jalan yang mana saja, tak mesti ngotot satu jalan, karena kita tak tahu lewat jalan mana Rahmat itu dibukakan.

Seperti misalnya saat ada tamu, maka amaliyah yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima tamu dan memuliakannya, bukannya meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha.

Meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha, membuat sang tamu menunggu dengan gelisah, adalah sebuah sikap ketertipuan. Menyangka bahwa hanya amaliyah sunnah berbentuk sholat dhuha itulah yang bisa membuat rahmat Allah datang. Padahal, jika tetap mengingati Allah pada hatiNya, manusia bisa melakukan amaliyah luaran yang sesuai kondisi saat itu. Menerima tamu, pada konteks itu, adalah lebih tepat dibanding sholat dhuha.

Orang-orang arif mengatakan, nantinya kita bisa merasakan, dari amaliyah yang mana Allah turunkan rahmatNya.

EMPUNYA ASMA DAN SIFAT

Pada mulanya, hanya Dia yang ada. DIA adalah perbendaharaan yang tersembunyi. DIA ingin dikenali, maka DIA menzahirkan makhluk atau ciptaan.

Pada mulanya tiada definisi. DIA adalah rahasia di atas rahasia.

Saat DIA menzahirkan ciptaanlah; segala makna-makna yang hendak DIA sampaikan mewujud. Maka sifat-sifatNya bisa dikenali. Barulah ada definisi tentang DIA.

Setiap sifat dikaitkanNya pada sebuah nama.

Pengetahuan tentang potensi makna, atau sifat-sifat -yang berarti pengetahuan tentang Asma’- inilah yang diajarkan pada Adam as.

وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا 
“Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya.  ( awal ayat 31 surat Al Baqarah).

Maka setiap bentang keindahan alam raya, setiap kejadian hidup, secara esensi adalah wujud konkrit menceritakan  sifatNya.

Semisal, kita tahu bahwa DIA maha pengampun, maka kenyataan dari keMaha Ampunan Dia mestilah terzahir, dalam wujud kejadian adanya para pendosa di muka bumi ini, yang kemudian diampuni.

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Pengenalan akan sifatNya, -dan berarti juga pengenalan akan asma’Nya-, adalah semacam entry point untuk mengenal DIA sang empunya asma’ dan sifat.

Ini yang baru saya mengerti akhir-akhir ini. Bahwa kesal terhadap kejadian hidup yang kita alami, adalah sebuah kebodohan. Karena sama saja dengan kita kesal terhadap kenyataan sifatNya atau kenyataan AsmaNya.

Ilustrasinya begini. Umpama kita berhadapan dengan rekan kerja yang begitu keras kepala misalnya, atau kita berhadapan dengan pimpinan, atau bahkan misalnya anak kita sendiri yang begitu keras, maka kesal kepada kenyataan itu adalah sama saja dengan kesal kepada sebuah kenyataan bahwa “Allah-lah memiliki kuasa menutup hati seseorang”.

Sebuah kejadian yang kita alami tersebut adalah sebuah kenyataan akan sifatNya.

Kecewa terhadap takdir itu, seumpama kita kecewa terhadap salah satu kenyataan asmaNya. Tentunya tak elok.

Sebaliknya, penerimaan akan hal tersebut akan membawa kita kepada pengertian yang sejati bahwa benarlah Dia punya kuasa menutup hati seseorang.

Akhirnya kita menjadi tahu dan yakin akan kenyataan asmaNya. Dengan mengenal asma’Nya, kita menjadi tahu siapa sang Pemilik. DIA-lah tempat kita berlindung dari segala potensi makna yang telah dizahirkan.

Akhirnya Kita kenal DIA, dan kepadaNya-lah kita meminta tolong. Kepada yang Empunya Asma dan Sifat.

Hingga nanti DIA akan memudahkan jalan, dan membuat kita kenal pula dengan kenyataan asmaNya yang lain, yaitu Yang Melapangkan, Yang Memberi Petunjuk, Yang Menerima Taubat, dst.

MAJELIS ORANG-ORANG FAKIR (2)

Dulu…setiap kali saya diterpa ujian, saya sering membanding-bandingkan dengan kawan-kawan saya yang lain. Yang hidupnya bagai sungai tenang, tiada gejolak. Mulus, hampir tak ada gelombang.

Dulu sering terpikir, kenapa kok mereka hidupnya tenang-tenang saja, tak ada masalah ya? Kok saya begini-begini amat?

Tetapi lama-kelamaan saya merenung. Apakah Rasulullah pernah membanding-bandingkan hidupnya dengan sahabatnya?

Misalnya saat ditinggal Khadijah, dan ditinggal pamannya, rasanya tak pernah Beliau itu yang, “duh…kok enak ya Abu Bakar, ga sendirian. Ga ada masalah….” tak pernah.

Saya tengok-tengok, ternyata semakin diterpa badai, semakin Beliau itu “menenggelamkan diri dalam rasa fakir kepada Allah.” Menegakkan kehambaan dan mengakui bahwa betapa butuh kepada pertolongan Allah.

Jika ujian kita maknai sebagai ‘Allah tak ridho pada kita’, maka berarti keseluruhan deret nama para Nabi adalah orang-orang yang Allah tak ridhoi? Tak mungkin.

Nyatanya, sepaham saya hanya Sulaiman AS-lah yang Nabi dan raja-diraja, selebihnya adalah para anbiya yang meniti jalan kefakiran. Hidup dalam rasa butuh yang teramat sangat. Fakir di depan Tuhan.

Menjalani takdir yang membanting-banting, dan menenggelamkan diri mereka dalam hidup yang miskin, mati yang miskin, dan dikelilingi orang-orang miskin.

Maka benarlah ternyata orang-orang arif yang lebih mengkhawatirkan “lapang” ketimbang “sempit”. Karena kesempitan, menumbuhkan rasa butuh, rasa butuh menjadikan mereka fakir di hadapan Allah.

Baru saya sadar, bahwa ucapan melemahkan pada saat ada seseorang yang tergerak ingin minta tolong pada Allah kala diterpa musibah, “Giliran ada masalah aja, baru mau ibadah!!!” ; Adalah ucapan yang sungguh tak tepat konteks.

Allah mengundang hambaNya “pulang” dengan caraNya sendiri, dan mayoritas undangan itu adalah jalan panjang hidup yang membanting-banting dan menerbitkan rasa butuh dan ingin kembali.

“Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin”