DIBALIK TABIR KETERATURAN (3)

Dalam satu riwayat, Adam a.s berdebat dengan Musa a.s di Syurga. Musa mengatakan kepada Adam a.s bahwa karena Adam-lah ummat manusia dikeluarkan dari Syurga. Kemudian Adam menjawab kepada Musa a.s, bagaimana bisa Musa menyalahkan Adam atas sesuatu yang telah tertulis?

“Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.” (H.R. Bukhari No. 4367)[1]

Yang jadi menarik adalah, apakah BERDALIH atas nama takdir seperti itu dibolehkan?

Pembicaraan ini sangat ramai sejak zaman dahulu. Ibnu Qayyim menjelaskan dengan sangat apik dalam bukunya “Qadha dan Qadhar”. Tetapi sebelum kita pantau bersama penjelasan beliau, tentu sangat elok jika kita mendudukkan kembali perbincangan ini dalam urutan yang sinambung dengan pembahasan sebelumnya.

Yang pertama bahwa orang-orang yang telah “Musyahadah”-lah yang dapat menyaksikan kesempurnaan pengaturan Allah di muka bumi. Dan bahwa segala yang terjadi pastilah dalam tujuan manifestasi Asma dan SifatNya (baca DISINI)

Yang kedua bahwa setinggi-tingginya Musyahadah mestinya tidak membuat seorang hamba meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan dan menyebut buruk pada keburukan. (baca DISINI)

Saya kutipkan lagi dari buku Ibnu Qayyim. Sebagian kalangan yang mempelajari tentang takdir, banyak mensikapi mengenai kesempurnaan Qada dan Qadar dengan sedikit kebablasan. Membuat mereka selalu berdalih atas nama takdir.

Contoh yang agak ekstrim adalah seperti ini. Karena mereka tahu bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan, maka mereka berdalih dengan mengatakan bahwa  KEJAHATAN ATAU DOSA yang mereka lakukan-pun adalah bentuk ketaatan. Kenapa? karena dengan melakukan kejahatan / dosa maka mereka sudah memenuhi iradah atau kehendak Allah.

Orang ini, BERDALIH atas nama takdir. Alasannya sederhana saja, Adam a.s saja berdalih dengan nama takdir saat berdebat dengan Musa, kenapa saya tak boleh berdalih juga atas nama takdir?

 

Banyak ungkapan ganjil dari orang-orang yang berdalih atas nama takdir, semisal begini, “Orang yang arif (mengerti) tidak akan menjauhi kemungkaran selamanya, karena ia memahami rahasia Allah Ta ‘ala dalam penetapan takdir-Nya.” Ganjil, bukan?

Ibnu Qayyim menjelaskan, dimana letak perbedaan antara nabi Adam a.s dan orang-orang  yang keliru untuk telah BERDALIH atas nama takdir sebagai justifikasi dosa yang SEDANG mereka lakukan. Tetapi sebelum kita kutip penjelasan Ibnu Qayyim mengenai perbedaannya, rupanya Al Qur’an pun mengabadikan kisah orang-orang yang BERDALIH atas nama takdir untuk menjustifikasi dosa yang SEDANG mereka lakukan.

Dan Orang-orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya.” Demikian juga yang diperbuat orang-orang sebelum mereka, maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al-Nahl 35)

Seolah-olah orang musyrikin berkata, ngapain kamu menasihati kami, kalau Allah mau kami beriman maka kami beriman. Dalam lain kata, biarkanlah kami berbuat dosa, jangan ikut campur, ini Allah sendiri yang menuliskan kami berbuat dosa.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah sebagian dari rezki yang diberikan Allah kepada kalian,” maka orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kalian melainkan dalam kesesatan yang nyata.” (Yaasin47)

Saat diperintahkan menafkahkan sebagian rizki, maka mereka BERDALIH lagi dengan mengatakan kenapa kita harus memberi makan orang-orang yang kalau Allah mau mentakdirkan mereka makan; pastilah mereka makan.

Ternyata Qur’an sudah mengabadikan banyak sekali golongan yang BERDALIH atas nama takdir untuk sebuah dosa yang SEDANG mereka lakukan. Dan ini menimbulkan kekisruhan.

Apa bedanya orang-orang itu, dengan Nabi Adam a.s yang juga BERDALIH atas nama takdir? Ibnu Qayyim menjelaskan kurang lebih seperti berikut, saya rangkumkan point-pointnya:

Pertama, Allah mentakdirkan segalanya ini berlaku, dalam sebuah game-plan besar yaitu mengenalkan tentang diriNya. Maka pada sisi manusiawi, segala takdir yang SEDANG berlaku mestilah disikapi dengan sikap batin yang “mengandalkan” Allah untuk kembali kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu mentakdirkan orang itu beramal. (intinya adalah kita berupaya mengenal Dia lewat kejadian apapun)

Saya masih ingat salah satu syarahan seorang guru tentang DOSA. Yang beliau sampaikan itu baru sekarang saya mengerti bahwa sangat senada dengan maksudnya Ibnu Qayyim.

kata beliau kurang lebih: saat kita SEDANG berada pada kondisi berdosa, kita harus ingat bahwa hanya Allah semata yang bisa selamatkan kita. Karena dorongan hendak melakukan dosa itu pun sejatinya telah masuk dalam Qada dan Qadar-Nya. Maka menyikapinya adalah, kita “kembali” pada Allah, “mengingatNya” dan minta tolong Allah agar selamatkan kita dari dorongan berbuat dosa. Bukan mengandalkan kemampuan diri beramal semata-mata tetapi lupa menyandarkan amal pada pertolongan Allah.

Maka barulah dengan cara pandang seperti itu kita akan mengerti dialektika berikut ini, ada ayat yang mengatakan ini “Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. ” (Al-Takwir 28)…. tapi di sisi lain Allah mengatakan begini “Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali jika dikehendaki Allah. ” (Al-Insan 30)

Kita disuruh menempuh jalan lurus, lalu kita diberitahu bahwa tak akan mampu kalau tak Allah tolong.

Maksudnya adalah, justru dengan mengetahui tentang takdir-lah, orang-orang akan semakin beramal dan mengandalkan Allah (meminta pertolongan Allah atas amal yang dia lakukan) bukan mengandalkan dirinya sendiri. Karena tidak ada yang mampu membuat mereka beramal, dan tidak ada yang mampu menghindarkan kita dari dosa, selain dari Allah sendiri.

Dialektika itu hanya akan dipahami oleh yang mengerti tentang kuasa Allah atas takdir.

Begitulah kita harusnya bersikap. Semakin mengetahui kuasa Allah atas takdir, mengetahui la hawla wa la quwwata illah billah, semakinlah kita mengandalkan Allah dalam segala lini hidup. Bukan sebaliknya, malah BERDALIH dengan takdir atas dosa yang SEDANG kita lakukan.

Nah…. apa bedanya dengan berdalih yang dilakukan Nabi Adam a.s.?

Bedanya adalah, Nabi Adam a.s. berdalih atas sesuatu yang sudah lewat, dan sesuatu itu telah ditaubati oleh Nabi Adam a.s.

Setiap kejadian hidup, adalah untuk mengenalkan-Nya.  Sebuah kenyataan bahwa kita TERLANJUR berbuat dosa-pun, sejatinya adalah cara Allah mengundang kita “kembali” padaNya lewat jalur pertaubatan.

Jadi…jika seseorang berdosa, lalu dosanya mengantar dia kembali pada Allah lewat jalan pertaubatan, itu sudah sesuai alur yang benar.

Seperti Nabi Adam a.s. Dosa yang TERLANJUR dia lakukan, menjadikan dia lebih mengenal Allah pada AsmaNya Al-Ghafuur, beliau bertaubat bersama Hawa, dan melanjutkan hidup dalam pengenalan yang lebih dalam akan Allah SWT (karena kenal AsmaNya satu lagi, Yang Maha Pengampun).

Nah… saat seseorang sudah melakukan pertaubatan sampai sebegitu jauhnya, dan sudah meninggalkan dosanya, dan dosanya malah mengantarnya menjadi orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan penyesalan; maka saat semua itu sudah dilakukan, masih ada yang mengungkit-ungkit, kita disudutkan oleh orang lain atas dosa silam yang telah ditaubati; bolehlah dia mengatakan -seolah olah- kenapa kamu mencelaku, itu sudah tertakdir, dan lewat takdir itulah aku menjadi semakin mengenalNya, lewat takdir itu aku kembali padaNya.

 

—–

[1] Telah menceritakan kepada kami [Ash Shalt bin Muhammad] Telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sirin] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.”H.R. Bukhari No 4367

DIBALIK TABIR KETERATURAN (2)

Telah kita ketahui, berdasarkan pembahasan Ibnu Qayyim bahwa di dunia inilah Allah SWT memanifestasikan kenyataan akan Asma dan Sifat yang dia miliki.

Telah pula kita ketahui, dengan begitu mengertilah kita bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi dengan random dan tanpa arti. Pastilah berhikmah. Dan hikmah itu antara lain adalah mengajari manusia tentang DIA, lewat cerita tentang Asma dan Sifat yang dia miliki pada seluruh lini kejadian hidup yang kita jalani.

Yang Ibnu Qayyim ungkapkan ini, barulah belakangan saya sadari bahwa rupanya senada dengan maksud Ibnu Athoillah walaupun dalam bahasa yang berbeda.

Ibnu Athoillah dalam aforismanya di Al-Hikam mengatakan “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau ternyata begini. Semua nama-nama Allah adalah “husna” (Asmaul Husna). Dan sebab itulah segala sifatNya baik, karena bertujuan mengajari manusia. Maka orang yang arif adalah orang-orang yang berbaik sangka pada Allah karena mengerti bahwa segala yang terjadi merupakan manifestasi Asma dan SifatNya, yang juga berarti bahwa semuanya sebenarnya “baik”. Maka dalam ujian hidup pun mereka berbaik sangka pada Allah, karena sangat mengerti bahwa kejadian hidup dan kesulitan apapun yang mereka alami sejatinya bukan karena Allah ingin menyiksa, tetapi karena Allah ingin mengajarkan tentang sifat-sifatNya kepada manusia.

Senadalah hal itu dengan yang dimaksud Ibnu Qayim tadi.

Akan tetapi, sebuah hal sangat indah dituliskan Ibnu Qayim dalam bukunya yang lain, yaitu “Qada dan Qadar”, dimana beliau mengoreksi kesalahan sebagian kalangan yang sudah mencapai taraf “musyahadah” atau sudah “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana itu.

Apa yang Ibnu Qayyim koreksi, bisa kita lihat pada cuplikan di bawah ini.

“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”

Agar tidak terlampau abstrak, mungkin kita coba menggambarkan seperti ini. Dari penggambaran seperti ini insyaAllah kita akan memahami apa hal yang dikoreksi oleh Syaikh Ibnu Qayyim untuk orang-orang yang sudah Musyahadah. (Tentu kita pahami bahwa Ibnu Qayyim-pun sudah “musyahadah”, berarti ini adalah sebuah dialektika yang cantik antar para “penyaksi”)

Sebuah gejolak perasaan yang seringkali di alami oleh orang-orang yang sudah “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana, adalah mereka menjadi tahu bahwa semuanya itu sebenarnya “netral”. Tak ada baik tak ada buruk. Baik dan buruk itu ada setelah Allah menetapkan suatu hukum.

Ini sebuah contoh lagi supaya tidak terlampau abstrak.

Umat Nabi Musa a.s. pada zaman itu dikenai sebuah larangan, yaitu larangan bekerja di hari sabtu. Kalau kita nilai larangan itu dengan kacamata zaman sekarang, bukankah itu sebuah larangan yang aneh? Apa kesalahannya bekerja di hari sabtu?

Tapi… itulah “hukum” yang Allah tetapkan untuk mereka, pada zaman itu. Sehingga, bekerja mencari nafkah –sekalipun halal pekerjaannya- tetapi jika dilaksanakan pada hari sabtu merupakan pelanggaran. Orang yang bekerja di hari sabtu, menjadi orang yang keji.

Pertanyaannya, adakah “bekerja” itu merupakan sebuah perbuatan yang keji? Sama sekali tidak, bukan? Atau adakah “hari sabtu” itu hari yang keji? Tentu saja tidak, bukan?

Tetapi “bekerja” menjadi dinilai “keji” karena Allah membuat sebuah “hukum” agar bekerja di hari sabtu tidak boleh. Maka yang keji bukan pada “bekerja”-nya itu sendiri, tetapi pada pelanggaran terhadap titah Tuhan.

Sama juga dengan perumpamaan begini. Seekor ayam, boleh saja memakan makanan yang ditemukan ayam lain. Bila perlu berkelahi sampai satu ayam lain mati. Tidak ada yang mengatakan ayam itu “keji”. Kenapa? Karena tidak ada sebuah norma bahwa mencuri itu tidak boleh pada tatanan masyarakat ayam. Tetapi, pada masyarakat manusia ada tatanan seperti itu, yang Allah buat.

Jadi, sejatinya yang “keji” bukanlah mengambil makanan-nya, yang keji adalah pelanggaran terhadap titah Allah.

Begitulah, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini sejatinya sebagai pengejawantahan Asma dan SifatNya, dan ternyata segala sesuatu itu adalah “netral” dalam tanda kutip, sesuatu itu menjadi memiliki norma boleh-dan tidak boleh, keji dan mulia, adalah setelah norma itu Allah yang tentukan. Bukan semata-mata karena perbuatan itu sendiri.

Nah…. Kesadaran seperti itulah yang kadang kebablasan. Sehingga, kata Ibnu Qayyim, sebagian orang-orang yang mencapai taraf “musyahadah” atau “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana, dia menjadi sungkan, dan tidak mau lagi menegur untuk mengatakan yang benar itu benar yang salah itu salah.

Kenapa kebablasan seperti itu? Antara lain karena mereka mengerti bahwa segala sesuatu adalah penzahiran cerita Asma dan SifatNya, hal lainnya adalah karena mereka mengerti bahwa dibalik segala sesuatu pastilah ada hikmah yang manusia tidak tahu.

Sikap inilah yang dikoreksi oleh Ibnu Qayyim. Sehingga beliau mengatakan bahwa, meskipun seseorang itu sudah “musyahadah” atau “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah SWT di bumi ini, itu tidak lantas membuat orang tersebut meninggalkan upaya menyebut kebaikan pada yang baik, menyebut keburukan pada yang buruk.

“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”[1]

Sebuah analogi yang sederhana adalah begini. Seandainya kita melihat ada seorang pencuri di depan kita, maka kita tangkap pencuri itu dan kita bawa ke polisi untuk kemudian diadili. Betapapun kita sudah mengerti bahwa boleh jadi sang pencuri itu ada karena sebenarnya manifestasi dari sifat pengampunannya.

Atau sebuah contoh lain. Bagi umat islam babi adalah haram. Kemudian para saintis berusaha menyingkap tabir dan melihat macam-macam tipe cacing ada pada babi. Kemudian apakah jika cacing-cacing berbahaya telah bisa dihilangkan dari babi, maka babi menjadi halal? Tentu saja tidak. Kenapa tidak? Karena bukan masalah cacingnya, tetapi masalah “titah”nya. Sebuah hal menjadi halal atau haram karena titah. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Sekali lagi, itu sama persis seperti pembahasan mengenai bekerja di hari sabtu bagi Yahudi di zaman Musa a.s. bukan bekerjanya yang membuat itu terlarang, bukan pula hari sabtunya, tetapi karena ada titah Allah yang membuat sebuah hukum berlaku seperti itu, maka seperti itulah hukum yang harus kita jalani. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Ya sama juga dengan cerita Nabi Adam a.s. Mosok gara-gara makan buah kemudian diusir dari syurga? Ya tentu saja. Karena bukan masalah buah-nya. Tetapi masalah titahnya. Allah yang membuat norma-norma. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Dan kesimpulannya saya kutipkan lagi dari bukunya Ibnu Qayyim. Bahwa suatu perbuatan itu memiliki dua sisi. Pertama sisi yang berkaitan dengan  Tuhan (kesempurnaan Qada dan QadarNya), dan yang kedua adalah sisi kemanusiaan (norma benar-salah yang sudah Allah buat untuk manusia).

Kesempurnaan akan terwujud, jika salah satu dari dua sisi kacamata itu tidak hilang. Pada satu sisi orang yang sudah musyahadah akan menyadari qadha, takdir, kehendakNya dalam memanifestasikan Asma dan Sifat. Tetapi pada saat yang sama juga dia menyaksikan perbuatan, kejahatan, atau ketaatan dalam kaitannya dengan norma yang sudah Allah SWT susun untuk diikuti “game plan”-nya di dunia ini.

Singkat kata seperti para Nabi. Setinggi-tinggi “musyahadah”, tetapi tetap mengajarkan manusia bahwa yang ini benar, yang itu keliru. Meskipun mereka tahu, benar dan salah itu sejatinya bukan karena perbuatannya, tetapi karena norma yang Allah sudah susun. Dan sejatinya mereka juga tahu, bahwa segala yang terjadi telah sempurna karena merupakan manifestasi Asma dan Sifat yang Dia miliki

Wallahualam

—-

[1] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.

DIBALIK TABIR KETERATURAN (1)

Ada seseorang yang melihat sebuah mobil berjalan. Dan seseorang yang mengamati itu kenal dengan sang pengendara mobil. Maka sang pengamat itu akan “menyaksikan”, mengetahui, bahwa apapun saja  aktivitas yang terjadi pada mobil itu; gerak rodanya, suara klaksonnya, wiper yang bergerak, lampu sen yang berkedip; semuanya adalah sejatinya disetir oleh sang pengendara mobil. Apapun gerakan mobil tidak akan menggoyahkan keyakinannya bahwa sebenarnya semua gerakan itu disetir oleh sang pengendara.

Kondisi dimana sang pengamat sudah benar-benar sangat mengetahui bahwa sang pengendara mobil-lah sejatinya yang menggerakkan keseluruhan aktivitas mobil itu, oleh orang-orang arif disebut sebagai “penyaksian”. Penyaksian ini istilah lainnya adalah “Musyahadah”. Bukan lagi melihat gerak mobil, tetapi sudah “menyaksikan” bahwa mobil itu bergerak sebagai imbas saja dari kehendak sang supir.

Ibnu Qayyim, dalam sebuah bukunya yaitu “kunci kebahagiaan” menyebutkan bahwa orang-orang berdasarkan “ketajaman” pandangan hatinya (bashirah), atau kemampuan dia “menyaksikan” terbagi menjadi tiga tipe, kurang lebih begini: orang yang buta sama sekali, orang yang hanya mengikut pandangan orang-orang yang sudah tidak buta lagi, dan yang terakhir adalah orang-orang yang sudah memandang dengan ketajaman hatinya.

Istilah “Musyahadah” ini, sering sekali dipakai dalam kaitannya dengan memahami kehidupan. Yang diamati adalah kejadian sepanjang kehidupan kita, atau alam dan seisinya ini. Dan yang “disaksikan” dalam musyahadah itu adalah keteraturan pengaturannya Allah.

Sebuah perumpamaan sederhananya begini. Umpamakan kita hendak berangkat ke kantor. Dari rumah kita mengendarai sebuah sepeda motor. Orang yang terbiasa memandang dengan lebih luas, akan menyadari bahwa begitu banyak variabel di dalam perjalanannya dari rumah menuju kantor; yang bisa mempengaruhi hasil akhir apakah dia akan sampai ke kantor ataukah tidak.

Misalnya apakah sang satpam komplek sudah membuka gerbang pagi-pagi atau belum. Apakah macet ataukah tidak di pengkolan depan rumah. Apakah dia sudah mengisi bensin atau belum. Jika belum apakah kebetulan di pombensin mengantri atau tidak? Boleh jadi di perempatan sedang ada razia polisi yang memperlambat laju kendaraan. Atau bisa jadi ada kecelakaan di persimpangan.

Variabelnya begitu banyak. Dan ternyata kita sepakati bahwa lebih banyak –atau mungkin semua- variabel yang tidak bisa manusia setir atau pengaruhi, ketimbang variabel yang bisa manusia pengaruhi. Dan setiap variabel saling berkaitan satu sama lain dalam jejaring aksi reaksi yang demikian kompleks.

Atau dalam bahasan yang lebih tinggi lagi, kita tahu bahwa begitu banyak hadits Rasulullah SAW yang mengabarkan kepada kita bahwa sebenarnya segala sesuatu sudah tertulis sejak dari penciptaan alam semesta.

Tetapi saya tidak hendak ngobrol panjang mengenai dialektika yang begitu ramai mengenai qada dan qadar. Cukuplah kita mengerti bahwa begitu banyak variabel yang tak akan bisa manusia setir dalam hidup ini. Dan segala kejadian yang terjadi pasti berhikmah. Everything happens for a reason.

Nah kondisi saat seseorang itu sudah betul-betul memahami bahwa segala-galanya didalam pengaturannya Allah, itulah yang disebut “menyaksikan” atau “musyahadah”. Seseorang itu dengan mata lahiriah melihat segala kejadian yang berlaku di sepanjang hidupnya, tetapi dengan mata hati dia meyakini bahwa semuanya dalam genggaman Allah SWT.

Masih menurut Ibnu Qayyim dalam buku yang sama, kejadian yang terjadi di bumi ini merupakan manifestasi Asma dan Sifat-Nya[1]. Dan orang yang “musyahadah” yang “menyaksikan”, berarti saat melihat apapun maka akan teringat kepada DIA, lewat keteraturan cerita Asma dan Sifat-Nya yang menjadi tema apapun hal yang terjadi di dunia ini.

Umpamanya, takdir kejadian hidup dimana ada para pendosa di muka bumi ini, sebenarnya merupakan manifestasi dari sifat Allah Maha Pengampun. Atau dibalik, karena Allah Maha Pengampun-lah maka terzahirlah di bumi ini para pendosa, yang kemudian mereka bertaubat, dan kemudian Allah ampuni. Atau dalam kata lain, tidak mungkin tidak ada pendosa di muka bumi ini. Kenapa? Karena jika sama sekali tidak ada pendosa –yang kemudian diampuni- maka sifat Allah sebagai al-Ghafuur hanya akan menjadi sekedar nama tanpa bukti. Maka itulah Allah menzahirkan takdir para pendosa, kemudian mereka bertaubat, kemudian Allah ampuni.

Satu lagi misalnya. Kenapa ada tragedi dan perang? Karena itu merupakan salah satu manifestasi dari kenyataan Asma bahwa Allah-lah Yang Menghidupkan, dan Yang mematikan. Maka akan ada kelahiran manusia, dan kematian manusia, dengan segala macam sebab-musababnya yang dizahirkan.

Semua kejadian apa saja, pasti ada artinya. Tidak mungkin random. Setiap kejadian apapun adalah tentang DIA, adalah terwakili pada cerita hidup yang memanifestasikan Asma dan Sifat-Nya. Itulah yang disaksikan oleh orang-orang yang tajam pandangan hatinya. Mereka menengok keteraturan pengaturan Allah di alam semesta.

(bersambung ke bagian dua)

——-

[1] Allah SWT memiliki Asmaa’ul-Husnaa (nama-nama yang indah). Di antaranya adalah al-Ghafuur, ar-Rahiim, al-‘Afuww, al-Haliim, al-Khaafid, ar-Raafi’, al-Mu’izz, al-Mudzill, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Waarits, dan ash-Shabuur. Dan, pengaruh dari Asmaa’ul-Husnaa tersebut pasti tampak.Maka dengan kebijaksanaan-Nya, Adam dan keturunannya Dia turunkan ke alam ini, di mana pengaruh Asmaa ‘ul-Husnaa tersebut menjadi nyata.

Di alam inilah Allah SWT mengampuni, mengasihi, mengangkat, memuliakan, menghinakan, menyiksa, memberi, tak memberi, melapangkan dan sebagainya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagai manifestasi dari asma dan sifat yang Dia miliki. (Ibnu Qayyim dalam buku “kunci kebahagiaan”)