BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (4)

pilgrimage“Knowing weaknesses is a sign of success” kata salah seorang pimpinan di kantor kepada saya, waktu saya menolak diamanahi sebuah jabatan di kantor. Saya berdalih waktu itu bahwa saya mengetahui kelemahan saya, maka saya lebih suka jika orang lain saja yang menduduki posisi yang ditawarkan pada saya itu. Menurut saya, saya tak terlalu tepat menjabat pada posisi itu.

Akan tetapi, jawaban retoris dari pimpinan saya itu membuat saya sungguh sulit berkelit, “mengetahui kelemahan diri adalah ciri kesuksesan”, begitu katanya.

Dari dialah saya pertama kali mengetahui elaborasi lebih dalam dari istilah “self change” (perubahan diri) dan apa bedanya dengan “self awareness” (mawas diri).

Pengenalan manusia pada dirinya sendiri, sifat, karakter, adalah sungguh sebuah proses panjang. Dan dalam pengenalan itu, manusia akan mengetahui bahwa kumpulan sifat dan karakter yang membentuk kepribadian dirinya sesungguhnya adalah rekam jejak pengalaman hidupnya sendiri.

Kepribadian, dan karakter, tak perlu semuanya diubah selama tidak bertabrakan dengan syar’i dan norma masyarakat. Tetapi wajib kita memiliki sikap mawas diri (awareness).

Kembali kita bahasakan dengan sederhana mengenai “karakter” (character) dan bedanya dengan kepribadian (personality).

Kepribadian itu kurang lebih sisi yang lebih dalam dari pengalaman hidup manusia. Seperti gunung es. Kepribadian adalah sisi besar yang terendam dalam lautan, sedangkan karakter adalah sisi yang tertampil di luar dan terlihat oleh orang lain.

iceberg1

Makanya kita mengenal istilah “Pembangunan Karakter” atau character building. Karena yang bisa diubah sebenarnya bagaimana manusia menampilkan sisi terluarnya (karakter) dalam kaitannya dengan interaksi terhadap manusia lain.

Tetapi gunung kepribadian yang dalam itu, seringkali tidak bisa diubah, akibat dari puluhan tahun kita besar dan hidup dalam konteks dan situasi tertentu. Membentuk kepribadian kita.

Yang manusia bisa lakukan terhadap bagian dari dirinya yang tak bisa diubah adalah bersikap mawas akan dirinya sendiri, mawas diri alias self awareness. Dalam bahasa jawanya “Waspodo”.

Ada dua cara untuk mawas diri, sejauh yang saya amati.

Cara pertama adalah mendengar input dari luar. Misalnya, dalam sesi saling memberi masukan kepada teman, kita diberitahu bahwa kita itu jarang menegur kalau bertemu orang lain. Kita itu jarang tersenyum. Dsb….. Atau mengikuti tes psikologi.

Masukan dari orang lain itu membantu kita mawas diri. Oooh….ternyata menurut kacamata orang lain saya ini jarang tersenyum, saya jarang menegur sehingga terkesan sombong.

Maka kita menyesuaikan diri, dengan memperbanyak menegur orang-orang, memperbanyak senyum sehingga citra sombong akan perlahan hilang dari diri kita.

Pertanyaannya apakah sebenarnya kita memang sombong? Boleh jadi tidak begitu. Boleh jadi kepribadian kita adalah orang yang penyayang dan penuh welas asih kepada sesama.

Tetapi, bagaimanapun juga yang dibaca oleh orang lain adalah apa yang tertampil, maka agar tidak membuat orang salah paham, kita harus melatih bagaimana kita menampilkan kebaikan dalam bahasa yang oleh orang lain juga diterjemahkan sebagai kebaikan.

Belajar bahasanya masyarakat. Normanya masyarakat.

Menampilkan ramah dalam bahasa yang juga diterjemahkan orang lain sebagai keramahan.

Ini bukan mencari pujian, akan tetapi belajar berbahasa dalam bentuknya yang lain. Belajar mawas diri.

Saya rasa, inilah salah satu hikmah dari anjuran islam untuk berbuat amar ma’ruf.

Tadinya saya tidak paham apa itu amar ma’ruf, baru sekarang saya mengerti bahwa amar ma’ruf adalah berbuat sesuatu kebaikan yang lumrah pada masyarakat, yang sesuai dengan tata nilai dan norma masyarakat -selagi sesuai syar’i- maka kita lakukan. Itu amar ma’ruf.

Misalnya, sopan menurut tata budaya sunda adalah kalau lewat di depan orang lain kita membungkuk dan bilang “punteun“. Ini tidak melanggar syar’i. Dan baik.

Meskipun kita orang sumatera, maka kita amar ma’ruf dengan melakukan tatanan norma sunda kalau kita sedang di Bandung misalnya.

Itu namanya belajar mawas diri. Bukan mencari pujian, akan tetapi kita mawas diri bahwa kita sedang berada pada sebuah daerah dengan konteks tata norma yang berbeda dengan budaya kita sebelumnya. Ini amar ma’ruf.

Apakah dengan begitu kepribadian kita berubah? Belum tentu berubah. Hanya saja karakter berubah, hanya saja citra diri yang terpandang oleh orang lain berubah dan kita tidak membuat masyarakat keliru menyangka kita sebagai orang sombong tersebab kita enggan berbuat amar ma’ruf.

Itu cara mawas diri pertama. Mendengar input dari luar, lalu membiasakan diri melakukan amar ma’ruf yang sesuai dengan norma lingkungan. Membahasakan kebaikan dalam gesture dan laku yang juga dimaknai sebagai kebaikan oleh lingkungan kita.

Cara mawas diri kedua adalah dengan rajin-rajin. “masuk” ke dalam diri sendiri. Tafakur. Merenungi diri. Tazkiyatun nafs. Dzikrullah. Sampai kita mencapai kondisi mindfulness (kesadaran meningkat dan sangat waspada).

Dalam kondisi mindfullness maka seseorang akan menjadi begitu sadar dan “awas” terhadap berbagai elemen dirinya sendiri.

Dia “awas” terhadap gerak-gerik fikiran dan emosinya sendiri. Dengan begitu, maka seseorang menjadi mawas diri dengan sendirinya.

Sejauh pengamatan saya, cara kedua inilah yang akan mampu merubah jauh lebih dalam.

Barangkali kepribadian memang tidak berubah total, akan tetapi perubahannya bisa lebih drastis ketimbang latihan cara pertama -semata-.

Dalam literatur para arifin bahkan dikenal istilah wali abdal. Abdal berasal dari kata badal (alias pertukaran). Shifting paradigm. Cara pandang hidup berubah total. Seseorang yang cara pandangnya berubah secara totalitas, dan dengan itu dia menjadi sangat dekat pada Allah, mencapai taraf aulia.

Dan kedudukan semacam itu saya rasa sulit jika hanya memraktekkan mawas diri tipe pertama. Dia mesti memraktekkan mawas diri tipe kedua, yaitu rajin-rajin “masuk” ke dalam diri sendiri, tafakur, dan Dzikrullah.

Pada akhirnya. Pengetahuan mengenai keduanya baik untuk kita miliki.

Dalam kaitannya dengan berinteraksi pada masyarakat kita belajar mawas diri dengan amar ma’ruf.

Dan lebih lanjut, kita banyak-banyak tafakur dan Dzikrullah sehingga mencapai kondisi mawas diri yang lebih dalam lagi.

Kesalahan saya, setelah saya teliti, adalah melulu belajar tafakur, akan tetapi kurang pandai mawas diri dalam tataran amar ma’ruf yang sesuai dengan bahasa masyarakat. ini PR besar, dan harus pelan-pelan dibenahi.

Menarik sekali.


Image sources

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (3)

pilgrimageBekerja di sebuah kontraktor Migas membuat saya berkesempatan berkomunikasi dengan macam-macam tipikal client. Dari macam-macam tipikal itu kadang-kadang saya bersinggungan dengan satu dua yang memiliki gesture kesombongan yang kurang nyaman.

Satu hal yang saya sempat kaget juga sebenarnya bukan sombongnya seseorang, akan tetapi stigma bahwa si A itu adalah orang yang sombong begitu melekat di benak saya sampai berbilang tahun. Dan baru saya sadari bahwa saya masih memendam stigma negatif itu pada seseorang; setelah sekian tahun tidak bertemu kemudian sempat berjumpa kembali karena salah satu urusan kantor.

Derrrrr begitu ketemu, penilaian negatif yang saya sematkan padanya dulu langsung keluar.

Padahal, setelah saya cermati, seseorang yang dulu menorehkan kesan sombong di mata saya itu, kini tak terlihat kesan sombongnya. Dia menjadi orang yang begitu biasa.

Artinya, yang saat ini bermasalah bukan lagi saya dan sikap orang itu, melainkan saya dan memori masa silam saya sendiri.

Ada banyak cara yang bisa dipraktekkan untuk mengoreksi pemaknaan terhadap memori masa silam. Sepanjang yang saya amati dan cermati dari diri saya pribadi dan dari yang saya baca, kesemuanya mengharuskan kita di “masa kini” memiliki paradigma atau cara pandang yang jernih dan lebih kuat atau lebih tinggi dari paradigma masa silam kita. Lalu kita mengenang masa silam sambil memberi pemaknaan yang baru.

“Mungkin orang tersebut dulunya masih muda dan euforia, wajarlah begitu”……boleh jadi itu salah satu bentuk pemaknaan baru.

“Mungkin orang tersebut dulu tak berniat sombong, tetapi tanpa sadar terlihat sombong oleh sebab gesture budaya yang berbeda”…..boleh juga dimaknai begitu.

Atau yang lebih advance……”kalau saya memaafkan orang tersebut, maka pahala dari Allah sudah tentu didapatkan. Derajat menjadi tinggi.”

Atau yang advance lagi……”bahwa orang itu, dan kita di masa silam hanyalah bagian dari plot cerita yang Allah zahirkan untuk menceritakan diri-Nya sendiri. Ceritanya mesti terjadi. Apa yang terjadi pasti berhikmah.”

Bolehlah pakai paradigma yang manapun saja sesuai maqom kita masing-masing. Pada pokoknya ternyata yang harus kita pahami bahwa paradigma kita sebisa mungkin mesti meningkat. Jangan stagnan. Dan untuk meningkatnya cara pandang itu perlu dua hal, perlu ilmu dan hikmah.

Saya juga baru-baru ini memahami bahwa ilmu dan hikmah itu dua hal yang berbeda tetapi berkaitan.

Ilmu, adalah “pengetahuan”, gampangnya kita katakan saja informasi. Data-data. KNOWLEDGE.

Akan tetapi, mengetahui informasi semata, memiliki ribuan data-data semata, tidak membuat seseorang memiliki kemampuan untuk memutuskan secara benar, untuk melihat hubung-kait antara data satu dan lainnya, untuk melihat pola besar dari kumpulan data. Kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai, analisa, dan memutuskan secara tepat itulah “hikmah”. Kebijaksanaan. WISDOM.

Banyak tahu (knowledge) tidak membuat seseorang secara otomatis memiliki hikmah (wisdom).

Dan hikmah ini, ternyata sepaket dengan rahmat. [1]

Jika diberikan hikmah, (tak semata knowledge melainkan juga diberikan kemampuan memetik makna dan mengerti hubung-kait antara data-data), maka berarti seseorang mendapatkan rahmat alias welas asih Tuhan.

Itu sebab saya rasa, asma Alimul Hakim dipasangkan. Bahwa selain dari mengetahui perbendaharaan segala data-data knowledge, Allah-pun Hakiim, bijaksana, wise. Memiliki hikmah.

Jadi untuk meningkat paradigma kita perlu tahu (knowledge), tapi semata tahu tidaklah cukup, perlu juga hikmah (wisdom). Dan ilmu beserta hikmah itu adalah bentuk rahmat Tuhan.

Kalau kita mendekati Yang Punya Rahmat, dengan sikap yang sama, yaitu sebisa-bisanya welas asih pada makhluq-Nya, maka tinggal menunggu giliran semoga Tuhan mengucurkan pada kita ilmu dan hikmat kebijaksanaan pada momennya yang tepat.

Tetapi barangkali itu tadi syaratnya. Orang yang welas asih, mestilah sering blusukan ke dalam diri, dan jangan menyimpan benci dendam. Ini PR buat kita, apalagi buat saya.


[1] Artinya : Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( Q.S. Al Baqarah : 269)

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (2)

pilgrimagePernah suatu kali mobil saya hendak dipinjam oleh kerabat saya. Waktu itu mobil itu baru dibeli, dengan kredit tentunya hehehe.

Mobil baru dibeli, masih kredit, dan ndilalah sudah mau dipinjam sama sodara. Jadi di hati saya ada rasa kurang sreg.

Tetapi saya tahu saudara ini butuh, maka saya pinjamkanlah mobil itu.

Tetapi, di hati ini kok rasanya masih ga sreg. Saya bertempur melawan rasa tidak sreg itu, karena menyadari bahwa rasa ga sreg ini mestilah timbul dari “kemelekatan”, rasa melekat terhadap benda-benda, dan ini tidak baik pada porsinya yang berlebihan.

Sampai saat dimana yang mau meminjam datang ke rumah, di hati masih ada rasa tidak sreg. Hingga detik dimana mobil itu sudah dibawa pergi, lima menit, sepuluh menit kemudian rasa kurang sreg itu hilang. Dia menjadi rasa yang pasrah, bercampur rasa malu untuk telah terlalu melekat. Berganti rasa “plong” di hati.

Setelah rasa tidak sreg-nya hilang, saya kemudian menyadari bahwa tanpa “exercise“, tanpa “latihan” melepas seperti itu maka saya tidak akan bisa mengenali level diri sendiri.

Tetapi dengan adanya “exercise” kita bisa mengetahui ada kemelekatan yang bersembunyi dan baru keluar ketika ada momentnya. Dan rasa tidak enak itu baru bisa hilang setelah benar-benar melepas sesuatu yang melekat di hati itu tadi, di alam kenyataan.

Meskipun tak urung mobil itu kembali, utuh, tak kurang suatu apa, bersih habis dicuci, dan bensin penuh…..hahaha…betapa saya kalau mengingat itu merasa sungguh dagelan. Boro-boro nyusul level para shalihin, mobil dipinjem saja sudah gemeteran. Hihihihi.

Tetapi pelajarannya buat saya pribadi kurang lebih begini:

Pertama, untuk mengetahui seperti apa kondisi asli hati kita atau diri kita, selalulah menjaga jarak mental dan biasakan meniteni diri sendiri secara jujur. Disana kita bisa mengetahui seperti apa gejolak perasaan yang muncul. Gejolak perasaan itu akan secara spontan melaporkan kondisi jiwa kita.

Kedua, jangan dimaknai gejolak perasaan yang muncul itu dengan makna yang negatif. Misalnya…..seandainya masih ada rasa tidak sreg dalam berkebaikan, masih ada rasa berat melepas sesuatu, kita maknai perasaan-perasaan yang muncul sebagai indikator saja. Indikator bahwa masih ada yang harus dibenahi di dalam jiwa kita. Mungkin kemelekatan. Mungkin paradigma keliru. Mungkin macem-macem, kita perlu latihan. Di dalam Qur’an pun perintahnya adalah just do kebaikan itu, dalam –rasa- baik yang ringan ataupun yang berat di hati.[1]

Baik ringan, maupun berat, adalah “rasa”, ianya hanya display indikator yang memberitahu konteks kondisi kejiwaan kita. Yang penting adalah melakukan kebaikan melintasi rasa.[2]

Ibarat kita membaca display indikator, monitor dari sekumpulan alat sensor, begitulah perasaan bekerja.

Pada pokoknya, yang perlu kita tahu adalah bahwa pengabaian terhadap rasa tidak selamanya baik. Karena perasaan adalah sensor yang menangkap sebuah gejala, nah gejalanya ini yang perlu kita ketahui dan atasi. Nanti display indikatornya berubah sendiri.

Misalnya, perasaan “takut”. Kalau dulu, saya mengabaikan rasa “takut”, mencoba mengalihkan perhatian saat ada rasa takut. Sampai saya tersadar saat seorang guru memberi tahu bahwa rasa takut adalah sebuah indikator bahwa ada hal yang kita kurang cukup info akan-nya. Harusnya, kalau ada sesuatu yang saya takuti, saya cari tahu kenapa saya takut? Apakah kurang info? Kurang siap, atau bagaimana?

Seperti zaman dulu orang takut gorilla karena tak cukup ilmu dan pengertian tentang gorilla. Zaman sekarang gorilla di kebun binatang malah ditertawai anak-anak kecil. Manusia takut pada sesuatu yang dia belum cukup mengerti. Begitu seorang guru berpesan.

Dalam cara pandang seperti ini, kita mengakrabi perasaan kita sendiri sebagai sahabat paling jujur memberitakan isi kejiwaan kita sendiri. Pesuruh yang selalu setia melapor.

Jika ada rasa takut, barangkali persiapan (atau input data) kita masih kurang. Rasa takut menjadi alarm-nya.

Jika ada gelisah, mungkin paradigma kita masih keliru. Rasa gelisah menjadi alarm-nya.

Dan seterusnya….dan seterusnya….

Dalam cara pandang seperti inilah kita menjadi jujur dan kenal pada diri sendiri. Kekurangan diri dalam berkebaikan tidak membuat kita desperate, karena kita tahu bahwa sang ajudan sedang melapor kondisi.

Dan dari sana kita menjadi menyadari bahkan untuk mengatur “pemerintahan” atau “kerajaan” kecil dalam diri kita sendiri sudah demikian kompleks dan pelik. Maka kita membutuhkan rahmat-Nya.

Semakin mengetahui gejolak diri, semakin merasa butuh akan rahmat-Nya dan semakin bersandar pada-Nya.

Tanpa mengetahui mekanisme semacam ini, saat kita mengalami gejolak diri, pengharapan kita pada Tuhan malah akan hilang. Yang ada hanyalah kekecewaan pada diri sendiri.

Karena kita gagal memposisikan “perasaan” sebagai display indikator semata, dan juga telah keliru mengira bahwa manusia bisa menyetir alam mikro (dirinya) dan alam makro di sekitarnya (semesta).

Mari BLUSUKAN ke dalam diri sendiri.


Note:

[1] ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (Q.s.,at-Taubah:41).’

[2] Melakukan kebaikan melintasi rasa ini, maksudnya adalah rasa diri kita sendiri, yang merasa berat berkebaikan. Karena ada konteks lainnya, yaitu dimana “rasa” yang bukan disetir oleh kondisi fikiran dan emosi diri sendiri boleh jadi adalah firasat. Ini konteksnya berbeda.

Image sources

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI

pilgrimageSaya teringat dengan sebuah pernyataan Soekarno, dari yang saya baca pada autobiografinya yang beliau tuturkan kepada Cindy Adams. Dikatakan disana, salah satu tantangan berat bagi Soekarno sendiri untuk membuat sebuah Autobiografi adalah karena dia harus “me-recall” atau mengingat ulang semua kumpulan memori masa lalu. Sedangkan, kumpulan memori masa lalu itu, tak selamanya indah, kadangkala juga berkaitan dengan emosi-emosi yang berat dan sedih.

Maka memasuki ulang memori masa lalu, berarti juga memasuki sekumpulan emosi yang penuh turbulensi.

Memasuki ingatan memorinya, berarti juga mau tak mau tak bisa terhindar dari memasuki gejolak emosinya.

Betapa hebat “kesadaran” manusia itu, sesuatu yang kita kenal dalam istilah “Aql” atau “qalb”, dibahasakan dengan “consciusness” dalam perspektif barat, adalah sebuah kesadaran diri yang bisa menelusuri memori masa lalu, dan atau berangan-angan tentang masa depan.

Nah… dalam kaitannya dengan menelusuri emosi masa lalu, hal ini bisa menjadi baik atau menjelma buruk. Tergantung konteks.

Hal tersebut bisa menjelma baik, jika dimanfaatkan dalam rangka me-recall ulang suasana positif kesyukuran. Misalnya kita mengingat-ingat rahmat Tuhan. Berarti kita berkelana ke sebuah waktu atau konteks masa lalu, yang mana babak dalam cerita itu benar-benar mengingatkan kita akan rahmat Tuhan.

Seperti dalam surat Ar-Rahmaan, saat berulang-ulang kita ditanyakan mengenai “Nikmat mana lagi yang kita dustakan?” hal tersebut berarti juga bahwa kita diminta me-recall ulang kenangan tentang rahmat yang banyak. Memasuki ruang-ruang memori kesyukuran itu, berarti juga  kita akan merasakan suasana kejiwaan yang sama dengan yang pernah kita alami dulu. Suasana kesyukuran. Itu salah satu sisi baiknya.

Tetapi sisi buruknya adalah saat memori masa lalu itu penuh dengan emosi negatif dan kesedihan, maka memasuki bayangan tentang masa lalu itu bisa mempengaruhi emosional kita saat ini. Maka itu saya rasa wajar kalau ada yang menyarankan agar kita tidak usah selalu mengingat-ingat kenangan buruk. Kita mengalihkan perhatian dari suasana emosional yang negatif, dengan tidak lagi menjenguk memori-memori itu.

Yang paling ideal adalah menyibukkan diri dengan beraktivitas kebaikan di masa “sekarang”, sambil terus mengingati Tuhan. itu ideal paling banget-banget lah.

Saat seseorang sudah benar-benar move-on dan berdamai dengan emosi buruk di masa lalu, hal itu memang baik, dan tak perlu-perlu amat untuk menjenguk masa lalu.

Akan tetapi, jika memori masa lalu itu kadang-kadang tanpa diminta sering datang dan mengusik, mempengaruhi kejiwaan dan kestabilan emosi kita dimasa kini, berarti masih ada pemaknaan yang belum selesai. Pengabaian, tak selamanya baik. Ada kalanya, kita harus dengan gentle memasuki diri kita sendiri, blusukan ke dalam diri dan mencari tahu dimana kelirunya.

Dulunya, sebelum tahu ilmunya, saya selalu berusaha menepis memori-memori apapun saja yang datang jika hal itu sepaket dengan emosi negatif. Tetapi, setelah mengetahui ilmunya, bahwa segala kejadian sebenarnya tak lebih dari cara Tuhan menceritakan tentang diri-Nya sendiri, cara Tuhan bercerita tentang goresan asma-asma-Nya. Maka berbekal ilmu itu saya mulai memberanikan diri menjenguk memori negatif masa silam.

Saat benar-benar yakin kondisi kita fit dan sedang benar-benar menyadari bahwa Tuhan sebenarnya bercerita lewat kejadian hidup, maka kita permisi masuk kembali ke dalam memori masa lalu yang kita rasa kita belum “selesai”, untuk kemudian menilai ulang semuanya sebagai cerita Tuhan.

Memaknai ulang.

Dalam kaitannya dengan menulis, terutama yang bernuansa flashback, ternyata jika digunakan untuk memaknai kembali kejadian atau pengalaman hidup, bisa menjadi sebuah terapi akan hal itu.

Barangkali ada kejadian di masa lalu yang kita maknai sebagai sebuah tragedi atau keburukan, tetapi dengan kembali membongkar ingatan tentang hal tersebut (dengan bekal kesiapan mental dan cara pandang yang baru di masa kini) kita bisa terbantu untuk mengatasi trauma masa lalu. Asalkan kita “berangkat ke masa lalu dengan membawa amunisi berupa ilmu dan kepahaman yang lebih baik”. Memandang segala pengalaman hidup sebagai cerita dari Tuhan itu syaratnya.

Kan banyak sekali contoh sederhananya. Misalnya dulu waktu kecil kita pernah merasa begitu sedih saat kita tidak dibelikan mainan, dan kita menangis begitu pilu. Tetapi sekarang setelah dewasa, setiap kali kita mengingati hal tersebut maka kita cuma tertawa geli.

Memorinya sendiri masih ada, tetapi keterkaitan memori itu dengan emosi yang negatif sudah sirna. Karena, kita “mengunjungi” memori masa lalu itu dengan ilmu kita yang sudah lebih dewasa. Memori masa lalu itu, kita maknai ulang dengan kacamata ilmu yang baru. Jadi memori itu dan kita sendiri, sudah “berdamai”.

Sampai pada tataran dimana kita “berdamai” dengan masa lalu itulah, dimana flashback terhadap masa lalu menjadi masih fungsional. Setelah kita berdamai, dan pelajaran sudah kita dapat, tak terlalu penting-penting amat untuk menjenguk masa lalu.

Saya tidak mengerti teori psikologinya, tetapi hal ini saya amati pada diri sendiri, ternyata sangat praktikal, dan dalam satu dua literatur saya temukan bahwa pola seperti ini sering juga dipraktekkan para ahli terapi, meskipun tak selalu dengan cara menulis, tetapi dengan cara seperti tafakur dan dengan sengaja mengunjungi, membayangkan memori-memori masa lalu untuk kemudian melakukan re-framing, pemaknaan baru.

Barangkali, hal seperti inilah yang dipraktikkan seorang sahabat nabi, Abdullah Ibnu Umar, yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni syurga. [1]

Dikatakan penghuni syurga, tersebab amalan sederhananya, yaitu sebelum tidur beliau mengingat ulang keseluruhan kejadian seharian yang beliau telah alami, dan memaafkan setiap detailnya. Lalu beliau tidur dengan tidak membawa dendam kepada siapapun.

Yang paling pokok sebenarnya kalau mau diurutkan adalah pertama membenahi pemahaman bahwa semua hal yang terjadi adalah cara Allah bercerita.

Yang kedua, adalah menyadari bahwa kesadaran kita, “consciusness”, atau “aql” atau “qalb” dalam perspektif islam adalah apa yang disebut oleh Imam Ghazali sebagai “Raja di dalam kerajaan diri”.

Dalam kerajaan mikro kita ini, sang raja (atau kesadaran kita itu) haruslah menjadi tuan, menjadi penguasanya. Dialah yang mengharuskan seluruh jajaran elemen dalam pemerintahannya untuk tunduk dalam perintahnya. Dan menundukkan semua elemen dalam dirinya itu ada seninya sendiri-sendiri.

Khusus dalam kaitannya dengan menundukkan emosi dan memori masa silam ini, pengetahuan tentang takdir dan keridhoan menjadi sarat paling mutlak ternyata.

Lalu dengan bekal itulah, sang raja ini sesekali harus “BLUSUKAN” ke dalam dirinya sendiri. Dan menjenguk dengan cinta kepada elemen-elemen yang masih ngambek di dalam dirinya, sampai cinta sang raja menyembuhkan elemen-elemen yang sakit itu.

Dan kerajaan pun bisa kembali hidup tentram di “present moment”, masa sekarang. Dan melakukan fungsi terbaiknya, yaitu beribadah dan berkebaikan, serta memandang segala sesuatu dalam konteks ceritanya Tuhan.


[1] tentang ini pernah saya tulis di sini https://debuterbang.wordpress.com/2015/07/13/bermalam-di-rumah-penghuni-syurga/

Image sources