YANG TAK ADA LAGI SESUDAHNYA SIFAT KEJAHILAN

bookworld_small1“Andaikata kamu mengenali Allah Ta’ala dengan sebenar-benar pengenalan, niscaya kamu akan diajarkan-Nya suatu ilmu yang tiada lagi sesudahnya sifat kejahilan”[1].

“Suatu ilmu yang tak ada lagi sesudahnya sifat kejahilan” ini, baru saya mengerti ternyata semakna dengan apa yang dicari-cari oleh Imam Ghozali.

Ceritanya, Imam Ghozali sempat mengalami keguncangan intelektual dan spiritual dalam satu fase hidupnya. Guncang disini maksudnya adalah beliau ragu apakah kepahaman dan keilmuan yang beliau miliki adalah sesuatu yang benar. Kita bisa temukan penjelasan ini pada autobiografi Ghazali dan pada beberapa pengantar para ahli dalam buku Tahafut al falasifah.

Kembali ke hal klasik ini. Darimana manusia memperoleh ilmu? Para filosof menyimpulkan bahwa dua hal inilah cara manusia memperoleh ilmu, hakikat mengenai sesuatu. Yang pertama dari inderanya, yang kedua dari penalaran akal atau rasionya.

Nah kembali ke cerita, sejak kecil, ternyata Imam Ghozali adalah seorang yang beliau katakan sendiri sebagai “pemberani,” pemberani dalam artian beliau memang betul-betul menyelami kajian orang-orang dengan berbagai latar belakang, sehingga beliau menjadi paham apa yang diperdebatkan dan seperti apa bahasa yang digunakan orang-orang tersebut. Beliau tidak menilai dengan tidak adil. Karena benar-benar beliau menguasi.

Menarik bahwa ada salah seorang ahli agama mengatakan kepada Imam Ghazali bahwa Tahafut al falasifah itu sendiri bahkan lebih rapih ketimbang buku para filosof. Jangan-jangan nanti malah menjadi pengantar filsafat alih-alih buku mendebat filsafat?

Tapi kita abaikan saja dulu hal itu, yang jelas Sang Imam berpendapat saat kerusakan sudah begitu menyebar, maka keraguan bahwa buku Tahafut akan malah menjadi pemantik filsafat tidak relevan. Justru beliau mengatakan tidak keseluruhan produk filsafat itu keliru, namun sebagiannya jelas perlu dibantah.

Jadi kembali lagi mengenai ilmu diperoleh melalui indera itu tadi. Imam Ghozali merenungi, bagaimana mungkin bisa manusia mempercayai indera, sedangkan indera seringkali tertipu. Bayangan kayu seolah bengkok di dalam air, padahal rasio (akal) membantahnya dengan mengatakan bahwa hal tersebut adalah karena pembiasan optik. Kayunya sendiri tak pernah bengkok.

Jadi, tesisnya adalah ilmu yang diperoleh indera bisa jadi keliru dan dikoreksi oleh akal manusia (rasio).

Sekarang bisakah mendekati Tuhan lewat rasio dan penalaran akal seperti yang dilakukan para filosof? Filosof, murni mengandalkan penalaran akal.

Disinilah beliau menjadi gamang. Dan berfikir jangan-jangan, ada hal yang lebih tinggi dari akal atau rasio. Jika indera dikoreksi oleh rasio atau penalaran akal, jangan-jangan nanti akan ada yang bisa mengoreksi akal. Sebagaimana saat kita mimpi, akal mengira itu realita, saat kita terjaga maka kita baru sadar mimpi adalah ilusi.

Jangan-jangan, ada higher reality, kata sang Imam.

Jadi apa yang bisa dipercaya kalau begitu? Kalau indera tak bisa dipercaya, lalu penalaran rasio pun tak bisa, jadi apa yang valid?

Disitulah beliau menjadi bingung. Bahwa indera seringkali tertipu, dan rasio boleh jadi akan dikoreksi oleh “kesadaran yang lebih tinggi”.

Tapi beruntunglah, fase uzlah dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta, yang beliau lakukan ternyata membuahkan hasil.

Beliau menjadi kukuh dan tak gamang lagi. Sebagaimana paragraf pertama di atas tadi, barangkali itulah yang disebut dengan ilmu yang yakin, sebuah ilmu yang tak ada lagi sesudah itu sifat kejahilan.

Dari sanalah beliau akhirnya mengerti bahwa memang ilmu bisa diperoleh melalui indera, misalnya penelitian deduktif, observasi alam, lalu membuat kesimpulan. Bisa juga ilmu diperoleh melalui penalaran rasio, lalu kemudian mencarinya pada bukti-bukti di alam raya. Tapi bisa juga ilmu diturunkan secara langsung ke dalam jiwa manusia, tanpa melalui proses kajian.

Yang terakhir itu, itulah yang membedakan antara approach filosof dan approach islam, bahwa islam mengakui ada realita yang lebih tinggi. Bahwa pada diri manusia ada substansi ruhani yang mencerap ilmu itu, yang mengetahui hakikat sesuatu itu. Prosesnya bisa melalui pembacaan alam, observasi, membaca teks, segala hal yang inderawi, atau perenungan lewat penalaran rasio. Tetapi juga bisa secara langsung ilmu dihunjamkan ke dalam jiwa manusia.

Yang dihunjamkan langsung ke dalam jiwa ini; pada approach barat tak ada, atau tak diakui.

Karena mereka memang menilai manusia sebagai makhluq biologis semata. Tak ada substansi ruhaninya. Sedangkan pembeda paling dasar adalah islam mengakui substansi ruhani manusia, dan mengakui bahwa substansi ruhani itulah faculty of knowledge yang mencerap ilmu. Yang mengerti hakikat sesuatu. Dan sejatinya yang mengajar adalah Allah SWT, mengajar manusia akan apa yang tak diketahuinya.

Hal ini tidak berarti kita meninggalkan kajian ilmiah dan berhenti observasi, tentu tidak. Hanya saja, kita harus menggeser paradigma dan mulai memahami bagaimana flow ilmu turun pada manusia. Gunanya apa, agar mengerti adab. Dengan beradab, tata krama batin, maka insight sudi mampir ke kita.

Jagad raya ini, menurut Naquib Al Attas dalam tulisannya “The Concept Of Education In Islam,” adalah seumpama buku terkembang. Dan yang membacanya adalah manusia. Pengarang buku -umpamanya- adalah Allah. Konsekuensinya manusia tidak boleh dong, untuk menganggap alam sebagai alam semata tanpa konteks bahwa Allah ingin bercerita lewat alam.

Karena menganggap alam sebagai semata alam doang, itu seumpama menganggap kata-kata dalam sebuah buku sebagai kumpulan huruf saja, tanpa memahami bahwa kata-kata adalah simbol yang mewakili keseluruhan cerita yang disampaikan pengarang.

Kebijakan orang tua dulu mengatakan bahwa alam raya terkembang ini adalah kitab basah. Ayat Kauniyah.

Dalam konteks seperti itulah, saya baru mengerti maksudnya Ghozali dan maksudnya Naquib Al Attas, dan banyak pesan disampaikan para arifin bahwa yang mengajar itu Allah, dan yang mencerap ilmu adalah substansi ruhani manusia, sedangkan metodanya boleh jadi via teks, via observasi, via penalaran, ataupun ujug-ujug langsung paham, alias insight.

Yang manapun metodanya, ternyata kuncinya adalah adab. itu bedanya kita dan approach barat.

Bahwa adab yang baik mestilah timbul jika kita menempatkan konteks diri kita sebagai pencari ilmu, karena pencari ilmu berarti adalah kita menunggu makna-makna untuk Allah turunkan pada kita. Dan seringkali makna-makna yang dalam itu, kata Al Ghozali tidak dibangun diatas rangkaian pernyataan (tekstual atau observasi) melainkan atas cahaya pengenalan (ma’rifah).

Tapi flownya yang dialami beliau kurang lebih begini:

  • Pertama dianugerahi kemampuan memperoleh dalil yang menunjang
  • Kedua diantarkan menuju kelompok yang benar dibawah petunjukNya

Jadi jika kita “merendah” dan sudah mulai mengakui bahwa keseluruhan proses pembacaan dan pembelajaran kita di dalam hidup ini adalah sebenarnya seperti membaca kitab besar dari Allah SWT, sangat boleh jadi kita akan dihantarkan menuju pengenalan yang lebih dalam.

Barangkali tak langsung insight-insight hikmah, melainkan kok ya kebetulan ketemu terus dengan dalil dan bahasan-bahasan yang serupa berulang-ulang. Kok ya kebetulan bertemu dengan sekian banyak orang-orang arif yang menjelaskan kebingungan-kebingungan kita.

Jika hal itu terjadi, maka yakinlah kita bahwa rupanya tak ada yang kebetulan. Saat kita semakin yakin bahwa semuanya dalam pengaturanNya itulah, kita menjadi sadar “kerendahan,” saat sadar itulah saat dimana insight bisa datang dengan cepat dan menjawab pertanyaan kita tentang hidup.

Sebagaimana penalaran rasio bisa mengoreksi kelemahan inderawi dalam menangkap realita, sebegitu juga insight yang jernih bisa membimbing akal supaya tahu kemana penalaran harus dibawa.

 

references:

[1] Sayid Ahmad Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 33 (1994).

Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam

Al Ghazali, Tahafut Al Falasifah

Al Ghazali, Al Munqidz Min Adh Dhalal

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MENGHIDUPKAN YANG SEJATI

openyourmind1Pada lapisan terluar, sifat-sifat yang nampak pada manusia adalah apa yang kita kenal dengan istilah personaliti-nya. Kepribadian. Kepribadian adalah lapisan terluar dari sifat yang terbaca pada manusia. Tetapi kepribadian sendiri belum lagi yang “sejati.” Karena, kepribadian yang muncul pada luarannya itu, bisa dirubah seiring norma dan keilmuan yang manusia mengerti.

Seumpama orang sumatera, yang tinggal pada daerah dengan mayoritas orang jawa, lambat laun maka orang sumatera akan menjadi sedikit jawa, pada personaliti yang tampak di luarnya. Misalnya pola komunikasinya yang biasanya lebih blak-blakan menjadi sedikit lebih banyak menggunakan isyarat, bahasa simbol.

Ini contoh yang sederhana sekali memang. Idenya adalah bahwa personaliti, atau kepribadian yang tampak luar, itu bisa dibentuk seiring dengan norma-norma dan pengetahuan atau ilmu yang dimiliki seseorang.

Misalnya seorang pendiam, karena tahu dirinya pendiam –sedangkan dia berada pada sebuah posisi di kantor yang mengharuskan dirinya berbicara banyak- maka dia bisa menyesuaikan diri dengan menampilkan persona yang banyak berbicara, sehingga orang akan mengenal dirinya sebagai seseorang yang aktif bicara. Padahal, aslinya dia pendiam.

Nah…. Kenyataan bahwa dia adalah seorang “pendiam” ini, adalah sebuah kenyataan yang lebih “dalam.” Kalau personaliti atau kepribadian adalah sesuatu yang tampak luar, maka pada sisi sifat yang lebih “dalam” itu kita mengenal istilah “karakter.”

Seperti teori gunung es. Yang tampak luar seringkali sedikit saja, tapi yang tersembunyi biasanya lebih besar.

Jadi, kembali lagi sebuah analogi.

Seorang kidal, karena norma yang dia terima terus menerus mengajarkan dia untuk menulis dengan tangan kanan maka dia akan bisa melatih dirinya untuk menulis dengan tangan kanan. Yang orang kebanyakan lihat di permukaan adalah sebuah kenyataan bahwa dia menulis dengan tangan kanan, ini namanya personaliti. Tetapi yang aslinya, dia itu seorang kidal, dan dia sebenarnya bagaimanapun lebih nyaman menulis dengan tangan kirinya, itulah karakter.

Manusia bisa memilih, untuk menampilkan (atau membiasakan) personaliti tertentu untuk tampil pada luarannya.

Pertanyaannya kemudian adalah, benarkah karakter seseorang adalah palung “kedalaman” dirinya yang sejati?

Kalau kita berbicara mengenai karakter, kita akan mengerti bahwa karakter seseorang adalah sebenarnya kumpulan memori sepanjang pengalaman hidupnya.

Bersamaan dengan kumpulan memori tersebutlah, diserap juga oleh manusia tersebut apa yang kita kenal dengan nilai-nilai, ma’na, perasaan, dan macam-macam yang terkait dengan pengalaman hidupnya. Kumpulan keseluruhan pengalaman hidup itulah, yang kemudian menjadi solid dan memunculkan persepsi yang selama ini kita kenal dengan diri kita. “aku”.

“aku” disini maksudnya adalah kumpulan karakter.

Kita sebagaimana yang kita kenal selama ini. Dengan seperangkat sifat-sifat, dengan sejumlah kecenderungan untuk suka sesuatu hal dan membenci sesuatu hal. Seandainya kita bernama budi, maka mulai dari konsep kita tentang kita adalah Budi, sukanya begini, tidak sukanya pada hal yang begitu, kita bersifat begini-begitu, semua itu adalah kumpulan karakter, pengetahuan yang lebih dalam dan acapkali tak semuanya muncul ke permukaan. Sesuatu yang kita kenal dengan “aku”.

Tetapi Sedikit-sedikit mengakrabi kajian para arifin barulah membuat saya mengerti bahwa tradisi islam ternyata menganggap bahwa hal tersebut (personalitikah, kumpulan karakterkah, egokah) sebenarnya belum lagi sisi terdalam manusia.

Bahwa pada lapis yang lebih dalam lagi ada substansi ruhani yang istilahnya Imam Ghozali menjadi faculty of knowledge. Fakultas pengetahuan. Yang mencerap segala pengalaman hidup, berikut segala ma’na-ma’na dan rasa yang dia temukan sepanjang perjalanan. Yang mana keseluruhan hal yang dicerap itulah yang kemudian memunculkan sesuatu yang bernama “aku” atau barangkali sebangun dengan makna “ego.”

Jadi konsep aku atau ego itu masih ada di lapis luar, di dalamnya lagi adalah substansi ruhani yang dimaksud Al Ghazali, dianya immateri, dan mengikut bahasa Imam Ghozali semakna dengan aql dan qalb pada konteks ruhaninya. Simpelnya kita katakan saja ruhani manusia.

Hal yang menarik ternyata, baru saya mengerti bahwa konsepsi yang diusung orang-orang arif saat mereka mengatakan bahwa harusnya manusia itu “lebur” dan melepas “keakuan” dirinya, menjadi bisa lebih mudah kita mengerti jika kita mengerti urut-urutan bagaimana persepsi “aku” atau ego itu terbentuk.

Kita adalah kumpulan persepsi, kata orang bijak.

Dan sejatinya, yang manusia lakukan saat mereka banyak mengingati Allah dan rajin bertafakur, adalah sebenarnya melepaskan satu persatu keterkaitan antara substansi ruhaninya dengan memori dan pengalaman hidupnya yang sudah terlanjut mengakar dan membentuk konsep dirinya, membentuk aku-nya itu.

Jika manusia hanya melakukan hal, amaliyah misalnya, yang lahiriah semata, berarti dia masih bermain pada lapis yang sangat eksternal. Luaran. Seperti lapis personaliti itu tadi. Sesuatu yang dipermukaan.

Tentu itupun sudah mantap juga, tetapi kita harus belajar untuk masuk lebih dalam lagi, tidak berhenti sebatas yang diluar, tetapi melampaui apa yang selama ini kita kenal dengan konsep diri kita sendiri. Lalu belajar berani untuk meniada.

Meniada disini berarti kita secara jujur melepaskan keterikatan antara substansi ruhani kita itu, yang tugasnya menjadi faculty of knowledge kata Imam Ghozali, yang menjadi pengamat, observer, dengan segala hal sepanjang perjalanan hidup kita.

Disinilah saya baru mengerti, setelah telat paham cukup lama, apa yang orang-orang arif maksudkan dengan menjadi penyaksi.

Bahwa kita melihat pengaturan Tuhan berlangsung dalam kehidupan ini, secara lebih detail dan jelas. Karena kita bahkan mengamati konsep mental kita sendiri. Barangkali inilah maksudnya mawas diri. diri yang sejati di dalam diri kita itu, substansi ruhani itu, bahkan mengamati konsep diri yang sudah terbentuk di lapis yang lebih luar itu. Dan secara jujur menilai mana yang benar mana yang keliru.

Barangkali contoh paling relevan adalah ketika salah seorang sahabat disanjung oleh Rasulullah sebagai penghuni syurga. Seorang sahabat lain yaitu Abdullah Ibnu Umar penasaran dan ingin melihat seperti apa kehebatan ibadah sahabat yang disanjung tersebut. Lalu disambangilah rumahnya dan minta izin menginap.

Setelah berapa hari mengingap, Abdullah Ibnu Umar pamit pulang dengan sedikit bingung, kenapa kok ibadahnya biasa saja. Sang sahabat kemudian mengatakan bahwa sama sekali tak ada yang istimewa pada ibadah beliau selain dari apa yang tampak. Tetapi ada satu hal yang secara dawam beliau lakukan, yaitu setiap kali sebelum tidur beliau selalu memaafkan semua orang, beliau tafakur dan lalu tidur tanpa kebencian. Dan hal tersebutlah rupanya yang mengangkat derajat beliau hingga disanjung Sang Nabi.

Hemat saya, itulah ibadah yang “dalam.”

Memperbanyak kuantaitas ibadah pada luarannya, itu satu hal yang harus ditiru. Akan tetapi menyadari sejatinya diri pada level yang lebih dalam, itu hal lain yang juga sangat penting. Agar ibadah yang sedikit bisa jadi punya arti yang lebih tajam.

Guru-guru kearifan pun banyak mengajarkan hal yang serupa. Masuk ke dalam kedalaman batin dan lalu melepaskan segala keterikatan kita dengan memori hidup, dengan perasaan, dengan hal-hal yang mengotori jiwa.

Saya rasa itulah makna tazkiyatun nafs. Bersih-bersih jiwa.

Sehingga substansi ruhani di dalam diri kita itu menjadi terbebas, dan memaknai hidup sebagai pagelaran cerita dari Nya semata. Penyaksi.

Easier said than done, memang. Tapi setidaknya kalau tahu flow-nya kita tinggal dawamkan saja sebisa-bisanya. Jangan berhenti di tataran luarnya semata, tetapi yang substansi ruhani di dalam diri kita ini yang harus hidup, kata para arifin.

yang sejati.

DIRI SEJATI YANG TAK MISTIS LAGI

AfterlifeYang manakah yang menyimpan ilmu pada manusia? Ruhaninya-kah atau Biologisnya-kah? Approach dalam keilmuan islam jelas sekali menyatakan bahwa yang menyimpan ilmu pada diri manusia itu adalah anasir yang bersifat ruhaninya, bukan tubuh biologisnya.

Secara sederhana kita tahu bahwa dalam keseluruhan literatur islam –saya rasa- menyatakan bahwa saat manusia wafat, maka bagian ruhani manusia tersebut tidak hancur, melainkan pindah alam dan melanjutkan hidup.

Saat pindah alam dan melanjutkan hidup, kita juga tahu dalam banyak sekali literatur disebutkan bahwa substansi yang bersifat ruhani itulah yang membawa sepaket data berupa kumpulan pengetahuan, cara pandang hidup, rekam jejak perjalanan, pengalaman, dan bahkan identitasnya yang merupakan hasil dari pengalaman hidup dia. Tentu kita tidak mengatakan bahwa saat seseorang wafat maka hilanglah sekumpulan identitas, pengalaman,  pengetahuan orang tersebut, melainkan semua ilmu itu terikut pada tubuh yang ruhani untuk melanjutkan perjalanan di alam yang lain.

Saya kutip Naquib Al Attas dalam tulisannya “The Concept Of Education In Islam,” bahwa dalam begitu banyak referensi kita ketahui bahwa substansi ruhani tersebutlah yang merujuk pada makna “Manusia” yang sebenarnya.

Seperti saat kita mengatakan “saya” maka kita sadari atau tidak kita sadari yang kita maksudkan “saya” itu adalah diri kita yang ruhani itu[1].

Karena identitas “saya” itu kan terbangun dari kumpulan pengalaman hidup? Dan kumpulan pengalaman hidup itu sebenarnya dimengerti atau ditampung oleh substansi manusia yang ruhani itu tadi.

Oke….ini sudah mulai menjadi abstrak. Kita kembali pada kesimpelan analogi saja.

Banyak orang-orang arif, yang memberikan sebuah analogi, seolah-olah diri manusia yang ruhani itu adalah joki, dan tubuh biologis itu adalah seekor kuda. Maka saking terikatnya joki dan kuda, sang joki lama-lama mengira bahwa dirinya adalah kuda itu tadi. Padahal dirinya sejatinya adalah pengendali kuda.

Itu analogi memang tak terlalu relevan, tapi sudah cukup saya pikir untuk menjelaskan duduk perkara bahwa manusia banyak yang lupa dengan identitas sebenarnya. Barangkali, secara teori keilmuan kita sering mendengar hal ini, tetapi kita tidak pernah mengalami realitanya. Mungkin itulah kenapa saya perhatikan kok ya penjabaran tentang ini jarang disentuh oleh ilmuwan islam, seolah-olah ada dikotomi antara hal seperti ini (batiniyah) dengan konsep ilmu di dalam islam yang terlalu didominasi hal lahiriah. Saya baru sadar dikotomi semacam ini tak elok, setelah saya baca tulisan Naquib Al Attas itu tadi.

Kembali ke substansi ruhani manusia tadi. Dalam beberapa kali pengalaman dan pembacaan, saya mengamati ternyata kajian “diri sejati” manusia ini lebih banyak lengket pada kajian mistis.

Hampir bertaburan di mana-mana kita lihat kajian mengenai “diri sejati” manusia selalu dikaitkan dengan hal mistis. Kembaran ghaib. Dan berbagai istilah mistis lainnya.

Padahal, kajian tentang substansi ruhani yang ada di dalam diri manusia itu dibahas kok dalam kajian yang lebih “ilmiah” para arifin, atau dalam bahasanya Imam Ghazali disebut “lathifah Ruhiyah Rabbaniyah” (Sesuatu yang halus, ruhani), atau menurut imam Ghazali sepadan dengan isilah aql dan sepadan pula dengan istilah qalb. Jadi kajian ini adalah ilmiah, dan sudah sering dibahas ilmuwan islam lampau terutama yang akrab dengan kajian tasawuf, dan mestinya juga kembali diakrabi kita dimasa sekarang. Agar hal ini tak lagi menjadi domain kajian mistik semata.

Ternyata, barulah saya mengerti bahwa pengertian tentang sejatinya diri manusia itulah yang membedakan antara approach barat dan approach islam dalam hal pemahaman mengenai “ilmu,” dan kaitannya dengan konteks “pembelajaran.”

Sebelumnya, telah pernah kita bahas bahwa letak perbedaan antara approach barat dan islam dalam hal ilmu antara lain kurang lebih bahwa: Barat terlalu memandang manusia sebagai makhluk biologis semata, sedangkan islam memandang manusia sebagai makhluk ruhani yang terendam dalam tubuh biologis.

Implikasinya jelas, barat menganggap bahwa yang menampung ilmu adalah otak manusia, sedangkan islam menganggap yang menampung ilmu adalah substansi ruhani manusia (akan tetapi ruhani itu butuh ‘singgasana’ yaitu tubuh biologis, maka jika rusak sebagian tubuh biologis umpamanya otak, akan terganggulah transmisi kepahaman dari ruhani ke tubuh yang biologisnya).

Implikasi lebih lanjut lagi adalah, bahwa barat menganggap manusia hanyalah tubuh biologis, dan keilmuan adalah semata data yang tersimpan di memori otak manusia; maka barat mengakui hanya dua saja cara manusia memperoleh ilmu, yaitu lewat indera (biologis) dan lewat rasio atau penalaran. Sedangkan islam, karena sejak awal menganggap bahwa sejatinya diri manusia itu adalah substansi ruhaninya, dan menganggap bahwa ilmu itu adalah kepahaman yang “diturunkan” oleh Tuhan pada manusia, maka islam tak menganggap bahwa semata indera dan penalaran saja sebagai cara mendapatkan ilmu, tetapi juga bisa lewat intuisi atau insight, dan wahyu untuk para Nabi alias ilmu itu diturunkan langsung kepada substansi ruhaninya manusia.

Siapa Yang Mengajar?

Dalam pandangan Islam, yang mengajar manusia adalah Allah SWT. Pembelajarnya adalah manusia, dalam konteks manusia itu sebagai sebuah substansi ruhani itu tadi.

Dalam tradisi spiritualitas timur misalnya, ijinkan saya mengutip sekedar memperjelas saja dari khasanah di luar islam, bahwa para ahli meditasi misalnya sangat mengerti bahwa di dalam tubuh manusia ini ada substansi ruhani yang menjadi pengamat, observer. Pengamat ini terpisah dengan tubuh, dan terpisah dengan fikiran-fikiran. Buktinya, coba rekan-rekan mengamati ke dalam fikiran sendiri, apa yang sedang difikirkan sekarang? Bisa, bukan? Berarti ada yang mengamati fikiran. Yang mengamati fikiran itulah yang disebut substansi ruhani itu tadi.

Jadi kembali ke masalah tadi, dan kita tilik dari sudut islam kembali. Yang mengajar adalah Allah SWT. Pembelajarnya adalah substansi ruhani dalam tubuh manusia itu, yang oleh Imam Ghazali disebut Lathifah Rabbaniyah, oleh sebagian kalangan disebut diri yang sejati. Apa Objeknya atau medianya yang dipakai sebagai media pembelajaran?

Medianya adalah alam semesta ini.

Masih saya kutip dari tulisan Naquib Al Attas, alam semesta ini adalah seumpama sebuah kitab yang sangat besar. Dan segala hal yang ada di dalam kitab semesta ini, sejak dari horizon terjauh bahkan sampai diri kita sendiri, adalah seumpama kata-kata dalam sebuah buku.

Yang baca adala kita (substansi ruhani dalam tubuh manusia), yang dibaca, atau kata-katanya adalah apapun saja di semesta ini, dan makna-makna atau pengertian pengertian akan hakikat tentang sesuatu itu (ma’na) dimasukkan pada Allah kedalam Substansi Ruhaninya manusia.

Kalau misalnya dipandang dari konteks Tuhan sebagai sumbernya ilmu, maka makna-makna itu bisa “diturunkan” (husul) ke dalam substansi ruhaninya manusia. Atau dalam lain kata, substansi ruhani itu menangkap makna-makna yang diturunkan padanya.

Allah yang mengajar, Substansi ruhani manusialah yang pembelajar, dan medianya adalah alam raya ini. Inilah bedanya dengan approach barat yang sama sekali tak ada konteks ini.

Kalau konteksnya barat, itu seumpama mereka melihat kumpulan kata dan mereka mempelajari kata sebagai sebuah kata semata. Kata-kata tidak dianggap sebagai sekumpulan media yang mewakili makna tertentu.

Kalau islam, karena pemahaman tentang proses turunnya ilmu adalah dari Allah kepada Substansi Ruhaninya manusia, lewat media alam; maka islam tidak memandang alam semata sebagai sebuah benda. Atau kalau diibaratkan buku, tidak mungkin kan sebuah kumpulan kalimat hanya semata-mata kalimat doang? Pasti mewakili sebuah cerita yang hendak disampaikan sang pengarang.

Sama juga dengan itu, karena pembacaan terhadap alam dianggap adalah sebuah proses menanti turunnya kepahaman dari sang pemilik alam kepada Substansi Ruhaninya manusia, maka alam tidak lagi dikaji sebagai sebatas alam doang. Tetapi alam menjadi gerbang ma’rifah…gerbang pengenalan kepada “Pengarangnya.” Itulah bedanya.

Dan disini barulah saya paham, kenapa guru-guru sering sekali mengaitkan antara ilmu dan adab.

Ternyata, kalau kita mengerti bahwa keseluruhan proses pencarian ilmu itu adalah gerbang ma’rifah, dalam konteks membaca pesan “Pengarangnya,” dan Pengarang itu adalah Allah SWT sendiri, maka bagaimana mungkin sang pembelajar tak punya adab?

Sejatinya, kepada siapa dia meminta ilmu?

Kalau keseluruhan proses belajar kita adalah ejawantah dari perintah “IQRO BISMIRABBIKA” barulah paham kita kenapa para guru dulu selalu mengajarkan adab sebagai satu hal yang sepaket dengan ilmu. Karena, mau kita belajar apapun saja di alam ini, fisika, biologi, matematika, geografi, semuanya adalah seumpama kita membaca kata-kata dari sang Pencipta. Dan dengan membaca kata-kata itu kan kita (substansi ruhani dalam diri kita) menunggu makna-makna untuk diturunkan, bukan?

Tanpa adab, maka kita akan jatuh seperti kekeliruan barat. Melepaskan alam raya dari konteksnya sebagai media Tuhan mengajar kita.

Dan ini juga menjelaskan, kenapa orang semakin pintar semakin tidak menemukan Tuhan dalam kajian ilmiahnya? Karena tidak ada adab. Tak ada adab, maka Allah tak pahamkan dia hikmah. Makin belajar, harusnya makin beradab. Adab, adalah pemancing hikmah untuk mengalir kalaulah boleh kita umpamakan begitu.

Dan dalam konteks ilmu, pengetahuan, pembelajaran, sebagai gerbang ma’rifah inilah, maka ilmu yang diapit adab harus menjelma menjadi amal.

Pengetahuan dan ilmu yang kita miliki, kata Naquib Al Attas, adalah umpamanya “kepahaman.” Tapi kepahaman semata tak lengkap tanpa “ketundukan.”

Kepahaman adalah domainnya ilmu, ketundukan adalah domainnya amal.

Kepahaman semata, tanpa ketundukan, adalah arogansi. Berarti kita hanya menempatkan alam sebagai alam semata, ilmu sebagai ilmu semata, persis approach filosof dan barat.

Sedangkan ketundukan semata, tanpa kepahaman, adalah sikap ignorance. Pengabaian. Karena ketundukan yang penuh makna mestilah melahirkan kepahaman. Gerbang ma’rifah kan pengenalan?

Ternyata disinilah kelirunya kita. Sudahlah kita tidak akrab dengan sejatinya diri manusia, ditambah lagi kita membaca alam sebagai alam semata. Mungkin ini yang dikata orang dengan lupa konteks.

references

[1] Syed Muhammad Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam, pages 3