MIE AYAM, DUALITAS, DAN RAHMAT

mie-ayam[dropcap]M[/dropcap]omen apakah, di dalam hidup anda, rekan-rekan sekalian, yang paling bisa membuat anda bersyukur?

Saya pribadi, momen-momen “jeda” sejenak, dan santai dalam istirahat disela rutinitas dan kesibukan, bagi saya terasa sungguh indah.

Seperti hal sepele sih misalnya. Beristirahat di bawah tenda gerobak mie ayam, dan menikmati mie ayam dengan racikan yang pas. Lalu minum sebotol es the. Bagi saya itu sudah aduhai sekali. Momen-momen jeda dan santai, yang membuat saya kembali menemukan definisi kesyukuran dalam hidup. Saat dimana berdoa atau memuji Tuhan sebagai bentuk kesyukuran itu menemukan ekspresinya yang paling jujur.

Memang betul, bahwa dunia ini diisi dengan dualitas semu. Dualitas duka dan bahagia yang semu. Akan tetapi, selama duka dan bahagia yang semu itu, bisa menjadi jalan kita untuk “masuk” dalam ingatan kepada Allah SWT, maka berkah-lah kita.

Seorang guru mengatakan, bahwa sebagian orang banyak yang keliru mengira bahwa dualitas yang diciptakan Tuhan itu imbang. Ada duka tergelar, sebanyak bahagia tergelar. Ada murka sebanyak welas-asih. Menurut Sang Guru tersebut, Sejak awal Tuhan sudah melebihkan rahmat atas murka-Nya.

Sebagaimana satu hadits Rasulullah SAW, bahwa rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Dan sebagaimana masyhur kita dengar bahwa tersebab “satu” rahmat Tuhan dibagi rata di dunia ini, maka binatang buas tak memakan anaknya sendiri. Di akhirat nanti, masih ada 99 rahmat-Nya.[1]

Walhasil, dualitas dalam kehidupan ini (yang mana setiap dualitas adalah cerminan dari asmaul Husna) juga “pintu” mengingat-Nya.

Agar tak selalu memandang hidup dalam kacamata yang murung, barangkali rekan-rekan pembaca bisa mencobanya sendiri. Temukan sendiri, momen apapun saja dalam hidup anda, yang begitu rileks bagi anda, yang membuat anda merasakan benar ada rahmat dari Tuhan.

Bisa hal-hal yang besar, bisa hal-hal yang sepele. Duduk disana, nikmati suasana itu, dan bersyukurlah atas selubung sifat-sifat berupa rahmat yang DIA zahirkan itu.

Sehingga, kita tidak memandang hidup dalam kacamata yang terlalu duka.

Dalam bahasa yang sufistik, inilah kata Ibnu Athaillah as sakandari.

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau, jika kita belum mampu untuk berbaik sangka pada Tuhan dalam pengertian yang dalam akan kebijaksanaan diri-Nya, bolehlah, sebagai awalan, kita berbaik sangka pada Tuhan lewat jalan “melihat” kepada sisi rahmatNya yang kita rasakan secara real.

Kadang-kadang, ada jenak dimana kita begitu butek dan suntuk. Macam-macam ujian membuat kita memandang hidup dalam kacamata yang “murung”. Murung….kalau menimbulkan rasa fakir kepada Tuhan; itu bagus. Tapi murung yang menimbulkan putus asa dari rahmat; ini keliru.

Pendekatan paling dasar, adalah pendekatan lewat kerangka dualitas itu.

Jangan tengok pada ujiannya. Tengok pada sisi rahmat yang membalut kita. Karena dualitas yang dicipta itu, sejatinya tidak pernah balance.

DIA melebihkan sisi rahmat-Nya untuk mahkluqnya. Sebagaimana kita disunnahkan membaca “bismillahirrahmanirrahim”, yaitu memulakan hidup / memasuki dualitas hidup dalam baluran rahman dan rahim-Nya. Semua pekerjaan disuruh dimulakan dalam kacamata rahmat.

Jadi memang sejak awal kita tertuntunkan juga untuk memasuki gerbang rahmat itu. Dan kesadaran akan rahmat itu bisa mekar dari hal-hal yang remeh lho. Tak mesti hal yang tinggi dan terlalu filosofi.

Dan saya sangat menikmati itu. Mensyukuri rahmat-rahmat yang ceto dan jelas di sekitar kita. Sebagai riyadhoh sederhana menikmati hari. Umpama pintu. Melihat dari pintu depan, berarti adalah orang-orang yang masih terpandang pada dualitas duka dan bahagia. Itupun tak masalah, selama segala bentuk duka dan bahagia pada gilirannya menyampaikan pada-Nya

Tetapi tak lupa, tetap kita tapaki tangga-tangga spiritualitas yang di atasnya, seperti wejangan Guru-guru.

Langkah awal barangkali bersyukur atas sisi rahmat-Nya. Agar kita bisa masuk pada ingatan kepada Allah lewat pintu rahmat.

Tangga di atas itu, adalah menyadari bahwa rahmat yang terlihat lewat benda-benda, dan takdir hidup sekarang ini, sejatinya tak pernah benar-benar ada. Segalanya dimunculkan dari realita Ilahiah yang lepas dari kerangka dualitas. Yang tiada umpama. Demi (Dzat) yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dan jika kembali diibaratkan pintu, maka orang ini Melihat dari pintu belakang.

Orang yang sepenuh masa tidak lagi hirau pada dunia yang penuh dualitas. Karena mengerti bahwa segala dualitas sejatinya tidak pernah ada. Yang selalunya ada adalah Sang Pemilik yang tak bisa dideskripsikan dengan sifat-sifat yang dualitas.


[1] Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.”  (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

LAGI, TENTANG DUALITAS

Kembali teringat syair Rumi dalam matsnawi. Banyak diantaranya mengatakan bahwa sebenarnya dualitas baik dan buruk tak bisa dipisahkan. Adakah sesuatu yang murni baik tanpa ada sisi buruknya? Adakah sesuatu yang murni buruk tanpa ada bilah kebaikannya?

Bahwa kita belajar menapaki kehidupan dengan tatanan syariat yang sudah Rasulullah SAW gariskan; itu jelas. Tetapi ini adalah perkara memandang dan memaknai sekitar.

Selain Allah SWT, semua ada dualitas. Bilah kebaikan dan keburukan yang bergolak tiada henti.

Kita berjalan dalam tuntunan yang sudah digariskan. Tetapi belajar juga memandang dunia sebagaimana adanya. Baik dan buruk adalah makna yang DIA ajarkan. Dua-duanya untuk menceritakan DIA yang tunggal. Melampaui persepsi baik dan buruk.

*) pagi ini melihat truk di jalan tol membawa sepaket peralatan boneka tradisional. Dalam citranya yang menyeramkan, boneka “keburukan” itu menjadi wasilah rezeki “kebaikan”.