TUNGGANGAN YANG MELINTASI KEBENDAAN

doorPernahkah rekan-rekan berdo’a kepada Tuhan, dalam rangka meminta pilihan apakah sebaiknya makan mie goreng atau pecel lele untuk makan malam?

Rasanya tidak pernah, bukan?

Kenapa tidak pernah? Kenapa tidak sebaiknya kita berdo’a saja untuk keseluruhan detail hidup kita? Bukankah setiap kejadian akan berkaitan dengan kejadian lainnya dalam sebuah aksi reaksi kompleks, hingga pada akhirnya tak satupun kejadian yang tak punya imbas? Lalu kenapa tak berdo’a saja untuk semua hal? Dulu saya pernah bertanya seperti itu dalam batin saya sendiri.

Tetapi bukankah akan menjadi ganjil apabila kita berdoa dan meminta petunjuk untuk pilihan antara mie goreng atau pecel lele. Untuk apakah pesan jus jeruk atau es teh manis? Untuk apakah hari ini pakai kemeja biru atau kemeja warna merah dengan pola garis-garis? Ganjil bukan?

Itu memang kebingungan yang ganjil, rasanya tak masuk akal dan tentu tidak praktikal untuk dilakukan, tetapi saya belum mengerti kala itu apa landasan filosofinya kenapa tidak kita praktekkan berdoa di segala detail hidup?

Jawaban mengenai hal tersebut baru saya mengerti berbilang tahun kemudian. Setelah mengakrabi kajian para arifin, yang memberi tahu tentang keutamaan mengingati Allah. Bahwa sak bisa-bisanya kita harus belajar memraktekkan mengingati Allah dalam apapun kondisi: duduk, berdiri, berbaring, sebisa-bisanya mengingati Allah. Itu point pertama.

Point kedua adalah bahwa mengingati Allah itu berarti juga kita tidak mengingati benda-benda. Pecel lele, jus jeruk, kemeja biru dan merah, naik angkot ataupun gojek, semua itu adalah benda-benda. Dan mengingati Allah adalah bukan mengingati benda-benda tersebut. Itu point keduanya.

Dan yang paling penting saya rasa adalah berikut ini. Setelah kita belajar untuk dawam mengingati Allah dalam segala kondisi kehidupan kita. -Dan itu berarti bahwa kita mengingati Allah dalam lapang dan sempitnya kita-. Maka keseluruhan kejadian hidup yang mempertemukan kita dengan makna lapang dan sempit itu; sejatinya adalah jalan untuk kita mengingatiNya. Bukan mengingati kejadian hidupnya atau bendanya.

Indah sekali pesan orang-orang arif ini.

Kita misalkan saja begini. Kita bekerja sejak pagi, dan kita memulakan segala kehidupan kita dengan basmallah. ‘Memulakan kerja dengan basmallah’ itu adalah sebagai bentuk ingatan kepada Allah. Kemudian, kita memulai hari dalam kondisi dimana ingatan kepada Allah itu masih sinambung dan terjaga. Kita masih stay tune pada kondisi mengingati Allah.

Karena kita masih stay tune dalam ingatan Allah itulah sebabnya kita tak usah sibuk berdoa apakah kita akan keluar rumah lewat pintu depan atau pintu belakang, apakah naik motor atau naik mobil? Karena semua itu sudah dalam kondisi tinggal GO saja.

Kita sudah tinggal JUST DO IT, sambil memulakan segala sesuatunya dengan basmallah dan ingatan kepada Allah terjaga pada batin kita.

Lalu, dalam keseharian kita bekerja itu, akan ada banyak sekali hal yang mempertemukan kita dengan situasi lapang dan sempit.

Kejadian-kejadian yang menghantarkan situasi lapang dan sempit itu, sejatinya kebendaan. Dan seperti laiknya kebendaan; dia akan dengan cepat menghilangkan ingatan kita pada Allah yang sejak awal hari kita jaga untuk sinambung itu tadi.

Maka….agar ingatan pada Allah tetap terjaga, kita gunakanlah kejadian hidup yang kita temui itu, segala apapun yang membetot perhatian kita itu, sebagai “tunggangan” untuk ‘kembali’ pada Allah.

Ada situasi lapang yang memesonakan; sebelum dia membetot dan mencuri ingatan kita pada Allah, maka kita jadikan suasana itu sebagai tunggangan. Kita berdoa pada Allah sebagai bentuk kesyukuran. Imbasnya adalah, suasana senang yang kebendaan itu urung memenuhi batin kita, tetapi malah menjadikan kita semakin terkunci pada ingatan kepada Allah.

Ada situasi sempit yang menyesakkan; sebelum dia membetot dan mencuri ingatan kita pada Allah, maka kita jadikan suasana sempit itu sebagai tunggangan. Kita berdoa pada Allah sebagai bentuk kita meminta pertolongan. Imbasnya nanti, suasana sempit dan kesulitan keduniawian itu urung memenuhi batin kita, tetapi malah menjadikan kita semakin terkunci pada ingatan kepada Allah.

Jadi ternyata, yang pokok adalah mengisi hari-hari kita dengan ingat pada Allah. Dan kita jadikan apapun saja suasana batin yang kita temukan dalam keseharian; suasana yang sejatinya kebendaan; kita alihkan lagi menjadi pintu doa yang membuat kita malah semakin kembali lagi ke Allah.

Saya rasa itulah sebabnya mengapa kita tidak usah berdo’a yang lucu-lucu dan sholat istikoroh untuk apakah sebaiknya membeli cemilan coklat atau goreng kentang. Selain tidak praktikal dan menggelikan, ternyata itu sama saja dengan membawa hal kebendaan ke dalam batin kita yang sejatinya sedang mengingati Allah. Orang kita sedang mengingati Allah, eh malah hal tak penting dan kebendaan dibawa-bawa.

Lain halnya dengan kebalikannya. Kita sudah memulakan hari dengan mengingati Allah, kita jaga ingatan pada Allah itu agar sinambung dalam duduk, berdiri, berbaringnya kita, dan tiba-tiba ada-ada saja kejadian hidup yang berat dan menyesakkan; maka sebelum keduniawian yang melelahkan itu mencuri perhatian kita, kita berdo’a pada Allah agar menyelamatkan kita. Do’a yang semacam itulah yang mengkonversi urusan kebendaan menjadi makna pengenalan. Do’a yang menemukan kekerdilan diri dan mengakui Allah punya kebesaran. Semakin berdo’a dalam konteks macam begini, semakin kenallah pada keagungan dan keindahannya Allah.

Dan baru belakangan ini saja saya mengerti, inilah maksud dari hadits Rasulullah SAW yang mengatakan sesiapa yang sibuk berdzikir sampai lupa meminta, maka akan diberikan lebih baik dan lebih utama ketimbang orang yang sibuk meminta.[1]

Dulu saya kira hadits itu maksudnya kalau begitu tak usah meminta saja. Ternyata, hadits itu berbicara mengenai level, maqom seseorang. Orang yang hatinya sudah dipenuhi dengan Allah melulu, maka orang itu akan dijamin hidupnya. Wis pokoknya beres.

Tetapi, sebelum sampai kesitu ada prosesnya. Prosesnya ya antara lain seperti pesan guru-guru kearifan. Ingatlah Allah dalam setiap jenak hidup kita. Dan saat ada kesulitan, kebutuhan hidup, atau kesenangan menggelora, apapun saja urusan keduniawian yang sejatinya “berat” buat kita, jadikan hal tersebut sebagai tunggangan kita untuk kembali padaNya.

Lewat Do’a. Do’a yang menegakkan kehambaan. Do’a yang melintasi urusan-urusan kebendaan. Do’a yang lebih sebagai ekspresi pengenalan dan pengakuan.

 

 

catatan kaki:

[1] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MEMASUKI GERBANG DO’A

Pesawat yang ditumpangi Dr. Ishaan seorang dokter spesialis dari Pakistan tiba-tiba rusak dan mendarat darurat pada sebuah tempat terpencil karena guruh dan kilat.

Karena ada sebuah urusan yang begitu urgent, maka diputuskanlah jika mereka harus mencari tumpangan kendaraan yang kebetulan melintas, dan tidak usah menunggu pesawat diperbaiki terlebih dahulu.

Saat mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil, tiba-tiba turun hujan lebat disertai gemuruh dan petir. Jalanan jadi berlumpur dan sulit dilalui, memaksa mereka untuk berhenti.

Dari kejauhan, Dr. Ishaan dan beberapa orang rekannya melihat ada sebuah gubuk, lalu mereka memutuskan untuk berteduh disana.

Ternyata gubuk itu dimiliki oleh seorang Nenek yang sudah tua, dan sang nenek sedang merawat seorang anak yang sedang sakit.

Singkat cerita, Dr. Ishaan bertanya pada sang Nenek, kenapa anak itu?

Lalu dijelaskanlah bahwa sang anak itu mengidap sakit yang langka, yang hanya bisa diobati oleh seorang dokter spesialis. Mereka sudah pergi ke kota dan mendatangi RS untuk mendaftar, tetapi saking padatnya jadwal sang dokter maka dokter hanya bisa ditemui enam bulan ke depan setelah pendaftaran.

Betapa kagetnya Dr. Ishaan ketika beliau menyadari bahwa dirinyalah dokter yang dimaksud. Sayalah dokter itu, Ibu. Katanya.

Sang nenek seketika menangis. Dr. Ishaan dan Sang Nenek akhirnya menyadari bahwa doa Nenek yang setiap hari meminta pada Allah SWT agar menyembuhkan sang anak; akhirnya menjadi sebab pesawat sang dokter rusak, hujan turun, mobil tak bisa melanjutkan perjalanan, dan dokter tersebut diantar langsung ke rumah mereka.

Betapa kuatnya do’a.[1]

Saya tertarik kembali menukil kisah ini, karena teringat dengan sebuah perbincangan begitu klasik. Tentang “takdir”.

Segala sesuatu, telah ada di dalam ilmu Allah. Dan begitu banyak hadits dan tulisan para ulama membahas tentang ini. Kemudian bertanya-tanyalah kita, lantas apa makna do’a jika semuanya sudah tertakdir dan masuk dalam Qada dan Qadarnya Allah?

Pertanyaan kita, persis sama dengan pertanyaan seorang sahabat. Suatu hari seorang sahabat Rasulullah bertanya pada beliau, apakah kita harus berpasrah saja tak usah berusaha, bukankah semua sudah tertakdir?

Kata nabi, tetaplah berusaha, dan jangan berpasrah. Karena, setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang tertulis baginya.[2]

Jika kita tergerak berdo’a, berarti saat itu Allah menuliskan kita tergerak berdo’a, pintu pengenalan.

Setelah memahami ini, kita tidak lagi menganggap do’a sebagai bentuk pemaksaan terhadap Allah agar menuruti apa yang kita mau, tapi do’a berubah fungsi menjadi sarana curhat.

Seperti ungkapan orang-orang arif, jika Allah ingin memberi, maka Allah berikan dulu wadahnya.

Jika Allah ingin memberi kita kendaraan, misalnya, Allah berikan dulu wadahnya berupa kesulitan dalam pekerjaan yang kita lalui karena jarak tempuh yang jauh. Berupa perasaan lelah dan sangat butuh akan pertolongan Allah, lalu berupa do’a yang menegakkan kehambaan dan memuji Allah. baru diujungnya Allah kasih kendaraan.

Saya teringat kembali salah satu kajian dari seorang Arif[3], dimana beliau memberi perumpamaan dalam kaitannya dengan mengenali Allah SWT; bahwa kehidupan ini ‘seumpama’ si kecil mengenal YANG BESAR.

Kita sebagai manusia, dan juga alam semesta raya ini jika dikumpulkan masihlah sungguh kecil dibandingkan ke-Maha-an Allah SWT.

Karena Allah SWT ingin dikenali, maka Dia menzahirkan alam raya ini, menzahirkan ciptaan.

Dan keseluruhan perjalanan makhluq di alam kehidupan ini, tujuannya hanya satu yaitu mengenaliNya.

Pada ciptaan, dititipkan olehNya perasaan fakir dan butuh kepada Allah.

Cara Allah meletakkan rasa ‘fakir’ dan kerdil dalam diri kita, biasanya lewat kejadian hidup. Lewat ujian. Lewat kebutuhan-kebutuhan.

Dengan mengenali diri kita (yang kecil) sebagai makhluq yang tak punya daya, maka kita akan mengenali DIA sebagai Yang Memiliki Daya.

Dengan mengenali diri kita (yang kecil) sebagai yang miskin dan papa, maka kita akan mengenali DIA sebagai yang Maha KAYA.

Dengan mendapati diri kita (yang kecil) sebagai yang bodoh dan tak tahu, maka kita mengenali DIA sebagai Yang Memiliki Ilmu.

Begitu juga kaitannya dengan do’a. Apapun saja bentuk do’a kita, sebenarnya kalau diperhatikan merupakan ekspresi yang terangkum dari perumpamaan itu tadi, seolah-olah tentang si kecil menyanjung YANG BESAR.

Dengan berdo’a, si kecil mengaku kecil dan mengenali kekecilannya, maka dengan itu dia mengAkbarkan YANG BESAR.

Memang Allah SWT buat kita untuk berdo’a. Kenyataan bahwa kita berdo’a, sejatinya memang dibuat olehNya sebagai bentuk pengenalan.

Dia ingin dikenal, dibuatnyalah kita mendapati diri sebagai yang begitu kecil, dengan itu kita kenali DIA sebagai yang begitu besar.

Dan betapa takjub saya mendapati kata-kata Ali Ibn Abi Thalib berikut ini:

“Allah membuatku mengenal diriku sendiri, melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan bahwa aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”[4]

si kecil, mengenali YANG BESAR. Saat menemukan diri sebagai yang begitu kecil, saat itulah kita akan mengenaliNya sebagai Yang Begitu Besar.

Dalam pemaknaan begitulah saya rasa sebaiknya kita menghayati do’a. Tak melulu sebagai bentuk permintaan kebendaan, pun tak menjadi bingung dengan apa yang sudah ditetapkan.

Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

Saat kita berdo’a, berdoalah sepenuh hati.

Jangan fikirkan yang belum terjadi, jangan tetapkan yang belum terjadi, karena semua dalam ilmu Allah, rapat tersimpan dan kita tak pernah tahu apa yang bakal terjadi.

Allah sesungguhnya tidaklah dipaksa dengan do’a kita. Melainkan, baru belakangan saya mengerti bahwa do’a itu sebagai wujud dari pengenalan. Saat kita tergerak berdo’a karena menyadari kekecilan kita, disitu kita bertemu dengan pengenalan kebesaran Dia.

Do’a, adalah salah satu bentuk pengenalan.

Jadi kita berdoa saja sepenuh hati, sebagai wujud dari kita mengenaliNya dengan segala sifat Kebesaran dan Kekuasaan, lewat kita mendapati diri kita sebagai yang berdo’a dan penuh dengan kefakiran.

karena DIA mempunyai Sifat sebagai Yang Maha Memberi, Maha Mengabulkan Do’a, maka sebagai ejawantah sifatNya itu akan selalu ada hambaNya yang tertakdirkan merasa begitu kecil dan kemudian berdo’a.

Sebagaimana ungkapan masyhur dari Umar, “Aku tak membawa hasrat pengabulan, melainkan aku membawa hasrat do’a. Saat aku tergerak berdo’a, aku tahu pengabulan bersamanya.”

Indah sekali, bukan? Menyadari bahwa saat kita berdo’a, merupakan bukti dari penzahiran sifatNya.

 

 

catatan kaki:

[1] Kisah ini saya dengar dari YouTube, pada rekaman tentang kekuatan do’a, disampaikan oleh Mufti Ismail Menk, mengutip seorang ulama di Saudi Arabia yang mendengarkan penuturan langsung dari Dr. Ishaan seorang dokter spesialis yang sangat terkenal di Pakistan.

[2] Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. H.R Muslim

[3] H. Hussien bin Abdul Latiff

[4] Tafsir Al Quran Tematik, Spiritualitas dan Akhlaq. Kementrian Agama RI (hal, 452)

Saya pinjam gambar ilustrasi dari sini

 

PERMINTAAN TAK MENABRAK KERIDHOAN

Mari kita lihat, bagaimana para Nabi mengakrabi Tuhannya. Akrabi-lah Allah SWT sebagaimana tercontohkan oleh para shalihin, aulia, para Nabi, yang tak pernah berhenti curhat pada Allah.

Dialektika batin para pejalan ruhani, salah satunya adalah kegamangan apakah sebaiknya berdoa -karena Allah perintahkan- atau sebaiknya tak berdoa -sebab Allah Maha mengetahui; terlebih Allah yang mentakdirkan segala kejadian.-

Sebenarnya kalau kita tengok para Nabi, dalam puncak keridhoan mereka menghadapi segala yang terjadi, mereka tetap berdoa dan meminta. Itu berarti, permintaan tidaklah ‘menabrak’ keridhoan.

Saat mereka meridhoi apa yang terjadi, mereka meminta pertolongan Allah untuk diselamatkan dan diperjalankan menuju takdir yang lebih baik.

Hanya saja, maqom ruhani setiap orang berbeda. Ada orang yang meminta dengan begitu detail dan merincikan segala kebutuhannya seperti ‘to do list’ untuk Tuhan -sebab kurangnya pengenalan kepada Allah-, Ada orang yang sudah begitu dekat dan akrab, sehingga permintaan pun tak terlontar dari bibirnya, karena rasa malu yang sangat dan keyakinan akan kebaikan dan kebijakan Sang Pemberi.

Bagaimanapun. Setiap orang memiliki jenaknya sendiri untuk dekat dengan Tuhan, Para Nabi tetap berdoa, tetapi doa mereka memang lebih berupa munajat pujian dan pengagungan ketimbang permintaan, sebab mereka sangat dekat dengan Allah.

Terlepas dari itu, kebutuhan yang ada pada kita, sejatinya bisa dimaknai sebagai undangan dari Allah untuk kembali. Disitulah letaknya kita menegakkan kehambaan dengan mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menolong. Maka berdoalah.

Dengan selalu berdoa, Allah sendiri yang akan menaikkan maqom kedekatan kita dan pemaknaan kita akan doa bakal berubah dengan sendirinya.

Pada posisi manapun kita sekarang, tangga pertama yang harus dilalui ya sering-seringlah ‘curhat’ padaNya.

Allah sendiri yang akan menaikkan maqom kita.

MAQOM DAN DOA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——–

Saya tambahkan tulisan Ustadz Abdul Aziz yang juga berkaitan dengan ini, menarik. silakan dibaca di bawah ini:

Diantara sifat Allah adalah “Al-Mujib” Maha mengabulkan Doa. Tergelarnya sifat Allah ini, maka akan ada manusia yang datang MENGHADAP kepada -Nya melalui doa, munajat, i’tikaf mengajukan proposal untuk menyelesaikan urusan kekhalifahannya di dunia. Sebagaimana nabi Ibrahim menghadap Allah dengan membawa proposal masalah

(Aş-Şāffāt):99 –
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”

Di sisi lainnya ada sifat Allah, Al-Adhiim (Maha Agung) tergelar, maka ada yang datang MENGHADAP kepada-Nya dengan meng-Agungkan-Nya, melalui Sholat, berkhalwat, ada juga yang ‘bersilaturahiim’ dengan berzikir lisan, sirri atau haqiqi
Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim,

(Al-‘An`ām):79 – Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Setelah bermakrifat, baru kemudian nabi Ibrahim bersyariat

(Ash-Shu`arā’):78 – 81

“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,

dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,

dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) “

kita bisa datang menghadap kepada Allah, sesuai keadaan kita masing2 sebagaimana di teladani bapak Tauhid, nabi Ibrahim di atas.Yang terpenting sebenarnya adalah HADAPKANLAH wajah kita dengan lurus kepada Wajah-Nya

(Al-‘A`rāf):29 – Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah wajah (diri)mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Wallahua’lam bissawab

DZIKIR KOPI PAK GEMBONG

20130409-154452.jpgAwal mula pak Gembong dan Hasan berkenalan adalah kala hujan lebat sore-sore sekitar berapa bulan lalu. Orang-orang berebut pulang ke rumah dengan menumpang mobil antar-jemput kantor, tapi Hasan kalah cepat. Mobil kantor yang memang terbatas itu sudah penuh, terpaksa pulang menggunakan bus kota. Tapi hujan seperti ini jalanan pasti porak-poranda. Maka Hasan kembali ke kantornya hendak tidur-tiduran saja dulu di musholla, sambil membaca buku. Waktu itulah pak Gembong menyapanya kala melewati koridor. “Mampir dulu mas, ngopi-ngopi”. Kata pak Gembong.

Hasan berbelok masuk ruang kopi di pinggir koridor jalan menuju musholla. Lalu diseduhkan segelas kopi oleh Pak Gembong. Ngobrol ngalor ngidul sekedar membunuh waktu. Hasan yang memang sifat bawaannya gampang bergaul itu lalu merasa cocok ngobrol dengan Pak Gembong. Dia merasakan hawa kebaikan dari Pak Gembong. Entah bagaimana itu. Dari situ dia mulai kenal lebih dalam tukang serba bisa di kantor-nya itu. Tidak terlalu jelas apa pekerjaan sebenarnya pak Gembong. Dikata office boy, tapi bisa mengedit draft-draft laporan sedikit kalau dimintai tolong, bisa juga jadi tukang jilid, bisa juga jadi tukang buat mie rebus kalau lagi beredar di ruang kopi. Membuat kopi apalagi. Secangkir kopi dan berjam-jam curhat tentang makna hidup.

Hujan tidak berhenti juga waktu itu, hari sudah semakin gelap. Hasan undur diri. Sebelum pulang Pak Gembong menawarkan menyeduh kopi lagi, kopi jahe, disimpankannya dalam sebuah tempat minum perak yang sudah pudar-pudar. Hasan menerimanya dengan riang lalu berjalan pulang.

Pak Gembong memandangi Hasan sambil tersenyum. Senyum yang kharismatik dan kebapakan. Tapi Hasan tidak melihatnya. Sama seperti dari tadi dia tidak memperhatikan sebuah tasbih kecil di genggaman Pak Gembong, tasbih yang tetap dia putar pelan di tangannya, meski saat mereka ngobrol ngalor ngidul dan tertawa tadi. Pak Gembong masih melarut dzikirnya.

***

Hasan sebenarnya selalu bisa menemukan sisi keasyikan dari segala dinamika Jakarta. Saat macet misalnya, dia tetap santai saja di jok belakang mobil jemputan kantornya dan menghabiskan buku-buku bacaan yang dia beli dari Gramedia. Saat banjir mulai menggenang pada sebagian jalan misalnya, dia santai saja memasukkan sepatu dalam tas dan mengenakan sandal capit, jangan dibuat pusing, itu prinsipnya.

Maka perjalanan serunyam apapun dalam dinamika Jakarta, dianggapnya sebuah hiburan saja, itung-itung wisata. Seperti waktu dia terjebak hujan lebat, sedang tak ada jemputan, sambil santai saja dia mengeluarkan tempat air minum dari dalam tas-nya, sudah diisi kopi panas dari ruang kopi Pak Gembong sejak dari pulang kantor tadi. Hujan dan kopi panas, apalagi yang kurang?

Satu-satunya yang tidak bisa dia ambil sela enjoynya adalah saat bos-nya diganti, dan lalu bos baru yang sekarang memperlakukan segala bawahannya seperti kuda karapan. Pecut sana-sini. Tidak terima silakan keluar. Dan Hasan sudah luar biasa suntuk dengan model relasi seperti ini.

Hasrat hati ingin pindah kerja saja rasanya. Belum lagi rasanya bos baru ini memang punya niat terselubung merampingkan jajaran orang-orang kantor. Hemat duit. Tapi semakin dipikir kok ya semakin banyak hal yang menghantu seram. Bagaimana nanti kalau tempat kerja baru tidak cocok? Bagaimana kalau harus adaptasi lagi? Bagaimana kalau ternyata bos baru ini ke depannya siapa tahu jadi baik? Tapi kalau tidak baik-baik juga pindahnya ya pindah kemana? Bagaimana kalau macam-macam. Jenuh dia memikirkan jalan keluar.

Waktu-waktu dia jenuh dan penat itu, dia selalu lari ke musholla kantor. Sekedar melepas beban dengan dhuha. Atau memperpanjang doa di waktu zuhur. Entah apa yang Hasan mintakan dalam doa itu. Tapi Pak Gembong dari sudut musholla di dekat rak buku memerhatikan dengan detail raut wajah Hasan yang tidak serupa biasa itu. Raut muka yang tidak bisa diartikan kiasan lain selain dari bentuk orang sedang kebingungan dan jenuh.

Hasan tidak sadar Pak Gembong melihatnya dari jauh. Terlebih Hasan sedang membenarkan posisi duduk dan siap menyimak kultum bakda zuhur yang biasanya ada di musholla kantornya itu. Serupa orang sedang hanyut di sungai, Hasan butuh benar-benar pegangan, sekarang segala yang berbau religi dia siap santap sampai tandas. Sang Ustadz membuka kultumnya dengan mengutip Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

Hadistnya levelan batin tingkat wahid, tapi sang penceramah berapi-api menembakkan logika yang membuat Hasan yang awam itu jadi mundur teratur tambah bingung. “Jadi jangan sembarangan berdoa kepada Tuhan! Tuhan sudah tahu, tidak usah banyak pinta! Baca hadist qudsi tadi”. Kata sang juru ceramah.

Pak Gembong hening dalam zikirnya. Jamaah yang lain angguk-angguk entah paham entah ngantuk. Hasan mukanya malah tempias makin merah. Semakin runyam.

Hari-hari berikutnya Hasan ke musholla juga, tapi tiap kali hendak berdoa, maka bom mortir ceramah pak Ustadz tadi mampir lagi ke telinganya. Jadi Hasan ngeri berdoa. Nanti jangan-jangan saya salah berdoa? Pikir Hasan. Jangan-jangan saya nanti tidak sopan kepada Tuhan? Tidak sopan kepada yang punya jagadita semesta ini; bukan main menakutkannya, fikir Hasan.

Maka dia surut selangkah. Tapi was-was di hatinya belum reda. Meskipun dia masih ingat juga kalau tidak meminta nanti malah dapat yang lebih baik.

Sebenarnya dalam hati Hasan ada keinginan untuk berbagi cerita, tapi dengan siapa? Tidak ada orang yang membuatnya cukup nyaman untuk terbuka, belum lagi kawan-kawannya kadung menilai Hasan sebagai problem solver. Lengkap sudah sesak di dada Hasan. Orang mengira dia problem solver tingkat papan atas, dia sedang kalut dan tak tahu hendak cerita ke siapa, ingin berdoa takut salah doa, kata Ustadz mendingan tidak berdoa.

Sampai Hari itu seperti dejavu. Hujan turun lebat lagi, Hasan selalu kalah cepat dan tertinggal mobil jemputan yang terbatas itu. Lalu kembali pulang ke kantor hendak menuju musholla lagi. Pak Gembong menyapanya lagi, lalu mereka berbelok ke ruang kopi lagi, duduk di kursi sambil minum kopi lagi.

“Jadi muka mumet ini pasti tentang bos baru itu, ya?” tanya Pak Gembong memecah sepi dengan tembak langsung.

“Ah….sampai pak Gembong juga tahu, kirain berita begini ga bakal nembus ruang kopi pak.” Kata Hasan mencoba bercanda, tapi gagal. Tawanya menjelma miris. Ditembak langsung membuat dia tak siap dengan retorika penyelamatan diri. Tapi dipikir-pikir cerita ke Pak Gembong ada baiknya juga.

Hasan lalu malah membuka segala kesal dan amarahnya. Dia ceritakan segala sesak yang dia rasa. Sementara di kursi yang lain Pak Gembong hanya mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi panas. Mendengarkan sembari tidak pernah menyela.

Selepas bercerita, Hasan menjadi lega, sekaligus menjadi heran. Bagaimanapun dia merasa lebih berwacana pendidikan dibanding Pak Gembong, lebih menguasai segala filsafat kesadaran dan pengendalian diri dari pak Gembong, juga lebih banyak hadir pengajian dan membaca buku-buku agama dari pak Gembong; tapi fragmen dimana dia melontarkan segala uneg-uneg kekesalan dan di sudut lain Pak Gembong mendengarkan dengan anggukan yang penuh kebijakan; seakan-akan memutar balikkan keadaan.

Dia merasakan sebuah kekalahan perbawa dari Pak Gembong. Kenapa Pak Gembong begitu kharismatik, ya? Fikirnya.

“Sudah dibawa ke sholat, mas Hasan?” tanya Pak Gembong.

Yang ditanya mengangguk pelan, tapi setelah mengangguk lalu Hasan menyeruput kopi agak cepat, meletakkannya cepat, membenarkan duduknya dan, “Tapi saya bingungnya Pak Mbong, kata ustadz waktu itu kan kalau tidak meminta maka bakal diberi yang lebih baik. Nah saya sudah tidak meminta, tapi was-was di hati ini tidak hilang-hilang juga Pak Gembong, gimana ya?”

Pak Gembong mengaduk-aduk kopinya. “Mungkin maksudnya bukan tidak meminta, mas Hasan” kata Pak Gembong pelan-pelan sambil tersenyum. “tapi teralihkan dari meminta karena ada yang lebih ‘menyibukkan dan menyenangkan’ dirinya”.

“Menyibukkan gimana Pak Mbong?”

“Ya sibuk dzikir. Yang beneran dzikir, beneran mengingat, bukan yang ngaku-ngaku dzikir. Misalnya, mas Hasan waktu ada masalah ini yang kepikiran pertama apa?” Pak Gembong bersandar pada kursi dan menatap Hasan.

“Lowongan kerja, Pak” jawab Hasan sambil senyum simpul.

“Nah…kalau detak pertama di hati masih lowongan kerja, itu tandanya mas Hasan masih belum sibuk dzikir, belum total ‘ingat’ ke Tuhannya. Belum mancer kata orang Jawa mas.” Pak Gembong berseloroh santai.

Hasan merenung-renung sambil menyeruput kopinya. Tidak diminum sebenarnya, karena sibuk merenung. Lalu Pak Gembong menambahkan lagi.

“Saat mas Hasan sudah jenuh sekali dan ingin bercerita, siapa yang terpikir oleh mas Hasan?”

“Pak Gembong mungkin, hahahaha.” Hasan tergelak. Sudah mulai rileks dia.

Pak Gembong tergelak juga. Suasana cair sekali. Pak Gembong mohon izin menambahkan penjelasan. Hasan takzim mengangguk sambil menunjuk sopan pak Gembong dengan ibu jarinya, persis gaya abdi dalem kraton memberi hormat. “Monggo Pak Gembong, saya tekun menyimak paduka.” Canda Hasan.

Lalu berceritalah Pak Gembong dengan permisalan-permisalan yang sederhana. Kata Pak Gembong, level kesadaran batin tiap orang itu berbeda, dan Sang Nabi tahu persis kala berbicara dengan seseorang; siapa orang itu, ada di level mana orang itu. Makanya kita pernah dengar cerita bahwa Abu bakar menafkahkan seluruh hartanya, dibolehkan Nabi. Tetapi juga ada kisah sahabat lain yang hendak menyerahkan seluruh hartanya, tapi tidak dibolehkan. Cukup sedikit bagian saja. “kira-kira kenapa Mas Hasan?”

“Wah…blank aku gini-ginian Pak, hehehe… kenapa itu Pak”

“Karena orang itu memberi tidak disertai dengan sebuah kepahaman batin, Mas.” Lalu Pak Gembong menjelaskan. Bahwa tuntunan yang umum diberikan Nabi itu sudah terukur untuk level rata-rata manusia. Cobalah ambil contoh Sang Kekasih Tuhan, Nabiyullah Ibrahim yang kala hendak dibakar raja Namrud pun masih menolak bantuan Jibril, dan beliau juga “enggan” berdoa untuk keselamatan dirinya. Apa pasal? Karena hatinya sudah penuh dengan dzikir, dengan kondisi batin yang ‘ingat’ betul-betul ingat kepada Allah. Dengan segala kefahaman tentang sifat Maha Baiknya Tuhan. Maka ‘dzikir’nya itu mengalihkan dia dari ‘meminta’. Karena bagaimana meminta? Sedang hatinya dipenuhi dengan ingatan dan keyakinan tunggal bahwa Tuhan maha memberi, maha tahu, maha baik. Sampai ‘lupa’ dia meminta.

“lha…kalau level kita ini jadi gimana pak Mbong? Doa apa enggak?” Hasan bertanya.

“Lha mas Hasan di hatinya masih ada kepikiran nyari lowongan kerja ga?”

Yang ditanya tersenyum simpul.

“Masih ada was-was dan mencari teman tempat curhat ga?”

Yang ditanya senyum lagi.

“Masih ada kesal di hati dan dongkol sama bos ga?”

Kali ini tergelak dia, kencang sekali.

“Kalau semua itu masih ada, berarti hatinya belum ‘dzikir’, masih banyak lintasan duniawi. Levelan kita ini mas, kalau ga ‘sowan’ ke Allah lewat doa, jatuh-jatuhnya malah sombong nanti. Nah caranya agar lintasan duniawi itu tidak memenuhi ruang batin kita adalah menjadikannya ‘kendaraan’ menuju Tuhan. Sedang kesal sama bos ya berdoa ke Allah agar dihilangkan rasa kesal itu. Sedang was-was cari teman curhat, langsung doa ke Allah dan jadikan Dia tambatan hati paling pertama, jangan manusia. Sedang hasrat menggebu sekali pindah kerja ya doa lagi ke Allah minta dituntunkan kemana tempat terbaik dalam pandanganNya. Jadi jangan biarkan dunia bertahta dalam hati Mas.”

“Agar tidak bertahta, maka segala urusan dunia yang mencemaskan benak saya, harus saya ‘lapor’ dan minta tuntunan pada Allah lewat doa, begitu Pak Mbong?” Hasan menyimpulkan dengan suara yang lirih.

“Nah…Mas Hasan sudah paham itu,” kata Pak Gembong sambil bangkit dari kursinya. Cangkir kopinya sudah habis. Dibawa ke wastafel cucian. Sambil mencuci cangkir kopi, pak Gembong bilang, “Nanti kalau setiap urusan dunia yang menggelisahkan hati ‘dilapor’ sama Tuhan lewat doa. Setiap detak di hati dilapor ke Allah lewat doa dan minta tuntunan, Lama-lama mas Hasan akan lupa dengan apa yang dipinta, tapi lebih mengingat dan ingiiiiiiin dekat dengan yang selalu kita mintai itu. Dan kalau sudah disitu nanti mas, mas Hasan akan tahu apa maksudnya dengan sibuk ‘mengingat’ sampai lupa meminta”.

Hasan bangkit juga dari duduknya. Hujan sudah reda. Dia undur diri. Wajahnya kini tidak lagi pias. Dalam hati tadi dia sibuk berdoa meminta tuntunan kepada Tuhan yang Maha Segala, sekalian bersyukur obrolan kopi sore-sore ini mencerahkan fikirannya. Lalu dia pamit undur diri dari ruang kopi Pak Gembong.

Hasan tidak melihat Pak Gembong yang memutar-mutar tasbih kecil di tangan kanannya tersenyum kharismatik dan kebapakan di balik punggungnya. Pak Gembong tak melihat Hasan yang menjauh itu menyeka sembab di ujung matanya. Mereka berdua tidak melihat keran air yang mengguyur ampas kopi di dasar cangkir pada wastafel. Tapi selalu Ada Yang Menyaksikan Segalanya. Yang ‘mendengarkan’ Semuanya.

——-

kita sepakati saja ya, rekan-rekan, baik Pak Gembong ataupun Hasan, fiksi semua. Kalau ada yang mirip-mirip…ah…tak ada yang kebetulan, bukan 🙂