TENTANG NYAMUK DAN DUA JALAN DERAJAT KETINGGIAN

Sambil menunggu sholat Dzuhur, saya bersandar pada pilar masjid dan secara refleks menepuk seekor nyamuk yang hinggap dan menggigit tangan. Setelah melihat nyamuk yang mati itu, saya teringat bahwa seorang guru bahkan tak tega membunuh seekor nyamuk, karena mengerti bahwa dari-Nya-lah semua yang ada ini.

Dipikir-pikir, jauh sekali kualitas saya dan orang-orang yang sampai pada kesadaran seperti itu.

Tetapi melihat nyamuk yang kecil itu, saya jadi tersadar, bahwa seekor nyamuk tidak pernah bertumbuh kesadarannya. Meski nyamuk ini tentu punya akal.

Benarlah saat seorang guru mengatakan bahwa segala yang hidup, sejatinya memiliki akal.

Akal ini, ya sesungguhnya kesadaran atau consciusness itu sendiri.

Akal, kata Imam Ghazali, adalah fakultas ilmu. Penampung ilmu. Karena ada akal, maka ada yang dipelajari. Untuk seekor nyamuk, yang dia pelajari barangkali tak banyak. Sedangkan manusia, akalnya bisa menampung ilmu luar biasa banyaknya.

Ilmu-lah yang membedakan manusia dan ciptaan yang lain. Dengan ilmu itu pula, manusia bisa bertumbuh kembang kesadarannya.

Saya tak pernah melihat seekor harimau atau sapi atau kambing yang lebih bijak ketimbang jenisnya yang lain. Lebih tangkas barangkali ada, lebih lincah ada, tetapi itu instingtif.

Sedangkan manusia, jelas sekali kita melihat strata itu. Sebagian orang lebih pandai dari sebagian lainnya, sebagian lainnya lebih bijak dari sebagian lainnya lagi. Tergantung apa yang manusia itu cerap.

Dan secara umum, memang Allah meninggikan manusia di atas ciptaan lainnya. Contoh yang paling masyhur adalah Adam a.s. yang memang secara gamblang oleh Allah SWT diajarkan asma-asma, sehingga Adam mengungguli malaikat. Bukan karena malaikat tak berakal, tetapi kepada siapa hikmah itu diturunkan, maka tinggilah derajat siapapun yang dianugerahi hikmah itu. Dalam hal ini Adam a.s lah yang diajarkan asma-asma.

Saya mengamati dua tipe dalam spiritualitas. Yang pertama adalah tipe orang-orang yang mengamati dan tadabur dari alam semesta,lalu tadabur-nya terhadap alam semesta itu menyampaikan-Nya pada kesimpulan dan kemengertian tentang penciptanya.[1]

Orang ini, “mendaki” lewat tangga ilmu.

Ada yang diatasnya lagi, yaitu orang-orang yang selalu mengingati-Nya, bahkan kepada alam tak hirau lagi.[2] Tipe ini, SUDAH DI ATAS karena anugerah iman.

Tipe pertama adalah mendekati Tuhan lewat observasinya di alam semesta. Sedang tipe kedua adalah orang-orang yang atas anugerah-Nya sudah selalu terpatri mengingati-Nya, sehingga orang-orang tipe ini tidak perlu observasi. DIA tenggelam dalam ingatan kepada-Nya.

Satu yang mengagetkan saya adalah baru saya mengerti kaitan antara dua tipe itu, dengan fakta bahwa memang Allah meninggikan derajat manusia dengan dua jalan, yaitu ilmu dan iman.

Dari QS Al Mujaadalah:11, “……niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”[3]

Jadi memang derajat meningkat karena dua anugerah. Yaitu iman, dan ilmu. Dua-duanya sebagai jalan kepada-Nya.

Jika anda, rekan-rekan sekalian. Sibuk mengingati-Nya hingga tak hirau kepada nyamuk misalnya, bersyukurlah karena Allah menganugerahkan derajat yang tinggi itu. Derajat yang Allah berikan kepada orang-orang yang sibuk mengingati-Nya sampai lupa meminta. Orang yang ada di puncak karena anugerah iman ini, maka dia akan menjadi berilmu dengan sendirinya tanpa perlu observasi.

Seperti suatu ketika Ibnu Rusyd bertemu dengan Ibnu Arabi. Dan Ibnu Rusyd mengatakan betapa bersyukur dia kepada Allah SWT, karena dipertemukan dengan orang yang mendapatkan “ilmu” tanpa proses belajar atau diskursus, atau observasi. Sebuah perkara yang dia yakini, tetapi belum sekalipun dia bertemu dengan orang yang betul-betul menguasainya.[4]

Tetapi jika anda masih hirau kepada nyamuk, ya bersyukurlah juga. Maka observasilah. Dan dekatilah Allah lewat kesukuran atas tangga ilmu dan kepahaman. Karena berarti jalur anda adalah pendakian. Ilmu anda dapatkan di depan, lalu dengan tangga ilmu anda mencecap Iman.

Melihat alam semesta, lalu mengatakan Rabbana Ma Khalaqta hadza bathila… Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.


[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

[2] Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[3] Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujaadalah : 11)

[4] Al-Hakim, Su’ad. Mendaki Tangga Langit. (Yogyakarta: Indes Publishing), 10.

SPIRITUALITAS BUKAN ILMU ORANG TUA SAJA

Tadi malam anak saya camping di sekolahnya. Keren juga jaman sekarang, anak TK saja sudah ada camping segala, hehehe.

Tapi sesungguhnya yang lebih cemas bukan anaknya, melainkan orang tuanya. Malam-malam saya dan istri menyambangi TK anak saya, dan menyerahkan sekotak susu UHT, kebiasaan anak kalau malam-malam selalu minum susu sebelum tidur.

Istri saya memberitahu, bahwa banyak para orang tua yang malah tak bisa tidur karena mencemaskan anaknya, dan selalu bertanya pada guru-guru di sekolah tentang bagaimana kondisi anaknya.

Ibu gurunya, kemudian melaporkan secara berkala kondisi anak lewat media group whatsapp. Seru juga saya lihat.

Saya teringat, sebelum camping, anak saya bertanya macam-macam pada kami. Tentang bagaimana nanti dia tidurnya? Bagaimana kalau dia berebut selimut dengan teman-teman? Bagaimana kalau dia tidak ada tenda? Dikiranya setiap orang harus punya tenda sendiri. Dan banyak lagi pertanyaan yang keluar dari ketidak-tahuannya mengenai konsep camping itu.

Tapi lepas dari itu, satu yang saya sadari, bahwa pertanyaan anak saya itu banyak berkaitan dengan bagaimana dia harus bersikap dalam interaksinya dengan orang lain. Itu inti dari pertanyaannya.

Saya perhatikan, anak-anak usia TK sudah mulai melihat keragaman pada dunia, dan mulai mencoba menemukan ritme yang pas untuk memposisikan diri dalam keragaman itu.

Dan banyak pendidikan sekarang sudah mulai mengenalkan pendekatan “bersikap dalam keragaman” itu.

Umpamanya saja, sering kita baca di media sosial, sebuah meme atau sebuah artikel tentang bagaimana jepang lebih khawatir anak-anak mereka usia SD tak tahu bagaimana cara mengantri, tinimbang anak-anak mereka tak bisa mengerjakan soal-soal berhitung. Karena, menurut mereka kemampuan mengantri itu lebih penting, lebih elementer dibanding hitung-menghitung

Baru saya paham duduk perkaranya sekarang, bahwa kemampuan antri dianggap lebih elementer dibanding hitung-hitungan adalah karena kemampuan antri mengajarkan anak untuk tahu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Saat anak-anak mulai mengenal bahwa dalam kehidupan sosial mereka tak hanya ada mereka sendiri, tetapi ada juga orang lain. Maka pertanyaan mendasar anak saya tentang bagaimana kalau nanti dia berebut tenda, bagaimana kalau nanti rebutan selimut, dan sebagainya, sebenarnya adalah sudah mulai merupakan bagian dari upaya anak untuk menemukan “makna” itu, yaitu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Itulah sekarang sudah mulai banyak ditemukan apa yang orang-orang sebut dengan “pendidikan karakter”. Tentang bagaimana “behave”, bersikap dalam keragaman itu.

Tetapi, hal ini menyadarkan saya satu hal. Bahwa bagaimana “bersikap” dalam keragaman itu masih normatif. Masih belum mendasar dibandingkan “kenapa ada keragaman?”

Disinilah saya baru paham, sisi spiritualitas, dimensi esoteris agama adalah keping mata uang yang menjawab pertanyaan itu. Tentang kenapa ada keragaman? Tentang mengapa manusia ada, dan mengapa berbagai-bagai? Semua adalah untuk menceritakan Sang Empunya. Maka keragaman adalah fithrah yang tidak bisa dibantah. Sebagai wujud kreasi tak terbatas dari Sang Empunya yang tunggal.

Itulah mengapa, menurut saya, mempelajari tasawuf atau sisi spiritualitas agama menjadi begitu penting. Belajar menemukan makna itu.

Kita sudah belajar bahwa ada keragaman di dalam hidup. Lalu orang-orang mulai memperkenalkan cara “behave” cara bersikap normatif dalam keragaman yang ada lewat macam-macam pendidikan karakter, moral, kenapa tidak menyelam lebih dalam pada sesuatu yang lebih elementer lagi?

Dan itulah sebenarnya tasawuf. Atau namakanlah apapun saja itu, selama itu mengajak kita untuk bertanya dari hal yang paling mendasar dalam hidup, siapa kita, siapa Tuhan kita, dan kenapa ada keragaman berbagai-bagai ini?

Melihat lewat bingkai paling besar dalam hidup, bahwa DIA menceritakan diriNya sendiri lewat keragaman makhluq-Nya. Itulah tema tunggal dalam hidup.

Dalam konteks belajar memberi makna pada hidup inilah, saya baru sadar bahwa tasawuf bukan melulu ilmu orang tua. Tasawuf adalah bagian tak terpisahkan dari syariat itu sendiri. Aspek fisikal, dan aspek batin yang mesti seiring.

Syariat mengajari kita tata aturan yang harus dipahami, dalam corak kita masing-masing sebagai bagian dari keragaman. Maka tasawuf mengajari kita melihat keragaman sebagai cara Tuhan bercerita tentang diri-Nya sendiri. Dua-duanya penting. Dan dua-duanya mengiringi manusia sejak kecil hingga dewasa, pada tahapannya sendiri-sendiri.

 

MERENDAH MENJADI LEMBAH; DIALIRI ILMU DARI KETINGGIAN

[dropcap]H[/dropcap]ari ini, saya kebagian tugas menemani anak saya latihan berenang. Biasanya istri saya yang menemani, tetapi hari ini giliran saya.

Saat anak saya dan sekian orang rekannya sedang mendengarkan pengajaran dari instruktur, saya seperti biasa melakukan kegiatan favorit saya, yaitu duduk-duduk santai di pinggiran kolam sambil minum kopi dan menikmati kontemplasi saya sendiri.

Dari sebelah saya, terdengar sayup-sayup dua orang bapak-bapak berbincang lincah tentang dunia pendidikan dan sekolah yang baik bagi anak mereka yang di usia TK.

Sampai perbincangan meluas tentang bagaimana cara menanamkan pondasi keagamaan pada anak melalui sains, dan menghindarkan sikap yang terlampau rigid.

Saya tergelitik untuk ikutan nimbrung bicara, tetapi akhirnya saya memilih untuk menjadi pendengar. saya asyik mendengar sambil mengawasi anak saya kalau-kalau terjatuh atau kram di kolam renang kan bahaya.

Tetapi sembari menjadi pengamat dan pendengar itulah saya menyadari bahwa sikap humble seperti anak-anak yang haus ilmu, dan kesediaan mendengar dan belajar sebagaimana anak saya dan teman-temannya yang belajar berenang pada instrukturnya itulah; yang akan menjadi jalan ilmu mengalir pada kita.

Ilmu itu seperti air, dia hanya mengalir ke tempat yang rendah.

Dan betapa berharga ilmu yang saya dapat dari perbincangan dua orang bapak-bapak di samping saya pagi ini. Meskipun saya termasuk mencuri dengar, ya soalnya mereka begitu dekat dan nyaring suaranya. Hehehe.

Tetapi, sesungguhnya ungkapan bahwa “Allah-lah yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam.” Dulunya saya anggap hanya kata mutiara.

Baru saya paham bahwa hal itu lebih dari sekedar kata-kata indah. Tetapi menjabarkan sebuah realita yang sebenar-benarnya.

Peribahasa bilang, “alam terkembang jadi guru”. Bagi yang sedia merendah dan mau mendengar.

Terutamanya setelah memahami konsep spiritualitas islam. Baru saya tahu bahwa keseluruhan cerita dalam hidup memang pengajaran dari Tuhan. Bingkai cerita, menceritakan DIA.

Dan setelah itu, saya temukan jejak-jejak tauhid itu tersebar banyak sekali dimana-mana.

Umpamanya saja pada kosmologi [1] dunia timur. Misalnya Taoisme. Baru saya paham bahwa taoisme itu pada -awalannya- adalah dekat sekali dengan konsep tauhid.

Dalam kebijakan timur, dikenal “yin dan yang”. Dualitas.

Dalam islam dikenal dualitas sifat jalal (agung) dan jamal (indah) lewat Asmaul Husna.

Sebagian orang, utamanya fuqaha, pendekatan keberagamaan mereka adalah dengan menekankan hukum melulu (condong pada sifat jalal atau keagungan Tuhan), sedangkan ahli hikmah, para arif menekankan pada welas asih (jamal), Rahmat Tuhan mendahului murkaNya.

Sebegitu pulalah dalam tradisi timur ada sebagian menggunakan pendekatan “yin” dan ada “yang”. Setidaknya itu sebatas yang saya tahu.

Tetapi, sebagaimana dalam islam kita tahu bahwa asmaul husna itu adalah “nama”.

Nama yang mewakili sifat-sifat fi’liyah Tuhan. Bukan Tuhan itu sendiri (nama atau sifat, bukanlah DIA). Allah SWT tetap tiada definisi.

Ternyata begitu juga dalam tao. Yin dan yang hanyalah nama, sejatinya Tuhan itu tunggal, esa, tak bisa dipersepsikan, dan sudah ada sebelum langit dan bumi.. Mereka menyebutnya TAO.

Indah sekali, ya?

Jejak-jejak tauhid terbaca di mana-mana.

Tetapi, tak ingin berpanjang kata mengenai sesuatu yang saya bukan pakarnya, intinya satu saja. Kenapa ada alam, kenapa ada kita?

Dalam kebijakan spiritual islam, bahwa pada mulaNya hanya ada DIA. DIA ingin dikenali, maka DIA menzahirkan makhluk.

Semua cerita yang terzahir, tergelar, temanya hanya satu, menceritakan DIA.

Dalam sikap kesediaan belajar, maka semua fragmen hidup akan memunculkan wisdom. Karena sesuai dengan tujuan penciptaan. DIA ingin dikenali, maka yang bersedia mendengar akan diajari.


[1] Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.

*) Image Sources

MIE AYAM, DUALITAS, DAN RAHMAT

mie-ayam[dropcap]M[/dropcap]omen apakah, di dalam hidup anda, rekan-rekan sekalian, yang paling bisa membuat anda bersyukur?

Saya pribadi, momen-momen “jeda” sejenak, dan santai dalam istirahat disela rutinitas dan kesibukan, bagi saya terasa sungguh indah.

Seperti hal sepele sih misalnya. Beristirahat di bawah tenda gerobak mie ayam, dan menikmati mie ayam dengan racikan yang pas. Lalu minum sebotol es the. Bagi saya itu sudah aduhai sekali. Momen-momen jeda dan santai, yang membuat saya kembali menemukan definisi kesyukuran dalam hidup. Saat dimana berdoa atau memuji Tuhan sebagai bentuk kesyukuran itu menemukan ekspresinya yang paling jujur.

Memang betul, bahwa dunia ini diisi dengan dualitas semu. Dualitas duka dan bahagia yang semu. Akan tetapi, selama duka dan bahagia yang semu itu, bisa menjadi jalan kita untuk “masuk” dalam ingatan kepada Allah SWT, maka berkah-lah kita.

Seorang guru mengatakan, bahwa sebagian orang banyak yang keliru mengira bahwa dualitas yang diciptakan Tuhan itu imbang. Ada duka tergelar, sebanyak bahagia tergelar. Ada murka sebanyak welas-asih. Menurut Sang Guru tersebut, Sejak awal Tuhan sudah melebihkan rahmat atas murka-Nya.

Sebagaimana satu hadits Rasulullah SAW, bahwa rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Dan sebagaimana masyhur kita dengar bahwa tersebab “satu” rahmat Tuhan dibagi rata di dunia ini, maka binatang buas tak memakan anaknya sendiri. Di akhirat nanti, masih ada 99 rahmat-Nya.[1]

Walhasil, dualitas dalam kehidupan ini (yang mana setiap dualitas adalah cerminan dari asmaul Husna) juga “pintu” mengingat-Nya.

Agar tak selalu memandang hidup dalam kacamata yang murung, barangkali rekan-rekan pembaca bisa mencobanya sendiri. Temukan sendiri, momen apapun saja dalam hidup anda, yang begitu rileks bagi anda, yang membuat anda merasakan benar ada rahmat dari Tuhan.

Bisa hal-hal yang besar, bisa hal-hal yang sepele. Duduk disana, nikmati suasana itu, dan bersyukurlah atas selubung sifat-sifat berupa rahmat yang DIA zahirkan itu.

Sehingga, kita tidak memandang hidup dalam kacamata yang terlalu duka.

Dalam bahasa yang sufistik, inilah kata Ibnu Athaillah as sakandari.

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau, jika kita belum mampu untuk berbaik sangka pada Tuhan dalam pengertian yang dalam akan kebijaksanaan diri-Nya, bolehlah, sebagai awalan, kita berbaik sangka pada Tuhan lewat jalan “melihat” kepada sisi rahmatNya yang kita rasakan secara real.

Kadang-kadang, ada jenak dimana kita begitu butek dan suntuk. Macam-macam ujian membuat kita memandang hidup dalam kacamata yang “murung”. Murung….kalau menimbulkan rasa fakir kepada Tuhan; itu bagus. Tapi murung yang menimbulkan putus asa dari rahmat; ini keliru.

Pendekatan paling dasar, adalah pendekatan lewat kerangka dualitas itu.

Jangan tengok pada ujiannya. Tengok pada sisi rahmat yang membalut kita. Karena dualitas yang dicipta itu, sejatinya tidak pernah balance.

DIA melebihkan sisi rahmat-Nya untuk mahkluqnya. Sebagaimana kita disunnahkan membaca “bismillahirrahmanirrahim”, yaitu memulakan hidup / memasuki dualitas hidup dalam baluran rahman dan rahim-Nya. Semua pekerjaan disuruh dimulakan dalam kacamata rahmat.

Jadi memang sejak awal kita tertuntunkan juga untuk memasuki gerbang rahmat itu. Dan kesadaran akan rahmat itu bisa mekar dari hal-hal yang remeh lho. Tak mesti hal yang tinggi dan terlalu filosofi.

Dan saya sangat menikmati itu. Mensyukuri rahmat-rahmat yang ceto dan jelas di sekitar kita. Sebagai riyadhoh sederhana menikmati hari. Umpama pintu. Melihat dari pintu depan, berarti adalah orang-orang yang masih terpandang pada dualitas duka dan bahagia. Itupun tak masalah, selama segala bentuk duka dan bahagia pada gilirannya menyampaikan pada-Nya

Tetapi tak lupa, tetap kita tapaki tangga-tangga spiritualitas yang di atasnya, seperti wejangan Guru-guru.

Langkah awal barangkali bersyukur atas sisi rahmat-Nya. Agar kita bisa masuk pada ingatan kepada Allah lewat pintu rahmat.

Tangga di atas itu, adalah menyadari bahwa rahmat yang terlihat lewat benda-benda, dan takdir hidup sekarang ini, sejatinya tak pernah benar-benar ada. Segalanya dimunculkan dari realita Ilahiah yang lepas dari kerangka dualitas. Yang tiada umpama. Demi (Dzat) yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dan jika kembali diibaratkan pintu, maka orang ini Melihat dari pintu belakang.

Orang yang sepenuh masa tidak lagi hirau pada dunia yang penuh dualitas. Karena mengerti bahwa segala dualitas sejatinya tidak pernah ada. Yang selalunya ada adalah Sang Pemilik yang tak bisa dideskripsikan dengan sifat-sifat yang dualitas.


[1] Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.”  (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

DAYA HIDUP DAN FILEM INDIA

nil-battey-sannata-collection

Seorang anak wanita usia SMA, terlahir dari keluarga yang marjinal. Ibunya seorang asisten rumah tangga. Anak itu tak punya semangat hidup. Tak punya cita-cita sama sekali. Karena baginya kehidupan hanyalah sebatas meneruskan jejak ibunya saja. Anak asisten rumah tangga tak perlu belajar karena nanti toh akan meneruskan jejak ibunya hanya jadi asisten rumah tangga. Begitu pemikiran anak itu.

Sang Ibu, begitu kecewa karena anaknya tak punya semangat juang, padahal Ibu itu banting tulang ingin membiayai anaknya.

Singkat cerita…namanya juga filem, saking inginnya Ibu itu mengajari anaknya supaya lulus sekolah dan bisa melanjutkan dengan beasiswa, Ibu itu kembali bersekolah juga. Lalu konflikpun dimulai. Sang anak kesal karena ibunya satu kelas dengan dia, keributan demi keributan di rumah terjadi, dan mereka bertaruh jika sang Ibu kalah, maka Ibunya harus keluar dan berhenti melakukan hal gila yaitu sekolah lagi itu. Dan sang Ibu mengatakan dia akan berhenti sekolah hanya jika sang anak mengalahkan nilainya dalam matematika.

Entah kapan terakhir saya nonton filem India. Barangkali waktu masih tenar-tenarnya film 3 Idiots. Sebelum itu, mungkin terakhir saya menonton pas saya SMA dulu. Saya bukan penikmat filem, tapi beberapa filem memang berkesan. Mayoritas yang berkesan buat saya adalah filem action semisal The Raid, Merantau-nya Iko Uwais, atau Ip-Man-nya Donnie Yen. Dan selain genre itu, ada beberapa filem yang berkesan dengan drama-nya yang mengharu biru, seperti Pursuit Of Happiness, dan baru saja kemarin saya menonton Filem India itu yang judulnya saya tak ingat Apa[1].

Saya tergerak menuliskan ini, bukan pengen buat resensi, melainkan karena tercenung dengan sebuah hikmah tentang “daya hidup”. Ambillah misalnya sebagai contoh cerita laskar pelangi, atau negeri lima menara yang menceritakan tentang perjuangan anak-anak yang marjinal untuk meraih penghidupan yang lebih baik. Semua mengisahkan tentang orang-orang yang punya “daya hidup”. Semangat mengalahkan keadaan. Tetapi, filem India yang saya sebut diatas tadi menyoroti tentang orang yang tak punya “daya hidup”.

Coba renungkan ini ya, jika orang tua sudah bersusah payah banting tulang membiayai anaknya, maka bagaimanakah bentuk penghargaan anak kepada orang tua? Salah satunya adalah dengan tidak mematikan “daya hidup” itu.

Kehilangan semangat dan nyala untuk belajar dan bertumbuh, bukan lagi sekedar urusan pribadi, tetapi dia menjadi sebuah sikap abai terhadap pengorbanan orang tua.

Menarik sekali, bahwa dalam sebuah hadits ada disebutkan tidak akan berterimakasih kepada Tuhan, jika seseorang itu tidak berterima kasih kepada manusia, alias yang menjadi jalan rizki mengalir padanya.[2]

Baru saya melihat koneksi itu, antara keberanian bercita-cita dengan koneksinya sebagai bentuk terimakasih kepada orang-orang yang mensupport kita, dan dalam kaitannya yang lebih spiritual lagi keberanian bercita-cita sebagai bentuk kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Kaya.

Urusan hasil itu belakangan, boleh jadi dapat boleh jadi tidak. Tetapi “daya hidup” itu tak boleh mati. Matinya kepercayaan dan daya hidup itu, itulah pengkhianatan kepada rasa terimakasih, pada manusia dan pada Tuhan.

Mengenai cita-cita, mengenai keinginan ini, setidaknya saya klasifikasikan menjadi beberapa tipe orang dalam menyikapinya.

Yang pertama, adalah tipe kebanyakan orang, yang ingin menggapai cita-cita maka mereka bekerja keras. Ini adalah tipe standar. Kerja keras mereka adalah ejawantah puzzle untuk menutupi kepingan yang kosong, yaitu keinginan. Keinginan dimaknai hanya sekedar sebagai penggerak aktivitas. Meskipun standar, ternyata tipe ini masih lebih baik daripada orang yang malas sama sekali.

Yang kedua, adalah tipe yang lebih dalam sedikit. Tipe ini, adalah orang yang mulai mengerti bahwa keinginan itu adalah sumber penderitaan. Seperti lagunya Bang Iwan Fals. Duka, itu adalah salah satu sisi yang pasti berkaitan dengan keinginan. Itu sebab, bagaimana cara mengurangi duka? Yaitu dengan mengurangi keinginan. Yah… logis juga sih, sedikit keinginan, sedikit pula duka. Untuk mencapai tipe kedua ini, seseorang harus membongkar paradigmanya yang pertama yang terlalu materialis, menjadi paradigma yang sedikit lebih spiritual. Tetapi berhenti disini belum selesai.

Yang ketiga, tipe ini melintasi golongan pertama dan kedua. Mereka tidak melihat bahwa kerja keraslah yang menghantarkan kepada pencapaian cita-cita. Mereka tidak pula melihat bahwa keinginan adalah wajah lain dari duka nestapa. Tetapi mereka melihat keinginan sebagai jendela rasa syukur. Mereka memaknai keinginan sebagai isyarat pemberian. Sebagaimana Umar Bin Khattab berkata, aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a maka aku tahu pengabulan bersamanya.

Keinginan yang murni, itu adalah sesuatu yang “diilhamkan” pada manusia karena DIA ingin dunia ini bergerak.

Analogi sederhana untuk memahami cara pandang golongan ini adalah analogi filem itu tadi. Jika orangtuamu bersusah payah membiayai sekolahmu, maka ketakutan untuk berharap dan hilangnya semangat atau “daya hidup” adalah pelecehan terhadap kerja keras orang tuamu. Maka semangat tidak boleh mati.

Dalam garis singgungnya yang lebih spiritual, ketakutan untuk berharap, adalah karena ketidak mengertian akan Kekayaan Tuhan. Ini perkara “daya hidup”-nya ya, kalau masalah harapan itu terjadi atau tidak itu lain soal. Tetapi “daya hidup” itu. Semangat itu, dia jangan mati. Karena yang melihat kepada Al-Ghaniy, Sang Maha Kaya, dia tak akan kehilangan harapan.

Seseorang makan, dan minum, karena sebuah dorongan “lapar”. Begitupun seseorang bekerja, karena dorongan “kebutuhan”. Dan seseorang bergerak bertumbuh, karena dorongan “cita-cita”. Baik lapar, kebutuhan lainnya, ataupun cita-cita, semua hanyalah bentukan lain dari “daya hidup”. Daya yang diadakan oleh Tuhan agar kehidupan mengalir dalam gerak.

Boleh jadi, keinginan seseorang tidak melulu berkaitan dengan harta ya. Boleh jadi pusaran keinginan hidup orang itu adalah ilmu. Bisa…. Orang itu bisa bertumbuh menjadi orang yang berkontribusi terhadap hidup lewat ilmunya. Sebutlah sekian deret ulama dan orang-orang Shalih, Ibnu Khaldun, Ibnu Qayyim, Bukhari. Siapapun…. Sebutlah misalnya para ilmuwan, Newton, Archimedes, Galileo, Al Khawarizmi.

Semuanya menjadi bertumbuh karena keinginan. Tetapi keinginan, oleh para arifin dimaknai secara spiritual sebagai “ilham” yang diturunkan karena DIA ingin dunia ini bergerak menceritakan diriNYA.

Pencapaian para para arif sepanjang sejarah. Rumi misalnya, Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Athaillah….mereka tidak bisa hanya hadir lalu hilang? Mereka akan “dipaksa” oleh kekuatan itu untuk bertumbuh dan meninggalkan jejak. Daya hidup yang membuat seseorang menjadi produktif. Yang menghantarkan seseorang memainkan porsinya di dalam kehidupan ini. Seperti arloji, setiap orang memainkan tariannya sendiri, ada peran, ada porsi.

Tetapi daya hidup tak boleh mati. Spiritualitas yang mematikan daya hidup itulah yang hemat saya dilarang oleh Rasulullah SAW. Saat seorang sahabat dilaporkan hidup dalam sikap kerahiban yang melulu ibadah sampai melupakan segala sesuatu. Tetapi kemudian ditegur. Jangan begitu, islam tak memperbolehkan hidup dalam kerahiban.

Siklusnya menarik sekali. Dari yang pertama produktif tetapi materialis, lalu menjadi abai terhadap hidup karena spiritualis tapi belum selesai, lalu kembali menjadi produktif karena dialiri ilham-ilham kebaikan. Spiritual yang selesai. Kalau betul seseorang itu spiritualis, saya rasa pasti melimpah ruah daya hidup padanya. Dihujani ilham-ilham kebaikan.


[1] Belakangan saya search ulang di mbah google dan menemukan kembali ternyata judul filem ini adalah Nil Battey Sannata

[2] “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

Image sources

SAFETY FIRST; JANGAN HIDUP DALAM KEBIASAAN MENGHUJAT

safety2Jaman sekarang ini betapa kita sudah dimudahkan dengan teknologi. Misalnya saya dari mall terdekat ke rumah bisa naik gojek, tak pakai lama langsung datang. Semua serba cepat dan instan. Begitupun informasi, serba cepat datang ke beranda laman sosial kita.

Akan tetapi yang mengkhawatirkan bagi saya adalah muatan negatif dari kecepatan informasi yang datang itu.

Setiap hari dibombardir dengan berita kopi sianida, dengan berita masa lalu seseorang yang entah mana yang benar mana yang tidak, lalu saling hujat di instagram, lalu pembully-an secara masif di facebook, path, dan segala lini sosial media lainnya. Hal ini belum termasuk berita politik yang dua kubu terus bertempur. Belum lagi berita hoax religi. Belum lagi setiap kubu membid’ahkan satu dan lainnya.

Rasanya seperti makin hari makin kehabisan berita positif.

Kita membenci gejala seperti ini bukan karena kita orang suci, justru saya mengeluhkan gejala ini karena paham betul bahwa diri pribadi ini condong kepada sesuatu yang buruk. Kita semua pendosa, yang sedang meniti jalan pulang.

Kalau terus menerus terpapar dunia yang seperti ini ya lama-lama pasti meniru juga. Ini alamiah sekali.

Anggaplah sebagai misal, dalam dunia perkantoran. Kadang-kadang tanpa disengaja secara refleks saya seringkali juga mengucapkan kekesalan pada sebagian kebijakan dan cara memimpin bos di kantor, dan saat tersadar baru kemudian istighfar dan menghentikan diri dari menghujat baik samar maupun tersurat.

Menghujat jadi gerak refleks. Lha ini piye….. Barangkali ada kekeliruan approach atau pendekatan secara spiritual.

Dari sisi sebagai pelaku, memang sudah banyak yang memberi tahu bahwa jelek sekali tabiat saling hujat menghujat itu. Sudah banyak yang menyoroti hal itu.

Tetapi dari sisi kita sebagai korban dunia informasi yang begitu masif dan brutal ini, rasanya kita harus jaga diri baik-baik. sebagaimana “you are what you eat”, sebegitu juga “you are what you read”.

Saya tertarik menyoroti ini lewat approachsafety” atau “keselamatan kerja” di dunia Migas.

Dalam dunia migas, dan dunia kerja pada umumnya, sering disosialisasikan mengenai “safety” atau keselamatan kerja.

Dalam salah satu kajian keselamatan kerja, dikatakan bahwa untuk mencegah diri kita dari bahaya, ada beberapa lapis tindakan yang kita harus lakukan.

Konsentrasinya bukan dari memperkuat diri sendiri. Tetapi menyadari bahwa keselamatan adalah sebuah proses integral dari hulu sampai hilir. Mencegah dengan mengupayakan keselamatan agar terjadi sejak dari sumber bahayanya. Dimulai dari yang terjauh dari diri kita, yaitu “engineering control”. Atau mengeliminasi bahaya sejak dari sourcenya atau sumbernya itu sendiri.

Misalnya ada kemungkinan benda jatuh menimpa kepala kita, maka langkah pertama bukan memperkuat kepala kita dengan senam otot. Melainkan benerin itu posisi bendanya biar tidak rentan jatuh. Dari hulu dulu.

Kalau dikaitkan dengan dunia informasi, maka seharusnya bahaya informasi sudah disaring sejak dari sumber beritanya itu sendiri. Tapi kan itu di luar kuasa kita sebagai penerima informasi. Okelah kita skip yang satu itu.

Langkah kedua adalah dengan “safe working practices”, atau prosedur kerja yang aman. Dalam hal ini kita sebagai penerima info bisa ambil bagian, dengan membiasakan mengenyahkan semua situs tak kredibel dari laman news feed kita. Atau membiasakan searching berita-berita baik.

Langkah berikutnya adalah “Personnel Protective Equipment”, alias alat pelindung diri misalnya helm, baju coverall. Kalau kaitannya dengan spiritualitas saya rasa ini adalah domainnya ibadah. Misalnya puasa. Dzikrullah….dsb.

Melihat pola semacam ini, dan kaitannya dengan spiritualitas, saya rasa sebenarnya pendekatan keselamatan di dunia industri itu senada dengan tuntunan islam.

Anggaplah misalnya ada sekumpulan berita datang kepada kita, entah dari media online, entah dari desas-desus tak jelas, kabar burung gosip, sebisa mungkin kita skip saja. Menjauh. Kalau ga menjauh kan nanti ikut-ikut membahas, karena seru, hehehe.

Baru kemudian kalau tetap disana pun pastikan kita sudah mengenakan alat pelindung diri berupa ingatan yang terpancang kukuh pada Allah, bisa juga kita sedang puasa, dsb….yang mana hal itu adalah lini berikutnya dari perlindungan diri.

Kekeliruan saya, selama ini adalah mengira bahwa memperkuat diri adalah satu-satunya prosedur keamanan spiritualitas saya. Mengira ibadah –semata– adalah kuncinya. Dan ini keliru sekali.

Karena mengira diri sudah hebat dengan ibadahnya, sudah tahu ada sumber keburukan malah berdiam di dekatnya. Ya otomatis godaan lebih kuat dong ya. Meskipun sibuk dzikir atau sibuk puasa.

Yang benar adalah pelindung diri ya dipake, tapi kemudian prosedur lainnya juga dikerjakan, menjauh dari sumber bahayanya, syukur-syukur punya akses sampai menghilangkan sumber bahaya secara total. Tetapi itu untuk level yang lebih advance dan ada pra syarat yang harus digenapi.

Saya rasa approach islam pun seperti itu. Integral. Menyeluruh. Dan sisi kemenyeluruhan itu yang saya sering lupa.

Saya kira intinya adalah mengandalkan diri, ternyata bukan, melainkan kepatuhan terhadap tatanan proseslah yang menjaminkan keselamatan kita, tentunya dengan seizin Allah.

Jadi kita sama sekali bukan orang hebat, hanya pendosa meniti jalan pulang, yang secara beruntung telah terpagari oleh proses dan tatanan keselamatan spiritual yang sudah digariskan.


Image Sources

APA BEDANYA SPIRITUALITAS DAN REKAYASA KEJIWAAN?

14344809_10155772024997925_1202872950612700110_n

Suatu kali, istri saya bertanya kepada saya mengenai gramatikal sebuah lirik lagu, “Mas…kenapa pakai ‘walk it out’, kenapa ga pakai ‘walk it off’ “, tanyanya pada saya.
Saya, yang memang pada dasarnya tidak memiliki kemampuan lebih di grammar bahasa inggris, tentu saja bingung, hehehe…. Saya ga tahu jawabannya. Paling jauh, saya katakan bahwa itu gaya bahasa saja, bisa dua-duanya. Jawaban klasik.

Tetapi intinya bukan pada grammar-nya, melainkan pada “cara belajar”.

Istri saya, orang yang sangat tekstual, dia tidak bisa melanjutkan membaca lirik lagu, atau potongan paragraf berbahasa inggris jika dia melihat ada satu dua kata atau frasa yang dia tidak mengerti maksudnya.

Sedangkan saya, orang yang kebalikannya. Saya bisa menikmati satu artikel utuh, meskipun banyak di dalamnya kata atau frasa yang tak saya mengerti arti akuratnya, tetapi saya skip saja, dan saya tetap bisa menangkap isi cerita dalam artikel itu.

Saya katakan kepada istri saya, bahwa setiap orang harus mengenali pola pada dirinya sendiri. Mengenali pola, cara belajar, kebiasaan diri, sikap mental diri sendiri, itu bagian dari “mencari jati diri”. Setidaknya dalam versinya yang lebih sederhana.

Saya teringat sewaktu saya baru pertama kali masuk kerja. Sembilan tahun lalu. Saya satu kamar dengan seorang rekan yang dalam pandangan saya luar biasa pintarnya. Dan dia termasuk orang yang pintar sekaligus mengerti filosofi sebuah ilmu. Jadi dia tidak hanya mengerti cara mengerjakan sebuah hitungan matematika, tetapi juga mengerti apa gunanya hitungan matematis itu dalam dunia kenyataan, dan bisa pula dia jelaskan kepada saya secara apik.

Suatu kali, saya dan rekan-rekan lainnya hendak jalan-jalan waktu itu, tetapi dia masih saja berkutat dengan bukunya. Padahal ujian masih seminggu lagi. Bagi saya itu berlebihan, hahaha…. Saya sistem kebut semalam.

Saya katakan padanya, ayolah keluar sebentar dan berjalan-jalan, toh saya tahu betul kapasitasnya, dia itu orang yang sangat pintar. Dia pasti lancar dalam ujian.

Tetapi jawabannya waktu itu sungguh mengagetkan saya, katanya, “Aku tahu kelemahanku sendiri, aku ini kalau menangkap suatu pelajaran lebih lambat dari kalian-kalian, itu sebabnya aku harus mengulang pelajaran jauh lebih banyak dari kalian yang lebih cepat menangkap pelajaran dibanding aku”.

Saya tahu betul, waktu itu dia tidak sedang bercanda atau menembakkan kalimat satire. Dia sungguh jujur. Dan dari sanalah saya mengenali dia sebagai seseorang yang mengerti betul tentang dirinya sendiri. Kenal diri.

Mengerti kelemahan diri, atau mengerti pola pada diri sendiri, pada gilirannya bisa mengubah sesuatu yang tadinya kelemahan menjadi strong point alias menjadi kekuatan unik kita masing-masing.

Pola kerja kejiwaan masing-masing jangan disangkal. Penyangkalan terhadap pola kerja kejiwaan masing-masing malah akan kontra produktif.

Kalau memang kita orang yang tekstual, tak apa, maka berarti kita hanya harus menghabiskan jauh lebih banyak waktu ketimbang orang yang tidak tekstual.

Kita belajar lebih dulu dari orang-orang kebanyakan, dan selesailah lebih akhir dari orang-orang kebanyakan, karena kita memang tipikal seperti itu. Butuh mengerti detail teks-nya.

Akan tetapi, dari sana justru akan lahir kekuatan, yaitu kemampuan kita untuk mengetahui detail makna kata per kata.

Dari sisi spiritualitas, pengenalan terhadap pola kerja diri sendiri ini, adalah sesuatu yang juga sangat mustahak alias sangat penting.

Orang barat, mengatakan hal ini sebagai “inner engineering”, rekayasa “dalam”, rekayasa kejiwaan.

Maksudnya adalah dengan mengetahui pola kerja diri sendiri, bagaimana fikiran bekerja, bagaimana emosi bekerja, maka kita bisa memanfaatkan atau membuat diri kita sendiri berjalan dengan lebih efisien dan optimal.

Contohnya, dengan mengetahui bahwa emosi sebenarnya adalah sesuatu yang muncul sebagai imbas dari fikiran, maka kalau datang emosi, yang harus diatasi sebenarnya bukan emosinya, melainkan fikirannya dulu. Logis, bukan?

Kalau kita sedang marah, marah itu emosi, emosi terbit dari fikiran, maka kalahkan fikiran marahnya dulu. Misalnya dengan memikirkan hal lainnya yang menyenangkan. Atau dengan mensuplai diri dengan data-data yang membuat kita tidak jadi marah. Misalnya alasan-alasan mengapa hal itu terjadi. Alasan-alasan mengapa seseorang itu kok nyebelin, barangkali dia tidak bermaksud begitu. Dan seterusnya. Itu adalah inner engineering. Itu logis.

Dalam literatur islam pun ada. Contohnya sebuah hadits yang masyhur. Kalau kita sedang marah, maka dari posisi berdiri kita duduk. Kalau pas duduk masih marah, kita berbaring. Bisa juga dengan wudhu. Ini semua juga inner engineering. [1]

Polanya saya rasa, fikiran menerbitkan emosi, lalu emosi menyetir fisik. Kalau kita bisa “engineering” rekayasa agar fisik ditenangkan, maka dia akan berlaku alur kebalikannya, dari fisik yang tenang, lalu emosi reda, lalu fikiran menjadi lega. Logis…. Inner engineering.

Akan tetapi, satu hal yang saya kira penting adalah agar kita tidak mencampurkan antara inner engineering ini, kemampuan mengenal sistem kerja diri sendiri ini, dengan spiritualitas yang bernuansa ubudiyah, penghambaan, ibadah.

Jika kita sudah masuk dalam ranah ubudiyah, dianya harus lurus, jangan sekali-kali melenceng tercampur dengan sesuatu yang berbau inner engineering ini, jangan tercampur dengan apapun.

Seperti halnya, kita bisa saja, duduk diam dan membayangkan bahwa kita sedang ada di pantai. Membayangkan kita sedang ada di kamar kita yang nyaman, saat sesungguhnya kita sedang ada di bus yang penuh sesak dan menyebalkan. Kita bisa terlepas dari suasana sesak yang menyebalkan itu jika kita melakukan inner engineering seperti tadi. Bisa dan logis.

Tetapi, dengan melakukan itu tidak membuat kita menjadi seorang yang spiritualis. Karena, bagaimanapun teknik rekayasa kejiwaan itu bukan sikap ubudiyah. Dianya hanya ketrampilan mengenali pola kerja pada diri sendiri.

Tetapi, sikap denial, sikap pengabaian sama sekali pada ilmu-ilmu itu juga kontra produktif, karena secara natural, manusia sebenarnya melakukan inner engineering tanpa dia sadari.

Saat seseorang sedang grogi atau cemas, dia akan menyibukkan dirinya dengan gerak. Memlintir rambutnya sendiri. Atau bergumam. Atau jalan kesana-sini untuk menetralisir cemasnya. Itu semua alamiah.

Tetapi, semua itu saya rasa baru akan berubah menjadi bernilai ubudiyah saat kita sudah mengaitkan konteks kejadian apapun dengan Tuhan. Di dalam gelisah, kita bisa pergi ke tempat yang nyaman, kita bisa cari tempat duduk yang rileks, kita bisa saja minum teh agar lebih santai, tetapi sikap ubudiyah adalah mengingati Tuhan, lalu menyadari bahwa yang terjadi hanyalah cara DIA bercerita, dan segala hal praktis yang kita kerjakan secara fisikal dalam bentuk aksi adalah semata bentuk kita bersandar kepada DIA.

Hanya dengan mengunci ingatan kita kepada DIA-lah, maka aspek engineering apapun saja, dan aspek aksi apapun saja akan bisa bernilai ubudiyah. Tanpa itu, kita mengira melakukan spiritualitas ternyata tak lebih dari mental game.


[1] Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hindin dari Abu Harb bin Abu Aswad dari Abu Aswad dari Abu Dzar dia berkata, “Ketika dia sedang mengambil air di kolam miliknya, datanglah sekelompok orang yang salah seorang dari mereka berkata, “Siapakah di antara kalian yang akan menghampiri Abu Dzar dan mengambil rambut kepalanya?” lalu seseorang berkata, “Saya!” Kemudian laki-laki itu mendatangi Abu Dzar, ia lalu melewati kolam dan memukul airnya. Saat itu Abu Dzar dalam kondisi tegak berdiri, kemudian dia duduk dan berbaring, maka ditanyalah ia, “Wahai Abu Dzar, kenapa kamu duduk kemudian berbaring?” Abu Dzar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami: “Jika salah seorang di antara kalian marah sementara ia sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika kemarahan itu reda (itulah yang diharapkan), jika tidak maka hendaklah ia berbaring.” (H.R. Ahmad No.20386)

*) Gambar ilustrasi saya ambil dari hape saat sedang bertugas di Balikpapan.

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (4)

pilgrimage“Knowing weaknesses is a sign of success” kata salah seorang pimpinan di kantor kepada saya, waktu saya menolak diamanahi sebuah jabatan di kantor. Saya berdalih waktu itu bahwa saya mengetahui kelemahan saya, maka saya lebih suka jika orang lain saja yang menduduki posisi yang ditawarkan pada saya itu. Menurut saya, saya tak terlalu tepat menjabat pada posisi itu.

Akan tetapi, jawaban retoris dari pimpinan saya itu membuat saya sungguh sulit berkelit, “mengetahui kelemahan diri adalah ciri kesuksesan”, begitu katanya.

Dari dialah saya pertama kali mengetahui elaborasi lebih dalam dari istilah “self change” (perubahan diri) dan apa bedanya dengan “self awareness” (mawas diri).

Pengenalan manusia pada dirinya sendiri, sifat, karakter, adalah sungguh sebuah proses panjang. Dan dalam pengenalan itu, manusia akan mengetahui bahwa kumpulan sifat dan karakter yang membentuk kepribadian dirinya sesungguhnya adalah rekam jejak pengalaman hidupnya sendiri.

Kepribadian, dan karakter, tak perlu semuanya diubah selama tidak bertabrakan dengan syar’i dan norma masyarakat. Tetapi wajib kita memiliki sikap mawas diri (awareness).

Kembali kita bahasakan dengan sederhana mengenai “karakter” (character) dan bedanya dengan kepribadian (personality).

Kepribadian itu kurang lebih sisi yang lebih dalam dari pengalaman hidup manusia. Seperti gunung es. Kepribadian adalah sisi besar yang terendam dalam lautan, sedangkan karakter adalah sisi yang tertampil di luar dan terlihat oleh orang lain.

iceberg1

Makanya kita mengenal istilah “Pembangunan Karakter” atau character building. Karena yang bisa diubah sebenarnya bagaimana manusia menampilkan sisi terluarnya (karakter) dalam kaitannya dengan interaksi terhadap manusia lain.

Tetapi gunung kepribadian yang dalam itu, seringkali tidak bisa diubah, akibat dari puluhan tahun kita besar dan hidup dalam konteks dan situasi tertentu. Membentuk kepribadian kita.

Yang manusia bisa lakukan terhadap bagian dari dirinya yang tak bisa diubah adalah bersikap mawas akan dirinya sendiri, mawas diri alias self awareness. Dalam bahasa jawanya “Waspodo”.

Ada dua cara untuk mawas diri, sejauh yang saya amati.

Cara pertama adalah mendengar input dari luar. Misalnya, dalam sesi saling memberi masukan kepada teman, kita diberitahu bahwa kita itu jarang menegur kalau bertemu orang lain. Kita itu jarang tersenyum. Dsb….. Atau mengikuti tes psikologi.

Masukan dari orang lain itu membantu kita mawas diri. Oooh….ternyata menurut kacamata orang lain saya ini jarang tersenyum, saya jarang menegur sehingga terkesan sombong.

Maka kita menyesuaikan diri, dengan memperbanyak menegur orang-orang, memperbanyak senyum sehingga citra sombong akan perlahan hilang dari diri kita.

Pertanyaannya apakah sebenarnya kita memang sombong? Boleh jadi tidak begitu. Boleh jadi kepribadian kita adalah orang yang penyayang dan penuh welas asih kepada sesama.

Tetapi, bagaimanapun juga yang dibaca oleh orang lain adalah apa yang tertampil, maka agar tidak membuat orang salah paham, kita harus melatih bagaimana kita menampilkan kebaikan dalam bahasa yang oleh orang lain juga diterjemahkan sebagai kebaikan.

Belajar bahasanya masyarakat. Normanya masyarakat.

Menampilkan ramah dalam bahasa yang juga diterjemahkan orang lain sebagai keramahan.

Ini bukan mencari pujian, akan tetapi belajar berbahasa dalam bentuknya yang lain. Belajar mawas diri.

Saya rasa, inilah salah satu hikmah dari anjuran islam untuk berbuat amar ma’ruf.

Tadinya saya tidak paham apa itu amar ma’ruf, baru sekarang saya mengerti bahwa amar ma’ruf adalah berbuat sesuatu kebaikan yang lumrah pada masyarakat, yang sesuai dengan tata nilai dan norma masyarakat -selagi sesuai syar’i- maka kita lakukan. Itu amar ma’ruf.

Misalnya, sopan menurut tata budaya sunda adalah kalau lewat di depan orang lain kita membungkuk dan bilang “punteun“. Ini tidak melanggar syar’i. Dan baik.

Meskipun kita orang sumatera, maka kita amar ma’ruf dengan melakukan tatanan norma sunda kalau kita sedang di Bandung misalnya.

Itu namanya belajar mawas diri. Bukan mencari pujian, akan tetapi kita mawas diri bahwa kita sedang berada pada sebuah daerah dengan konteks tata norma yang berbeda dengan budaya kita sebelumnya. Ini amar ma’ruf.

Apakah dengan begitu kepribadian kita berubah? Belum tentu berubah. Hanya saja karakter berubah, hanya saja citra diri yang terpandang oleh orang lain berubah dan kita tidak membuat masyarakat keliru menyangka kita sebagai orang sombong tersebab kita enggan berbuat amar ma’ruf.

Itu cara mawas diri pertama. Mendengar input dari luar, lalu membiasakan diri melakukan amar ma’ruf yang sesuai dengan norma lingkungan. Membahasakan kebaikan dalam gesture dan laku yang juga dimaknai sebagai kebaikan oleh lingkungan kita.

Cara mawas diri kedua adalah dengan rajin-rajin. “masuk” ke dalam diri sendiri. Tafakur. Merenungi diri. Tazkiyatun nafs. Dzikrullah. Sampai kita mencapai kondisi mindfulness (kesadaran meningkat dan sangat waspada).

Dalam kondisi mindfullness maka seseorang akan menjadi begitu sadar dan “awas” terhadap berbagai elemen dirinya sendiri.

Dia “awas” terhadap gerak-gerik fikiran dan emosinya sendiri. Dengan begitu, maka seseorang menjadi mawas diri dengan sendirinya.

Sejauh pengamatan saya, cara kedua inilah yang akan mampu merubah jauh lebih dalam.

Barangkali kepribadian memang tidak berubah total, akan tetapi perubahannya bisa lebih drastis ketimbang latihan cara pertama -semata-.

Dalam literatur para arifin bahkan dikenal istilah wali abdal. Abdal berasal dari kata badal (alias pertukaran). Shifting paradigm. Cara pandang hidup berubah total. Seseorang yang cara pandangnya berubah secara totalitas, dan dengan itu dia menjadi sangat dekat pada Allah, mencapai taraf aulia.

Dan kedudukan semacam itu saya rasa sulit jika hanya memraktekkan mawas diri tipe pertama. Dia mesti memraktekkan mawas diri tipe kedua, yaitu rajin-rajin “masuk” ke dalam diri sendiri, tafakur, dan Dzikrullah.

Pada akhirnya. Pengetahuan mengenai keduanya baik untuk kita miliki.

Dalam kaitannya dengan berinteraksi pada masyarakat kita belajar mawas diri dengan amar ma’ruf.

Dan lebih lanjut, kita banyak-banyak tafakur dan Dzikrullah sehingga mencapai kondisi mawas diri yang lebih dalam lagi.

Kesalahan saya, setelah saya teliti, adalah melulu belajar tafakur, akan tetapi kurang pandai mawas diri dalam tataran amar ma’ruf yang sesuai dengan bahasa masyarakat. ini PR besar, dan harus pelan-pelan dibenahi.

Menarik sekali.


Image sources

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (3)

pilgrimageBekerja di sebuah kontraktor Migas membuat saya berkesempatan berkomunikasi dengan macam-macam tipikal client. Dari macam-macam tipikal itu kadang-kadang saya bersinggungan dengan satu dua yang memiliki gesture kesombongan yang kurang nyaman.

Satu hal yang saya sempat kaget juga sebenarnya bukan sombongnya seseorang, akan tetapi stigma bahwa si A itu adalah orang yang sombong begitu melekat di benak saya sampai berbilang tahun. Dan baru saya sadari bahwa saya masih memendam stigma negatif itu pada seseorang; setelah sekian tahun tidak bertemu kemudian sempat berjumpa kembali karena salah satu urusan kantor.

Derrrrr begitu ketemu, penilaian negatif yang saya sematkan padanya dulu langsung keluar.

Padahal, setelah saya cermati, seseorang yang dulu menorehkan kesan sombong di mata saya itu, kini tak terlihat kesan sombongnya. Dia menjadi orang yang begitu biasa.

Artinya, yang saat ini bermasalah bukan lagi saya dan sikap orang itu, melainkan saya dan memori masa silam saya sendiri.

Ada banyak cara yang bisa dipraktekkan untuk mengoreksi pemaknaan terhadap memori masa silam. Sepanjang yang saya amati dan cermati dari diri saya pribadi dan dari yang saya baca, kesemuanya mengharuskan kita di “masa kini” memiliki paradigma atau cara pandang yang jernih dan lebih kuat atau lebih tinggi dari paradigma masa silam kita. Lalu kita mengenang masa silam sambil memberi pemaknaan yang baru.

“Mungkin orang tersebut dulunya masih muda dan euforia, wajarlah begitu”……boleh jadi itu salah satu bentuk pemaknaan baru.

“Mungkin orang tersebut dulu tak berniat sombong, tetapi tanpa sadar terlihat sombong oleh sebab gesture budaya yang berbeda”…..boleh juga dimaknai begitu.

Atau yang lebih advance……”kalau saya memaafkan orang tersebut, maka pahala dari Allah sudah tentu didapatkan. Derajat menjadi tinggi.”

Atau yang advance lagi……”bahwa orang itu, dan kita di masa silam hanyalah bagian dari plot cerita yang Allah zahirkan untuk menceritakan diri-Nya sendiri. Ceritanya mesti terjadi. Apa yang terjadi pasti berhikmah.”

Bolehlah pakai paradigma yang manapun saja sesuai maqom kita masing-masing. Pada pokoknya ternyata yang harus kita pahami bahwa paradigma kita sebisa mungkin mesti meningkat. Jangan stagnan. Dan untuk meningkatnya cara pandang itu perlu dua hal, perlu ilmu dan hikmah.

Saya juga baru-baru ini memahami bahwa ilmu dan hikmah itu dua hal yang berbeda tetapi berkaitan.

Ilmu, adalah “pengetahuan”, gampangnya kita katakan saja informasi. Data-data. KNOWLEDGE.

Akan tetapi, mengetahui informasi semata, memiliki ribuan data-data semata, tidak membuat seseorang memiliki kemampuan untuk memutuskan secara benar, untuk melihat hubung-kait antara data satu dan lainnya, untuk melihat pola besar dari kumpulan data. Kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai, analisa, dan memutuskan secara tepat itulah “hikmah”. Kebijaksanaan. WISDOM.

Banyak tahu (knowledge) tidak membuat seseorang secara otomatis memiliki hikmah (wisdom).

Dan hikmah ini, ternyata sepaket dengan rahmat. [1]

Jika diberikan hikmah, (tak semata knowledge melainkan juga diberikan kemampuan memetik makna dan mengerti hubung-kait antara data-data), maka berarti seseorang mendapatkan rahmat alias welas asih Tuhan.

Itu sebab saya rasa, asma Alimul Hakim dipasangkan. Bahwa selain dari mengetahui perbendaharaan segala data-data knowledge, Allah-pun Hakiim, bijaksana, wise. Memiliki hikmah.

Jadi untuk meningkat paradigma kita perlu tahu (knowledge), tapi semata tahu tidaklah cukup, perlu juga hikmah (wisdom). Dan ilmu beserta hikmah itu adalah bentuk rahmat Tuhan.

Kalau kita mendekati Yang Punya Rahmat, dengan sikap yang sama, yaitu sebisa-bisanya welas asih pada makhluq-Nya, maka tinggal menunggu giliran semoga Tuhan mengucurkan pada kita ilmu dan hikmat kebijaksanaan pada momennya yang tepat.

Tetapi barangkali itu tadi syaratnya. Orang yang welas asih, mestilah sering blusukan ke dalam diri, dan jangan menyimpan benci dendam. Ini PR buat kita, apalagi buat saya.


[1] Artinya : Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. ( Q.S. Al Baqarah : 269)

TERNYATA KITA PEMAIN DRAMA

Tercatat dalam sejarah, Sarah adalah wanita tercantik di masanya. Ibunda Sarah, istri Nabi Ibrahim a.s. itu bahkan sampai sempat diinginkan oleh penguasa mesir kala itu, sewaktu Ibrahim dan Sarah berkunjung ke mesir.

Dari berbagai sumber, utamanya dari Ibnu Katsir, dikatakan bahwa saat itu Ibrahim a.s. harus berbohong untuk melindungi Sarah dari cengkraman penguasa mesir (Fir’aun) kala itu. Karena kebiasaan penguasa mesir itu dalam merampas orang-orang cantik adalah dengan memaksa suaminya menceraikannya, tetapi mendiamkannya jika ternyata sang wanita adalah saudari dari seorang yang dikenalnya.

Itu sebab Ibrahim a.s. berbohong dengan mengatakan bahwa sarah adalah “saudari”nya, saat ditanyai “siapa wanita itu?”.

Ibrahim berbohong dengan maksud perkataan yang disimpangkannya, yaitu Sarah adalah “saudari seiman”, karena hanya mereka berdua yang mukmin.

Cerita punya cerita, selain dari upaya Ibrahim a.s. bersiasat untuk mellindungi Sarah, tercatat juga keutamaan Sarah terlihat dari pertolongan Allah SWT pada Sarah. Saat penguasa mesir hendak mengganggunya, setiap itu pula sang Fir’aun lumpuh, dan baru terlepas saat Sarah berkata kepada Allah SWT kalau sampai Fir’aun ini mati karena lumpuh, bisa-bisa dialah yang akan dituduh telah membunuh Fir’aun tersebut. Sampai kemudian sembuhlah fir’aun. Lalu kembali Fir’aun ingin menggoda Sarah, tetapi kejadian yang sama berulang, sampai kemudian Sarah merasa takut bahwa kelak dia akan dituduh membunuh Fir’aun, lalu sang Fir’aun disembuhkan semula, begitu berulang-ulang.[1]

Continue reading