MEMASUKI GERBANG JAMAL (2)

Jika melihat ke angkasa lepas, dan mencoba membandingkan skala bumi dan planet-planet lainnya, barulah kita mengerti bahwa kita tidak hidup dalam sebuah konteks yang sempit, melainkan kita adalah bagian dari alam semesta yang begitu besar dan rapih.

Ilmuwan mengatakan, bahwa planet saturnus 945% lebih besar dari ukuran bumi kita, uranus 400% lebih besar dari bumi, Jupiter 1,120% lebih besar dari bumi. Sederhananya, kita hanya bagian yang begitu kecil dari sistem tata surya kita sendiri. Yaitu matahari yang dikelilingi planet-planet yang berputar mengelilinginya. Revolusi, perputaran yang dari berjuta tahun dulu sampai sekarang masih berjalan, tanpa tersendat.

Kita berbicara itu dalam skala perbandingan bumi dan planet lain dalam tata surya yang sama, kita belum lagi menyentuh soal manusia.

Manusia?

Dalam konteks alam semesta yang besar ini, seperti debu, mungkin lebih kecil dari debu. Sulit sekali membayangkannya.

solar system

[[Eight planets and a dwarf planet in our Solar System, approximately to scale. Pluto is a dwarf planet at far right. At far left is the Sun. The planets are, from left, Mercury, Venus, Earth, Mars, Jupiter, Saturn, Uranus and Neptune. Credit: Lunar and Planetary Institute]][1]

Itu tentang bumi yang baru kita lihat dalam perbandingannya yang indah dengan tata surya.

Sementara di alam semesta ini bertrilliun tata surya. Tata surya kita sendiri berada di dalam sebuah galaksi, bima sakti atau Milky Way.

Milky Way, menurut para saintis terdiri dari sekira 100 hingga 400 milyar bintang-bintang.[2]

Diameter Milky Way ini sekira seratus ribu atau seratus dua puluh ribu tahun cahaya. Jikalah kita bisa menunggangi cahaya, maka dengan kendaraan secepat cahaya itu kita butuh seratus dua puluh ribu tahun untuk dari ujung Milky way hingga tiba di ujung seberangnya.

Baru Milky Way, sedang kita tahu ada beribu-ribu galaksi ada di alam semesta ini.

The Milky Way, it turns out, is no ordinary spiral galaxy. According to a massive new survey of stars at the heart of the galaxy by Wisconsin astronomers, including professor of astonomy Edward Churchwell and professor of physics Robert Benjamin, the Milky Way has a definitive bar feature -- some 27,000 light years in length -- that distinguishes it from pedestrian spiral galaxies, as shown in this artist's rendering. The survey, conducted using NASA's Spitzer Space Telescope, sampled light from an estimated 30 million stars in the plane of the galaxy in an effort to build a detailed portrait of the inner regions of the Milky Way. Used with permission by:  UW-Madison University Communications 608-262-0067 Illustration by: NASA/JPL-Caltech/R. Hurt (SSC/Caltech)

Illustration by: NASA/JPL-Caltech/R. Hurt (SSC/Caltech)

[Map of the Milky Way. Image credit: Caltech]

Betapa manusia begitu kecil. Dan dalam diri kita yang kecil ini pula masih disusun oleh bertrilliun atom-atom yang semuanya bergerak sendiri tanpa pernah kita perintah.

Kita tinggal di dalam sebuah kehidupan besar, dan dalam diri kita pun ada sebuah kehidupan yang besar, yang sedikitpun saja kita tak punya campur tangan dan andil.

Saya teringat dengan seorang guru nan Arif[3] yang mengatakan apa perlunya Tuhan menyiksa kita.

Sekarang-sekarang barulah saya mengerti, bahwa kehidupan manusia yang begitu kecil dan seperti debu ini, dibandingkan kehidupan alam raya yang begitu besar dan luas itu; maka tidaklah mungkin jika Tuhan membuat segalanya ini hanya dalam “konteks” yang begitu keliru kita pahami; menyiksa hambaNya.

Tak mungkin.

Bahwa apapun yang terjadi dalam dunia ini, sudah berada dalam ilmuNya Allah, dalam Qada dan QadarNya yang sempurna, dan semua dalam rangka mengajar dan mendidik manusia untuk mengenalkan manusia padaNya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan : “Allah SWT telah menulis apa yang difirmankanNya dan dikerjakanNya. Dia juga menuliskan semua hal yang sesuai dengan tuntutan nama dan sifat yang disandang-Nya. “[4]

Lalu beliau mengutip hadits Rasulullah: “Seusai menciptakan makhluk, Allah menuliskan dalam kitab-Nya yang berada di sisiNya di atas’Arsy; ‘sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemarahanKu’ “[5]

Segala hal yang terjadi merupakan cara Allah mengajari kita, merupakan manifestasi nama dan sifatNya, dan segala hal dalam balutan rahmatNya yang mengalahkan murkaNya.

Pendek kata, Dia sangat menyayangi kita. Marahnya DIA pun dalam rangka mengajar.

Sampai hal yang secara zahir kita lihat pelik dan memilukan pun masih dalam konteks mendidik. Tidak dalam rangka menyiksa manusia.

Teringat saya pada sebuah hadits Rasulullah[6], dimana Rasulullah berdoa kepada Allah agar tak membinasakan ummatnya dengan bala’ sebagaimana ummat terdahulu dibinasakan. Dan doa itu Allah kabulkan.

Dan itu pula yang belakangan menambah pengertian mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memulakan segala sesuatu dengan Basmalah, Bismillahirrahmanirrahiim, agar kita memasuki kehidupan, memulakan pekerjaan dengan merasakan manifestasi sifat JAMAL-Nya[7]. KeindahanNya. RahmatNya.

Pada “Futuh Ghaib”, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani mengatakan bahwa inilah maksud dari sabda Rasulullah SAW yang meminta bilal mengumandangkan azan, dengan mengatakan, wahai bilal istirahatkan kami dengan sholat. Lalu selepas itu Rasulullah mengatakan Dan kesejukan mataku, telah kurasakan dalam shalatku”.

Kesejukan yang terasa karena beliau merasakan manifestasi sifat JamaliyahNya. Keindahan, rahmat, welas asih Allah SWT. Karena kita pun mengerti bahwa suatu kali rasulullah pun pernah merasakan manifestasi sifat JALAL-Nya, hingga beliau SAW sholat dan terdengar gemuruh gelegak dari dalam dadanya sebab takutnya pada Allah.

Mengakrabi Allah, juga pada sisi JAMALIYAH-Nya, ini yang sering terlupa pada kita, yang sejak kecil dididik dengan dogma bahwa Allah senang menyiksa, dan perhubungan dengan Allah hanyalah mengenai siksa, azab, dan neraka.  Padahal, telah kita tengok perbandingan bumi dan galaksi Milky Way; debu pun tak ada kita ini. Kalau memang Allah hendak menyiksa, tak ada sedikitpun kesulitan bagi Allah. Tetapi Allah hendak mengajari kita mengenal Dia, maka sebab itu DIA gelar pagelaran sangat besar, cantik nan elok di semesta ini.

Satu hal yang saya benar-benar ingat dari wejangan seorang guru[8], adalah tentang “menunggu pengertian.”

Setelah kita pahami bahwa begitu besar alam raya ini digelar, sebagai cara Allah mengajari kita tentang DIA. Dan telah DIA tuliskan segala sesuatu dalam kitabNya, dalam ilmuNya. Dan segala sesuatu yang terjadi adalah tentang manifestasi sifatNya, menceritakan JALAL dan JAMAL-Nya. Dan segala kejadian hidup dalam balutan rahmatNya yang mengalahkan kemurkaanNya. Dan Rasulullah mengajarkan kita mulakan segala sesuatu dengan memasuki gerbang JAMALIYAH-NYA lewat bismillahirrahmanirrahiim.

Setelah kita memahami semua itu, jika kita terbentur pada ujian kehidupan yang pelik dan berat, yang kita ‘belum’ memahami maknanya, dan hikmahnya belum lagi terlihat. Hendaklah kita sabar dan memercayaiNya.

Seperti Adam dan Hawa yang terusir dari syurga dan terpisah jarak konon sekitar tiga ratus tahun, tapi akhirnya dipertemukan kembali.

Seperti Zakariya a.s. yang bermohon agar diberikan keturunan, yang belum mendapatkan pengabulan hingga empat puluh tahun lamanya berdoa, tetapi akhirnya diperkenankan.

Seperti Musa a.s yang melawan tiran paling berkuasa yaitu fir’aun, dan berdoa agar kelaliman ditumbangkan, tetapi jarak pengabulan doanya konon empat puluh tahun (ada juga yang mengatakan delapan puluh tahun, wallahualam).

Mereka menjalani hari dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa sesuatu yang terjadi, pastilah dalam balutan RahmatNya. Meskipun pengertian tentang hikmah suatu kejadian belum lagi tampak, tetapi mereka mensabarinya dan menunggu sampai Allah sendiri nanti yang mengajari tentang hikmah dan pengertian segala sesuatu itu pada waktu yang DIA tentukan sendiri.

MempercayaiNya, bahwa segala sesuatu terjadi tidaklah karena DIA membenci kita, melainkan cara DIA mengajar sebuah hikmah yang kadang manusia sulit mengerti dalam konteks pandangan manusiawi manusia yang begitu kecil. Karena perbuatanNya bergulir dalam konteks yang begitu besar.

Maka jika hikmah itu belum nampak, kita ‘duduklah’ dengan diam dan percaya. Bahwa rahmatNya mengalahkan murkaNya. Dan DIA tidaklah sedang benci kepada kita.

Sekali lagi saya kutipkan pesan Ibnu Athoillah. “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”[9]

Tetapi beliaupun mengatakan pada baris pertama, bahwa utamanya manusia itu adalah berbaik sangka pada Allah, karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Kenal JAMAL-Nya.

Wallahualam

 

catatan kaki:

[1] http://http://www.universetoday.com/36649/planets-in-order-of-size/

[2] http://http://www.universetoday.com/123225/how-many-stars-are-in-the-milky-way-2/

[3] Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff.

[4] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Qada dan Qadar (ulasan tuntas masalah takdir), hal (113)

[5] H.R.Bukhari (XIII/7553)

[6] “Aku memohon kepada Tuhanku, empat hal. Tiga dikabulkan, yang satu tidak. Aku memintaNya agar tidak menjadikan umatku bersepakat dalam kesesatan, lalu mengabulkannya. Aku memintaNya agar tidak membinasakan mereka dengan bencana seperti umat-umat sebelumnya, lalu mengabulkannya. Aku memintaNya agar mereka tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, lalu mengabulkannya. Dan aku memintaNya agar tidak terjadi perpecahan, dan saling serang diantara sesama mereka, tapi tidak dikabulkannya” (Hr. Thabrani).

[7] Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan, bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang menunjukkan keagunganNya (JALAL) dan sifat-sifat yang menunjukkan keindahanNya (JAMAL).

[8] H. Hussien Abdul Latiff

[9] Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam

TUKANG BATU YANG MEMBACA

ini cerita klasik. Suatu hari ada seorang tukang batu. Tukang batu tersebut mencabik-cabik batu dengan palunya yang besar. Bertahun-tahun. Sampai suatu ketika sang tukang batu itu merasa jenuh dan meminta kepada Tuhan. Dalam penatnya, sang tukang batu meminta ditakdirkan mendapat pekerjaan lain.

Tak lama tukang batu ditakdirkan pindah profesi dan menjadi penjual tahu yang selama ini selalu melintas di dekat tempat dia bekerja. Sang tukang batu begitu senang dan akhirnya merasa mimpinya terkabul karena betapa selama ini dia iri dengan tukang tahu, sekarang dia pun menjadi tukang tahu.

Setelah berapa bulan, sang tukang tahu baru ini merasa letih dan penat dengan pekerjaannya. Setiap hari dia diterpa panas menyengat. Sambil menyeka keringat di dahinya dia menatap matahari, dan berdoa betapa enaknya jika dia menjadi matahari.

Singkat kata, doanya mustajab. Dia menjadi matahari. Dia merasa sangat senang dan menabur panas dimana-mana. orang-orang berpeluh dan kepanasan. Cukup lama dia merasakan nikmatnya jadi matahari sampai suatu ketika cahayanya dihalangi awan hitam yang bergulung-gulung. lalu dia hendak pula menjadi awan.

Lagi-lagi terkabul, dia menjadi awan. Dia menikmati menjadi gumpalan gelap yang mengguyuri bumi dengan hujan. Dia membanjiri segalanya, semuanya tersapu kecuali batu karang. Lalu dia ingin menjadi batu karang.

Setelah menjadi batu karang dia merasa begitu digdaya. Tak lekang oleh panas, tak hancur karna hujan dan tempias ombak. Dia merasa begitu kukuh dan terpuaskan.

Sampai suatu hari yang terik. Seorang tukang batu berjalan tegap di atasnya, dan mengayunkan palunya yang besar untuk membelah batu karang itu.

Senada dengan cerita di atas, saya pernah berada dalam sebuah kondisi dimana saya merasakan bahwa hasrat untuk berpindah dari suatu keadaan yang ada pada saya sekarang; merupakan sebuah ketidak-syukuran.

Pasalnya, saya baru mengerti maksud Ibnu Athoillah dalam sebuah petuah singkatnya, yang mengatakan kurang lebih banyak manusia yang berputar-putar seperti keledai penggilingan. Berpindah dari satu keadaan pada keadaan lainnya, tiada ujungnya.

Saya menjadi mengerti maksud beliau. Bahwa kebiasaan manusia adalah mengeluh. Karena manusia tidak mensyukuri keadaan yang ada pada dirinya saat ini. Maka manusia meminta Tuhan untuk memindahkannya dari keadaan yang ada sekarang, menuju keadaan lainnya.

Saat keinginan manusia tersebut terkabul, seperti jamaknya tabiat manusia, akan ada lagi sesuatu yang menyebabkan dia tidak kerasan dengan keadaan yang ada padanya saat itu, maka akhirnya diapun akan meminta lagi kepada Tuhan untuk memindahkannya pada keadaan lainnya yang menurut dia lebih baik.

Dan itulah yang dimaksud sang syeikh dengan ‘berputar-putar’ seperti keledai penggilingan. Tak ada ujungnya.

Saya menyimpulkan maksud beliau, bahwa seandainya saja manusia bisa menerima kondisi yang ada pada dirinya, maka manusia itu ternyata akan menjadi sadar dan mengerti bahwa kunci kebahagiaan ternyata bukan pada keadaan. Tapi pada hati yang lapang dan menerima. Hati yang lapang, akan membuat kita bisa merasakan bahwa keadaan yang ada pada kita merupakan anugerah.

Cukup lama saya mengerti akan kebijakan ini, sampai saya menemukan sebuah potongan puzzle lagi yang menggenapkan teorema ini.

Potongan puzzle yang baru saya temukan itu bernama IQRA.

wahyu yang turun paling pertama kepada Sang Nabi SAW. Bacalah!

Apa yang dibaca? Seorang ulama menuliskan bahwa pada wahyu itu tidak disebutkan perintah untuk membaca apa. Yang ada adalah sebuah penjelasan tentang bagaimana membacanya.

Bacalah, dengan nama Tuhanmu!

Artinya, kita disuruh membaca apa saja. Memahami apa saja. Asalkan dengan nama Tuhan. Dalam kaitannya dengan spiritualitas, kita bisa artikan bahwa saat kita belajar memahami segala sesuatu, sejatinya kita sedang belajar menyibak tabir untuk lebih bisa mengenal Allah. Yang Menjadikan Segala sesuatu.

Untuk bisa membaca, maka kita harus meluaskan pandangan. Dan untuk meluaskan pandangan, maka kita tidak boleh sempit dan tertambat pada sesuatu. Agar tidak tertambat pada sesuatu, maka kita harus bergerak, artinya kita berpindah dari suatu keadaan pada keadaan lainnya.

Sepintas, kebijakan yang ini menabrak kebijakan yang disampaikan pada cerita klasik, dan juga petuah sang syeikh Ibnu Athoillah di atas, bukan?

Tapi ternyata tidak.

Seseorang baru akan bisa melihat hikmah, atau baru bisa membaca alam ini dengan nama Tuhan, saat dia sudah bisa menerima apapun saja yang ada pada dirinya saat ini.

ilustrasi sederhananya adalah begini. Saat kita berjalan dan melihat ada api di pinggir jalan, maka kita akan berpindah dan menjauh. Itu adalah karena kita ‘membaca’ alam. Membaca api. Itu tindakan yang benar.

Akan tetapi akan menjadi tidak benar, seandainya saat kita melihat api di pinggir jalan, kita mengutuk-ngutuk Tuhan. Kita menjadi marah dan mempertanyakan Tuhan, kenapa harus Tuhan ciptakan api itu panas? Kenapa harus membakar? lalu kita berpindah dari tempat kita dengan sebuah kekesalan kepada api, dan kekesalan kepada takdir Tuhan.

Sama-sama berpindah. Yang satu berpindah karena ‘membaca’, yang satu berpindah karena kesal dan marah.

Kisah klasik di awal tadi, merupakan sebuah sampel seseorang yang berpindah karena sebuah ketidak terimaan akan takdir.

Kisahnya akan menjadi lain jika begini: Seorang tukang batu, merasakan hidupnya begitu pelik dan sempit karena rezeki dan hasil penjualan batu begitu sedikit. Awalnya sang tukang batu merasakan bahwa tanpa bekerja di penjualan batu-batu dia tak akan hidup. Belakangan dia menyadari, kesimpulan seperti itu adalah kesimpulan yang salah, artinya dia sudah memandang kecil Kemaha Besaran Tuhan, dan menganggap sempit keluasan rezeki Tuhan.

Menyadari kesalahan pandangannya, maka sang tukang batu berdoa kepada Tuhan. Agar dia dituntun untuk bersandar kepada Tuhan, bukan kepada pekerjaan. Maka akhirnya Tuhan memindahkan dia ke pekerjaan lainnya.

Dari sana dia ‘membaca’, bahwa betapa luasnya dunia ini, dan betapa besarnya kasih sayang Tuhan. Betapa berbagai-bagainya cara Tuhan menghamparkan rezeki kepada manusia.

Lalu sang tukang batu menjadi heran, karena kini hatinya telah ‘tawar’ memandang apa saja. Baginya kini tak soal, jualan batu kah, atau jualan tahu-kah. karena batu dan tahu sekedar cerita saja. Yang penting adalah ‘membaca’ cerita itu, hingga kenal Siapa Yang Menuliskan plot hidup yang begitu indah dan tak tertebak.

——-

“Jangan kamu berpindah dari satu hal alam kepada hal alam yang lain. Jika demikian kamu adalah umpama keledai yang berputar mengelilingi penggilingan, di mana ia menuju ke satu tujuan, tiba-tiba ia kembali kepada tempat mulainya. Hendaklah engkau melintasi sempadan alam dan menuju kepada Pencipta alam. Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan.” Syaikh Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam

KELEDAI PENGGILINGAN

donkey-workIbnu Athaillah pernah mengibaratkan; ada manusia yang berputar-putar dari satu keadaan menuju keadaan lainnya, ibarat keledai penggilingan. Tidak ada ujungnya.

Bahasa beliau waktu itu agak susah dikunyah, apa maksudnya? Sampai sekian tahun kemudian saya tiba-tiba tersadarkan -atau disadarkan- tentang apa maksud beliau itu.

Pasal utamanya adalah kegelisahan saya ketika menghadapi suasana pekerjaan. Berada pada lokasi pengeboran yang baru dan adaptasi yang menyita energi; membuat saya gelisah. Lalu ketika ada tawaran kantor untuk berganti posisi dan mencoba peruntungan jadi pekerja kantoran alih-alih pemburu minyak di lautan lepas; membuat saya gelisah juga. Gelisah kok terus-menerus? Saya bingung.

Pelan-pelan saya urutkan. Waktu SMA dulu saya tidak puas dengan kondisi keluarga yang serba pas-pasan dan suasana rumah yang gerah, saya ingin segera keluar dari sana. Lalu tibalah masa kuliah, awalnya saya mati-matian membenci jurusan Geologi tempat saya belajar, merasa tidak sehati, tapi toh bertahan juga hingga tiba akhir kuliah. Lepas kuliah saya bekerja menjadi “pemburu” minyak di macam-macam tempat, berkelindan dengan orang-orang dengan berbagai-bagai karakter dan gurat kebangsaan, tetap saja ada sisi yang membuat saya gelisah dan merasa tidak puas.

Dalam mata rantai ketidak puasan itu, saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya dari keadaan yang saya benci itu kepada keadaan yang lain yang menurut saya bisa membuat saya bahagia. Di benak saya, kebahagiaan itu pastilah sesuatu yang berkait dengan “keadaan”.

Tapi waktu berdoa itu, saya terfikirkan, bagaimana seandainya sampai akhir hayat nanti kita tetap pada keadaan yang kita benci itu? apakah sampai akhir masa nanti kita akan hidup sebagai orang yang terkebiri kebahagiaannya? Padahal, rasa-rasanya, kalaupun dipindahkan kita pada keadaan yang baru, akan ada saja hal yang membuat kita tidak bahagia dan merasa ingin lari pada keadaan yang lain.

Apabila kita sudah mengira bahwa kebahagiaan kita adalah sesuatu yang tertambat pada keadaan tertentu, maka kebahagiaan itu pastilah labil. Karena sudah fitrahnya suatu “keadaan” untuk berganti seiring periode takdir.

Bila saya mengira kebahagiaan itu adalah bekerja di rig pengeboran laut ketimbang daratan, atau kebahagiaan itu ada pada bekerja kantoran ketimbang lapangan, atau yang lain-lain lagi, maka kebahagiaan saya sangat labil. Karena entah apa takdir di depan, tidak ada yang tahu apakah saya nanti akan ditempatkan pada pengeboran laut? pengeboran darat? atau bahkan pada suasana kerja yang sama sekali berbeda?

Dan itulah yang selama ini selalu membuat saya gelisah, setiap saya berada pada sebuah keadaan, saya merasa bahwa “keadaan” yang lain lagi-lah yang akan membuat saya bahagia. Karena kebahagiaan itu sudah kadung saya tambatkan pada “keadaan” tertentu.

Maka kata Ibnu Athaillah, saya seperti keledai penggilingan yang berputar-putar tiada tahu tujuan. Yang saya lakukan sesungguhnya hanya pindah-pindah keadaan saja, tapi dengan kondisi hati yang sama sekali belum menemukan kesejatiannya.

Dan kunci kebahagiaan sejati, rasanya adalah dengan tidak menambatkan kebahagiaan itu pada “keadaan-keadaan” yang semu dan gampang berubah, karena takdir Allah mana kita tahu.

Tapi harusnya, kebahagiaan itu kita tambatkan pada Dia, Yang Maha Sejati, sang pemilik segala keadaan. Saya tentu saja tetap berdoa dan meminta, tetapi saya belajar sedikit-sedikit menggeser fokus doa saya, dari melulu pada mengira kebahagiaan itu hanya ada pada keadaan yang saya pintakan; menjadi upaya menyadarkan diri sendiri bahwa ‘meminta dan curhat pada Tuhan-inilah’ kebahagiaan itu. Sehingga, dalam doa kita nanti, kita lebih menikmati kebersamaan denganNya, tinimbang permintaan kita itu sendiri.

Ada cerita yang super masyhur kita sama-sama tahu. Tentang keluarga Ali dan Fatimah. Dua-duanya kalau dibanding level kita-kita ini, bagaikan bumi dan alam gaib. Tapi orang sekaliber mereka, dalam kisah yang kita dengar itu, juga merasakan sesaknya himpitan hidup. Kisah keluarga mereka itu bukan yang datar dan penuh senyam-senyum seperti dalam novel. Fatimah mengeluhkan keadaannya yang tiap hari bekerja keras menggiling gandum dengan tangan sampai melepuh. Ali juga mengeluh tentang kondisinya yang tiap hari bekerja keras tapi masih sedikit juga penghasilan.

Singkat cerita, setelah menguatkan hati untuk menghadap kepada Sang Nabi dan mengutarakan maksudnya untuk meminta seorang pembantu rumah tangga, oleh Nabi malah mereka berdua diajarkan sesuatu yang lebih berharga dari dunia dan seisinya. Yaitu ucapan tasbih, tahmid dan tahlil yang biasa kita baca lepas sholat itu. Kan kalau sepintas lalu rasanya tidak masuk di akal? orang kesulitan hidup dan butuh pembantu rumah tangga, malah diajari dzikiran?

Saya merenung, apa tidak boleh mereka untuk sejenak berbahagia dengan beban rumah tangga yang lebih ringan karena ada pembantu?

Tiba-tiba saya paham, Oooh… bukan masalah tidak boleh berbahagia, tapi sang Nabi ingin agar menantu dan anak perempuan tersayangnya itu menambatkan bahagia bukan pada “keadaan”, tapi pada sang pemilik keadaan. Agar ada pembantu atau tiada pembantu, sama jua. Bahagia.

Mindsetnya ini dulu yang harus digempur. Karena kalau masih keliru-keliru, berpindah seribu keadaan-pun akan tetap sama.

Mudah-mudahan saya tidak seperti keledai penggilingan itu. Tapi kebalikannya, keadaan bagaimana saja, kalau sudah menemukan kesejatiannya, mudah-mudahan bahagia semata.

———-

*) note: tentu belum levelan saya untuk tidak terombang-ambing dengan ombak dunia, gelisah masih sering menyapa, takut cemas datang silih berganti, tapi setidaknya kalau tahu kemana harus menuju, meski tertatih itu lebih baik ketimbang berputar-putar. Dari keadaan, menuju “yang bukan keadaan”.

BERKAH DI POJOKAN MUSHOLLA (cerpen)

NYXHasan selalu duduk di pojokan belakang shaff musholla kecil itu. Di atas hamparan sajadah dengan warna hijau yang nyentrik itu disitulah Hasan setiap kali datang hendak menunggu waktu sholat; dia mendudukkan dirinya.

Bukan Hasan tidak tahu, santer kabar tentang besarnya pahala orang yang mengambil barisan pertama shaff sholat, tapi setiap kali Hasan hendak menyela orang-orang yang duduk tepekur pada lini pertama jamaah itu; Hasan merasa dirinya kerdil bukan buatan. Lalu semacam ada rasa tahu diri yang sungguh jujur, jadilah Hasan menyempil pada pojokan musholla, begitu terus.

Uwak Imam musholla itu, Uwak Karsi bukan main hafalan ilmu fiqihnya di mata Hasan. Belum lagi berjejer orang-orang yang duduk rapih di belakang Uwak Imam masjid, rata-rata jidatnya hitam bekas sujud, belum lagi lepas maghrib diadakan kajian oleh Uwak Karsi, ramailah orang-orang pada baris pertama shaff itu berdebat larat tentang ilmu agama yang tinggi-tinggi. Lengkap dengan adu logika premis-premis tingkat wahid, mana yang paling benar hukumnya. Hasan tidak kuasa menahan decak kagum.

Cuma satu yang Hasan tidak setuju, waktu Uwak itu marah dengan luar biasa kencang sama anak-anak tetangganya yang lari-larian di beranda musholla. Hasan merasa pilu ketika dilihatnya Uwak Imam Musholla mengeplak kepala anak tetangganya dengan kopiah.

Memang keplakan itu tidaklah kencang, hasilnya cukup lumayan juga, anak-anak itu tidak lagi brutal lari-lari menjelang orang sholat. Tapi ada rasa yang tidak enak di hati Hasan. Mau menegur Hasan tidak sampai hati, mau meluruskan Hasan kalah kharisma. Ilmu agama tidak pandai, jidat Hasan tidak hitam, ditambah masa lalunya yang buruk dimatanya, membuat Hasan kalaulah diandai-andai mungkin serupa anak kemarin sore dalam kancah musholla ini. Hasan diam dan duduk saja di pojokan belakang.

Awalnya musholla di kampung itu kecil saja. Dibangun oleh Uwak yang lain lagi, Uwak Abni. Tanahnya wakaf beliau, lalu dengan seadanya dibangunlah musholla kecil di atas tanah itu. Hasan tidak kenal secara pribadi dengan Uwak Abni. Beliau sekarang sudah almarhum. Tapi sekali saja pertemuan di waktu lalu itu, cukup membuat Hasan merasakan kedekatan yang unik dengan almarhum.

Hasan waktu itu baru saja pulang kampung. Setelah lama Hasan merantau ke Jawa. Tadinya Hasan pamitnya ingin pergi belajar, kuliah. Orang tua Hasan mengiyakan saja. Bapak dan Ibunya tidak banyak cakap. Hanya mengirim doa-doa saja setiap lepas sembahyang. Mereka tidak mengerti dengan dunia akademis. Satu-satunya kucuran ilmu untuk orang tua Hasan dan kebanyakan orang tua di kampung itu ya Uwak Abni itu tadi. Pengajiannya tiap lepas maghrib itu.

Tapi Hasan terlupa dengan tujuan awalnya merantau. Godaan di negeri orang sangat menutupi pandangannya. Kuliahnya runyam. Semakin hari semakin tidak karuan dan akhirnya dia berhenti sebelum sampai. Sempat Hasan membual-bual pada orang tuanya yang lugu itu, tapi semakin Hasan membual semakin dia merasa tidak nyaman.

Akhirnya pada suatu hari, Hasan memaksakan diri pulang. Dia mengaku salah-sesalah salahnya pada Bapak dan Ibunya. Bapak dan Ibunya kecewa sudah pasti. Tapi sebentar saja. Kecewa mereka teralihkan dengan sakitnya Bapak Hasan. Lalu Bapak Hasan berpulang. Bukan Hasan penyebabnya memang, tapi Hasan menjadi kecewa pada dirinya sendiri, kenapa mesti dia mengaku salah pada saat Bapaknya sedang sakit?

Tinggallah hari-hari Hasan cuma dia dan Ibunya semata. Hasan merasa sedemikian salahnya. Satu-satunya cara dia menebus salahnya adalah dengan sebaik-baiknya membantu Ibunya. Apa saja dia bantu. Kemana-mana dia temani. Termasuk setiap lepas maghrib dia menemani Ibunya hadir pada taklim rutin Uwak Abni almarhum.

Hasan mulanya tak acuh saja. Uwak Abni di mata Hasan biasa saja. Satu-satunya nama santer yang Hasan dengar saat kembali pulang ke kampungnya adalah Uwak Karsi. “Siapa guru agama yang paling mantap ilmunya di sini ya? Saya mau berubah”. Kata Hasan bertanya pada seseorang.

Yang ditanya menatap Hasan dengan cermat, mungkin melihat ada sisa-sisa sentuhan akademis pada paras Hasan yang tidak ndeso. “Uwak Karsi mungkin yang cocok untuk mas”, kata Bapak-bapak yang dihampiri Hasan tadi. Lalu Hasan mengingat-ingat nama itu dengan detail.

“Uwak Karsi itu yang biasa isi taklim lepas maghrib di musholla ini bukan?” Tanya Hasan lagi.

“Bukan, itu Uwak Abni, uwak Karsi guru agama di madrasah aliyah sebrang kampung” Jawab Bapak itu.

Hasan mengangguk-angguk lalu berterimakasih dengan takzim dan pamit, sewaktu Hasan menjejakkan kakinya menjauh; Bapak tadi menghampiri Hasan lagi, dia menambahkan, kalau ingin belajar ilmu agama tinggi-tinggi memang Uwak Karsi pakarnya, tapi kalau Hasan sedang gundah gulana ada masalah biasanya orang lebih tentram cerita pada Uwak Abni.

Itulah awalnya Hasan tergerak juga untuk duduk tepekur habis maghrib pada musholla kecil itu, pada taklim Uwak Abni, sekalian menemani Ibunya yang tak pernah absen.

Ingat sekali Hasan waktu itu, Uwak Abni berkata, bermacam-macam cara Allah menuntun hambanya padaNya. Ada orang yang “sampai” pada Tuhannya lewat rupa-rupa amalnya, ada pula orang yang tertakdir berdosa, lalu sebegitu menyesalnya dan ingin “kembali”, maka dia sampai pada Tuhannya lewat jalan taubatnya.

Seperti gelegar petir dihantam hati Hasan. Lalu selepas taklim dia beringsut salam pada Uwak Abni dan menunggu musholla agak sepi lalu bertanya-tanya.

“Uwak…banyak nian dosa saya, orang lain sudah sebegitu jauhnya panjang amalnya, saya ini baru sadar kemaren sore, sehari baik sehari lupa, sholat tidak pernah khusyu, ilmu agama dangkal, apalah harapan saya untuk bisa baik, Uwak?”

Ditatapnya dalam-dalam Hasan, oleh Uwak Abni. Hasan tundukkan kepalanya kalah kharisma. Kata Uwak Abni, “Semakin sadar bahwa kita ini tidak bisa beramal dengan benar, semakin baik Hasan”. Uwak Abni tambahkan, bahwa setelah sadar kita tidak bisa beramal itu, maka mintalah sungguh-sungguh kesempatan dan tekad dari Allah supaya bisa meniti jalan kembali. Agar disempatkan punya amal untuk sisa hidup. Agar amal yang dipunya benar-benar dirasakan sebagai kado dari Tuhan, bukan hasil buah karya kita.

Hasan mengangguk. Tidak benar-benar paham. Tapi ada embun yang menyublim pada ceruk sudut matanya. Dia menahannya untuk tidak tumpah.

Sudah…itu saja yang Hasan tahu dari pertemuan dengan Uwak Abni. Lepas itu Uwak Abni berpulang juga. Kata orang-orang Uwak Abni berpulang pada waktu dhuha. Tersujud demikian lama pada sajadah tua di mihrab rumahnya. Lalu tak pernah bangun lagi.

Hasan sedih, padahal dia merasa baru saja bertemu oase di taklim Uwak. Sekarang Uwak sudah pergi. Tapi Hasan gembira lagi. Kabarnya Uwak Karsi, sang guru madrasah yang kaya ilmu itu yang akan menggantikan Uwak Abni taklim. Duduklah Hasan pada baris depan shaff musholla yang kecil itu. Ingin menangguk mutiara pada petuah taklim sang Uwak yang konon juara cerdas cermat agama tingkat Kabupaten. Juara dua. Hanya kalah tipis dengan grup SMA islam unggulan. Jadi memang Uwak ini punya bakat cerdas dari SMA dulu.

Tapi Hasan agak terkesima, Uwak Karsi ini agak lain dengan Uwak Abni. Tinggi bukan buatan bahasannya. Diselingi dengan debat-debat dalil yang panjang. Orang-orang tua yang awam mulai tersingkir. Diganti anak-anak muda kampung yang cerdas dan berwawasan. Maka musholla menjadi meriah. Apa pasal? Uwak Karsi berjiwa muda dan pandai merekrut anak muda. Orang muda senang yang menggebrak. Mereka senang dengan debat-debat salah-benar. Uwak Karsi memang benar-benar pandai retorikanya.

“Uwak, apa boleh saya habis sholat saya berdoa yang panjang lalu sholawatan banyak-banyak minta dibebaskan hutang?” tanya seorang jamaah.

“Ibadah itu harus ikhlas, jangan karena hutang!” tegas sekali jawaban Uwak Karsi. Baru Hasan mau bertanya menambahkan maksud jamaah tadi, Uwak Karsi sudah mengutip dalil panjang-panjang. Ikhlas itu sendi-sendi keberagamaan kita. Ini tingkat tinggi sekali.

Semakin Hasan mengikuti taklim, semakin ada yang bertabrakan pada hatinya. Dia makin paham berdebat dalil tapi tidak pernah ada embun menyapu sudut matanya setiap pulang taklim. Jadi Hasan gelisah, semacam rindu tertahan yang tidak tahu harus bagaimana.

Sampai suatu kali musholla itu rasanya sudah penuh, jamaah bersepakat membangun musholla lebih besar. Orang-orang mengumpulkan uang pada kencleng musholla. Sebagian orang memberi sumbangan yang lebih dari sebagian yang lain. Sedang Hasan tidak punya lebih harta untuk urun menyumbang.

“Ya Tuhan, apalah daya hamba beramal menyaingi orang-orang itu, jika tidak kau berikan kesempatan, tidak mungkin hamba bisa berbuat baik”. Doa Hasan dalam hati.

Maka ketika orang-orang sibuk mulai membangun musholla itu, Hasan ambil bagian. Dia ikut sumbang tenaga menggali pondasi. Lalu menumpuk batu-batu kali di pojokan bakal musholla baru itu.

Di dengarnya orang-orang sekalian berbincang tentang besarnya amal membuat musholla, Hasan makin miris, tidak ada yang dia punya selain hasrat meminta ditakdirkan beramal pada Tuhannya. Lalu Hasan sibuk saja menumpuk batu kali dan semen.

Musholla jadi. Baru dan lebih luas. Anak-anak kecil senang berlari-lari pada beranda yang lapang. Sempat musholla menjadi riuh rendah setiap jelang taklim Uwak Karsi. Tapi waktu itulah Uwak Karsi marah dan anak-anak menjadi takut lalu berhenti berisik.

Kala itu Hasan merasa semakin kecil dan tak tahu harus bagaimana selain menyendiri di pojokan sudut musholla yang dia ikut bangun dengan keringatnya itu.

Lalu orang-orang ramai berdebat tentang tidak bolehnya menggunakan bedug, dan harusnya bedug tua peninggalan musholla lama Uwak Abni itu dibuang saja; Hasan tidak lagi hirau dan hanya menutup mata sambil berdzikir saja. “Allah…dimanakah Engkau? Betapa jauhnya aku dariMU, sedang orang-orang alim semua berkata Engkau lebih dekat dari yang dekat?”.

Aneh…tiba-tiba ada lagi sembab pada ujung matanya. Kerinduan yang sangat untuk kembali pada Tuhannya merasukinya pelan-pelan. Antara tidur dan jaga pada dzikirnya, sayup-sayup dia dengar suara yang dikenalnya, Uwak Abni, “Hasan…dosa yang mengantar pada penghambaan dan pertaubatan pada Tuhannya jauh lebih baik daripada Amal yang mengantar pada kesombongan”.

Lepas kejadian itu Hasan sering pergi ke masjid-masjid lain, dia mencari guru yang bisa menuntunkan jalan pada Tuhannya. Yang benar-benar mengenalkannya pada Tuhannya.

Sementara pada musholla kampungnya yang sudah bertambah besar itu, orang-orang sudah semakin modern dan mengelola kegiatan musholla secara fantastis dan berkelas. Acara-acara dibuat dengan rapih dan tertata. Semakin banyak yang datang, semakin mengundang anak-anak muda. Semakin meriah musholla, tapi jarang ada yang tertembak hatinya seperti gelegar petir di kala Hasan pertama kali ikut taklim dulu.

Hanya ada satu dua orang yang juga merasa asing dengan hiruk pikuk itu, lalu mengambil shaff di pojokan belakang musholla, dan tiba-tiba merasakan kerinduan yang sangat pada Tuhannya. Ada berkah pada pojokan itu.

——

foto ilustrasinya itu foto rekan saya, difoto secara diam-diam. Tapi tentu saja dia bukan Hasan, hehehe… kisah ini fiksi belaka. Tapi secara esensi, jamak adanya.