SPIRITUALITAS ORANG SEDERHANA

Di perjalanan menuju kantor, ketimbang bengong saya baca-baca kisah Rabiah Al Adawiyah, beliau ini memang luar biasa.

Satu kisah yang masyhur tentang Rabiah Al Adawiyah yang pertama banget saya dengar adalah kisah jawaban retoris Rabiah Al Adawiyah, kepada seseorang yang bertanya padanya, apakah jika dia bertaubat maka Allah akan mengampuni?

Maka dijawab oleh Rabiah, yang kurang lebih maknanya adalah jika Allah mengampuni, maka pastilah seseorang itu akan tertakdir bertaubat.

Logika memandang kehidupan secara terbalik dari logika orang awam.

Dari situ saya baca-baca cerita tentang Rabiah Al Adawiyah. Beliau hidup semasa dengan seorang arif yang juga begitu terkenal, yaitu Imam Hasan Al Basri. Dengan Imam Hasan Al Basri ini juga ada cerita menariknya, dimana beliau Rabiah dipinang oleh Imam Hasan Al Basri, lalu ditolaknya pinangan tersebut oleh Rabiah karena tidak ada lagi ruang di hati Rabiah selain dari kecintaan pada Tuhannya.

Menilik orang-orang seperti Rabiah Al Adawiyah ini, kehidupan asketisnya sulit ditiru orang-orang kebanyakan. Diceritakan awalnya Rabiah ini adalah seorang budak, tetapi suatu malam tuannya melihat dia sedang bermunajat kepada Allah SWT, lalu ada lentera cahaya yang berpendar di atas kepalanya naik membubung tinggi ke langit, terangnya memenuhi ruangan. Tahulah sang majikan bahwa Rabiah ini bukan orang sembarangan, maka Rabiah dibebaskan.

Jalan spiritual Rabiah Al Adawiyah ini cukup berat. Beliau menghabiskan hari-hari dengan puasa, ibadah malam hari, memupus kecintaan pada dunia, bahkan saking tidak ada ruang lagi di hatinya untuk yang lain, beliaupun tidak menikah.

Orang-orang alim dari macam-macam penjuru datang bertamu pada beliau, dimana mereka mendengarkan nasihat-nasihat Rabiah, dan yang mendengarkan Nasihat-nasihat beliau itu bukan kelas ecek-ecek, malahan orang-orang selevel Hasan Al Basri, Malik Dinar, dan lain-lain.

Kalau melihat orang seperti beliau, waduh, jauh panggang dari api untuk mengejarnya. Tapi kembali lagi, tidak semua orang harus menjalani kehidupan asketis macam Rabiah. Ada jalan yang sederhana.

Saya teringat cerita yang ditulis Rumi dalam Fihi Ma Fihi, dimana beliau menjelaskan perbedaan pendekatan spiritualitas jalan Isa as dan jalan Muhammad SAW. Isa as, hidup spiritualitasnya adalah dengan tidak menikah, kerahiban.

Kerahiban ini, memang salah satu jalan spiritualitas. Seseorang bisa mendekat kepada Tuhan dengan meninggalkan segala kecenderungan duniawinya. Tetapi ada seni satu lagi, yaitu jalan Muhammad SAW, dimana beliau menikah.

Disitulah Rumi berkata bahwa justru dengan menikah, dan menjalani segala dinamikanya, kalau dimaknai secara benar maka spiritualitas seseorang bisa meningkat. Menikah, dijadikan ajang “pendakian” spiritualitas. Dengan bersabar dan bersyukur dalam dinamikanya. Dengan menikah, naik spiritualitasmu.

Saya seringkali melihat kawan-kawan yang sudah memasuki fase berumah tangga, mereka mulai “hijrah”. Ya ga mesti jadi sufi juga sih, hehehehe….. tapi pandangan keagamannya berubah. Karena memang apa lagi yang dicari?

Degan dapat tanggung jawab. Dengan perubahan status sebagai orang tua. Dan seterusnya, lambat laun cara pandang bergeser. Hikmah-hikmah hidup mendatangi satu persatu. Ujung-ujungnya spiritualitas juga. Dan pendakian spiritual lewat jalan ini adalah seperti lari marathon. Pelan-pelan, selow, tapi pasti.

Seseorang bisa meniti jalan spiritual dengan meninggalkan keduniawian sepenuhnya. Tetapi bisa pula meniti jalan spiritual dengan bergulat di dalam kehidupan, dan memaknai kehidupan ini sebagai ceritaNYA.

Takdirnya masing-masing.

Seperti ditulis oleh Syaikh Ahmad Sirhindi, dalam Syaria and Sufism. Bahwa jalan prophetic, tasawuf yang disandarkan pada risalah kenabian, ini sudah paling pas.

Seseorang tidak melakoni ritual-ritual yang berat yang memupus keduniawian dan memuncaki perjalanannya dengan ekstase, melainkan hidup berlandaskan syariat, dan berjalan dalam takdir keseharian yang biasa ini, ibadah, bermuamalah, seseorang tetap bisa kok mendapatkan pencerahan-pencerahan.

Kuncinya kita memahami perbedaan dua pendekatan itu.

Pendekatan tasawuf jalan profetik, bersandar risalah kenabian adalah mengenali Allah dahulu. Lewat ilmu. Barulah beribadah kepada Tuhan yang sudah dikenali. Dan bergulat dalam kancah dunia ini dengan kesadaran yang baru.


Source:

Fihi ma Fihi, Rumi

Syaria and Sufism, Syaikh Ahmad Sirhindi

Tales of Rabia Al-Adawiyya, Muhammad Vandestra

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *