SPIRITUALITAS DIESEL

truck

Jika ibarat mesin, jelas saya ini mesin diesel. Panasnya lama, hehehe.

Lama mengamati diri sendiri, saya jadi hapal sekali bahwa saya butuh waktu lebih lama dari rekan-rekan saya dalam menyelesaikan sesuatu. Saya butuh waktu lebih lama untuk bergerak.

Setelah saya renungi, ini sama sekali bukan karena saya tidak bisa bergerak cepat, tetapi “by nature” secara bawaan saya memang orang yang santai dan tidak menyukai tergesa-gesa.

Dulunya, sebelum mengenali pola pada diri sendiri semacam ini, saya sering merasakan penolakan. Saya menolak diri saya sendiri. Saya ingin lebih cepat dan cepat, sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang rekan, di awal masa kerja saya, dari dialah saya belajar mengenal dan menyiasati diri sendiri.

Rekan saya ini juga orang yang kurang lebih sama tipikalnya dengan saya. Santai, teratur, bertahap, tetapi untuk menyiasatinya maka dia memulai segala sesuatu lebih dahulu sebelum orang lain memulainya.

Ujian masih lama, dan dia sudah membuka buku sejak berapa minggu sebelumnya. Orang belum mulai dia sudah mulai. Orang sudah selesai, dia masih bekerja.

Selalu seperti itu sampai dia menjawab, ketika saya tanyakan “kenapa kamu begitu keras belajar terus?”. Dijawab olehnya sambil merendah, “aku tahu persis kapasitas diriku. Kalian bisa memahami sesuatu dengan cepat, sedangkan aku butuh waktu lama. Makanya aku harus memulai sesuatu lebih dulu, dan mengulang lagi sesuatu setelah orang lain usai.”

Luar biasa…..disana saya baru sadar bahwa hal ini begitu sederhana. Diawali dengan penerimaan diri, lalu berlanjut dengan pola menyiasati kekurangan diri.

Sejak itu,saya pun ikut belajar bahwa saya memiliki kekurangan, tetapi pengenalan akan kekurangan diri itulah yang menjadi awal kekuatan. Kalau kita tahu pola diri kita seperti apa, maka hal itu akan mempermudah kita bergerak sesuai dengan pola yang cocok untuk kita.

Ini sepenuh-penuhnya spiritual. Mengenal diri.

Seorang atasan di kantor saya sempat mewejang. Ada dua hal yang kita bisa lakukan dalam mengenali diri. satunya Self change, berikutnya adalah self awareness.

Ada pola-pola di diri kita yang masih bisa diubah, dengan paradigma baru, dengan pembiasaan yang baru, maka lama-lama pola baru terbentuk dan kita pun akan berubah (self change).

Dan ada satunya lagi yaitu self awareness. Self awareness ini adalah sepenuh-penuhnya “awas” terhadap kekurangan yang belum bisa kita ubah dari diri kita. Seperti cerita di atas tadi. Menerima, tetapi menyiasati.

Kita memeluk erat diri kita sendiri dengan penerimaan. Mengubah hal-hal yang bisa kita ubah, dan menyiasati hal-hal yang butuh tenaga ekstra dan tak selalu bisa kita ubah dalam waktu singkat.

Nah apa kaitannya dengan spiritualitas? Saya ingin kutipkan satu cerita dimana seorang sahabat mengadu pada Rasulullah SAW bahwa sahabat tersebut suka terhadap suatu kaum, tetapi untuk mengejar pencapaian amal golongan tersebut kok rasanya sulit sekali. Dijawab oleh Rasulullah bahwa seseorang akan membersamai siapa yang dia cintai.[1]

Dalam Futuh Al Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan untuk “berpuas hatilah dengan apa yang ada padaMu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu”. Barulah saya paham apa maksudnya. Maksudnya ialah, salah satu bentuk keridhoan terhadap takdir ternyata penerimaan sepenuh-penuhnya terhadap diri dan segala lebih kurangnya diri kita dan kondisinya saat ini.

Lalu lewat pengenalan akan diri itulah kita bergerak menuju kebaikan yang lebih lagi.

Ada hal-hal yang bisa mengalami perbaikan dalam tempo yang singkat. Ada hal-hal yang butuh waktu untuk berubah. Tetapi selama proses itu kita jalani dalam konsep penerimaan utuh akan keadaan, dan I’tiqad sepenuh-penuhnya untuk berjalan menuju kebaikan –seperti yang orang-orang shalih dan arif contohkan-, maka kata Rasulullah SAW, kita akan membersamai orang-orang yang kita cintai. InsyaAllah.


References

[1] Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar ia bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai suatu kaum, namun ia tidak bisa (meniru) amalan yang mereka lakukan?” beliau menjawab: “Wahai Abu Dzar, kamu akan bersama dengan orang yang kamu sukai.” Abu Dzar berkata, “Sungguh, aku menyukai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu bersama siapa yang kamu sukai.” Perawi berkata, (HR. Abu Daud 4461)

*) Image Sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *