SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA

Dalam kebingungan saya dahulu, awal-awal menekuni spiritualitas saya tak paham benar apa bedanya spiritualitas islam dengan yang di luar islam?

Yang saya sering bingungkan adalah mengapa pendekatan spiritualitas dalam islam tidak begitu banyak membahas porsi mengenai meditasi, merenung ke dalam diri sendiri, mengenali fikiran-fikiran dan lintasan-lintasan fikiran, sampai menemukan “sang pengamat” di dalam diri? Mengapa hal ini tidak atau jarang sekali dijumpai dalam khasanah islam?

Padahal, setelah beberapa waktu menekuni tentang ini saya menjadi paham bahwa pengenalan terhadap diri sendiri, bagaimana lintasan fikiran dan emosi bekerja, dan seterusnya, adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam menemukan kebahagiaan. Bagaimana bisa bahagia dan lepas dari duka lara jika tidak bisa masuk ke dalam diri dan melepaskan diri dari lintasan-lintasan fikiran yang sejatinya bukan diri kita? Emosi kita disetir oleh persepsi kita, dan bagi yang sering “masuk ke dalam” hal ini lambat laun makin terasa. Jadi ini penting banget.

Disitulah saya menjadi heran, kok porsi tentang ini dalam islam sedikit sekali? Dalam islam “pendekatan syariat” tentu hampir ga ada. Saya cari dalam “pendekatan spiritualitas” islam pun sedikit juga. Banyaknya malah tentang dzikir.

Agak lama juga tidak paham, sampai alhamdulillah menemukan harmoninya. Yaitu ternyata memang islam memandang bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ditemukan dengan kemampuan kita untuk melepaskan diri dari fikiran-fikiran dan emosi. Melainkan kebahagiaan sejati diperoleh dengan menyerah total kepada Tuhan.

Seperti makna islam itu sendiri. Yaitu “menyerah”, submission. (selain dari maknanya yang lain semisal “keselamatan”)

Maka itu, barulah saya pahami mengapa penekanan pendekatan dalam Spiritualitas islam bukanlah mengajari orang masuk dalam dirinya dan berusaha lepas dari jerat fikiran dan emosi dsb. Melainkan porsi paling besar (dan juga paling dasar) adalah pelajaran mengenali Tuhan, mengenali Allah sebagai supreme being. Pencipta segala yang zahir dan batin. Yang tidak mirip dengan makhluk. Yang segala dualitas apapun saja bergantung padaNya. Yang tidak ada awal dan akhir, tetapi bagi segala sesuatunya diberikan awal dan akhir.

Islam memandang itulah kunci kebahagiaan sejati. Mengenali DIA, dan belajar menyerah padaNya. PengaturanNya.

Porsi-porsi pelajaran mengenali hati, mengenali diri sejati, mengenali lintasan fikiran, dll memang ada dibahas dalam spiritualitas islam. Tetapi tidak menjadi fokus utama, dia hanya sebatas membantu kita untuk mengerti bagaimana mengingatiNya, The Supreme Being, tanpa keliru-keliru menggantungkan persandaran dengan selainNya.

Dua pendekatan yang berbeda.

Bagi pendekatan yang pertama, porsi besarnya bukan pada Tuhannya, melainkan pada kemampuan olah batin dan melepaskan sejatinya diri dari fikiran-fikiran. Makin lepas diri sejati dari fikiran-fikiran, makin bahagialah dia. Karena sengsara duka lara itu adanya di fikiran.

Pendekatan kedua, approach islamic spiritualism adalah mengenali Allah swt sebagai Pencipta segalaNya, lalu perjalanan spiritualnya adalah terus menerus bersandar dan kembali padaNya dalam setiap jenak hidup. Makin bersandar, makin bahagialah dia, karena mengenali kehidupan sebagai jalan ceritaNya. Kebahagiaan sejati ditemukan dengan pergantungan Total kepada Pemilik Dunia.

Seperti dikatakan dalam Qur’an wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya.

Tetapi saya menulis ini dalam perspektif seorang muslim, tidak merendahkan siapapun, dan hanya sebuah sharing saja bahwa ada perbedaan pendekatan antara spiritualitas islam atau umumnya disebut Tasawuf, dengan pendekatan spirirualitas di luar islam. Warna-warni dunia.

hanya saja bagi rekan-rekan muslim, saran saya jangan terlalu lama berada di pendekatan pertama. Karena memang bukan itu porsi besarnya Spiritualitas islam.

Seperti ungkapan yang masyhur. Awaluddin ma’rifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah.

Masuklah segera ke pendekatan kedua. Bedanya sangat mendasar. Tapi sering orang keliru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑