SPIRITUALITAS DAN JALAN MENCARI BAHAGIA (2)

Image result for happiness

Seseorang didatangi oleh peternak sapi, “apakah engkau melihat sapiku yang hilang? Aku tidak sanggup mengalami dua kedukaan sekaligus.” Kata sang peternak sapi itu kepada orang yang dia temui.

“Apa yang terjadi?” tanya orang yang ditemui itu.

“Duabelas sapiku hilang dari peternakan, setelah sebelumnya hama menyerang kebunku dan memusnahkan semua tanamannya.” Jawab peternak itu.

“Aku tidak melihat sapimu.” Jawab orang yang ditanyai itu. “Barangkali lari ke arah lain.”

Lalu sang peternak sapi itu pergi meninggalkan orang tersebut, bergegas mencari sapinya yang hilang.

Tak lama, orang yang ditanyai itu berpaling kepada murid-muridnya, ternyata beliau adalah seorang “guru” yang memiliki beberapa murid.

“Sahabatku, tahukah kalian bahwa kalian adalah orang yang paling berbahagia di dunia? Mengapa? Karena kalian tidak punya sapi dan tidak punya tanaman untuk kehilangan.”

Orang bijak itu, adalah sang tercerahkan yang begitu terkenal sampai sekarang, yaitu Pangeran Siddharta Gautama, atau dikenal sebagai Buddha. Orang yang tercerahkan.

Menekuni spiritualitas islam, membuat saya tertarik untuk membaca pendekatan spiritualitas dari dunia timur, dalam hal ini berapa hari belakangan saya membaca pendekatan antara Buddha dan Islam. Banyak para sarjana yang mulai menulis perbandingan ini dalam cara pandang untuk saling mengerti satu sama lain, mengerti bedanya dan mengerti persamaannya. Bukan untuk saling menghakimi.

Kembali ke ceritra di atas, dimana Buddha memberi tahu kepada para muridnya bahwa mereka adalah orang paling “bahagia” karena sejatinya hal-hal yang manusia kumpulkan seperti harta, membawa kebahagiaan yang temporer, saat harta itu hilang, ia malah memberikan kedukaan. Nah….. mengenali kedukaan atau penderitaan dan bagaimana menghilangkan penderitaan adalah poin utama dalam spiritualitas Buddhism.

Ada empat kebenaran mulia (four nobble truth) dalam ajaran sang Buddha: yang pertama adalah memahami tabiat dari “duka” atau penderitaan. Bahwa duka adalah segala hal yang memunculkan rasa tidak enak atau tidak nyaman baik fisikal maupun emosional / mental. Memahami bahwa ada sesuatu yang bernama penderitaan / duka, adalah point pertama.

Lalu memahami apa penyebab penderitaan muncul? Sederhananya, penderitaan muncul karena keinginan yang melekat (kelekatan). Ini adalah poin kedua.

Poin ketiganya adalah memahami bahwa penderitaan bisa dihilangkan, dengan cara menghilangkan kemelekatan terhadap keinginan-keinginan.

Poin keempatnya, adalah bagaimana praktisnya kita melepaskan kemelekatan-kemelekatan itu? Yaitu dengan menerapkan delapan Jalan (8 fold paths). Yang mana jalan ini semua bagus-bagus, semisal berpikir benar, bertindak benar, berkata benar dan seterusnya.

Karena bertumpu pada bahasan mengenai “bagaimana melenyapkan penderitaan”, maka tradisi spiritualitas Buddha sangat mahir dalam urusan menyelami psikologi manusia, bagaimana mengendalikan fikiran, “masuk ke dalam diri” lewat meditasi, dst.

Tradisi spiritualitas ini, kemampuan untuk masuk ke dalam diri, melepaskan kemelekatan, dst…. Sangat sedikit ditemukan di dalam islam (setidaknya sebatas pengamatan saya yang awam). Dan saya sendiri sering bertanya tanya mengapa spiritualitas islam tidak menekankan bahasan ini lebih jauh? Dan barulah sekarang saya mengerti bahwa pendekatan agama abrahamic, khususnya islam, agak berbeda dengan tradisi timur semisal Buddhism.

Spiritualitas islam mengawali perjalanannya dengan pengenalan akan Allah SWT. Yaitu Tuhan semesta alam.

Lewat keilmuan, kita pahami bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, tidak serupa makhluknya, dialah Pencipta segala sesuatu, Penjaga segala sesuatu, DIA tidak memiliki awal dan akhir tetapi kepada segalanya DIA berikan awal dan akhir.

Pondasi keberagamaan agama samawi (islam khususnya) didirikan diatas kredo ini. Atau disebut tauhid.

Tauhid ini, oleh para ahli teolog / kalam dijelaskan dalam berbagai-bagai pendekatan. Misalnya pendekatan kalangan salafi dengan prinsip Tauhid Rububiyah, dimana kita harus meyakini bahwa Allah sematalah pencipta dan pengatur alam semesta, tetapi ini saja tidak cukup, harus juga meyakini bahwa Allah sematalah persandaran, yang disembah (uluhiyah), lalu saat seseorang sudah mengakui Allah sebagai pencipta, dan bersandar sepenuhnya pada Allah, maka akan pahamlah seseorang itu bahwa dunia ini adalah wahana dimana Allah SWT menceritakan sifat-sifatNya (Asma wa Shifat), yang mana sifat-sifat itu adalah “unik” milik DIA semata.

Kalangan aswaja, menjelaskan tauhid lewat pendekatan sifat 20. Yang sering kita dengar syairnya, Allah wujud, qidam, baqa…..dst…

Sedangkan kalangan arif, tidak hanya menjelaskan tauhid seperti dua kalangan di atas, tetapi secara lebih dalam mereka menjelaskan bahwa segala kewujudan makhluk ini tidak nyata, yang nyata adalah DIA. (ada yang menjelaskan ini dengan pendekatan bahwa dibalik segala sesuatu adalah DIA, seperti paham wahdatul wujud, tetapi ada yang mengoreksi itu dengan menjelaskan bahwa alam semesta ini dibandingkan DIA adalah seumpama biji pasir di gurun sahara. Jadi tidak tepat mengatakan bahwa disebalik segalanya ini langsung DIA, karena begitu kecil alam ini dibanding DIA. biji pasir tidak bisa menjadi gurun. Hal ini saya pahami setelah mendengarkan syarahan ust. Hussien Abd Latiff)

Jadi tradisi spiritual islam menekankan pada pengenalan akan Allah, lalu untuk menghilangkan penderitaan bukanlah dengan meditasi masuk ke dalam diri dan melepaskan kemelekatan, melainkan dengan mehami bahwa segala sesuatu adalah takdir Allah, dan kunci bahagia adalah menyerah / ridho pada takdir (submission / menyerah = islam).

Walhasil, menekuni spiritualitas islam adalah terus menerus mengingatiNYA, dan menjadikan segenap takdir sebagai jalan “connect” atau ingat kepadaNYA atau dzikrullah.

Itulah jalan bahagia menurut islam.

Memahami dua tradisi ini, menjadikan kita lebih bijak. Dan membuat kita mengerti bahwa dzikrullah di dalam islam tidaklah sama dengan meditasi “masuk ke dalam” seperti tradisi di timur / Buddha.

Saat seseorang berdzikir, dia tidak sedang mengawasi lintasan fikiran dan melepaskan kemelekatan terhadap angan-angan, melainkan dia mengingati Sang Pencipta, dan bersandar penuh kepada Sang Pencipta. Kebahagiaan di dalam islam adalah menerima realita takdir, dan bersandar kepada Penciptanya.

Semoga dengan memahami dua pendekatan ini, khususnya rekan-rekan muslim akan lebih paham dimana letak bedanya, bijak menyikapinya, dan menjadi tidak keliru dalam menerapkan spiritualitas islam sebagaimana mestinya.


Source:

  • Thich Nhat Han. 1998. The Heart Of The Buddha’s Teaching. Newyork: Broadway Books
  • Reza Shah Kazemi. 2010. Common Ground Between Islam and Buddhism. Louis Ville:  Fons Vittae
  • Image Sources from here

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

1 Response

  1. Abdul Zaky says:

    debu itu lewat sini, ia suci, damai dan indah.. alhamdulillah.. itu lebih layak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *