SPIRITUALITAS DALAM KEMACETAN

Kalau porsinya “Pas”, dan saya tak sedang terburu-buru menuju kantor, sebenarnya saya cukup bisa menikmati kemacetan.

Macet yang proporsional, dalam situasi yang tidak sedang mendesak, justru memberikan saya kesempatan untuk jeda sejenak dan menikmati pemandangan dari sudut yang biasanya tak kelihatan.

Seperti pagi ini. Macet yang sopan di atas fly over, memberi kesempatan menikmati setiap lekuk gedung-gedung jakarta yang padu padan dengan rumah-rumah yang kusut. Orang-orang yang sibuk dalam pagi yang lahir sangat prematur.

Di kota besar, pagi lahir terlalu dini dan malam lelap pada usia yang terlampau tua. Sejatinya kita dipaksa untuk hidup dalam rentang observasi yang lebih panjang dari biasanya bukan?

Tapi pelajaran hidup jarang terserap dan kebijakan jarang bisa dinikmati meski usia kesibukan lebih panjang, barangkali karena “jeda” yang kurang. Itu barangkali hikmahnya kadang-kadang Allah mentakdirkan jeda.

Saya teringat dulu jaman kuliah, seorang sahabat selalu ke kampus dengan motor bebek tua. Sangat tua sehingga tidak mampu berlari dengan kecepatan yang umum. Tetapi justru dengan pelan-nya itu, pada momen yang pas dan sedang tak ada hal mendesak; dia malah memberikan waktu menikmati sudut-sudut Jatinangor yang penuh dan semrawut. Detail anugerah yang tak terbaca jadi kelihatan.

Di dalam sholat, jeda sejenak itu dinamakan tuma’ninah. Di dalam haji dia disebut wukuf. Dan di dalam kehidupan…… dia adalah kebetulan-kebetulan kecil yang banyak kita temukan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *