SPIRITUALITAS BUKAN ILMU ORANG TUA SAJA

Tadi malam anak saya camping di sekolahnya. Keren juga jaman sekarang, anak TK saja sudah ada camping segala, hehehe.

Tapi sesungguhnya yang lebih cemas bukan anaknya, melainkan orang tuanya. Malam-malam saya dan istri menyambangi TK anak saya, dan menyerahkan sekotak susu UHT, kebiasaan anak kalau malam-malam selalu minum susu sebelum tidur.

Istri saya memberitahu, bahwa banyak para orang tua yang malah tak bisa tidur karena mencemaskan anaknya, dan selalu bertanya pada guru-guru di sekolah tentang bagaimana kondisi anaknya.

Ibu gurunya, kemudian melaporkan secara berkala kondisi anak lewat media group whatsapp. Seru juga saya lihat.

Saya teringat, sebelum camping, anak saya bertanya macam-macam pada kami. Tentang bagaimana nanti dia tidurnya? Bagaimana kalau dia berebut selimut dengan teman-teman? Bagaimana kalau dia tidak ada tenda? Dikiranya setiap orang harus punya tenda sendiri. Dan banyak lagi pertanyaan yang keluar dari ketidak-tahuannya mengenai konsep camping itu.

Tapi lepas dari itu, satu yang saya sadari, bahwa pertanyaan anak saya itu banyak berkaitan dengan bagaimana dia harus bersikap dalam interaksinya dengan orang lain. Itu inti dari pertanyaannya.

Saya perhatikan, anak-anak usia TK sudah mulai melihat keragaman pada dunia, dan mulai mencoba menemukan ritme yang pas untuk memposisikan diri dalam keragaman itu.

Dan banyak pendidikan sekarang sudah mulai mengenalkan pendekatan “bersikap dalam keragaman” itu.

Umpamanya saja, sering kita baca di media sosial, sebuah meme atau sebuah artikel tentang bagaimana jepang lebih khawatir anak-anak mereka usia SD tak tahu bagaimana cara mengantri, tinimbang anak-anak mereka tak bisa mengerjakan soal-soal berhitung. Karena, menurut mereka kemampuan mengantri itu lebih penting, lebih elementer dibanding hitung-menghitung

Baru saya paham duduk perkaranya sekarang, bahwa kemampuan antri dianggap lebih elementer dibanding hitung-hitungan adalah karena kemampuan antri mengajarkan anak untuk tahu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Saat anak-anak mulai mengenal bahwa dalam kehidupan sosial mereka tak hanya ada mereka sendiri, tetapi ada juga orang lain. Maka pertanyaan mendasar anak saya tentang bagaimana kalau nanti dia berebut tenda, bagaimana kalau nanti rebutan selimut, dan sebagainya, sebenarnya adalah sudah mulai merupakan bagian dari upaya anak untuk menemukan “makna” itu, yaitu bagaimana bersikap dalam keragaman.

Itulah sekarang sudah mulai banyak ditemukan apa yang orang-orang sebut dengan “pendidikan karakter”. Tentang bagaimana “behave”, bersikap dalam keragaman itu.

Tetapi, hal ini menyadarkan saya satu hal. Bahwa bagaimana “bersikap” dalam keragaman itu masih normatif. Masih belum mendasar dibandingkan “kenapa ada keragaman?”

Disinilah saya baru paham, sisi spiritualitas, dimensi esoteris agama adalah keping mata uang yang menjawab pertanyaan itu. Tentang kenapa ada keragaman? Tentang mengapa manusia ada, dan mengapa berbagai-bagai? Semua adalah untuk menceritakan Sang Empunya. Maka keragaman adalah fithrah yang tidak bisa dibantah. Sebagai wujud kreasi tak terbatas dari Sang Empunya yang tunggal.

Itulah mengapa, menurut saya, mempelajari tasawuf atau sisi spiritualitas agama menjadi begitu penting. Belajar menemukan makna itu.

Kita sudah belajar bahwa ada keragaman di dalam hidup. Lalu orang-orang mulai memperkenalkan cara “behave” cara bersikap normatif dalam keragaman yang ada lewat macam-macam pendidikan karakter, moral, kenapa tidak menyelam lebih dalam pada sesuatu yang lebih elementer lagi?

Dan itulah sebenarnya tasawuf. Atau namakanlah apapun saja itu, selama itu mengajak kita untuk bertanya dari hal yang paling mendasar dalam hidup, siapa kita, siapa Tuhan kita, dan kenapa ada keragaman berbagai-bagai ini?

Melihat lewat bingkai paling besar dalam hidup, bahwa DIA menceritakan diriNya sendiri lewat keragaman makhluq-Nya. Itulah tema tunggal dalam hidup.

Dalam konteks belajar memberi makna pada hidup inilah, saya baru sadar bahwa tasawuf bukan melulu ilmu orang tua. Tasawuf adalah bagian tak terpisahkan dari syariat itu sendiri. Aspek fisikal, dan aspek batin yang mesti seiring.

Syariat mengajari kita tata aturan yang harus dipahami, dalam corak kita masing-masing sebagai bagian dari keragaman. Maka tasawuf mengajari kita melihat keragaman sebagai cara Tuhan bercerita tentang diri-Nya sendiri. Dua-duanya penting. Dan dua-duanya mengiringi manusia sejak kecil hingga dewasa, pada tahapannya sendiri-sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *