SOCRATES SAJA SUDAH KETEMU

Socrates berkeliling menemui orang-orang, mencari siapa saja yang dianggap khalayak adalah orang bijak. Lalu kepada mereka, Socrates bertanya mengenai  hal-hal mendasar: Apakah itu keberanian? Apakah itu kesehatan? Apa itu kekayaan? Semua hal-hal yang mendasar dalam hidup manusia. Tujuannya barangkali dipicu dari keinginan  awal membuktikan  bahwa Oracle –seorang peramal di kuil Delphi- kala itu, salah!

Pasalnya, Oracle ketika ditanya oleh seseorang, mengatakan bahwa yang paling bijak di kota itu adalah Socrates.

Socrates kemudian tidak percaya dengan prediksi Oracle, lalu Socrates berkeliling dan bertanya banyak hal pada orang-orang. Seolah-olah, dia ingin menemukan orang yang lebih bijak pandai darinya, dan mengatakan bahwa tidak benar socrates adalah yang paling bijak.

Akan tetapi, dari diskusi hal-hal mendasar tersebut  –yang dikemudian hari menjadi awalan bagi metoda penelitian induktif, dan penemuan definisi-definisi-  Socrates malah menemukan bahwa banyak orang-orang bijak yang dia sambangi tak mengerti dengan apa yang dia tanyakan.

Dan pada akhirnya Socrates pun mengatakan kepada orang tersebut bahwa dia juga tak mengerti (tak banyak mengerti).

Pada kala itulah, Socrates kemudian baru menyadari bahwa ramalan Oracle benar, dalam konteks bahwa Socrates adalah bijak pada artian menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang tahu banyak hal. Sejatinya terlampau banyak yang tak dimengerti.

Kemampuan mawas diri dan mengakui diri sendiri penuh kekerdilan itulah yang dianggap kebijakan oleh Socrates.

Menarik mendengar cerita ini, karena Socrates telah menemukan pengertian kekerdilan diri itu pada masa yang begitu lampau, sementara sekarang ini kita sendiri seringkali terjebak pada kebanggaan akan dalam dan luasnya wawasan.

Socrates adalah seorang filosof. Pendekatan Socrates dalam menemukan kebenaran adalah dengan mengobservasi sesuatu menggunakan akalnya, merenungi dengan mendalam tentang sesuatu hal.

Kita tengok bagaimana Hujjatul Islam Imam Ghozali  –yang merupakan sisi sebrangnya atau antitesisnya filosof dlm metoda beliau menemukan kebenaran–  mengklasifikasikan para  filosof.

Menurut beliau, ada tiga klasifikasi besar para filosof. 

– Yang pertama adalah generasi awal-awal yang  tak percaya Tuhan (atheis), dan para pemikir generasi awal ini kemudian dikoreksi oleh para filosof sendiri pada generasi sesudahnya.

– Naturalis, adalah para pemikir yang kerap melakukan observasi alam, dan pada gilirannya mengakui bahwa alam ini ada penciptanya

– Dan para filosof Theis, yang memang mengakui adanya Tuhan. Filosof theis inilah generasi paling akhir, dan disinilah letaknya nama-nama besar seperti Plato, dan Aristoteles, dan tentu juga Socrates sang pendobrak kemapanan seperti yang kita ceritakan di awal tadi.

Dan bagaimana menyikapi buah pikir para filosof menurut beliau?

Menurut Imam Ghozali, sebagian pendapat para filosof mengenai Tuhan, itu debatable. Beliau kritik dengan tajam, tetapi bukan lewat debat mengutip tekstual keagamaan, melainkan dikritiknya pula lewat logika-logika berfikir seperti para filosof.

Nah, sebagian lainnya dari buah fikiran mereka, menurut sang Imam, adalah netral, dan bisa bermanfaat untuk kepentingan khalayak.

Umpamanya pengamatan terhadap alam yang pada gilirannya menyebabkan  pertumbuhan dan perkembangan sains.

Kita paham, bahwa para arifin dan filosof seringkali berbeda metoda dalam menemukan kebenaran. Yang satu mengandalkan akal fikirnya, yang satu mengandalkan intuisi batinnya. Tetapi kalau kita kutip satu konteks saja, yaitu konteks cerita socrates tadi, kita mengetahui bahwa ternyata yang Socrates lakukan adalah “membaca” kehidupan.

Dalam falsafahnya islam, pembacaan itu adalah perintah IQRO’. Membaca kehidupan.

Dan seperti Socrates yang menemukan kekerdilan dirinya setelah melakukan banyak pembacaan, seperti itulah juga yang seharusnya dilakukan setiap Muslim dengan IQRO-nya.

Hanya saja sejak dari awal pembacaan, approach islam sudah meletakkan bahwa keseluruhan aktivitas pembacaan dilakukan dalam rangka menyaksikan pengaturan Tuhan (BI ISMI RABBIKA).

Filosof, berangkat dari observasi alam dan kehidupan untuk menemukan Tuhan. Sedangkan skema para arifin adalah melakukan pembacaan kepada alam dan kehidupan ini sejak mula sudah diawali dengan persandaran kepada Tuhan. Para arifin berangkat dari keyakinan pada Tuhan sudah bersemadi di dalam hatinya. Itu bedanya.

Dan pembacaan dengan nama Tuhan, sejak awal, mestinya berujung pada kesimpulan seperti Ali Bin Abi Thalib. Yang “menjadi  semakin kenal Tuhan” saat mendapati dirinya sebagai seorang fakir dan tak berdaya.

Filosof menemukan kerdilnya diri dan kenyataan bahwa manusia tak banyak tahu; setelah observasi mereka.

Para arifin menemukan kerdilnya diri, tetapi  sekaligusmenyadari  besarnya Tuhan. Lalu menyadari keterbatasan ilmu dan wawasan sebagai pengenalan bahwa DIA lah sang pemilik ilmu.

Tapi yang manapun saja jalan kita lalui sekarang, jika observasi kita berujung pada kebesaran diri sendiri, pasti ada yang salah.

Sebab jalan filosof saja, seperti Socrates, sudah menyadari kekerdilan diri sejak dari ratusan tahun sebelum masehi.

Jadi seandainya ada orang yang hobi mikir dan mikir selalu, luas wacana tetapi merasa besar, maka dia sebenarnya berjalan mundur. Ke era sangat jauh sebelum socrates.

Referensi:

Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]” (Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *