SENI BERBAHAGIA

Saya teringat bagaimana seorang tukang GoJek bisa menulari saya rasa bahagia. Waktu itu Siang hari panas terik, saya memesan GoJek dari sebuah warung nasi padang di dekat kantor.

Dapat tukang GoJek yang tertawa-tawa seru sepanjang jalan. Menceritakan bahwa dia tinggal di dekat area perkantoran saya, tetapi jarang sekali mendapatkan pesanan di sekitar sana. Biasanya selalu jauh-jauh. Ndilalah kebetulan hari itu dia dapat pesanan saya. Dia tertawa, baginya mendapat orderan jauh di hari panas terik itu lucu.

Dipikir-pikir, dia dan saya menikmati hari yang panasnya luar biasa itu. Dan dia juga menghadapi hari yang keras juga, muka lecek, badan bau asep, tapi dari mukanya raut bahagia terpancar. Beliau menguasai seni bahagia di hari yang melelahkan.

Saya tak sempat bertanya apa tips beliau agar happy terus, tetapi seketika rasa sumpek saya akibat kerjaan kantor menjadi sirna, tertawanya beliau mengingatkan saya kembali bahwa kebahagiaan itu erat kaitannya dengan bagaimana kita melihat hidup dari kacamata pemahaman kita. rupa-rupanya untuk bahagia itu ada seninya. Dan seni bahagia itu memang harus dipelajari.

Teringat kembali, bahwa sebenarnya tasawuf itu seni juga. Karena dengan mengenal Tuhan-lah baru hidup bisa dimaknai dengan lebih bahagia. Jadi mengerti bahwa Tuhan Maha Kasih, dan juga bahwa Tuhan suka gurau juga rupanya.

Sesuatu yang jarang ditemukan dalam kajian yang semata mengupas syariat belaka. Dua keping mata uang yang harus seiring, lahir dan batin.

Baru saja hari ini kita mendengar pemboman di sebuah gereja. Tertegun saya mendengar itu, kerukunan dalam kebhinekaan bangsa yang besar ini kembali digoyang.

Tentu saja sangat boleh jadi ada unsur politis dalam kejadian ini. Tetapi, tidak menutup fakta juga bahwa pemahaman keagamaan yang keras, bisa menjadi kendaraan tunggangan yang gampang digunakan oleh siapapun yang menginginkan kekacauan.

Saya rasa, salah satu solusi adalah mengenalkan kembali masyarakat pada Tasawuf. Ilmu mengenal Tuhan, dan dalam salah satu bahasannya adalah seni memandang kehidupan dalam citraNya yang Jamaal. Indah. Welas Asih. Dan menaungi semua. Agar kehidupan tidak setiap saat dipandang sebagai medan perang. Dan yang berbeda harus dimusnahkan.

Keberagamaan tanpa ada sentuhan sisi batin atau spiritualitas barangkali akan menjadi terlampau formal dan garang.

Mudah-mudahan, Rahmatan Lil Alamin-nya islam bisa kembali terasa.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *