SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI

Beberapa hari ini, untuk melepas kebosanan saya membaca komik yang menggambarkan masa-masa perang zaman dulu kala di China, zaman-zaman kekaisaran. Ternyata banyak sekali pelajaran bisa dipetik.

Saya membaca, bagaimana para jenderal perang harus dihadapkan pada keputusan-keputusan yang sulit. Kadangkali, keputusan-keputusan sulit itu bertabrakan dengan nilai-nilai personal. Misalnya, orang yang gampang trenyuh melihat orang lain susah, akan sulit menjadi Jenderal perang. Karena dia tidak bisa melampaui kediriannya yang sempit, dan tidak bisa melihat secara lebih luas.

Dia boleh jadi adalah orang yang baik, tetapi tidak bisa menanggung tugas yang besar.

Jika nilai-nilai yang kita anut, adalah nilai-nilai yang “rendah”, kita biasanya sulit bergerak. Karena masih “belum selesai dengan diri sendiri”.
Saya baru menyadari maksud pernyataan “belum selesai dengan diri sendiri” setelah mempelajari pendekatan sufistik, dan lalu melihat gambaran-gambaran kehidupan masa lalu dalam ceritra-ceritra wayang atau komik sejarah, baru semuanya menjadi make sense.
untuk “Selesai dengan diri sendiri”, kita harus memahami kehidupan dalam paradigma yang “tinggi”. Melihat hidup tidak sebatas personal kita sendiri, melainkan ceritraNya. Senda gurauNya. Seorang arif mengatakan lihatlah kehidupan ini dari Bird Eye View, pandangan yang tinggi dan menyeluruh.

Umpamanya, seorang jenderal di masa peperangan, dia akan sulit bergerak mengatur tentara, jika hatinya tertambat pada kesedihan. Persis seperti ceritra Mahabarata dimana Arjuna mengalami kebimbangan saat dirinya berada di medan perang Kurusetra. Bagaimana mungkin dia memimpin peperangan, yang mana peperangan ini hanya akan berujung pada banjir darah. Kenapa ini harus terjadi? Sedangkan dia sudah di medan perang dan tentara menunggu di hadapan.

Untuk keluar dari kesedihan karena dibelit situasi peperangan, Arjuna harus ditarik ke dalam paradigma yang lebih tinggi. Bukan sebatas paradigma seorang jenderal yang melihat bahwa korban dalam peperangan adalah hal yang tak terelakkan, melainkan Paradigma yang di atas itu lagi, dia tidak lagi melihat hidup sebatas kehidupan personal dirinya dan keluarganya, tetapi sebagai ceritra Tuhan. Kalau di epos Mahabarata, untuk supaya Arjuna bisa meninggalkan paradigma lamanya, dia dibimbing oleh Krishna. (Barangkali itu juga mengapa Arjuna digambarkan agak-agak kemayu, mungkin maksudnya adalah Arjuna seorang yang berhati “baik”, tetapi bagaimanapun berhati “baik” tidak bisa mengemban tugas besar tanpa melangkah ke cara pandang yang lebih tinggi, jika tidak, justru orang-orang yang berhati “baik” lah yang paling susah untuk menyelesaikan tugas.Karena terhenti oleh rasa empati personalnya).

Melihat analogi ceritra itu, saya perhatikan kaitannya dengan kajian sufistik, (utamanya pendekatan tasawuf profetik yang saya pelajari dari seorang arif) benarlah kiranya mengapa pemahaman mengenai Tuhan; asal muasal kehidupan; kaitannya antara Tuhan dan alam semesta; serta pengenalan tentang takdir bahwa seluruh cerita kehidupan ini sebenarnya untuk menceritakan DIA saja; semua hal itu diletakkan paling awal. Karena, awaluddin makrifatullah.

Sulit seseorang melangkah secara benar dan tegap dalam kehidupan ini, tanpa benar dulu cara pandang kita di hulunya kehidupan ini, barulah segala aktivitas di hilir akan berarti.

Umpamanya kita seorang pekerja kantoran. Kita mengikuti pelatihan marketing, pelatihan karakter dan tema-tema motivasi semacam itu, semua itu akan lebih tajam jika kita memahaminya lewat kacamata yang paling hulu, yaitu bahwa kehidupan ini tidak bisa dipisahkan dari kaitannya dengan Tuhan menceritakan diriNya. Semua tidak bisa lepas dari pangkal jalan. Kenapa kehidupan ini ada? Darimana kehidupan ini berasal?

Tidak bisa seseorang hanya mengejar kemampuan marketing, lalu sukses di bidang finansial, tapi tidak mengerti untuk apa kok tiba-tiba dia ada di dalam hidup, dan menjadi manajer yang sukses? Tanpa terjawab pertanyaan itu, dia akan selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ada yang kurang, entah apa. Belum selesai.

Seperti membersihkan sungai. Kalau hulunya belum bersih, maka sia-sialah pekerjaan membersihkan hilir sungai. Tetapi kalau hulunya bersih, barulah pekerjaan membersihkan bagian hilir sungai akan memberikan dampak yang kelihatan.

Saya rasa, Itulah mengapa di dalam sebuah ayat dikatakan, Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum, sebelum mereka merubah “diri” mereka sendiri. Merubah “diri” atau “nafs” itu lebih ke merubah paradigma. Cara pandang yang paling mendasar tentang kehidupan berubah, barulah hal lain dapat dijalankan dengan maksimal karena sudah selesai dengan diri sendiri. Tidak lagi mengasihani diri sendiri. Atau tidak lagi menyalahkan keadaan dan tidak menyalahkan orang lain. Dirinya siap menjalankan hidup dalam sikap penghambaan.

Mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *