SEKEDAR P3K VS PERTOLONGAN SEBENARNYA (BAGI PEMAHAMAN SPIRITUAL)

ALA BARAT

Jika rekan-rekan pernah menonton Film Harry Potter, tentu akrab dengan istilah pembagian kelas seperti Griffindor, Slytherin, dst…. pembagian kategorisasi kelas-kelas dalam film fiksi itu sebenarnya mengutip dari pembagian kepribadian manusia, sebuah bahasan klasik sekali, yaitu Koleris, Sanguinis, Melankolis, dan Phlegmatis.

Pengklasifikasian kepribadian manusia dalam empat tipe itu, kita jumpai bermacam-macam variasinya, tetapi intinya kurang lebih samalah. Kepribadian manusia itu ada yang tipenya dominan-suka memerintah, Easy going-ceria-gampang gaul, Analis yang teliti, dan terakhir orang dengan tipe santai kaya di pantai.

Pembagian ini, adalah khas cara penelitian para ahli barat umumnya. Mereka meneliti apa yang tampak. Gejala-gejala permukaan.

ALA SPIRITUALITAS TIMUR

Agak berbeda, denga cara timur yang masuk lebih dalam pada bahasan “Jiwa”. Karena dalam literatur barat tidak ada pembahasan mengenai “true self”. Mesti pembahasan mengenai true self, diri sejati, itu ada pada pembahasan spiritualitas agama-agama atau juga misalnya spiritualitas timur.

Maka kalau kita lihat, dalam bahasan spiritualitas timur sering kita dengar kajian mengenai “melampaui ego”. Self-less. Karena dalam bahasan spiritualitas timur, sesuatu yang kita kenal sebagai topeng-topeng kepribadian itu, masih belum diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang sebenarnya itu adalah sang pengamat yang memahami topeng-topeng karakter itu, sang perekam kejadian yang menjadikan pengalaman hidupnya sebagai topeng-topeng karakter.

Menarik sekali, mengamati bahwa dalam banyak tradisi bahasan-bahasan tentang jiwa ini mirip-mirip.

SUFISTIK

Hanya saja, ternyata ada perbedaan yang lebih mendasar lagi, saat mencoba melihat kajian ini dari sudut pandang sufistik. Dalam kajian sufistik, ternyata tidak hanya kita ketahui bahwa topeng-topeng karakter itu bukan sejatinya manusia, bahkan sesuatu yang dibahas dalam spiritualitas yang jamak beredar di masyarakat (observer, sang pengamat, diri sejati, dsb…) itu pun dianggap bukan sesuatu yang “wujud”. Bukan sesuatu yang “ada”.

Karena, sejatinya yang ada adalah dzat (ciptaan)-Nya. Apapun bahasa sains menyebutnya. Karena dunia fisikal ini, segala yang bisa diindera, dibayangkan, dikaji, kalau dibelah teruuuuuuuus sampai ke dalam, jatuh-jatuhnya sampai pada yang dalam kajian sufistik disebut dzat (ciptaan)-Nya. Bahan dasar segala yang ada, dariNYA berasal.

Segala ciptaan tidak memiliki wujud sejati, seperti dalam sebuah hadits Rasulullah mengatakan demi yang diriku di dalam genggaman-Nya.

Itu sebab, dalam kajian sufistik, tidak ada penyebab sejati melainkan DIA. Tidak hukum-hukum fisika, tidak vibrasi, tidak getaran, tidak intensi atau niat dan macam-macam, melainkan DIA bercerita tentang diriNya sendiri lewat pagelaran alam semesta ini.

P3K (PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN -PEMAHAMAN)

Tapi memang, cara pandang seperti para sufi ini pelik. Dan seringkali tidak mudah menerapkannya.

Maka itu kadang-kadang diperlukan juga tindakan-tindakan yang berdasarkan pada kajian-kajian (yang anggaplah lebih sederhana) semisal kajian psikologi praktis barat, atau kajian self ala timur, sekadar untuk P3K. Semacam pertolongan pertama. Karena setelah masuk pada pertolongan pertama itu, harus dilanjut dengan tindakan medis yang mana tindakan medis itu anggaplah kajian sufistik yang berat-berat itu.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW ada berkata, kalau kamu marah, ganti posisi dari berdiri jadi duduk, kalau masih marah, ganti posisi jadi berbaring. Tindakan itu (dari berdiri, jadi duduk, jadi berbaring) adalah tindakan praktis saja untuk mengatasi emosi yang sesaat. Rasulullah SAW lebih paham daripada kita bahwa yang lebih mendasar untuk mengatasi emosi adalah pengenalan mendalam mengenai diri, dan mengenai takdir, tetapi dengan kearifan beliau, disinggung-singgung juga sedikit mengenai metoda-metoda yang praktis sederhana untuk orang-orang awam.

Karena memang sulit untuk sampai pada cara pandang yang tinggi tadi. Sulit tetapi penting sekali.

Seorang pekerja misalnya, dia begitu kesal karena analisa data yang dia sudah lakukan dengan cermat teliti kok ndilalah tidak dihargai oleh bos-nya. Presentasinya kok ternyata tidak diaanggap??

Secara praktis, kita bisa katakan pada pekerja itu. Bos mu itu, tipenya orang Choleris, dominan, yang bukan terlalu analis. Bagimu, analisa angka-angka dan grafik-grafik itu penting karena kamu orang tipe melankolis yang detail, tetapi bagi bosmu yang penting actionnya, bukan analisa-analisa.

Dengan pendekatan praktis barat itu, si pekerja akan nyadar, oh…. iya ya… ternyata beda karakter saya sama bos.

Bisa juga, masuk pada kajian yang agak lebih budaya timur. Yang tersinggung itu, bukan dirimu lho, yang tersinggung itu sebenarnya adalah topeng kepribadianmu. Dirimu yang sejati, tidak bisa tersinggung, karena dia hanya pengamat saja. Nah ini sudah mulai ribet sedikit, tetapi kalau seseorang sudah masuk disini, maka dia lebih sulit untuk tersinggung (teorinya begitu), karena dia sudah self-less.

Akan tetapi, baru mulai masuk ranah religi sufistik, saat seseorang sudah melihat bahwa bos-nya itu begitu karena “takdir”, yang mana takdir itu sudah ditulis, pasti berhikmah, dan intinya adalah DIA menceritakan tentang diriNYA sendiri. Karena segala yang wujud, tidak punya wujud sejati.

Cara pandang yang terakhir itu, adalah yang paling sulit dipakai. Tetapi kita secara jujur menyadari bahwa cara pandang itulah yang paling mendasar. Karena itulah dikatakan awal dari kehidupan beragama adalah mengenali Allah. Tuhan semesta alam.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *