SEJARAH BERULANG, DAN LAUTAN PELAJARAN

History repeats. Kata orang bijak. Sejarah berulang.

Dahulu saya tak seberapa percaya dengan kekata itu, sampai mengalami sendiri.

Satu contoh, misalnya pola pengasuhan masa kecil kita tanpa kita sadari kadang-kadang sering secara refleks kita terapkan ke anak kita. Cara kita menghadapi masalah seringkali juga sama dengan cara orang tua kita menghadapi masalah. Konflik di kantor misalnya, ternyata merupakan konflik yang dulu pernah terjadi dengan pola yang mirip. Kejadiannya beda tapi temanya mirip.

Kehidupan rumah tangga kita kok sepertinya sama dengan kehidupan rumah tangga orang tua kita? Problemnya, konfliknya.

Dalam skala global juga misalnya, Dinasti-dinasti kerajaan mengalami persatuan yang solid, lalu batas-batas kerajaan meluas saking makmurnya. Lalu tidak lama kemudian menjadi stagnan dan bergelimang kemewahan lalu hancur. Polanya selalu begitu. Itu kata Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah [1]

Di dalam Qur’an juga disampaikan kisah kaum-kaum terdahulu. Karena history repeats. Polanya berulang.

Saya dulu memaknainya sebatas “eh beneran bahwa history repeats, sejarah berulang….” sampai suatu hari seorang arif mengajarkan lebih tinggi lagi, bahwa tak cuma sejarah berulang, melainkan “Tuhan mengajari kita lewat kejadian-kejadian hidup. Kalau kita PEKA, maka kita akan melihat polanya dan kita belajar tentang sesuatu dari sana”

Dan sejarah itu diulang-ulang terus sampai manusia belajar. IQRO. Baca, belajar, Kalau kita baca sejarah akan kelihatan kalau polanya mirip-mirip. Kita harus belajar dari repetisi itu.

Hanya saja, tingkat “kedalaman” manusia belajar berbeda-beda. Ada yang belajar sebatas hal-hal yang nampak di permukaan. Ada yang lebih dalam lagi.

Pepatah bilang, jangan sibuk dengan dedaunan tetapi carilah akarnya. Ini perlambang mengenai mengenali gejala-gejala yang nampak di permukaan vs akar masalah sebenarnya yang menimbulkan gejala terjadi.

Sebagai contoh, seseorang terlihat pundaknya kaku dan tegang. Cara mengatasinya barangkali kasih balsem aja di pundaknya. Tetapi itu hanya mengatasi gejala di permukaan. Barangkali, masalahnya adalah karena dia stress sehingga pundak menjadi kaku dan tegang. Selama akar masalah tidak diatasi, maka dedaunan gejala bisa muncul berulang.

Dedaunan gejala di permukaan itu Allah takdirkan secara ritmis berulang terus sampai manusia mengambil pelajaran. Ooooh sebenarnya akar masalahnya ini toh. Lewat perulangan-perulangan itu, kita “diajari”.

Belajar mengamati bagaimana Allah mengajari. Ooohh masalah yang saya hadapi sekarang ini sebenarnya perulangan dari masalah yang dihadapi orangtua saya dulu, misalnya. Hanya saja dulu masalah ini diatasi secara keliru, hanya membahas gejala, tetapi tak sampai di akarnya. Maka tugas generasi sekarang untuk belajar.

Menarik sekali. Rekan-rekan bisa mengamati kehidupan sendiri, dan perhatikan bahwa repetisi sejarah terjadi dimana-mana. Kita hidup dalam lautan pelajaran.


[1] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Historic_recurrence?wprov=sfti1

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *