SEDEKAH SENDI, INSIGHT DI TENGAH PANDEMI

Shaff harus direnggangkan. Masker harus dipakai. Tidak ada bersalaman. Dan jumlah jamaah dibatasi sejumlah tetangga dekat saja, agar mengisi jalan pendek dalam komplek perumahan kami. Idul Fitri kali ini memang meninggalkan cecap rasa yang berbeda. Pandemi Corona belum usai, tapi Ramadhan sudah sampai ujung. Dan tiba-tiba saja sudah masuk Syawal. “Waktu” memang masih tetap dalam tabiatnya yang biasa, terbang dengan cepat. Seperti pepatah mengatakan “time flies”.

Sebenarnya beruntung juga ada inisiatif beberapa warga di komplek saya untuk mengadakan Sholat Ied dengan tetap menjaga protocol menghadapi pandemi Corona. Walhasil sholat Ied dengan jamaah mini seputaran tetangga dekat pagi ini, menjadi selebrasi yang membuat lebaran ini tetap ada rasa kultural-nya. Alhamdulillah.

“Abu bakar…..” kata khotib sholat ied mini tadi, “menyedekahkan keseluruhan harta yang dia punya”. Beliau mengutip sebuah cerita klasik yang pas dengan momen sekarang. Lanjut beliau lagi, Abu Bakar selalu mengalahkan para sahabat lainnya dalam “saling berlomba berbuat kebaikan”.

Saat sahabat sekelas Umar Bin Khatab ingin menyaingi pencapaian Abu Bakar dalam berbuat baik, Umar sedekahkan setengah hartanya. Akan tetapi, saat mendapati Abu Bakar menyedekahkan seluruh hartanya, maka tahulah Umar bahwa Abu Bakar tidak akan pernah terkejar.

Kita memang tidak level mengejar Sayidina Umar dan Abu Bakar, dan lagi memang “tidak disyariatkan” bagi khalayak umum untuk meniru perbuatan Umar yang menyedekahkan setengah hartanya, apatah lagi meniru Abu Bakar yang tidak meninggalkan apapun bagi keluarganya karena hartanya disedekahkan semua-muanya. Hati kita belum “sampai” ke titik itu.

Semasa mendengarkan kisah klasik yang dikutip sang khatib, tiba-tiba saya tersadar. Oooh…. Ini dia. Ini dia Intinya dari sedekah –atau pelajaran zakat fithrah- semasa ramadhan ini. ini adalah bicara “kontribusi sosial”.

Pada akhirnya, kita dituntut untuk “sedekah”, kontribusi, memberikan sesuatu yang kita punya, apa saja itu, bagi khalayak. Seperti sabda Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan bagi orang lain.[1]

Tiba-tiba menjadi jelaslah urutan rukun islam dan maksudnya.

Dimulai dengan syahadat. Syahadat adalah fondasi keberagamaan. Makrifatullah, pengenalan kepada Allah sebagai Yang Menzahirkan alam ini, dan Yang Mengatur alam ini. DariNya kita berasal, kepadaNya kita kembali. Dan keseluruhan lini hidup adalah ceritaNya. Lalu menapaki jalan spiritualitas Rasulullah SAW. Jalan spiritualitas itu banyak, tetapi yang kita anut adalah yang “tetap berkecimpung dalam kehidupan” spiritualitas Rasulullah SAW.

Lalu Sholat. Menyampaikan ekspresi kekaguman, ketundukan, kebutuhan akan pertolongan, dst…. Kepada Tuhan yang sudah kita kenal. Karena keseluruhan isi hidup kita adalah ceritaNya, maka kepadaNya juga kita kembalikan haru biru kehidupan itu.

Lalu Puasa. Puasa sebagai purifikasi. Pemurnian. Membersihkan fisik dari segi biologis. Membersihkan kejiwaan dari sisi spiritualnya.

Lalu Zakat. Secara zahirnya adalah mengeluarkan sebagian harta yang kita punya untuk yang membutuhkan. Tetapi bisa pula kita maknai bahwa setelah mengenal Tuhan, mengetahui kehidupan adalah ceritaNya, setelah sholat sebagai salah satu bentuk “mengingatNya”, setelah memurnikan jiwa dengan puasa, maka kita harus “turun gunung”. Berkecimpung dalam kehidupan sosial. Bersedekah. Dengan harta, dengan fikiran, dengan tulisan, dengan apapun peranan yang kita miliki, tetapi kita maknai bahwa yang kita lakukan adalah kita ikut serta dalam pagelaran hidup ini, yang menceritakan DIA sendiri.

Barulah saya menyadari maksud hadits bahwa setiap sendi[2] manusia diwajibkan untuk bersedekah. Memanfaatkan seluruh perangkat yang diberikan Tuhan kepada kita, yaitu diri kita dan kemampuan kita, untuk kontribusi aktif dalam pagelaran kehidupan ini. Kontribusi itulah sedekah pada setiap sendi dalam hidup kita.

Lalu Haji. Haji adalah tahapan terakhir dalam tangga spiritualitas. Haji adalah meninggalkan kehidupan ini. Pakaian Ihram ala pertapa. Menghabiskan hidup hanya untuk dimensi spiritual semata-mata. Meninggalkan dunia. Itulah haji. Akan tetapi, kita tidak bisa “haji”, meninggalkan kehidupan, hidup seperti pertapa dan rahib, tanpa lebih dulu kita berkecimpung di dalam hidup. Berlakon sebaik-baik yang kita bisa dalam pagelaran ceritaNya. Berkontribusi aktif dalam kehidupan.

Kalau kita tarik mundur. Kontribusi aktif dalam kehidupan sebagai sedekah kita, harus pula didasari ketulusan hati yang lahir dari puasa. Tetapi puasa tidak bisa mencapai ketulusan hati tanpa lebih dulu syahadat (mengenal Allah SWT dan Rosulullah SAW) dan mengingatiNya dalam ibadah yang fardhu seperti sholat.

Semuanya tiba-tiba begitu apik terpapar. Tangga-tangga spiritualitas. Dan sadarlah saya bahwa saya belum banyak “sedekah”. Kontribusi aktif dalam hidup. Kontribusi dalam masyarakat ini adalah tahapan yang memanggil-manggil, menggedor-gedor kesadaran kita yang secara keliru menempatkan kehidupan seperti pertapa dan rahib sebagai puncak capaian. Padahal sebelum itu kita harus bersedekah kepada kehidupan ini.

Teringat saya tetangga yang memasang garis pembatas shaff di jalanan malam-malam. Atau bapak-bapak tukan bebersih yang menyapu jalanan komplek sebelum sholat ied. Atau yang memasang toa. Atau Ibu-ibu yang menyisihkan sebagian rejekinya untuk buka puasa satpam komplek. Atau pelbagai-bagai bentuk kontribusi lainnya dari masyarakat dan orang-orang sekitar.

Setiap orang berkontribusi dalam perannya sendiri-sendiri, dan saya merasa tiba-tiba harus saya tuliskan tentang hal ini. Betapapun jauh dari layak, tetapi inilah kewajiban bagi setiap persendian, semoga dihitung sebagai yang Rasulullah katakan setiap sendi diwajibkan bersedekah sejak mentari terbit. Berkata baik adalah sedekah, menyingkirkan rintangan di jalan adalah sedekah, menolong orang mengangkat barang-barang adalah sedekah.


[1] “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni

[2] “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. [HR. Bukhari dan Muslim]

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *