RUANG SENDIRI

43339-004-62CB83E6Saya teringat ungkapan yang masyhur, kalau tak khilaf dari Ibnu Arabi, bahwa “usaha manusia” hanya sebatas mengetuk pintu Tuhan. Selebihnya adalah urusan Tuhan, untuk “menyambut”.

Ungkapan itu, tentulah metafora. Tentu tak benar-benar ada pintu disana.

Belakangan teringat seorang guru pernah mewejang dengan nasihat yang hampir serupa, yaitu bahwa batas usaha manusia hanya sebatas sampai ke gerbang istana raja, begitu kata beliau mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani.

lucunya, realita dari wejangan itu baru saya mengerti setelah mendengarkan lagunya Tulus, judulnya “Ruang Sendiri”. Dimana ceritanya itu lagu cinta-cintaan sebenarnya, dan dia butuh sejenak waktu untuk “sendiri”, karena butuh “ruang”. Blasss sama sekali tak ada spiritual-spiritualnya itu lagu yang muncul di playlist spotify saya, tapi kok jadi paham lewat sana.

Ilustrasinya seperti seorang yang sedang larut dalam menonton televisi, sinetron yang dia gemari, lalu dia menangis karena sangat terikut dalam suasana cerita, orang itu akan seperti ada dalam “dunianya” sendiri. Dia seperti hidup dalam ruangnya sendiri.

Begitu juga dengan ingatan kepada Tuhan. Ternyata, jika terus menerus kita mendawamkan mengingati Tuhan, umpamanya dalam setiap terpa masalah di kehidupan kita selalu kita “melapor” pada Tuhan dalam kontemplasi dan doa-doa kita pribadi; maka seperti ada “ruang” untuk kita menyendiri dan melapor kepada-Nya. Meskipun kita berada dalam keramaian.

Ruang sendiri itu, kalau bentuk fisikalnya barangkali disebut mihrab, yang sering kita jumpai pada ceruk masjid yang ditempati imam untuk memimpin sholat. Tetapi secara spiritual, ruang mihrab itu adalah “ruang” yang terbangun dari seringnya kita melapor padaNya dan mengingatiNya.

Tak benar-benar ada ruangan dan mihrab di dalam hati kita tentu saja. tetapi semakin dawam kita melakukannya, semakin cepat kita masuk dalam dunia itu, dan sendiri saja didalamnya, meski banyak keramaian di luar kita.

Banyak-banyak melapor kepada Tuhan, sampai “ruang” itu terbangun dalam hati kita, dan kita bisa berdiam di dalamnya.


*) ilustration image taken from here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *