ROTI YANG HAMPIR MATI DAN BELAJAR MEMAKNAI

Hari ini saya membeli roti isi coklat seharga lima ribu. Begitu dahsyat persuasi kasir mini market itu, yang setiap hari setiap saat kepada siapapun pembelinya selalu menawarkan produk yang khusus, “Ga sekalian sama rotinya Pak? Beli satu dapat dua”, begitu katanya.

Akhirnya saya pun membeli roti itu. Seharga lima ribu, dan mendapatkan dua potong roti. Ternyata rotinya sudah hampir expired. Tetapi masih bagus, hanya saja kan sayang kalau keburu expired. Lagian ini roti memang yang modelnya hanya bertahan sekian hari saja. murni tanpa pengawet sepertinya.

Repetisi berulang-ulang, penawaran berulang-ulang dari kasir penjaga itu sampai membuat konsumen akhirnya membeli, mengingatkan saya juga dengan satpam di kantor.

Semenjak vendor sekuritas di kantor diganti dengan yang baru, saya mengamati ada perubahan signifikan. Perubahan itu, adalah dari hal yang sepele saja. Sapaan.

Saya termasuk orang yang kadang-kadang abai pada sekitar. Karena sibuk sendiri, seringkali orang yang lalu lalang di sekitar tak terperhatikan. Maka itu, semenjak vendor pengamanan dan tim keamanan barunya ini bertugas, saya agak kikuk juga saat mereka ternyata selalu begitu ramah menyapa setiap karyawan yang lewat, siapapun saja dengan sapaan “selamat pagi, Pak… gimana hari ini Pak? Pagi Bu…. Wah hampir saja kehujanan ya?” dan macam-macam sapaan.

Mulanya saya kira sapaan itu klise. Tetapi sapaan yang mereka lakukan itu ternyata tak lekang oleh waktu.

Seminggu, dua minggu, sebulan, berbulan-bulan sapaan demi sapaan itu menjadi kebiasaan yang rutin. Hingga sekali waktu seandainya saja saya yang lewat di depan mereka, dan kebetulan mereka sedang tidak melihat atau sedang mengerjakan sesuatu, gantian saya yang merasa kikuk di depan mereka. karena kebiasaannya saat siapapun lewat mestilah ada tegur sapa.

Sehingga, tak jarang gantian saya yang mengucapkan “selamat pagi Pak…. Sore Mas….” Dan sebagainya, sebagai wujud penghargaan atas budaya sapa menyapa yang mereka tularkan.

Ungkapan sederhana semisal selamat pagi atau selamat sore, adalah ekspresi bahasa.

Sebagai sebuah ekspresi bahasa, frasa “selamat pagi” atau sapaan yang sejenis tidaklah tanpa makna. Kata-kata, itu merangkum makna.

Maknanya adalah barangkali “hasrat membangun keakraban”, “hasrat mendoakan orang lain”, dan sebagainya. Sehingga pembiasaan yang terus menerus walhasil membuat orang lain mau tak mau tertular dengan makna itu. Makna keakraban.

Saya rasa pola yang serupa terjadi, saat kita bertemu seseorang dengan pembawaan yang ceria. Misalnya wajah yang menyenangkan. Gesture yang ramah. Dan tutur kata yang menghibur, maka kita akan terimbas ceria-nya. Karena ekspresi yang ramah itu tumbuh dari makna.

Seperti sebuah hadits katakan, bahwa bergaul dengan tukang minyak wangi kita pasti akan kecipratan wangi.

Jadi, ada “makna” di dalam hati, yang kemudian makna itu akan luber dalam wujud fisikal, bisa menjadi senyum, menjadi ekspresi gerak, atau menjadi kata-kata.

Sebagian pendekatan spiritual, menggunakan pola itu. Karena menyadari bahwa ekspresi fisikal hanyalah “luberan” dari makna sejati yang di dalam batin. Maka cara mereka melatih seseorang untuk bertemu “makna” itu adalah dengan membiasakan seseorang itu melakukan ekspresi fisikalnya.

Contoh sederhana. Coba anda teriak “BAJINGAN”. Terus menerus….. sampai capek, ratusan kali, jutaan kali.

Hati-hati… karena kata “BAJINGAN” itu tumbuh dari ekspresi makna yang negatif. Maka jika berakrab-akrab dengan ekspresi fisikal yang punya makna negatif itu, semisal kata-kata cacian, adalah berarti juga mendekatkan hati anda dengan makna batinnya. Tinggal menunggu jenak dimana hati anda bertemu makna batinnya, maka JEDERRR….hatimu kena. Anda akan beneran kesal dan membenci.

Permasalahannya, kalau hal-hal yang negatif, orang gampang mengerti dan bertemu maknanya. Tetapi kalau hal yang positif, seringkali orang tak paham maknanya.

Itu sebab dalam pendekatan positif, seringkali orang-orang dikatakan sudah “merapal” zikir positif, tetapi kok tidak nemu “klik”-nya….. karena belum paham maknanya. Dia hanya bertemu ekspresi fisikalnya, tanpa bertemu makna batinnya.

Misalnya, seseorang yang berzikir ribuan kali melafal istighfar, tetapi tidak menemukan makna bahwa istighfar itu adalah ekspresi kemenyerahan, pengakuan kesalahan, wujud “kembali”. Maka repitisi istighfar itu butuh waktu sangaaaaaaat lama untuk “klik” sampai batinnya menemukan makna istighfar juga.

Yang menarik adalah pendekatan kebalikannya, saat seseorang sudah mengetahui bahwa ekspresi batin (dalam) atau “makna”, maka makna ini bisa terwujud dalam macam-macam ekspresi fisikal.

Misalnya, orang yang sudah ketemu makna “sedih” maka dia bisa mewujudkan eskpresi sedihnya dengan menangis, atau bisa berupa kata-kata ratapan “hatiku hancur”, dan ratapannya bisa macam-macam versi dalam berbagai gaya. Atau bahkan bisa berupa ekspresi lainnya.

Wujud ekspresi berubah-rubah dengan lihainya, tetapi semuanya lahir dari makna batin yang “sedih”. Kenapa begitu? Karena nemu maknanya dulu, baru ekspresi fisikal menyusul sebagai luberan saja.

Pendekatan kedua ini adalah dengan mengenali “makna” dulu. Kalau maknanya ketemu, anda bisa mewujudkan makna itu dalam ekspresi fisikal yang bagaimanapun saja.

Tetapi, untuk kenal dengan “makna” ini, harus lewat ilmu. Tak bisa tanpa ilmu. Dalam spiritualitas islam, ilmu mengenal Allah diberikan sebagai fundamen. Saat seseorang sudah kenal dengan Allah (paham secara keilmuan), dan sudah tahu secara keilmuan mengapa ada alam semesta, mengapa kita hidup, dan jawaban-jawaban itu sudah ketemu, artinya orang ini tahu “makna”. Maka itu belajar tasawuf atau spiritual islam itu hemat saya sangat penting. Karena kita belajar makna lho.

Setelah tahu makna, maka tinggallah orang ini beribadah (melakukan ekspresi fisikal) dalam kepahaman yang sudah ada itu. Maka ekspresi fisikalnya akan menjadi tajam dan punya bobot.

Dua-duanya penting. Dari luar ke dalam bolehlah, memahami bahwa kata-kata, gerak tubuh, ekspresi, adalah bentuk-bentuk fisikal yang lahir dari “makna” yang ada di dalam batin; anda tersenyum, dan cobalah untuk selalu senyum dalam sehari. Senyuuuuuuum terus…. Nanti lama-lama “makna” bahagia itu masuk juga.

Tetapi jangan lupakan ada pendakatan satunya lagi, dari dalam ke luar. Anda temukan dulu definisi bahagia itu sendiri. Pelajari ilmunya. Kalau “makna” sudah ketemu, otomatis anda akan senyum. Bahkan… yang lebih menarik adalah, saat “makna” sudah ketemu, anda bisa tetap bahagia, meskipun ekspresi anda datar-datar saja. orang di luar tidak tahu, apa yang terjadi di “dalam” diri anda.

Beragama dalam dua keping syariat fisik yang dilakoni, dengan makna yang dipahami, itulah ihsan.

Karena “makna” itu, ada di relung kedalaman kita sendiri. Itulah yang orang cari-cari.


*) image sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *