ROMANTISME PENGHAMBAAN (2)

Melihat anak-anak kecil berlarian di depan Musholla komplek, menjelang waktu sholat tarawih, saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu. Keseruan Ramadhan. Hal yang paling dinanti saat puasa ramadhan, justru momen-momen indah bermain bersama teman-teman.

Jadi teringat sewaktu menghadiri kelas parenting di TK anak saya, narasumber menyebutkan bahwa hal yang paling utama, dalam pendidikan anak usia kurang dari 7 tahun adalah menanamkan rasa bahagia dalam memori mereka, atas momen-momen ibadah seperti sholat, atau puasa. Jadi yang penting justru “rasa bahagia”nya dulu, bukan full-nya dulu. Jika hati sudah bahagia, maka kedepannya akan ringan mengerjakannya.

Betapa sebuah “kebenaran” yang disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh romantisme kemanusiaan, bisa menjadi mudah masuk dan awet.

Hampir senada dengan itu, saya mengingat bahwa orang dewasa pun sebenarnya sama saja dengan anak-anak. Sebagian para arif, mereka sudah sampai pada kedudukan dimana mereka tidak perlu alasan-alasan untuk menemui Tuhan. Mereka sibuk mengingatiNya, sampai lupa dengan alasan-alasan. Sedangkan, mayoritas kita adalah orang-orang yang untuk mengingatiNya butuh alasan-alasan, misalnya, “do’a” atau permohonan.

Dengan menyentuh sisi romantisme penghambaan, maka orang-orang seperti kita bisa punya alasan-alasan untuk selalu berdo’a kepada Tuhan. Meningati Tuhan, lewat do’a, lewat alasan-alasan Butuh inilah, butuh itulah. Bersyukur karena inilah, bersyukur karena itulah. Berlindung dari sesuatu, dan macam-macam.

Teringat seorang guru pernah berkata, jika kita rasa tak puas akan sesuatu, maka berdo’alah, meminta pertolongan.

Seorang sahabat bertanya kepada beliau, mengapa beliau tak berdo’a untuk kesembuhan matanya yang memakai kacamata? sedangkan do’a beliau insyaAllah makbul?

Jawaban beliau kalau saya bahasakan ulang kurang lebih tak semestinya kita-kita yang belum “sampai” memraktekkan hal itu (yaitu tidak berdo’a karena ridho pasrah pada af’al Tuhan). Karena ada adabnya sendiri-sendiri. Ada yang menggunakan alasan-alasan untuk mengingatiNya, ada yang tak lagi perlu alasan-alasan.

Mereka para arif, sudah tenggelam dalam penyaksian. Sedangkan kita-kita membutuhkan alasan-alasan lewat kelemahan kehambaan kita, baru bisa merangkak menuju tangga dimana mereka-mereka sudah sampai.

Itu untuk dialektika pribadi.

Begitupun dalam menyampaikan pada orang lain.

Saya membaca bagaimana seorang Rumi berevolusi dalam caranya menyampaikan pada murid-muridnya. Dalam Fihi Ma Fihi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk prosa panjang. Sedangkan, dalam bukunya yang belakangan, yaitu Matsnawi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk cerita, kisah-kisah, perlambang-perlambang lewat hikayat dan dongeng. Karena kononnya Rumi menyadari bahwa ceritra-ceritra lebih bisa menyentuh sisi romantisme kemanusiaan ketimbang prosa-prosa panjang.

Saya menikmati romantisme kelemahan kehambaan itu, saat merenungi sholat Jum’at tadi siang. Betapa sudah ribuan Jum’at yang saya lewati, dan perjalanan ini terasa begitu panjang dan romantis dalam segala onak duriNya. lewat rasa butuh dan rasa syukur itulah, saya punya alasan-alasan untuk berdo’a padaNya. Mengejar ketertinggalan para Arif yang sudah sampai di pintuNya.

Terngiang kembali pesanan seorang Arif, kalau belum bisa langsung mengingatNya -tanpa alasan-alasan-, maka lewatilah pintu do’a.

-debuterbang-


Note : Gambar ilustrasi dan feature di tulisan ini, saya pinjam dari link berikut ini

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *