REDAKSI BESAR DAN ADAB YANG TINGGI

Ada sebuah redaksi yang sangat besar, kata Sayid Quthb dalam “Fi Zhilalil Qur’an”, saat beliau mencoba menjelaskan apa yang dia pahami mengenai QS Al-An’am 36.

 “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

Rasulullah kala itu begitu berduka dengan ingkarnya kaumnya kepadanya. Maka Allah SWT menegur beliau pada ayat ke 36 Surat Al-An’am itu. Teguran ini, adalah sebentuk teguran sayang. Pasalnya, pada ayat sebelumnya Allah menghibur beliau untuk tak bersedih, karena sebenarnya orang-orang yang ingkar itu mengakui integritas Sang Nabi, hanya saja ego dan kepentingan pribadi menutup mereka untuk menyatakan pengakuan itu.

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. QS Al-An’am : 33

Barulah setelah itu Allah SWT menceritakan bahwa Rasul-rasul terdahulu pula mengalami pendustaan dan penganiayaan.

Dan setelah itu barulah Allah menegur beliau dengan ayat 36 itu.

Jika ingkarnya ummat begitu berat terasa, maka cobalah buat mukjizat yang spektakuler, lubang menembus bumi, atau tangga menuju langit. Tetapi, bukan itu yang bisa menyebabkan mereka beriman. Kalau Allah hendak menjadikan mereka semua dalam petunjuk, maka hal itu pastilah mudah bagi Allah.

Kenapa redaksi ini begitu besar? Saya mengutip bahasa Sayid Quthb, kengerian mengalir dari ayat tersebut jika kita bisa memahami bahwa ayat ini datang dari Rabb penguasa semesta alam, kepada seorang Nabi-Nya yang mulia, seorang ulul azmi, dan tak pernah mendoakan kebinasaan bagi ummatnya seperti yang didoakan Nuh a.s. Tetapi nyatanya tetap Allah SWT tegur.

Menyimak inilah, baru saya mengerti bahwa ada gap yang teramat sangat tidak bisa diukur, antara manusia dan Tuhan.

Dan sebab itulah Allah SWT mengajarkan tata krama, adab batin tingkat tinggi pada Rasulullah SAW, agar bahkan untuk “sekedar” menyayangkan kenyataan bahwa banyak orang yang ingkar; pun sudah tidak pas dalam tata krama.

Sebab everything happen for a reason.

Orang arif mengatakan, para pendosa mestilah ada di dunia ini, agar cerita bahwa Allah SWT bersifat Maha Pengampun; ternyatakan di bumi.

Jika setiap kejadian hidup menceritakan tentang Dia, dan cerita tentang DIA itu berarti menceritakan sifatNya, maka akan ada banyak sekali kejadian di dalam hidup yang mesti terzahir, sebagai ejawantah, sebagai penceritaan sifat itu.

Maha Pengampun, mestilah terceritakan lewat kejadian hidup berupa ada para pendosa, yang kemudian mereka bertaubat, kemudian Allah SWT ampuni.

Maha Pemberi Hidayah, mestilah terceritakan lewat kejadian hidup berupa ada orang-orang yang begitu dalamnya pengenalannya akan Tuhannya, dan menenggelamkan diri dalam peribadatan yang luar biasa banyaknya.

Menghidupkan dan mematikan, mestilah terceritakan bahwa ada kelahiran manusia, dan ada kematian manusia dengan segala macam sebab-musababnya.

Dan lain-lain, dan lain-lain. Yang intinya, setiap kejadian apapun saja dalam hidup ini, for a reason.

Dan inilah yang saya belakangan rasakan, dan baru saja saya mengerti, bahwa inilah tata krama tingkat tinggi, sekaligus sangat berat. Yaitu, untuk tidak pernah mempertanyakan kebijaksanaannya Allah, bahkan pada level gumaman, atau pada level perasaan di dalam hatipun harus ada adabnya. Seperti yang Allah ajarkan pada Rasulullah SAW.

Suatu kali, saya pernah pulang kantor cukup telat. Masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan di rumah. Setibanya di rumah lampu depan ruang tamu konslet, ditambah lagi pompa air ngadat. Banyak sekali kejadian bertumpuk yang membuat kesal. Tetapi di dalam rasa kesal itu, disitulah saya teringat pesanan dari salah seorang guru, yang intinya adalah analog dengan tata batin tingkat tinggi yang Allah ajarkan pada Rasulullah SAW. Maka saya mengistighfari jika di dalam hati ada bersit rasa kesal terhadap kenyataan yang terjadi.

Karena everything happen for a reason. Dan mengecewai sebuah kenyataan yang terjadi, adalah sebuah perbuatan yang kurang pantas. Karena seolah mempertanyakan kebijakan Allah. Padahal, ada rentang pemahaman yang tak bisa dibandingkan sama sekali antara manusia dan Tuhannya.

Maka itu, dalam sejarah kita menyaksikan bahwa Rasulullah-pun ditegur Allah SWT atas “rasa kecewanya”. Sedangkan malaikat, ditegur Allah SWT atas pertanyaannya kepada Allah, kenapa manusia yang dijadikan khalifah di muka bumi. Saya rasa, semuanya merupakan teguran halus untuk memperbaiki tata krama batin.

Easier said than done, kata orang putih. Tentu hal ini tak gampang. Maka saat kejadian hidup terasa begitu berat, saya mengingat sebuah perumpamaan yang diberikan oleh seorang guru, mengajari saya untuk merespon kejadian hidup dengan lebih tepat.

Kita jadikan kejadian hidup itu sebagai batu loncatan untuk mendekat kepada Allah lewat do’a yang mengusung rasa fakir (butuh terhadap pertolongan Allah). Tetapi tidak boleh, ada muatan “marah” kepada Allah, di dalam do’a kita.

Seloroh guru tersebut; saat berdo’a, manja boleh, tetapi marah jangan.

Meminta tolong kepada Allah dengan memelas dan rasa fakir yang sangat; adalah boleh. Tetapi membawa muatan marah kepada Allah, adalah menciderai adab.

Dan dalam tataran tinggi yang menakjubkan, kita lihat bagaimana Rasulullah yang sungguh mulia itu bahkan diajarkan untuk sekedar membatin kecewa saja tak boleh. Sungguh adab yang tinggi.

Saya kira, itulah konteks hadist yang melarang kita untuk mencaci hujan, mencaci angin. Karena dengan muatan rasa marah dalam merespon kejadian hidup; berarti kita telah menciderai adab kepada Allah. Mempertanyakan pengaturan Allah SWT.

“Anak Adam telah menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” ( HR. Tirmidzi no. 2252)

Adab batin yang sangat tinggi, rasanya tidak bosan-bosan kita kutip dari cerita Rasulullah SAW saat pergi ke Thaif, sebuah negri makmur di dekat Makkah. Dalam rangka mendakwahkan mengenai Allah SWT kepada orang-orang disana, masih dalam balutan kesedihan setelah wafatnya Khadijah, wafatnya Abu Thalib, malah setiba di Thaif beliau dilempari dengan batu oleh penduduk thaif.

Pada kala itu, beliau tidak membenci penduduk thaif, tidak mendoakan keburukan untuk penduduk thaif, melainkan berdoa kepada Allah. Di dalam do’anya, beliau tidak mengadukan perbuatan penduduk Thaif itu kepada Allah, melainkan melaporkan kelemahan dirinya sendiri.

“Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan sesama manusia.”

Itulah adab yang tinggi.

—–

gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

2 thoughts on “REDAKSI BESAR DAN ADAB YANG TINGGI

  1. Pingback: BELAJAR ADAB PADA SULAIMAN | Debuterbang

  2. Pingback: BELAJAR ADAB PADA SULAIMAN – DEBUTERBANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *