RAHMAT YANG MENGALAHKAN MURKA

Kita sering mendengar, sebuah hadist tentang 100 rahmat. 99 Rahmat Allah “disimpan” untuk hari akhir nanti. Satu rahmat dibagikan ke seluruh dunia, dan dengan rahmat itulah orang-orang berkasih sayang, sampai-sampai binatang buas tidak memangsa anaknya sendiri.

Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.”  (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan konteks rahmat Allah yang begitu besar ini, saya baru menyadari, bahwa segala pekerjaan yang kita mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim sebenarnya mendudukkan kembali aktivitas kita dalam konteks bahwa Allah itu begitu luas rahmatNya.

Saya baca pada tafsir Al Jailani, diceritakan bahwa Bismillahirrahmanirrahim pada mulanya diturunkan pada Adam a.s, kemudian bacaan itu diangkat kembali, lalu diturunkan pada Ibrahim a.s, kemudian diangkat lagi dan diturunkan dalam Shuhuf Musa a.s, diangkat kembali dan lalu diturunkan lagi pada Sulaiman a.s, lalu pada Isa a.s, dan turun kembali pada Rasulullah SAW pada permulaan al-fatihah. Lalu selepas itu Rasulullah SAW menyuruh kita untuk memulakan segala sesuatu dengan Basmalah.

Sebelum diajarkan Basmalah, orang-orang Arab waktu itu lebih akrab dengan kalimat Bismika Allahumma. Dengan namaMu ya Allah, Tuhan kami. Tak ada penggandengan sifat Rahman dan Rahim pada konteks kalimat yang memulakan segala aktivitas mereka waktu itu.

Salah satu contoh bahwa Basmallah tidak akrab di telinga orang-orang kala itu adalah cerita sewaktu Rasulullah bercucuran darah sehabis dilempari batu oleh penduduk Thaif, lalu beliau berteduh di bawah pohon anggur, dan seorang pelayan kebun merasa kasihan lalu memberikan anggur untuk Rasulullah. Saat itulah sebelum memakan anggur itu beliau memulakan dengan bismillahirrahmanirrahim.

Kalimat apa itu? Tanya sang penjaga kebun merasa asing? Lalu beliau bercakap-cakap dengan sang penjaga kebun yang pada akhirnya yakin dengan kenabian Rasulullah, karena beliau menyinggung cerita tentang Yunus bin Matta, Nabi yang shalih dari kampung Ninawa, tempat sang penjaga kebun berasal.

Begitulah, kalimat Bismillahirrahmanirrahim; asing bagi orang-orang pada awal kenabian Rasulullah. Dan Rasulullah kembali mengajarkan basmallah agar kita memulai segala sesuatu dalam balutan rahmatNya.

Menarik juga tentang rahmat Allah ini, pada suatu hadist pula kita pernah dengar bahwa saat penciptaan alam semesta, Allah SWT mengatakan bahwa RahmatNya mengalahkan murkaNya.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia menulis atas diriNya, Dia meletakkan di sisiNya pada Arasy : “Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)

Maka masuk akal dan nyambung juga, kalau dari sekian banyak Asma-Nya, Allah memajukan dua asma yaitu “Rahman” dan “Rahim” untuk dikedepankan dan diperkenalkan kepada manusia. Saya rasa, Rahman dan Rahim mewakili rahmatNya, rahmatNya mengalahkan murkaNya.

Sedang orang-orang arab sebelum kedatangan Rasulullah, keliru mensifati Tuhan; melulu memandang Tuhan pada sisi murkaNya. Segala kejadian hidup, mereka bingkai dengan murkaNya. Sehingga Tuhan berwajah begitu menyeramkan di benak mereka.

Padahal, Rasulullah mengajarkan antitesisnya, seluruh kejadian hidup dibingkai dengan RahmatNya. Jadilah bismillahirrahmanirrahim mengawali konteks semua pekerjaan apapun yang kita lakukan.

Kalau kita pandang Basmallah ini untuk membingkai keseluruhan konteks hidup kita, maka kita tahu bahwa segala hal yang tertakdir pastilah dalam balutan rahman rahimNya.

Memang benar, ada sifatNya yang mewakili murkaNya. Tetapi segala hal yang Dia murka itu pun masih dalam balutan rahmat. Seperti orang tua yang memarahi anaknya karena rasa sayang.

Karena seluruh kejadian hidup bertujuan untuk mengenalkan tentang diriNya, maka kejadian dalam hidup kita tak mungkin random, everything happen for a reason. Pastilah berhikmah.

Tak mungkin tak berhikmah, karena asma yang Dia kedepankan adalah rahman dan rahim itu. Meski zahirnya suatu kejadian nampak buruk; tetapi kejadian itu pastilah masih dalam balutan namaNya yang Rahman, yang Rahim. Tidak berbalut murka.

Karena rahmatNya, mengalahkan murkaNya.

Dalam aforisma Al-Hikam inilah yang dimaksud Ibnu Athoillah dengan berbaik sangka pada Allah karena mengerti kesempurnaan sifatNya.

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau, paradigma yang tinggi adalah orang yang berbaik sangka pada Allah karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Bahwa segala yang berlaku adalah for a reason, dan segala yang berlaku adalah dalam rahmatNya, meskipun terlihat buruk.

Dan kalau belum mampu seperti itu, cara awalannya adalah dengan melihat kejadian hidup pada sisi yang membuat kita bisa bersyukur.

Baru-baru ini saja saya mengerti tentang betapa indahnya konteks yang dibawa oleh basmallah. Memulakan segala sesuatu dengan mengakrabi Tuhan pada sisi Rahman dan RahimNya. Rahmat yang mengalahkan murka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *