RAHIM YANG JERNIH

 

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, saya mendengarkan lagu-lagu di YouTube. Playlist random dari mulai cover lagu-lagu hits jaman sekarang sampai saya cari-cari lagu-lagu nasyid sholawat kasidahan ala pesantren.

Kadang-kadang mbrebes mili juga mendengarkan lagu-lagu itu. Betapa kalau Tuhan mencipta, maka keindahan yang DIA zahirkan begitu banyak.

Saya jadi teringat, dulu saya punya sebuah gitar, dibelikan dari uang pemberian Nenek saya. Tetapi tak saya mainkan lagi selepas kurang lebih berapa bulan semenjak membeli, pasalnya saya mengira Gitar itu haram.

Sewaktu pindah ke Bandung. Waktu itu baru mengenal ada pesantren seperti Daarut Tauhiid binaan Aa Gym. Meski tak pernah nyantri di sana, tetapi pandangan-pandangan keberagamaan warna Daarut Tauhiid cukup menghiasi kehidupan saya, dari sana saya jadi tahu bahwa “musik haram” adalah satu warna saja dari sekian banyak khasanah pendapat dalam Islam. Yang berpandangan beda pun banyak.

-Yang ingin lebih detail monggo menekuni bidang fikih dan tanya pada ahlinya. Komparasi dari banyak guru. Saya cuma omong-omong doang-

Tetapi satu poin yang menarik bahwa seni sebagai sebuah ekspresi yang keluar dari “jiwa” manusia yang “di dalam”; belakangan saya semakin temukan sisi spiritualnya.

Ini menjawab kebingungan saya mengenai Gitar. Kebingungan jaman SMA dulu.

Hampir selalu, spiritualis yang saya kenal mestilah punya sisi seni dalam hidup mereka. Seni, dalam seperti apapun wujud ejawantahnya, sebenarnya hanya imbas dari indahnya situasi di dalam diri kita sendiri.

Maka para arif sering kita temukan nyeni. Entah jago puisi. Atau jago buat lagu. Atau kalau tidak, minimal mereka bertutur dengan bahasa yang nyastra secara alami.

Karena semakin mentirakati kehidupan, semakin kehidupan menjadi terlihat sisi indahnya, dan semakin ekspresi kekaguman terhadap Pemiliknya ; mencari celah untuk keluar.

Bisa menjelma kata-kata. Bisa menjelma gerak. Bisa menjelma suara dan nada-nada.

Allah membuat kehidupan, agar kehebatanNya dipuji.

Semakin manusia memperbaiki yang “di dalam” semakin ekspresi kekaguman atas keindahan hidup itu keluar.

Selama ekspresi yang keluar itu karena “yang di dalam” mengagungkan DIA. Maka seni menjadi berkah. Karena dawai, atau huruf dan kata, atau gerak, lahir dari rahim yang jernih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *