PESANTREN, MAKAN, DAN MASUK LEBIH DALAM

mosque3Bulan puasa begini, teringat sewaktu SMA saya dan rekan-rekan berkunjung ke salah satu pesantren di Bengkulu. Pesantrennya rindang, di depannya ada sebuah telaga besar dengan teratai begitu banyak. Pematangnya dijaga oleh akar-akar pokok kelapa. Masjidnya terletak di atas dataran yang lebih tinggi sedikit seperti bukit. Lalu dari puncak bukit itu lihatlah ke bawah sembari mendengar azan maghrib.

Segala sudut pesantren itu memorable buat saya dan rekan-rekan. Meski kami mengunjunginya sebentar saja.

Tapi satu hal yang juga terkenang bagi saya adalah sewaktu sholat berjamaah disana. Bacaannya ringkas saja, kulhu, falaq, atau an-nas. Akan tetapi tuma’ninah terjaga. Sepanjang apa berdirinya; sepanjang itu pula rukuknya; sepanjang itu pula sujudnya. Oh….satu bagian sunnah tersadarkan kembali pada saya, yaitu tuma’ninah.

Banyak momen dimana saya tersadarkan bahwa sunnah kebaikan bisa bersembunyi pada bentuk-bentuk yang samar, saking samarnya kita tak tahu itu baik, sehingga kita sering luput. Oh…. Baru nyadar. Hal ini juga kebaikan.

Misalnya ….petuah seorang guru SMA, saat kami antri mengambil wudhu di sekolah. Alih-alih menjalankan sunnah tiga kali basuhan dalam setiap bagian wudhu, kami malah dianjurkan untuk sekali saja. Apa pasal? Pasalnya antrian begitu panjang.

Tiga kali basuhan itu sunnah, tetapi memberi ruang untuk antrian panjang rekan-rekan berwudhu dengan waktu yang sempit karena jam istirahat sekolah terbatas; juga “kebaikan” dalam bentuknya yang lain.

Saya teringat dengan ini lagi, karena musholla kantor kami yang lumayan kecil. Jika puasa begini, antrian membludak. Apalagi pas ashar, karena mengejar waktu pulang. Hehehehe. Maka menghabiskan diri berzikir dalam musholla tentu bagus, tapi segera keluar setelah tunai sholat agar rekan lain berkesempatan masuk musholla; adalah juga “kebaikan” dalam bentuknya yang lain.

Dalam memahami bentuk-bentuk kebaikan ini, seseorang bisa menggunakan analisa “fikih”. Misalnya secara fikih, ketika makanan sudah terhidang, dan waktu sholat sudah masuk maka dahulukan makan, setelah makan baru sholat.

Ada kebaikan bersembunyi pada sesuatu yang kita kira “kalah baik”. Kita baru memahami bahwa sesuatu yang kita kira “kalah baik” itu tadi sebagai “kebaikan yang setimbang” atau bahkan lebih baik, setelah disingkapkan oleh fikih.

Ya misalnya itu, dalam konteks tertentu, “makan dulu sebelum sholat itu preferable lho”. Berdasarkan fikih.

Akan tetapi yang menarik. Setelah kita mengerti batasan-batasan fikihnya, sesuatu itu juga bisa kita maknai lebih dalam, lewat spiritualitas islam. Menikmati sisi esoteris agama.

Misalnya, dalam fikih kalau bepergian boleh jamak. Dulu saya memaknainya sebagai “ah saya masih kuat ni sholatnya ga dijamak ga diqasar.” Seolah-olah jamak dan qasar itu kalah baik dibanding sholat kumplit; padahal sedang bepergian.

Kemudian baru tersadar bahwa saya keliru, setelah memerhatikan seorang arif yang selalu jamak di saat dia bepergian jauh. Jika kebiasaan beliau adalah puasa sunnah hari-hari, maka ketika bepergian jauh beliau berbuka.

Apa alasannya? Pertama tentu fikih membolehkan. Kedua bahwa jamak dan qasar dinilai sebagai hadiah dari Tuhan. ini saya ga kepikiran lho.

Seandainya kita beribadah, tarolah “mengharap balasan” dari Allah, tetapi kita melupakan bahwa disuruh meringkas sholat saat bepergian jauh itu juga “pemberian” dari Allah. Jamak dan Qasar diketahui lewat batasan-batasan fikih, lalu dimaknai sebagai bentuk terimakasih pada Allah; lewat kajian spiritualitas. Ini kan joss sekali.

Memaknai dari sisi esoteris ini lho, yang mesti belajar dari yang ngerti. Karena approach-nya memang rada-rada unik. Karena unik, orang sering menabrakkan ini dengan fikih. Padahal sejalan lho. Esoteris itu menajamkan makna, fikih itu bentukan luarnya.

Ada cerita. Jadi pernah saya merasa kesal juga dengan pembagian gaji dari kantor. Kok ya yang lebih muda mendapatkan yang ditotal-total sama persis bahkan lebih dari saya? Ini mesti suatu kekeliruan. Karena jabatan tinggi saya, dan wewenang tinggi saya. Tetapi kondisi market yang sedang susah tidak berpihak pada saya, karena promosi mesti ditunda. Ini kan ngeselin ya?

Nah… saya memandang sisi baik dari kejadian ini bisa lewat macam-macam sudut. Bisa begini….”ini pasti ada hikmahnya”. Atau bisa begini….”sudahlah rejeki tak akan tertukar”. Atau begini, “yang sudah terjadi mesti takdir”. Atau bisa begini….”yang sabar disayang Tuhan”. hehehe…

Itu semua bagus. Tetapi kalau mau masuk lebih jauh secara spiritualitas, maka saya harus mulai berbenah, dan menyadari yang lebih dalam lagi.

Bahwa bukan saja itu takdir dan berhikmah, melainkan semua ini af’al-Nya (perbuatan-Nya). Karena semua ini af’al-Nya, maka kesal terhadap junior, atau kesal terhadap bos, atau menyalahkan kondisi market menjadi tak relevan lagi. Karena semua tunduk dalam af’al-Nya.

Af’al-Nya, itulah menceritakan makna yang kita kenal dengan sifat-Nya dalam asmaul husna. Jadi bukan tentang gaji saya, melainkan tentang cerita DIA.

Tetapi seorang guru[1] mengajarkan yang lebih dalam lagi bahwa af’al itu ; DIA buat atas dzatNya sendiri. Karena dalam pandangan spiritualitas islam, tak bisa af’al-Nya disini dan dzat-Nya disana. Atau ilmuNya disini dan dzat-Nya disana. Karena ESA. Tapi mesti betul-betul dipahami agar tak keliru mengira Tuhan sama dengan makhluk-Nya. Dan bagian ini monggo langsung ke pakarnya saja, saya bukan ranahnya.

Jadi memang seperti kebaikan yang berubah-ubah bentuk. Pemahaman pun memiliki tangga-tangga yang berjenjang. Dipagari oleh fikih / syariat, lalu menjadi “dalam” dengan pemaknaan spiritualitas-nya.

::

©debuterbang


[1] Ust. H. Hussien Abd Latiff

*) Image sources taken from here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *