PERSIDANGAN, STRATEGI, DAN INSIGHT

Ada sebuah kisah sangat populer tentang Sayidina Ali ra yang kalah dalam persidangan memperebutkan baju besi miliknya yang diambil oleh seorang yahudi.

Ali ra jujur dengan mengatakan baju itu miliknya, tetapi dia kalah dalam persidangan sebab tak cukup saksi yang mendukungnya.

Beliau Amirul mukminin. Jujur. Benar. Tetapi dikalahkan dalam hukum syariat. Hukum yang prosedural. Dan sang hakim tidak ‘keliru’ mengambil keputusan itu. Singkatnya keputusan yang malah memenangkan pihak yang sebenarnya salah itu; sudah benar secara prosedur.

Lepas dari hikmah cerita itu, -kita tahu sang Yahudi akhirnya masuk islam- ada sebuah point yang sangat penting yaitu bahwa “Syariat dunia harus diputuskan / dihukumi berdasarkan apa yang nampak mata.” Itu rumus.

Jadi dalam versi duniawi, sang hakim sudah benar dengan mengalahkan Ali ra  dalam persidangan. Persidangan sudah adil berdasarkan syariat. Sudah prosedural. Itu prinsip hukum di dunia.

Dalam kaitannya dengan praktik tasawwuf adalah : “Ilham atau Kasyaf (intuisi / pandangan hati) tak bisa menjadi hujjah syariat.” Betapapun  ilham atau kasyaf yang didapat benar, tetapi ia hanya berlaku untuk diri pribadi.

Seperti permisalan, jika seseorang ingin berjalan dan menemukan persimpangan barat dan timur, maka dia boleh memilih dengan alasan se-subjektif apapun. Misalnya dia mau ke timur karena jalannya lebih banyak pohon-pohonnya. Boleh…

Begitupun umpamanya dia mendapatkan insight, intuisi, ilham bahwa jalan ke timur lebih baik, dia boleh melakukan itu untuk subjektif dirinya sendiri.

Tetapi dalam kaitannya sebagai hujjah, memutuskan bahwa orang lain bersalah, orang lain harus dikenakan sesuatu, dan lain-lain, sesuatu yang diluar subjektif dirinya; adalah tidak boleh mendasarkan kepada ilham maupun kasyaf. Begitulah syariat di dunia.

Lepas dari itu, ilham, kasyaf, insight, pengalaman ruhani apapun saja saya rasa adalah semacam hadiah penguat, agar kita membenarkan apa yang sudah diajari atau disampaikan orang-orang shalih.

Karena kita mengalami sendiri realitanya. Bukan untuk hujjah syariat. Melainkan secara subjektif untuk menaikkan keyakinan dari yang mungkin agak-agak yakin menjadi yakin betulan.

Dan petunjuk boleh diikuti atau TIDAK diikuti, terutama jika menyangkut kemaslahatan umum. Dan mendiskusikan sesuatu insight yang di dapat jika untuk kepentingan umum, adalah lebih utama.

Saya teringat cerita mimpi Rasulullah SAW pada saat sebelum perang Uhud, dimana Beliau bermimpi yang kurang lebih dimaknai sebagai anjuran untuk melakukan siasat menunggu di dalam benteng atau strategi bertahan.

Tetapi tetap beliau bermusyawarah kepada sahabat-sahabat beliau, dan diputuskanlah strategi yang digunakan malah sebaliknya, yaitu strategi menyerang (artinya berlawanan dengan petunjuk mimpi Beliau).

Hal tersebut tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah kekalahan perang Uhud disebabkan para prajurit tidak mematuhi komando Rasulullah untuk bertahan di gunung, melainkan malah lari kocar-kacir mengambil rampasan perang, dan kemudian berbalik menjadi kekalahan yang menyakitkan.

Dan Rasulullah SAW tak pernah menyinggung-nyinggung “Tuh kan… kalian tidak ikuti mimpi saya!” Tak pernah.

Melainkan kita tengok bagaimana Al Quran mengambil hikmah, disebutkan disana mengenai orang-orang mukmin yang tidak menepati apa yang telah mereka janjikan (yaitu berbalik dan lari meninggalkan Rasulullah saat perang).

Al Quran tak menyinggung tentang petunjuk yang tak diikuti dan malah mengikuti hasil musyawarah.

Kisah ini bagi saya sangat berarti, mendudukkan pengertian yang benar tentang petunjuk dan seperti apa menyikapinya.

Wallahualam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *